Share

Bab 11: Pergi !

"Iya, sama-sama Anna! Terimakasih juga karena kamu telah menyelamatkan nyawa adikku yakni Lusi."

Aku sambil menggaruk kepala padahal tidak terasa gatal dan aku berkata kepada Alex,"Ah, jangan membesar-besarkan! Itu hal biasa karena kita sebagai sesama manusia harus bisa melindungi satu sama lain dan tolong menolong."

"Tapi itu sangat berarti bagi keluarga kami dan apa yang kami lakukan tidak cukup untuk menebus perjuanganmu dalam menyelamatkan Lusi. Kamu terluka dan bahkan kehilangan ingatan di tambah menderita PTSD (Post Traumatic Stress Disorder atau Gejala Pasca Trauma)." Papar Alex kepadaku dengan mata berbinar.

"Sudahlah! Jangan mendramatisir seperti drama Korea! Kata-katamu seperti kita akan berpisah saja. Aku tak suka perpisahan!" Tandasku kepada Alex.

"Kadang pasti kita dihadapkan pada sebuah situasi, memilih untuk bertahan atau memilih untuk berpisah dan itu pilihan dalam kehidupan nyata."Alex berbicara seperti seorang pujangga dan motivator.

"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan Alex. Apa maksud dari perkataan mu." Kataku pada Alex yang tak habis pikir karena hari ini Alex bersikap terlalu aneh.

"Nanti kamu akan tahu maksud dari kata-kata ku. Anna, kamu suka warna langit senja memerah kan! Kamu penikmat senja kan!"

"Iya, mari kita ke taman rumah sakit Martadinata! Kita melihat langit senja memerah di sana sambil kau petikkan buah ceri untuk ku santap!" Kataku.

"Ayuk! Aku bantu kamu berjalan Anna." Kata Alex dengan penuh semangat, belum pernah aku melihat wajah Alex penuh semangat seperti hari ini.

Akupun dibantu Alex berjalan walau dengan kaki setengah pincang. Menyusuri koridor rumah sakit menuju taman rumah sakit Martadinata. Dari kejauhan sudah tampak rumput hijau, bunga berwarna-warni, pohon ceri di tengah-tengah taman dengan buah nampak memerah dan bunyi gemericik dari kolam ikan juga beberapa kursi kayu bercat putih nampak berjejer beberapa di bawah pohon ceri yang rindang.

Akupun dibantu Alex untuk duduk di salah satu kursi kayu panjang berwarna putih.

Aku duduk mengamati langit senja memerah dan menikmati buah ceri hasil petikan Alex.

Kami tertawa dan menikmati setiap detik kebersamaan dan waktu berlalu. Aku merasa ada yang janggal. Dan benar saja kekhawatiran ku terjadi.

"Alex!" Terdengar suara dokter Victor dari kejauhan membentak Alex.

Aku dan Alex berdiri dan melihat dokter Victor mendekat dengan langkah seribu.

Dengan tubuh dokter Victor yang kekar dan lengan berotot,dia mencengkram kerah baju SMK Alex. Tetapi Alex tanpa perlawanan dan hanya diam seribu bahasa. Ini tak sebanding karena tubuh Alex tak atletis. Alex hanyalah seorang pria muda yang kurus tapi tinggi.

Aku menghampiri mereka dan berupaya melerai mereka. Tanganku berusaha melepaskan cengkraman dokter Victor di kerah baju Alex," Sudah, tolong jangan bertengkar! Ingat ini di rumah sakit! Malu jika dilihat orang. Hentikan!" Tapi tangan dokter Victor menepisku sehingga aku jatuh tersungkur. Rupanya dokter Victor sudah gelap mata dan marah membabi buta.

"Sudah berapa kali saya bilang jauhi Anna!" Hardik dokter Victor.

Sambil jatuh tersungkur, aku pun tak mampu berdiri dan hanya melihat mereka.

"Tolong lepaskan cengkraman mu!" Kata Alex tak terpancing emosi.

"Bagaimana bisa aku melepaskan cengkraman ku sedangkan kau masih saja mengganggu hubunganku dengan Anna?" Kata dokter Victor.

"Kau ini seorang dokter, bagaimana jika orang lain melihat perbuatanmu ini? Apakah kau tidak malu?"

"Tidak! Demi Anna, aku rela mengorbankan segalanya!" Tandas dokter Victor dengan penuh keyakinan.

"Benarkah? Lantas kenapa sekarang kau yang membuat Anna jatuh tersungkur? Dia pasienmu! Dia juga kekasihmu! Orang yang katamu sangat kau cintai," jawab Alex.

"Sumber masalah ini adalah kau!" Teriak dokter Victor pada Alex.

"Lepaskan tanganmu dan biarkan aku membantu Anna berdiri!" Perintah Alex kepada dokter Victor.

Maka dokter Victor melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Alex sambil berkata," Ingat! Jauhi Anna! Anna adalah milikku! Anna adalah kekasihku! Cam kan itu baik-baik!" Jari dokter Victor menunjuk ke arah Alex.

"Anna, apakah kamu baik-baik saja? Apakah ada kakimu yang sakit atau terluka?" Dengan khawatir Alex berupaya membantuku berdiri.

"Jangan khawatir kan aku! Aku baik-baik saja. Maaf telah membuatmu mendapat masalah,"kataku.

"Tidak apa-apa! Tidak masalah!" Kata Alex sambil membantuku berdiri tegak dan berjalan ke arah dokter Victor. 

Tanpa ku duga, Alex menyerahkan ku ke dokter Victor.

"Ini, Anna masih milikmu. Tolong jaga Anna baik-baik! Sesuai janjiku, aku hanya membantu Anna belajar sampai lulus kelas akselerasi online dan setelah itu aku akan pergi." Kata Alex dengan sorot mata penuh kesedihan karena akan berpisah denganku.

"Alex, apa maksud dari kata-kata mu?" Tanyaku.

Mata Alex memerah seakan mau menangis tapi dipaksa untuk tetap tersenyum kepadaku dan kedua tangannya memegang pundakku, "Anna, selamat atas kelulusanmu dan jaga dirimu baik-baik. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu. Aku pergi dulu Anna!" Alex pun berlalu meninggalkan aku dengan dokter Victor.

"Alex, tu-tunggu Alex!" Aku mencoba memanggil nya tapi dia tak berbalik dan berlalu begitu saja.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status