Home / Romansa / From Your Eyes Only / 138 : Yang kuat bukan yang tak pernah jatuh, tapi yang mampu menyesuaikan langkahnya setiap kali dunia berubah arah.

Share

138 : Yang kuat bukan yang tak pernah jatuh, tapi yang mampu menyesuaikan langkahnya setiap kali dunia berubah arah.

Author: Netganno
last update Last Updated: 2025-11-29 07:50:05
Susan POV

Suasana ruang tamu seketika terasa menegang. Hujan di luar kian deras, menimbulkan suara gemuruh yang seolah menggema sampai ke dada. Semua mata kini tertuju padaku, menunggu jawabanku. Akankah aku mengizinkan Arumi tinggal di rumah kami?

Aku menatap wajah-wajah di sekitarku, Johan dengan sorot mata penuh harap, Julio yang mencoba membaca pikiranku, dan Laras di kursi rodanya, diam tanpa suara, sementara Arumi duduk di ujung sofa, tangannya menggenggam ujung tas kainnya erat-erat, se
Netganno

Mamaku juga pesan, jangan biarkan wanita lain tinggal di rumah kita mencegah aja hal-hal yang tidak diinginkan. Saat dulu baru pindah ke sini, suami ku suruh ambil art dari yayasan,eh saat mereka pulang, aku terkejut karena liat wanita muda,rambutnya warna merah, pake baju crop top, masuk ke halaman rmh, lalu aku bilang suami. Ini ART yang lu pilih? Katanya iya, tinggal ini di yayasan nggak ada yang lain. Aku langsung teriak. Balikin, ini mau jadi ART atau jadi LC? Lu kok bisa bawa pulang pembantu yang rambutnya merah gitu? Suami ku menjawab, emang rambutnya merah, maaf aku kan buta warna jadi aku nggak liat, rambutnya merah dan ruangan yayasannya gelap (suamiku memang buta warna partial, hehehe) Akhirnya,aku menyuruh supirku bawa balik ke yayasan art itu, dan ibu yayasannya ku omelin. Sekedar cerita ya di weekend ini. Happy reading. Semoga hari weekend ini membawa kebahagiaan.

| 18
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (22)
goodnovel comment avatar
yesi rahmawati
Kirain arumi mau tinggal di tempatnya laras untuk sementara, ternyata di suruh ngekos di rumahnya bu pur.
goodnovel comment avatar
yesi rahmawati
Laras punya keputusan yang bijak, dan mau gak mau ya harus mau dengan apa yang di kasih johan ke arumi. Itu kan juga udah bentuk menolong
goodnovel comment avatar
Mbak Nana
bener kata mama mu liyo jangan biarkan di rumah ada perempuan lain .bisa berbahaya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • From Your Eyes Only   145: Pernikahan adalah perjalanan panjang menuju versi terbaik dari dua jiwa yang saling belajar untuk bertumbuh.

    Epilog Setahun kemudian, di sore hari Minggu yang cerah, dua stroller dari merek Nuna dan empat orang tampak berjalan perlahan memasuki pemakaman di Karet Kuningan tempat Bayu dimakamkan. Laras menaruh bunga di makam kedua orang tuanya, lalu beralih ke nisan putih bertuliskan nama Bayu Prasetyo. Ia berjongkok, membelai lembut nisan itu, sementara Julio dan Ario mencabut rumput liar yang tumbuh di atas tanah makam. Di dekat mereka, Riris berdiri di samping stroller Nuna BMW X yang ditempati Raihan dan satunya seri Nuna Triv yang berisi Ayuna, kedua bayi lucu yang kini menjadi pusat dunia mereka. Suara Laras terdengar lembut saat ia mulai berbicara, “Bayu...Hari ini ulang tahunmu. Selamat ulang tahun adikku. Hari ini kakak datang bersama keponakanmu. Namanya Raihan. Entah kenapa, wajahnya mirip sekali dengan kamu, Bayu. Senyumnya, matanya, bahkan cara dia tertawa, semuanya mengingatkanku padamu. Tapi aku bahagia, Bayu. Karena lewat Raihan, rinduku padamu terasa lebih ringan.” Laras

  • From Your Eyes Only   144 : Tuhan mengambil satu hal untuk memberi seribu alasan baru agar manusia tetap bersyukur, sebab setiap kehilangan sejatinya hanyalah jalan pulang menuju cinta yang lebih besar

    Laras POV Aku sedang menyusui bayiku yang besok genap berusia satu bulan ketika Julio masuk ke kamar kami. Ia baru pulang dari Labayo, tempat yang kini tumbuh pesat, meskipun belum satu tahun beroperasi . Tapi karena permintaan pasar terus meningkat, maka kami uda menambah kapasitas produksi jadi dua ribu donat per hari, dan kami menambah enam orang mitra pemasaran baru juga pekerja yang membantu di dapur dari SMK Tata Boga. Melihat wajahnya yang lelah tapi berbinar, hatiku menghangat. Suamiku sudah bekerja sangat keras dan aku bangga padanya.Raihan tertidur pulas di pelukanku. Ya, Raihan Anindra Wicaksono nama yang kami pilih dengan penuh perdebatan di rumah sakit saat aku masih di rawat dan Raihan masih di inkubator. Julio mulanya ingin nama yang mengandung unsur “Bayu”, katanya sebagai bentuk terima kasih pada adikku tercinta yang sudah menuntunnya bertemu denganku. Tapi aku menolak. Aku ingin nama Bayu tetap menjadi milik Bayu bagian dari kenangan yang utuh, tak tersentuh.

  • From Your Eyes Only   143 : Ternyata kebahagiaan itu sederhana. hanya butuh dua hal: orang yang kita cintai bernapas dengan selamat, dan tangis kecil yang menandakan hidup baru dimulai

    Julio POV Jeritan kepanikan Laras dan Riris bersahutan. Ario pun ikut panik, suaranya meninggi, “Ayo, Ris! Kita harus ke Bidan Aini sekarang!” “Kita ke rumah sakit aja!” seruku cepat. “ Pak Narto ada di depan, biar sekalian sama Laras. Ketuban Laras pecah! Kita harus cepat ” Ario menatapku, wajahnya tegang. “Kamu aja yang ke rumah sakit bawa Laras. Aku bisa ke puskesmas aja bareng Riris!” Aku tidak mau berdebat. Aku langsung menuntun Laras keluar, memeluk bahunya agar bisa berjalan lebih cepat. Pak Narto sudah siap di depan pintu mobil untung tadi dia parkir di lapangan bola agar Laras tak perlu berjalan jauh sampai ke tempat biasa aku parkir mobilku di samping mall Ambasador. Tapi langkahku terhenti ketika suara Laras memanggil lirih, “Ris… boleh nggak kamu bareng aku ke rumah sakit? Aku takut, Ris. Ketuban pecah di usia tujuh bulan itu bahaya, kan?” Suaranya bergetar, hampir menangis. Riris menatapnya, meski wajahnya menahan sakit, bibirnya tersenyum tipis. “Iya, iya, Ra…

  • From Your Eyes Only   142 : Kadang kebahagiaan bukan datang dari hal besar, tapi dari perhatian kecil yang diulang setiap hari

    Laras POV Sinar matahari menembus tirai jendela, mengenai wajahku yang baru saja terbangun. Aku melirik jam di meja kecil di samping tempat tidur, Sudah jam delapan. Ya, kalian nggak salah dengar, jam delapan pagi, dan aku baru bangun. Sejak masuk trimester kedua , rasa malas datang tanpa permisi. Kalau dulu aku biasa bangun jam dua dini hari untuk mengadon donat, sekarang jangankan jam dua, jam tujuh pun rasanya seperti tengah malam. Anak dalam perutku ini benar-benar manja dan sepertinya, dia ingin aku ikut manja juga. Setelah drama flek dan bed rest total di trimester pertama, dokter Dea akhirnya menyatakan aku “bebas tahanan rumah”. Anakku sudah cukup kuat, katanya. Aku boleh beraktivitas asal tidak terlalu capek dan tidak boleh berdiri lama tentunya aku senang bukan main.Tapi di hari pertama aku niat kembali ke Labayo, rencanaku berantakan karena aku tidur lelap sekali , dan Julio suami paling lembut dan penyayang sejagat raya, tidak tega membangunkanku. “Ra, kamu tidur nyenya

  • From Your Eyes Only   141: Penebusan tak selalu datang dalam kata ‘maaf’, tapi dalam tindakan kecil yang tulus, yang perlahan menjahit robekan antara masa lalu dan masa kini

    Julio POV Siang itu, sekitar pukul sebelas, aku bersiap pulang ke rumah mama untuk menemani Laras makan siang. Semua pekerjaan di Labayo sudah rampung. Hanya Ario yang masih sibuk membetulkan satu motor listrik yang ngadat sejak pagi. Untungnya waktu awal membuka usaha, aku membeli tujuh unit motor listrik. setidaknya kalau satu rusak, operasional tetap bisa jalan. “Ar, aku balik dulu ya, ke rumah.” Ario mengangguk tanpa menoleh, tangannya masih memegang obeng dan kabel. “Oke. Nanti aku nyusul pas siangan, sekalian jemput Riris yang mau jenguk Laras.” Aku menatapnya sebentar. “Riris udah berangkat ke dokter?” “Udah, baru jam sembilan tadi dia jalan.” “Ke dokter Dea, kan?” “Nggak,” jawab Ario sambil nyengir. “Katanya mau ke puskesmas dulu biar dapet buku ibu hamil. Dia keukeuh pengen pakai BPJS, katanya sayang udah bayar iuran tapi nggak pernah dipakai.” Aku menghela napas, separuh gemas, separuh kagum pada kesederhanaan Riris. “Aduh… udah kubilang, biaya itu akan ditang

  • From Your Eyes Only   140 : Kadang, Tuhan tidak mengirim malaikat bersayap untuk menolongmu. Ia mengirim sahabat dengan tawa yang tulus, tangan yang hangat, dan hati yang tak pernah menilai

    Riris POV Aku dan Ario berdiri di depan pintu pagar rumah, menyaksikan Julio berpamitan kepada Arumi, Wanita yang hampir jadi mertuanya, ibu dari Erika. Tadi ia datang bersama wanita ini dan mengatakan bahwa Arumi akan menyewa kamar kontrakan yang dulu ditempati Ario dan Julio . Ibuku tentu saja senang, apalagi Julio membayar sewanya langsung untuk satu tahun penuh tidak bulanan seperti penyewa lainnya. Setelah berpamitan kepada Arumi, yang kemudian menutup pintu kamarnya , Julio berjalan mendekati kami sambil berkata. “ Besok pagi ,tolong bantu tante Arumi untuk bekerja di Labayo. Saat kalian berangkat , ajak dia sekalian ya. Aku tadi udah bilang padanya, berangkat jam 1.45 pagi.” Kata Julio, kali ini kata-katanya bukan sebagai teman tapi sebagai boss kami. “ Emang dia bisa bangun Liyo?” Tanya Ario “ Bukannya katamu dia terbiasa jadi putri atau tepatnya ratu seperti anaknya, si Erika itu ” sambungnya lagi. “ Mau tidak mau, dia harus bisa bangun, sekarang dia bukan ratu lagi. Suami

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status