Share

7. Sikap Aneh Istriku

last update Huling Na-update: 2025-12-18 15:59:28

"Selendang ini ... Kenapa bisa ada di sini?

Aku berdiri terdiam di depan lemari pakaian, menggenggam selendang merah yang baru saja jatuh dari tumpukan baju. Jantungku berdebar kencang.

Ini … ini persis selendang milik Dira. Selendang yang tadi aku lihat di kamar hotelnya, yang sempat tertinggal saat dia keluar meninggalkan aku. Kenapa sekarang selendang itu bisa ada di sini, di rumahku?

Aku berusaha menenangkan diri. Mungkin hanya kebetulan, pikirku. Tapi, semakin lama aku memandangi selendang itu, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku.

"Apakah Dira dan Shira punya hubungan? Apakah mereka saling kenal?"

Lagipula foto profil Dira di aplikasi Michat itu ... sangat mirip dengan Shira. Mungkin terlalu mirip. Meskipun aku belum melihat wajah Dira dengan jelas, tapi aku yakin jika mereka berdua memang sangat mirip.

Hanya saja, Dira jauh lebih cantik, glowing, seksi, dan berkelas. Berbeda dengan Shira yang kumal, dekil, dan hanya mengenakan daster usangnya sebagai fashion sehari-hari.

Jadi, apa salahnya jika aku mencari pelarian di luar sana dengan membooking cewek michat spek bidadari seperti Dira?

Aku sama sekali tidak bersalah atas semua ini!

Sekali lagi, kutatap selendang merah di tanganku itu. Aku meremas selendang itu lebih keras, mencoba mencari penjelasan yang rasional.

"Jangan panik, Panji! Jangan buat asumsi yang tidak-tidak!"

Namun, hatiku terasa berat. Aku ingin bertanya pada Shira, ingin melontarkan semua keraguan ini, tapi pikiranku langsung menahan niat itu. Aku tak mau dia curiga. Jika aku langsung menanyakan hal ini, dia pasti akan berpikir yang aneh-aneh, bahkan mungkin menganggap aku sedang selingkuh.

"Sialan! Dia pasti akan curiga seperti kemarin," kesalku.

Aku pun memutuskan untuk melupakan sejenak hal tersebut. Lekas aku membenarkan baju yang tadi sempat kusingkirkan dan menyembunyikan selendang merah itu di balik tumpukan pakaian dalam lemari.

Ceklek!

Saat itulah, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Shira muncul dengan tersenyum di wajahnya, dan mengajak aku untuk makan siang.

"Mas Panji, ayo kita makan siang!" ajaknya. Suaranya terdengar ceria, seolah-olah tidak ada yang berbeda.

Aku hanya mengangguk cepat dan berusaha menyembunyikan kegelisahanku.

"Iya, Shira. Ayo!"

Aku mengikutinya ke ruang makan. Sesampainya di sana, kami duduk berdua dan makan siang bersama. Namun, aku tak bisa berhenti memikirkan selendang merah itu. Aku tergoda untuk bertanya, tapi aku segera menahannya.

"Apa yang harus aku katakan? Apa aku harus bertanya, apakah selendang itu milik Dira? atau apakah kamu kenal Dira?" batinku.

Ah, hanya memikirkan itu saja aku sudah tak berani. Aku khawatir jika Shira curiga padaku.

Makan siang itu terasa berat. Shira berbicara banyak dan menceritakan tentang kegiatannya di rumah hari ini. Ia juga beberapa kali bertanya tentang pekerjaanku, tapi aku lebih banyak diam. Mataku sesekali melirik ke arah lemari pakaian, tempat selendang merah itu masih tersimpan.

"Ada apa sebenarnya ini?"

---

Sore ini, aku terbangun dari tidur siang yang lelap. Setelah merasa kenyang dan juga lelah, aku memutuskan untuk tidur siang saja. Tapi aku tak menyangka jika aku bisa tidur hingga selama ini.

Sinar matahari yang masuk melalui celah tirai tiba-tiba menyadarkanku. Dengan mata yang masih terasa berat, aku meraba ke samping dan mencari Shira, tapi … dia tidak ada. Aku memanggilnya lirih.

"Shira?"

Namun, sama sekali tidak ada jawaban. Aku membuka kedua mata lebar-lebar. Dan saat itu juga aku menyadari bahwa Shira tak ada di sampingku.

"Shira, kamu dimana?"

Aku merasa cemas dan segera bangkit dari tempat tidur. Aku berjalan ke ruang tengah dan mengintip ke dapur untuk mencarinya. Aku berharap melihatnya sedang sibuk menyiapkan sesuatu. Tapi, dia tetap tak ada.

"Astaga! Shira kemana sih?"

Pikiran buruk mulai menggelayuti. Aku berjalan cepat menuju dapur, sekalian untuk mengambil air minum. Aku melangkah pelan dan hati-hati. Namun, tiba-tiba mataku tertuju pada sosok yang terlihat bergerak pelan di dekat pintu belakang.

Itu … Shira!

Tapi, kenapa dia berjalan keluar begitu diam-diam? Mengendap-endap?

Aku terpaku sejenak, merasakan ketegangan merayap ke dalam tubuhku. Shira … kenapa dia harus berbuat seperti itu? Aku ingin memanggilnya, bertanya, tapi… aku merasa ada yang salah. Apa yang sedang dia lakukan?

"Apa yang sedang terjadi, Shira? Apa yang kamu sembunyikan dariku?"

Tanpa banyak membuang waktu lagi, aku pun memutuskan untuk segera mengikuti kemana Shira pergi. Cepat-cepat aku keluar dan mengambil motor sport ku. Dengan berkendara pelan, kulihat Shira menemui seorang ojek online di ujung jalan.

Dengan langkah yang tampak terburu-buru, Shira cepat-cepat naik ojol itu dan pergi entah kemana. Tak ingin kehilangan jejaknya, aku pun cepat-cepat mengikuti kemana mereka pergi. Sepanjang jalan, pikiranku sudah tak karuan.

"Bisa-bisanya kamu membohongi aku seperti ini, Shira? Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dari suamimu ini, hah? Apa hubungannya antara kamu dan Dira? Kenapa kalian bisa sama-sama punya selendang merah itu, dan mau kemana kamu pergi sekarang, hah?"

Aku sudah negatif thinking. Pikiranku tak bisa tenang sama sekali. Hingga akhirnya, aku terus mengikuti kemana Shira pergi dengan ojol itu. Namun, tiba-tiba saja dia berhenti di tepi jalan yang sepi.

Aku menepikan motorku di kejauhan dan mengamati setiap gerak gerik istriku itu. Mataku memicing, melihat Shira turun dari motor dan tampak mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sejurus kemudian, ia mengenakan sesuatu di kepalanya yang seketika membuatku terbelalak.

"Hah! Dia juga mengenakan selendang merah itu?" Aku tercengang melihat Shira mengenakan selendang itu di kepalanya.

Sangat mirip dengan Dira!

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Foto Istriku di Aplikasi Kencan Online   41. Selamat Tinggal

    Rega mengangkat pistol lebih tinggi. Tangannya sedikit gemetar, tetapi sorot matanya justru semakin tajam. Pandangannya terkunci pada Shira, seolah hanya ada satu target di dunia itu.“Oke, perempuan dulu,” gumamnya dingin, nyaris tanpa emosi.“Aaaa!" Shira menjerit. Tubuhnya refleks mundur selangkah, kakinya hampir kehilangan keseimbangan. Ketakutan membuat napasnya tercekat. Namun sebelum ia sempat bersembunyi atau berlari, Panji bergerak lebih cepat.Ia melepaskan pelukan Shira dan melangkah ke depan, berdiri tepat di antara moncong pistol dan tubuh istrinya. Tubuhnya tegap, meski wajahnya pucat dan keringat dingin mengalir di pelipisnya.“Jangan!” teriak Shira sambil menarik lengan Panji dengan panik. “Mas Panji, jangan! Tolong jangan!”Panji menoleh sebentar ke arah Shira. Di tengah kekacauan, matanya justru terlihat tenang. Ada keteguhan yang tak bisa digoyahkan.Senyumnya tipis, rapuh, tetapi penuh keyakinan.“Aku janji jaga kamu,” katanya lirih, seolah dunia di sekeliling mer

  • Foto Istriku di Aplikasi Kencan Online   40. Terkuaknya Masa Lalu

    Panji berdiri kaku. Suara Anggara barusan masih berdengung di telinganya, bercampur dengan denyut darah yang memukul-mukul pelipisnya. Udara pagi terasa mendadak berat untuk dihirup. Kehadiran Rega dengan pistol di tangan membuat semua yang baru saja ia dengar terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata.“Apa maksud lo setara?” suara Panji serak, hampir tak terdengar. “Gue nggak ngerti apa yang lo bales.”Rega menatap Panji lama, tanpa berkedip. Tatapannya dingin dan kosong, seperti seseorang yang sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan kebencian sampai lupa rasanya lega.Perlahan, ia menurunkan pistolnya sedikit, bukan sebagai tanda damai, melainkan sekadar menunda. Tangannya yang lain merogoh ponsel dari saku jaketnya dengan gerakan tenang yang justru membuat Panji semakin takut.“Lo benar-benar nggak ingat?” tanya Rega pelan, nadanya nyaris datar.Ia membuka layar ponsel dan memutar layarnya ke arah Panji, seolah sedang menunjukkan bukti dalam ruang sidang.Sebuah foto muncu

  • Foto Istriku di Aplikasi Kencan Online   39. Saatnya Membalas Dendam!

    Pagi itu Panji bangun dengan kepala berat dan dada sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang menekan dari dalam. Nafasnya pendek-pendek. Langit-langit kamar tampak buram, matanya perih akibat kurang tidur. Jam di dinding sudah menunjukkan lewat pukul delapan, tapi tubuhnya terasa tak punya tenaga untuk sekadar berdiri dari ranjang.Ia berguling pelan, duduk dengan bahu merosot. Ingatannya melayang ke malam sebelumnya, ke teror yang belum juga berhenti. Panji meraih ponsel di samping bantal, jemarinya gemetar saat menekan nomor atasannya.“Pak, maaf, hari ini saya izin nggak masuk,” katanya singkat begitu panggilan tersambung. Suaranya serak, nyaris tak bertenaga. “Ada urusan keluarga.”Ia menunggu reaksi di seberang, tapi begitu izin diberikan, Panji langsung menutup telepon. Tak ada penjelasan panjang. Ia tak sanggup merangkai alasan. Kepalanya terlalu penuh untuk berdusta dengan rapi.Setelah itu, Panji duduk lama di tepi ranjang. Tangannya bertumpu di lutut, kepalanya tertunduk.

  • Foto Istriku di Aplikasi Kencan Online   38. Rega!

    Rega menatap kotak paket itu sekali lagi. Tatapannya turun perlahan, seolah mencoba membaca sesuatu dari benda mati itu. Alisnya berkerut tipis, lalu ia mendongak ke arah Anggara dengan ekspresi yang tampak dibuat-buat, seolah benar-benar heran.“Maksud lo apa, Anggara?” tanyanya ringan. “Gue pulang-pulang disodorin kotak nggak jelas, terus lu langsung nuduh gue macem-macem.”Nada suaranya terdengar santai, tapi Anggara menangkap sesuatu yang lain di baliknya. Ada jeda sepersekian detik sebelum Rega bicara. Terlalu singkat untuk diperhatikan orang lain, tapi tidak bagi Anggara.Ia tak bergeming. Tubuhnya tegak, rahangnya mengeras. Tatapannya tajam, menusuk lurus ke mata kakaknya.“Jangan pura-pura lagi, Kak!”Rega terkekeh kecil, lalu mengangkat kedua tangannya seolah pasrah.“Serius. Ini kotak apa sih?” Ia menendang pelan kotak itu dengan ujung kakinya. “Kayak kotak bekas kiriman online.”Anggara melangkah mendekat. Satu langkah. Jarak mereka kini hanya sejengkal. Suara Anggara renda

  • Foto Istriku di Aplikasi Kencan Online   37. Jelaskan Ini!

    “Ini seperti…” Ucapan Anggara terhenti di tenggorokannya. Lidahnya terasa kelu, seolah kata berikutnya terlalu berat untuk dilepaskan.Panji yang sejak tadi berdiri kaku langsung menoleh. Jantungnya berdegup lebih cepat.“Seperti apa, Anggara?”Anggara tak menjawab. Ia kembali menatap bekas tanda di dalam kotak paket itu. Tatapannya kosong beberapa detik, seolah ingatannya terseret ke tempat yang jauh dan tidak menyenangkan. Rahangnya mengeras, lalu ia menggeleng pelan.“Nggak,” katanya singkat. “Nggak apa-apa.”“Nggak apa-apa gimana?” Panji mendesak. Suaranya meninggi tanpa sadar. “Lo nemu sesuatu, kan? Jangan bilang setengah-setengah. Gue udah di titik paling kacau sekarang.”Anggara memejamkan mata sejenak. Ia menghela napas panjang, berat, lalu menutup kembali kotak itu dengan hati-hati. Gerakannya pelan, nyaris lembut, seolah takut isi di dalamnya akan berbicara lebih banyak jika dibiarkan terbuka.“Belum tentu,” katanya akhirnya. “Dan gue nggak mau bikin lo makin kepikiran sebel

  • Foto Istriku di Aplikasi Kencan Online   36. Ada yang Janggal

    Panji menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Cahaya dingin dari layar itu memantul di wajahnya yang pucat. Dadanya terasa seperti diremas dari dalam, napasnya pendek-pendek, seolah ada tangan tak kasatmata yang menekan paru-parunya.Bagaimana mungkin?Baru satu jam lalu ia meminta bantuan Anggara. Pembicaraan itu terjadi di ruang tamu yang tertutup. Tidak ada orang lain. Tidak ada tetangga yang masuk. Tidak ada suara selain mereka berdua. Namun pesan itu datang begitu saja, dingin, tepat sasaran, seolah pengirimnya berdiri tepat di belakangnya.Nomor asing itu tahu. Bahkan bukan hanya sekadar tahu, tapi seakan ia mengawasi sejak awal.Belum sempat Panji menenangkan napasnya, layar ponsel kembali menyala. Getarannya membuat jantungnya berlonjak. Sebuah pesan masuk lagi. Kali ini bukan teks.Melainkan sebuah foto.Jari Panji gemetar saat menyentuh layar. Ada dorongan kuat untuk tidak membukanya, untuk berpura-pura ini tidak nyata. Namun rasa takut justru memaksanya menekan gambar itu.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status