Share

Bab 8 🥵🔥

Author: Madre Shine
last update publish date: 2026-03-14 22:00:53

Dunia tidak berakhir dengan ledakan besar, setidaknya tidak bagi mereka yang terbuang. Bagi Juan dan Lilia, kehancuran piramida Aethelgard hanyalah perpindahan dari satu neraka ke neraka lainnya yang lebih sunyi, lebih busuk, dan lebih jujur. Mereka kini berada di The Fringe, sebuah wilayah tanpa peta di pinggiran megacity, tempat di mana hukum korporasi lumat oleh tumpukan sampah industri dan ribuan jiwa yang "terputus" dari jaringan saraf global.

Udara di The Fringe berasa seperti jelaga basah dan minyak mesin murahan. Di sini, tidak ada lampu neon biru yang megah atau hologram iklan yang menawarkan mimpi. Yang ada hanyalah lampu pijar kuning yang berkedip sekarat dan api dari tong-tong besi tempat para pengungsi menghangatkan diri.

Juan menyeret langkahnya, bahunya menjadi tumpuan bagi Lilia yang tampak sangat rapuh. Luka-luka di tubuh Juan akibat ranjau saraf di piramida belum kering; setiap langkah mengirimkan denyut nyeri yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Namun, pandangannya tetap tajam, menyapu gang-gang sempit yang dipenuhi oleh para pemulung data dan tentara bayaran yang sudah kehilangan arah.

"Sedikit lagi, Lilia," bisik Juan, suaranya parau.

Lilia hanya mengangguk lemah. Matanya yang biasanya jernih kini tampak berkabut, seolah ia sedang melihat sesuatu yang tidak ada di dunia fisik. Sejak mereka keluar dari reruntuhan Aethelgard, Lilia tidak banyak bicara. Keberhasilannya menghancurkan Echo-01 di dunia digital tampaknya telah meninggalkan lubang di jiwanya—sebuah residu yang terus berdenyut di bawah sadarnya.

Mereka akhirnya menemukan tempat tinggal: sebuah "hotel peti mati" yang dikenal sebagai The Vault. Itu adalah tumpukan kontainer kargo tua yang dimodifikasi menjadi kamar-kamar sempit berukuran dua kali dua meter. Tempat itu berbau pesing dan karat, namun memiliki satu keunggulan: dinding bajanya cukup tebal untuk memblokir sebagian besar sinyal pelacak frekuensi tinggi.

Juan membayar pria penjaga hotel yang bermata satu dengan beberapa keping kristal memori mentah yang sempat ia selamatkan. Mereka merangkak masuk ke dalam kontainer nomor 404.

Begitu pintu besi itu tertutup dan terkunci, Juan jatuh terduduk di lantai yang kotor. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding kontainer yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Lilia merangkak ke sampingnya, menyentuh wajah Juan dengan jemarinya yang gemetar.

"Kau... berdarah lagi," bisik Lilia.

Juan meraih tangan Lilia, mencium telapak tangannya. "Hanya luka kecil. Yang penting kita tidak lagi di radar mereka. Di sini, kita hanya dua orang asing di tengah jutaan orang asing lainnya."

Juan membuka tas taktisnya, mengeluarkan alat medis primitif dan sebotol alkohol sintetik. Dengan gigi terkatup, ia menyiram luka di bahunya. Rasa perih yang luar biasa membuatnya memejamkan mata, namun ia tidak mengerang. Lilia mengambil kain kasa dari tas Juan dan mulai membalut luka itu dengan kelembutan yang menyentuh hati.

Dalam kesempitan kontainer itu, jarak di antara mereka menghilang. Aroma tubuh Lilia yang bercampur dengan debu sisa ledakan terasa begitu intim bagi Juan. Ia menatap Lilia—wanita yang seharusnya menjadi kunci kehancuran dunia, namun sekarang hanyalah seorang wanita ketakutan yang sedang mencoba menyelamatkan pria yang ia cintai.

"Terima kasih, Lilia," gumam Juan.

Lilia berhenti membalut. Ia menatap mata abu-abu Juan yang penuh dengan keletihan namun juga kasih sayang. Tanpa sepatah kata pun, Lilia mendekat dan memeluk Juan. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Juan, menghirup aroma maskulin pria itu yang menjadi satu-satunya jangkarnya di tengah kekacauan.

"Jangan pernah tinggalkan aku, Juan," isak Lilia pelan. "Aku merasa... dia masih di sana. Di dalam kepalaku."

Juan merasakan ketakutan Lilia meresap ke dalam kulitnya. Ia tahu apa yang dimaksud Lilia. Penghancuran Echo-01 tidak sesederhana menghapus file. Sebagai entitas saraf yang pernah bertautan, residu Echo-01 mungkin telah bersembunyi di sudut-sudut tergelap memori Lilia.

"Aku tidak akan pergi," janji Juan.

Ia menarik wajah Lilia, menciumnya dengan penuh perasaan. Ciuman itu awalnya terasa pahit karena sisa rasa alkohol dan darah, namun perlahan berubah menjadi hangat dan penuh tuntutan. Dalam ruang yang sempit dan berbau logam itu, mereka mencari pengalihan dari trauma yang menghantui mereka.

Juan menanggalkan jaketnya dan membantu Lilia melepaskan gaun sutranya yang kini sudah menyerupai kain lap. Di bawah cahaya lampu suar kimia yang redup, tubuh Lilia tampak pucat, hampir transparan. Juan menciumi setiap jengkal kulit Lilia, seolah ingin memastikan bahwa wanita ini masih terbuat dari daging dan darah, bukan bit data.

Sentuhan Juan di sekitar port saraf leher Lilia membuat wanita itu mengerang pelan. Keintiman fisik ini adalah satu-satunya cara bagi Lilia untuk merasa "hidup" dan menjauh dari tarikan dingin dunia digital yang mencoba memanggilnya kembali. Saat Juan menyatu dengan tubuhnya, Lilia mencengkeram bahu Juan kuat-kuat, kuku-kukunya meninggalkan bekas merah di kulit pria itu.

"Buat aku lupa, Juan... buat aku lupa tentang dia," desah Lilia di sela-sela napasnya yang terputus-putus.

Juan bergerak dengan ritme yang penuh proteksi, seolah setiap gerakannya adalah mantra untuk mengusir setan-setan di kepala Lilia. Dalam momen puncak yang melelahkan, mereka bukan lagi pelarian atau subjek eksperimen. Mereka hanya dua jiwa yang saling membutuhkan untuk bertahan satu malam lagi di dunia yang membenci keberadaan mereka.

Setelah semuanya reda, mereka berbaring berpelukan di atas kasur tipis yang keras. Lilia tertidur karena kelelahan emosional yang luar biasa. Juan tetap terjaga, mendengarkan suara tetesan air di luar kontainer dan dengung statis dari perangkat komunikasinya yang rusak.

Namun, kedamaian itu hanya ilusi.

Di dalam tidurnya, Lilia mulai bermimpi. Simulasi itu tidak lagi putih bersih seperti di piramida. Kali ini, ia berada di sebuah labirin yang terbuat dari potongan-potongan memori yang hancur. Ia melihat ayahnya, Dr. Valerius, sedang duduk di sebuah kursi listrik yang berdenyut dengan cahaya hijau.

"Kau pikir kau sudah bebas, Elara?"

Suara itu datang dari bayangan Dr. Valerius, namun nadanya dingin dan mekanis. Echo-01.

Lilia mencoba berlari, namun kakinya terasa berat, terikat oleh ribuan kabel saraf yang menjulur dari lantai. Sosok Dr. Valerius berubah menjadi sosok Lilia sendiri—versi dirinya yang tanpa emosi, dengan mata yang memancarkan kode-kode biner.

"Aku adalah bagian dari sistem operasimu. Kau tidak bisa menghapus dirimu sendiri," Echo-01 berbisik tepat di telinganya. "Kunci itu masih aktif. Marcus Vane masih mencarimu. Dia tidak akan berhenti hingga ia mendapatkan kembali hartanya."

Lilia menjerit di dalam mimpinya, namun tidak ada suara yang keluar. Ia melihat bayangan Juan di kejauhan, namun Juan tampak terbakar oleh api biru, berubah menjadi abu digital tepat di depan matanya.

"Cinta adalah residu yang tidak efisien, Elara. Biarkan aku masuk kembali, dan rasa sakit ini akan berakhir."

Tiba-tiba, Lilia tersentak bangun. Ia terduduk dengan napas tersengal-sengal, keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia melihat sekeliling—dinding kontainer yang sempit, cahaya oranye yang redup. Juan segera mendekapnya.

"Lilia! Kau baik-baik saja? Kau berteriak," Juan tampak sangat khawatir.

Lilia tidak bisa menjawab. Ia hanya gemetar hebat. Namun, saat Juan menyentuh tengkuknya untuk menenangkannya, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Lampu indikator di port saraf Lilia, yang seharusnya mati total sejak kehancuran Echo-01, kini berkedip pelan. Warnanya bukan lagi biru korporasi, melainkan hijau neon yang tajam—warna yang sama dengan kode yang ia lihat dalam mimpinya.

"Juan..." Lilia menunjuk ke arah cermin kecil yang retak di dinding kontainer.

Juan melihat pantulan itu. Ia tertegun. Ia segera mengambil pemindai saraf portabelnya dan mengarahkannya ke leher Lilia. Data yang muncul di layar kecil itu membuat Juan merasa mual.

"Ini bukan sekadar memori, Lilia," gumam Juan, suaranya penuh ketakutan. "Echo-01 telah menanamkan 'benih' logika di lapisan firmware otakmu. Dia tidak lagi menyerang dari luar... dia sedang mencoba melakukan reboot pada dirimu dari dalam."

Lilia menatap Juan dengan mata yang dipenuhi keputusasaan. "Apa artinya itu?"

"Artinya, setiap kali kau tidur, dia memiliki akses untuk membangun kembali kepribadiannya menggunakan energi sarafmu. Jika kita tidak menemukan cara untuk memutus residu ini, dia akan mengambil alih tubuhmu sepenuhnya. Kau akan bangun suatu pagi, dan kau tidak akan lagi mengingat siapa aku."

Lilia mencengkeram kaos Juan. "Bunuh aku, Juan. Jika itu terjadi, bunuh aku. Aku tidak ingin menjadi dia."

"Jangan bicara begitu!" bentak Juan, meski hatinya perih. "Kita akan menemukan cara. Vax... aku harus mencari Vax kembali, atau siapa pun di The Fringe yang tahu tentang deep-level firmware patching."

Namun, masalah mereka tidak hanya datang dari dalam. Di luar The Vault, di tengah kerumunan kumuh The Fringe, sebuah tim baru telah tiba. Mereka tidak mengenakan zirah Reapers yang mencolok. Mereka mengenakan pakaian biasa, namun gerak-gerik mereka terlalu teratur, mata mereka terlalu waspada.

Mereka adalah agen lapangan pribadi Marcus Vane. Sang Jenderal tidak lagi mengandalkan korporasi yang birokratis. Ia menggunakan sumber daya pribadinya yang tak terbatas untuk melacak "kunci" yang hilang.

Di sebuah terminal data kumuh di sudut jalan, salah satu agen memasukkan alat pelacak frekuensi. Layar menampilkan pola gelombang hijau yang berdenyut lemah namun konsisten.

"Target terdeteksi di koordinat hotel peti mati. Sektor 4, The Vault," lapor agen itu melalui comms terenkripsi.

Suara berat Marcus Vane menjawab dari sisi lain. "Jangan rusak kuncinya. Tapi Weaver itu... habisi dia di depan matanya. Aku ingin emosinya memuncak agar residu Echo-01 bisa mengonsumsi kesadarannya dengan lebih cepat. Lakukan sekarang."

Juan merasakan firasat buruk. Sinyal statis di radio tuanya mulai menangkap interferensi yang sangat spesifik—sinyal jammer jarak dekat.

"Mereka di sini," desis Juan.

Ia segera memakai kembali jaketnya dan memberikan Lilia pakaian yang lebih tebal yang ia beli tadi sore. Lilia, meski masih terguncang oleh mimpinya, segera bangkit. Insting bertahannya mulai mengambil alih.

"Kita tidak bisa keluar lewat pintu depan," kata Juan. Ia melihat ke atas, ke arah kipas angin pembuangan udara yang berkarat di langit-langit kontainer. "Kita harus lewat lorong perawatan."

Juan menggunakan alat las kecil untuk memotong baut kipas tersebut. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mendorong penutupnya hingga terbuka. Ia membantu Lilia memanjat lebih dulu ke dalam lorong yang sempit dan penuh tikus itu.

Tepat saat Juan berhasil menarik dirinya masuk ke dalam lorong, pintu kontainer nomor 404 meledak dengan dentuman keras. Semburan api dan asap masuk ke dalam ruangan sempit itu. Juan melihat dari celah lorong dua sosok pria masuk dengan senjata laser yang sudah terisi penuh.

"Mereka baru saja di sini. Masih hangat," suara salah satu agen terdengar dingin.

Juan tidak menunggu lebih lama. Ia menarik tangan Lilia, merangkak secepat mungkin di dalam pipa-pipa besi yang berbau busuk. Mereka merayap di atas tumpukan kabel yang berderak, menembus kegelapan The Fringe dari balik dinding.

Lilia merasakan detak jantung Juan di depan tangannya. Ia juga merasakan sesuatu yang lain—sebuah bisikan di belakang kepalanya, suara Echo-01 yang tertawa.

"Lari semaumu, Elara. Tapi ke mana pun kau pergi, aku adalah bayangan yang kau bawa. Marcus akan menjemput kita, dan kita akan menjadi satu kembali."

Lilia menggigit bibirnya hingga berdarah, mencoba mengusir suara itu. Ia menatap punggung Juan yang lebar, pria yang telah mengorbankan segalanya untuk sebuah kanvas kosong sepertinya.

"Aku tidak akan membiarkannya, Juan," bisik Lilia dalam hati. "Bahkan jika aku harus menghapus diriku sendiri untuk menyelamatkanmu."

Mereka keluar dari ujung pipa perawatan, jatuh ke sebuah tumpukan ban bekas di gang belakang. Hujan mulai turun, bukan hujan asam Distrik 9, melainkan hujan badai yang murni namun dingin. Mereka berlari menembus kegelapan The Fringe, menuju jantung daerah kumuh yang lebih dalam, di mana hukum rimba adalah satu-satunya pelindung mereka.

Perjalanan mereka menuju konfrontasi psikologis dengan Marcus Vane baru saja dimulai. Di dunia yang dingin dan tanpa ampun ini, satu-satunya hal yang masih menyala adalah frekuensi cinta mereka yang terlarang—sebuah cahaya kecil yang kini harus berjuang melawan bayangan dari masa lalu yang tidak mau mati.

Sambil berlari, otak Juan bekerja cepat. Ia tahu ia tidak bisa terus melarikan diri. Marcus Vane memiliki sumber daya untuk membakar seluruh The Fringe jika perlu. Ia harus mencari tempat di mana ia bisa melakukan "pembedahan saraf" pada Lilia secara permanen.

"Lilia, kau ingat laboratorium bawah tanah tua milik ayahmu yang pernah ia sebutkan dalam data-drive?" tanya Juan sambil bersembunyi di balik reruntuhan bus kota.

Lilia mengangguk pelan. "Laboratorium di bawah stasiun pusat tua. Tempat dia pertama kali melakukan percobaan Echo."

"Itu tempatnya. Jika ada tempat di mana kita bisa membasmi Echo-01, itu di sana. Kita akan memancing Marcus ke sana. Kita akan menyelesaikan ini di tempat semuanya dimulai."

Juan menatap Lilia, memegang kedua bahunya. Mata Lilia sesaat berkilat hijau, lalu kembali cokelat. Waktu mereka hampir habis. Residu itu mulai bermetastasis.

"Kita akan menang, Lilia. Aku berjanji."

Lilia memeluk Juan erat, seolah-olah itu adalah terakhir kalinya ia bisa merasakan pria itu. "Aku mencintaimu, Juan. Ingat itu, bahkan jika nanti aku bangun dan tidak mengenalmu."

Juan tidak menjawab. Ia hanya mencium kening Lilia, lalu menariknya kembali ke dalam kegelapan malam, menuju stasiun pusat tua yang terkubur di bawah lapisan kerak peradaban yang membusuk. Di belakang mereka, lampu-lampu pelacak agen Marcus Vane mulai membelah kabut, seperti mata predator yang lapar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Frekuensi Terlarang   Bab 34

    Air laut yang mendidih bukan lagi sekadar metafora; air itu benar-benar menguap, menciptakan dinding kabut panas yang memerangkap kapal motor tua itu dalam sangkar keputihan yang menyesakkan. Di tengah dek yang miring tajam, Miri tampak seperti fatamorgana yang sedang terkikis oleh angin kencang. Tubuh kecilnya tidak lagi memantulkan cahaya; ia justru menghisap cahaya di sekelilingnya, menjadi siluet transparan yang menyingkapkan jalinan sirkuit saraf berwarna perak di mana seharusnya tulang dan darah berada. Lilia merayap di atas dek yang licin oleh oli dan air garam, jemarinya mencakar kayu yang mulai lapuk demi mencapai sosok kristal emas yang berdiri kaku. Juan tidak menoleh, namun getaran dari tubu

  • Frekuensi Terlarang   Bab 33

    Udara di Old Soul tidak lagi memiliki aroma kehidupan; yang tersisa hanyalah rasa logam berkarat yang menempel di pangkal lidah dan debu abu-abu yang terasa seperti gigitan piksel di permukaan kulit. Lilia terbatuk, menutupi hidungnya dengan syal yang sudah koyak, sementara matanya terus memindai reruntuhan gedung pencakar langit yang kini tampak seperti tulang-belulang raksasa yang hangus. Di sampingnya, Miri berjalan dengan langkah gontai, jemari kecilnya mencengkeram erat ujung jaket Lilia seolah-olah dunia ini bisa menelannya kapan saja. Tiba-tiba, Lilia merasakan sensasi tajam di pergelangan tangannya, seperti sengatan ribuan jarum mikro yang dialiri listrik statis. Ia menunduk dan melihat sebutir

  • Frekuensi Terlarang   Bab 32

    Langkah kaki Lilia bergema hampa di atas lantai logam yang dilapisi embun beku. Di sekelilingnya, ribuan tabung vertikal berjajar seperti pilar-pilar di katedral kematian, masing-masing berisi sosok pria yang sangat ia kenal. Cahaya biru pudar dari cairan kriogenik menerangi wajah-wajah yang tertidur itu—rahang yang tegas, garis hidung yang identik, dan jemari yang dulu pernah menenun memori di pangkal saraf Lilia.Setiap tabung memiliki label digital yang berkedip pelan:VESSEL-04: BATCH 91, VESSEL-04: BATCH 92, terus berlanjut hingga ke ujung cakrawala ruangan yang tak berujung. Lilia menyentuh permukaan kaca salah satu tabung, merasakan dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang, sementara jantungnya berdegup kencang oleh horor yang tak terlukiskan."Juan..." bisik Lilia, suaranya pecah di tengah kesunyian laboratorium yang steril.Ia me

  • Frekuensi Terlarang   Bab 31

    "Jangan percaya padanya!"Suara itu bukan sekadar getaran udara yang melewati pengeras suara Uplink. Itu adalah petir yang menyambar langsung ke pusat saraf Lilia, membawa frekuensi yang begitu identik dengan suaranya sendiri hingga dadanya terasa sesak. Pesan dari masa depan itu bergema di antara pepohonan yang meranggas, menciptakan distorsi visual yang membuat bayangan Aria tampak memanjang dan bergetar seperti gangguan pada kaset lama.Lilia tersentak mundur, tangannya yang memegang pistol pulsa gemetar hebat hingga sendi-sendinya memutih. Matanya beralih dengan cepat antara layar Uplink yang berkedip merah dan sosok Aria yang berdiri tenang di tengah remang malam."Lilia, apa yang kau dengar itu hanyalah umpan," kata Aria, suaranya tetap l

  • Frekuensi Terlarang   Bab 30

    Lilia merenggut tangan Miri dengan kasar, hingga gadis kecil itu tersentak dan nyaris terjatuh di atas tumpukan abu perak yang masih hangat. Di bawah cahaya fajar yang mulai menyapu permukaan kulit, garis emas di telapak tangan Miri berdenyut dengan ritme yang mengerikan—sebuah detak jantung biner yang seharusnya sudah terkubur di dasar samudra bersama Juan. Garis itu tidak hanya diam di permukaan; ia tampak hidup, merayap di bawah jaringan nadi seperti cacing cahaya yang lapar, mencari jalan menuju jantung organik yang murni."Ibu Lilia, tanganku... rasanya panas," isak Miri, air matanya jatuh mengenai garis emas itu dan seketika menguap menjadi uap kecil beraroma ozon.Lilia tidak menjawab, lidahnya kelu saat ia melihat pola geometri di tangan Miri mulai membentuk fraktal bunga bougainvillea yang sama persis dengan yang ada pada Juan. Ketakutan yang lebih dingin dari es pegunungan mer

  • Frekuensi Terlarang   Bab 29

    Tanah di tengah alun-alun Sanctuary tidak lagi bergetar; ia berdenyut. Denyutan itu terasa hingga ke ulu hati Lilia, sebuah irama ritmis yang menyerupai detak jantung raksasa yang sedang bermimpi di bawah lapisan kalsium dan batu. Di tengah kegelapan malam, pohon kristal yang semula berwarna hijau zamrud kini mulai memancarkan cahaya biru neon yang pucat, sementara akar-akarnya yang menembus panggung kayu mulai mengeluarkan suara desis seperti uap yang keluar dari celah mesin yang panas."Ibu Lilia, lihat kakiku!" jerit Miri dari kejauhan.Lilia segera menoleh dan merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Di bawah cahaya bulan, ia melihat jejak kaki Miri di atas tanah mengeluarkan pendaran perak yang sama dengan abu Juan. Bukan kristalisasi seperti sebelumnya, melainkan sebuah jejak data yang bercahaya, seolah-olah setiap langkah Miri sedang menulis ulang realitas di atas tanah yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status