MasukBeberapa saat lalu Luvella melihat berita yang beredar di internet. Di sana dikabarkan bahwa kekasihnya akan segera bertunangan dengan putri seorang pengusaha.
Luvella tidak ingin mempercayai berita itu meski beberapa foto yang beredar menjadi bukti keduanya telah cukup dekat.
Malam ini, Luvella memiliki janji makan malam dengan kekasihnya, pria itu memiliki sesuatu yang ingin dibicarkan dengannya. Luvella akan menanyakan tentang berita yang beredar dan meminta kejelasan dari Lexion.
Meski kenyataan mungkin akan menyakitinya, Luvella tidak ingin dalam kegelapan.
Setelah beberapa saat menunggu Lexion datang. Pria itu mengenakan setelan jas hitam, tampak rapi dan menawan seperti biasanya.
Lexion adalah gambaran pria matang dengan penampilan formal. Pria ini adalah penerus dari keluarga Alterion, sebuah keluarga kaya yang memiliki kekayaan besar.
Lexion duduk. "Maafkan aku datang sedikit terlambat."
"Tidak apa-apa, aku mengerti." Luvella memaklumi.
"Apakah kau sudah memesan makanan?"
"Belum."
"Mari kita makan dulu lalu bicara."
"Baik."
Keduanya segera makan malam bersama, setelah selesai makan malam Luxion baru bicara.
"Luvella, mari akhiri hubungan kita."
Kata-kata Lexion seperti air dingin yang disiramkan ke kepala Luvella.
"Alasannya?"
"Kau pasti telah melihat berita yang beredar. Orangtuaku menjodohkan aku dengan Selena."
"Bukankah kau bisa menolaknya?"
"Aku tidak bisa menolaknya, Luvella. Ayah akan menyerahkan posisi pewaris pada Diello jika aku menolak menikah dengan Selena."
Luvella mengerti. Dihadapkan dengan keuntungan dan cinta, Lexion akan memilih keuntungan. Ia terlalu naif, wanita sepertinya tidak akan pernah menjadi pilihan pria kaya yang membutuhkan pernikahan bisnis untuk memperkuat posisinya.
"Aku mengerti." Luvella tidak membuat keributan dan menerima keputusan Lexion.
"Luvella, ambil ini sebagai kompensasi aku telah membuang waktumu selama lima tahun terakhir ini. Dengan uang ini kau bisa menjalani hidupmu dengan baik." Lexion menyerahkan kartu tabungan yang berisi cukup banyak uang.
Luvella menatap Lexion seksama, tatapannya kini menunjukan kekecewaan yang begitu mendalam pada Lexion. "Tidak semua hal bisa dikompensasi dengan uang, Lexion. Ambil kembali uangmu, aku tidak membutuhkannya."
Setelah itu Luvella berdiri dari tempat duduknya, berbalik dan pergi dengan tegas. Hatinya sakit, tapi dia tidak akan menangis di depan Lexion.
Lima tahun cinta yang mendalam kalah karena sebuah keuntungan. Luvella kira ia akan berakhir di pelaminan dengan Lexion, tapi ternyata ia berakhir dengan hati yang patah. Wanita yang dipilih oleh Lexion bukanlah dirinya.
Ia bahkan belum sempat menunjukan pada keluarga Lexion bahwa ia cukup pantas untuk bersama Lexion.
Luvella tiba-tiba saja teringat pada ucapan Diello beberapa waktu lalu. Pria itu tidak salah, Lexion akan memilih keuntungan daripada dirinya.
Lexion menatap punggung Luvella yang menjauh. Ia sangat mencintai Luvella, tapi antara Luvella dan posisi pewaris, ia lebih memilih posisi pewaris. Ia tidak akan pernah membiarkan posisi itu jatuh pada Diello, anak tidak sah ayahnya.
Sementara Luvella, setelah ia dinyatakan sebagai pewaris keluarga Alterion, ia akan berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Luvella. Ia akan datang pada Luvella dengan permintaan maaf. Ia yakin Luvella pasti akan menerimanya kembali. Luvella sangat mencintainya.
Ayahnya memiliki begitu banyak simpanan di luar sana, ia juga bisa melakukannya. Ia akan memberikan status sah dan tubuhnya pada Selena, tapi hati dan jiwanya hanya akan ia berikan pada Luvella.
Ia memilih untuk tidak mengatakan rencananya pada Luvella karena ia ingin semuanya terlihat nyata di depan ayahnya dan juga Selena.
Ia tahu bahwa apa yang ia lakukan sangat menyakiti Luvella, tapi ini demi masa depannya dan Luvella. Ketika semuanya sudah ia dapatkan, Luvella akan menjadi wanita paling beruntung di dunia.
**
Luvella pergi ke bar, wanita itu minum sendirian. Ia ingin menangis, tapi harga dirinya tidak mengizinkannya menangis.
Ia tidak melakukan kesalahan apapun dalam hubungannya dengan Lexion. Hanya pria itu saja yang tidak pantas menerima cinta tulusnya.
Lexion tidak mau memperjuangkannya dan memilih menikahi wanita lain. Itu adalah kesalahan Lexion, bukan kesalahannya.
Meski tidak menangisi Lexion, hati Luvella benar-benar hancur. Ia adalah seorang yatim piatu, ketika Lexion mengejarnya dengan sungguh-sungguh ia kembali merasakan cinta dan kehangatan.
Namun, ternyata hanya dirinya yang sangat menghargai cinta dan kehangatan, sementara Lexion. Dia tidak bisa melepaskan posisinya sebagai pewaris demi cintanya.
Luvella minum lagi. Wanita itu sangat jarang minum. Profesinya sebagai pengacara muda mengharuskannya untuk tetap sadar dan waspada pada sekelilingnya.
Bahkan jika ia bertemu dengan beberapa orang besar, ia hanya minum sedikit saja.
Dan malam ini, karena putus cinta, Luvella minum lebih banyak.
Seorang pria duduk di sebelah Luvella. Pria itu memesan minuman pada pelayan bar.
Setelah pesanannya tiba, pria itu mengangkat gelasnya dan mengadu gelasnya dengan gelas Luvella. "Ayo rayakan kekalahan taruhanmu, Calon Ipar." Pria itu memiringkan wajahnya, menatap Luvella dengan senyuman yang terbentuk di bibirnya.
Luvella yang masih cukup sadar segera melihat ke arah pria yang duduk di sebelahnya. Pria itu adalah Diello. Luvella tidak mengerti kenapa dunia ini benar-benar sempit. Ia bahkan bertemu dengan saudara beda ibu dengan mantan kekasihnya.
Pria bajingan ini tampaknya datang hanya untuk mengolok-oloknya. Menari-nari di atas luka yang ia rasakan saat ini.
"Aku tidak menerima taruhan denganmu!" seru Luvella dingin.
Diello menyesap minumannya dengan senyuman di wajahnya. "Tebakanku benar, bukan. Kau pasti akan dicampakan oleh Lexion."
Kemarin malam Diello mendengarkan percakapan antara ayahnya dan Lexion. Di sana ayahnya memberikan pilian pada Lexion, bersama Luvella atau menikah dengan Selena dan menjadi ahli waris keluarga Alterion.
Pada pilihan itu, Lexion telah memutuskan untuk menikahi Selena dan menjadi ahli waris keluarga Alterion.
Luvella ingin meluapkan kesedihannya malam ini, tapi keberadaan Diello di sebelahnya membuatnya merasa semakin buruk.
Luvella tidak akan meladeni pria bajingan seperti Diello. Ia turun dari kursi lalu kemudian meninggalkan meja bar.
Diello tidak membiarkan Luvella pergi begitu saja. Ia menghadang langkah Luvella.
"Calon Ipar, hari ini suasana hatimu buruk. Ayo bersenang-senang denganku. Aku yakin suasana hatimu pasti akan membaik setelah menghabiskan malam denganku."
Sebuah tamparan kuat mendarat di wajah Diello. "Tidak semua wanita sudi menghabiskan malam denganmu!"
Luvella menatap Diello dengan tajam dan penuh emosi. Ia sangat tidak suka dengan pria yang suka memandang rendah wanita.
Untuk pria seperti Diello, dia apasti berpikir bahwa semua bisa dimiliki dengan uang. Namun, untuk wanita seperti Luvella, tidak semua hal bisa dibeli dengan uang dan kemewahan, dan hal itu adalah harga diri.
Luvella tahu bahwa ada begitu banyak wanita yang akan melemparkan dirinya pada Diello, tapi dari begitu banyak wanita itu, ia tidak termasuk. Ia masih memiliki harga diri. Meski ia adalah seorang yatim piatu dan hanya memiliki neneknya sebagai keluarganya. Ia tidak akan merendahkan dirinya untuk sebuah status dan kekayaan.
Luvella adalah pemegang prinsip bahwa status dan kekayaan didapatkan dari kerja keras, bukan dari membuka paha lebar-lebar dan melayani pria kaya.
Tangan Diello memegangi wajahnya, pria itu ditampar tapi bukannya marah ia malah tersenyum geli.
Luvella tahu bahwa Diello adalah pria bajingan, tapi dia tidak tahu bahwa Diello adalah pria tidak waras. Luvella hendak melangkah melewati Diello, tapi sekali lagi Diello menghentikannya.
"Calon Ipar, kau telah dicampakan oleh Lexion. Bagaimana jika kau pertimbangkan jadi wanitaku? Aku bisa memberikan semua yang tidak bisa Lexion berikan padamu." Diello menatap Luvella dengan serius.
Luvella tidak akan pernah sudi menjadi wanita Diello. Bahkan jika hanya tersisa Diello di dunia ini, ia lebih baik untuk hidup sendiri sampai tua daripada memiliki pasangan seperti Diello.
"Aku tidak sudi menjadi wanitamu!" Luvella menjawab tanpa harus mempertimbangkannya terlebih dahulu. "Menyingkir dari jalanku atau aku akan membunuhmu!"
Diello tertawa geli. "Seorang pengacara membunuh orang lain, itu mungkin akan menjadi berita yang sangat fenomenal."
Luvella semakin ingin meledak menghadapi Diello. Ia benar-benar tidak bisa bicara terlalu banyak lagi dengan pria ini karena itu hanya akan membuat emosinya bergejolak.
Ia mendekati Diello lalu kemudian menginjak kaki Diello dengan kuat hingga Diello menyingkir dari jalannya.
Diello meringis kesakitan, tapi pria itu masih belum berhenti membuat Luvella semakin kesal padanya. "Calon Ipar, aku yakin kita berjodoh. Kau pasti akan datang padaku suatu hari nanti." Diello menatap punggung Luvella yang semakin menjauh darinya.
Luvella mendengkus sinis. Suatu hari itu tidak akan pernah datang. Berjodoh dengan Diello? Luvella lebih baik mati dalam kesendirian daripada memiliki pasangan bajingan seperti Diello.
Luvella baru bertemu dengan Diello dua kali, tapi kebenciannya terhadap Diello sudah begitu besar. Kebencian ini datang bukan hanya karena perkataan buruk Lexion tentang Diello, tapi juga karena Diello yang melecehkan dan memandang rendah dirinya.
tbc
Pagi harinya Luvella dan Diello pergi ke ruang makan bersama. Di sana ada anggota keluarga Alterion kecuali Gael yang tidak pulang semalam."Istriku, silahkan duduk." Diello menarik kursi untuk Luvella.Luvella duduk, Diello juga duduk di sebelah Luvella. Suasana di meja makan itu selalu tidak nyaman bagi Diello, tapi pria itu bersikap santai meski ia tahu tiga orang yang ada di sana tidak menyukainya sama sekali."Maafkan kami karena sedikit terlambat, kami adalah pengantin baru, kalian pasti mengerti." Diello berkata dengan santai.Henry mendengkus tidak suka. "Berhenti bicara dan makanlah!""Baik, Kakek." Diello tersenyum. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya ke Luvella. "Istriku, makan lebih banyak. Semalam kau menghabiskan banyak energimu."Luvella menatap Diello sejenak, Diello terlalu banyak memuntahkan omong kosong. Nyatanya semalam mereka tidak melakukan apapun. Luvella tahu bahwa Diello sengaja melakukannya untuk memprovokasi Lexion. Pria ini benar-benar terlalu kekana
"Aku tidak bisa menerima kartu ini, tolong kembalikan pada Ayahmu." Luvella menyodorkan kartu yang telah diberikan oleh Gael padanya tadi."Terima saja. Apa yang sudah diberikan untukmu berarti menjadi milikmu." Diello tidak menerima kartu dari Luvella.Ponsel Diello berdering. Ia melihat ke siapa yang memanggilnya, lalu kemudian mengalihkan pandangannya pada Luvella lagi. "Ganti pakaianmu dan istirahatlah. Aku akan keluar untuk menjawab panggilan." Diello segera keluar dari kamarnya. Pria itu menjawab panggilan di ponselnya."Ada apa?""Tuan, seseorang mencoba membobol system keamanan kita. Saat ini tim kita sedang menanganinya, tapi kali ini tampaknya lawan cukup sengit.""Aku akan segera ke sana.""Baik, Tuan."Diello menutup panggilannya. Ia kembali melangkah menuju ke kamarnya.Luvella baru akan melepaskan pakaiannya saat Diello masuk."Aku akan pergi, tidurlah duluan jangan menungguku." Diello mengecup puncak kepala Luvella lalu kemudian keluar lagi dari kamar itu.Luvella berg
Suasana di ruang makan itu kini hening. Lexion menatap Diello dengan tajam. Kedua tangannya mengepal kuat.Selena menatap Luvella, tampaknya ia akan terus bersinggungan dengan wanita ini mulai sekarang. Selena tidak mengerti kenapa dua bersaudara Alterion menyukai Luvella."Ayo mulai makan malamnya," seru Gael.Tidak ada yang bersuara, orang-orang di sana mengikuti ucapan Gael. Meski ada beberapa keluhan di hati Jena dan Lexion mereka tidak mengatakannya."Makan lebih banyak, Istriku." Diello mengambilkan makanan untuk Luvella. Panggilan 'istriku' yang diucapkan oleh Diello membuat Lexion menggenggam gagang pisau di tangannya dengan kuat.Diello telah merusak rencananya. Dan yang lebih tidak dia mengerti lagi adalah Luvella bisa secepat itu memutuskan menikah dengan Diello.Luvella tidak banyak bicara, ia hanya menyantap makanannya.Setelah beberapa waktu, makan malam itu berakhir."Luvella, ayo ikut Ayah ke ruang kerja Ayah." Gael bicara pada Luvella. Pria itu sudah mengakui Luvella
Saat Luvella akan memulai makan malamnya, Diello kembali. Pria itu mendekati Luvella lalu kemudian mengecup puncak kepala Luvella."Lanjutkan makanmu, aku akan membersihkan tubuhku dulu baru makan."Luvella diam, meski kecupan itu sudah berlalu, tapi rasanya masih seperti tertinggal di sana. Jika yang memberikan kecupan adalah Lexion yang dulu, maka saat ini ia pasti akan tersenyu. Hanya saja, kecupan ini berasal dari Diello. Reaksi tubuhnya hanya ketidaknyamanan.Lima belas menit kemudian Diello bergabung ke ruang makan. Pria itu menyantap makan malamnya dengan tenang sembari sesekali memperhatikan wajah Luvella."Apakah kau tidak akan bertanya ke mana saja aku seharian ini?" Diello memulai percakapan.Luvella memiringkan wajahnya menatap Diello. "Aku tidak peduli ke mana kau pergi. Lakukan apapun yang kau sukai, aku tidak akan menghentikanmu.""Aku benar-benar tidak salah memilih istri." Diello tertawa ringan.Luvella sudah selesai makan. "Aku sudah selesai.""Aku belum selesai, te
Diello sudah selesai membersihkan tubuhnya, sekarang pria itu menunggu Luvella selesai mandi.Pria itu menunggu selama beberapa menit, sampai akhirnya Luvella keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya.Diello bersiul, menggoda Luvella. Pria itu berdiri dari ranjang dan melangkah mendekati Luvella. Ia masih mengenakan handuk yang ia pakai tadi."Sudah siap untuk malam pertama pernikahan kita, Luvella?"Luvella sangat tidak nyaman mendengarnya, tapi dia sudah menikah dengan Diello, suka atau tidak suka dia masih harus berhubungan seks dengan pria ini."Potong omong kosongnya, mari lakukan saja." Luvella tidak bisa berbasa-basi dengan Diello."Ah, kau sepertinya sudah tidak sabar lagi, baiklah kalau begitu." Diello meraih pinggang Luvella, menariknya hingga tubuh mereka saling menempel. Pria itu mencium bibir Luvella dengan penuh gairah.Luvella tidak bereaksi sesaat, tubuhnya kaku. Selama dua puluh lima tahun dia hidup, Lexion adalah satu-satunya pria yang pernah menciumnya."Berg
Luvella telah mengetahui di mana Diello berada, jadi ia segera mendatangi pria itu. Dan sekarang ia sudah ada di sebuah klub malam terbesar di ibu kota. Luvella memasuki sebuah ruangan VIP.Saat ia sampai di sana, ia melihat Diello bersama dengan beberapa sahabat prianya ditemani oleh banyak wanita penghibur sedang bersenang-senang.Diello dengan cepat menyadari kedatangan Luvella. Pria itu mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar orang-orang di ruangan itu diam.Diello berdiri dari tempat duduknya lalu kemudian melangkah menuju ke Luvella. "Calon Ipar, apa yang kau lakukan di sini? Apakah kau datang khusus untuk bertemu denganku?""Ada hal yang perlu aku bicarakan denganmu."Diello tersenyum ringan. "Aku sangat penasaran dengan hal yang ingin kau bicarakan denganku." Ia kemudian mengangkat tangannya lagi, mengisyaratkan agar orang-orang di sana meninggalkan tempat itu.Dua sahabat Diello pergi, enam wanita yang bersama mereka juga pergi, sekarang yang tersisa di ruangan itu hanya D







