Home / Urban / GADIS NAKAL CEO / BAB 2 KEMATIAN GERALD DAWSON

Share

BAB 2 KEMATIAN GERALD DAWSON

Author: Jemyadam
last update publish date: 2021-04-27 01:47:13

BAB 2 KEMATIAN GERALD DAWSON

Gerald Dawson meninggal dunia beberapa jam setelah mengalami serangan jantung.

Kabar itu membuat Sky terpaku cukup lama di dalam jet pribadinya. Sulit dipercaya... Pria yang selama ini menjadi partner bisnis, mentor, sekaligus orang tua kedua baginya, kini telah tiada.

Sore itu langit Southampton dipenuhi awan kelabu saat pemakaman berlangsung. Sky berdiri di depan peti mati mengilap yang tertutup bunga lili putih. Sejak mengenal Gerald lebih dari satu dekade, baru kali ini dia terlihat begitu diam.

Dan itu terasa salah.

"Papa tidak sempat mengatakan apa pun."

Celine tiba-tiba memeluknya sambil menangis. Tubuhnya bergetar hebat. Sky mendekat untuk mengusap punggung wanita itu perlahan.

"Aku di sini."

Hanya itu yang bisa dia katakan. Tak ada kata-kata yang cukup untuk menghibur kehilangan sebesar ini.

Di sisi lain, Vivian Dawson duduk mengenakan gaun hitam dan kacamata gelap. Sesekali ia menyeka sudut matanya dengan tisu. Namun Sky tidak bisa menebak apakah wanita itu benar-benar berduka.

Sky juga tidak terlalu bodoh untuk mengetahui jika hubungan suami istri itu sebenarnya memang kurang harmonis. Sky malah menduga Vivian akan bersuka cita dengan kepergian suaminya.

Sudah bukan rahasia jika Vivian telah sejak lama ikut mengincar posisi suaminya di perusahan demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang nyaris bangkrut.

Sky tidak akan membiarkan Vivian mengambil alih perusahan. Karena itu Sky bersikeras untuk bisa mendapatkan Celine, karena dialah kunci yang akan mengokohkan posisinya di perusahaan jika penyihir wanita itu ingin ikut campur.

Tak lama kemudian peti mati mulai diturunkan ke dalam liang. Tanah pertama dijatuhkan. Suara tangisan kembali pecah.

Sebuah perjalan hidup seorang pria hebat baru saja berakhir.

Sky menghela napas panjang.

Langit masih mendung tapi belum tentu juga bakal turun hujan. Awan gelap bergelayut dan udara hening yang tak bergerak hanya semakin menambah suram suasana pemakaman.

Peti mahoney hitam mengkilat itu baru saja selesai diturunkan ke liang pemakaman tapi para peziarah sudah langsung berangsur-angsur pergi, termasuk Sky.

Sky berniat segera kembali ke Manhattan.Karena pastinya akan ada banyak hal yang juga harus segera ia urus setelah kepergian Gerald yang mendadak seperti ini.

Sky sedang berjalan meninggalkan area pemakaman ketika seorang pria tinggi besar menghampirinya.

"Mr. Adington."

Sky masih berdiri mencermati pria di depannya sambil mengingat-ingat jika mungkin mereka pernah bertemu. 

"Perkenalkan saya Max Marton, notaris pribadi Mr. Dawson."

Namanya terdengar asing, tapi begitu dia menyebut nama notaris, Sky langsung balas mengulurkan tangan.

"Sky Andington."

Sky ikut memperkenalkan diri meski sepertinya pria itu sudah tahu persis siapa dirinya.

"Ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada Anda mengenai surat wasiat Mr. Dawson."

Sky mengangguk paham.

"Sebaiknya kita bicarakan di kantorku."

Sky setuju dan berjalan mengikuti pria tinggi besar itu masuk ke dalam mobilnya yang ternyata sedari tadi sudah menunggu di luar area pemakaman.

Siang itu Sky dibawa ke sebuah gedung perkantoran, masih di kawasan Southampton. Kantornya tidak terlalu luas, tapi ruang pertemuan mereka cukup nyaman dan sunyi. Tidak ada orang lain.

"Apa aku hanya sendiri?"

Sky tidak melihat Vivian, maupun Celine.

"Ya, Anda adalah orang pertama yang harus saya hubungi. Ini permintaan Mr. Dawson jika sesuatu yang tidak terduga terjadi."

Sebenarnya bukan hal yang aneh jika Gerald telah menunjuk seorang notaris untuk mengurus semua wasiatnya. Sky hanya kurang mengerti kenapa harus dirinya yang pling pertaman mendengar surat wasiat tersebut.

Max membuka sebuah map tebal.

"Ini permintaan khusus dari Mr. Dawson. Dan benar-benar hanya anda yang boleh tahu."

Perasaan tidak nyaman mulai muncul. Tapi Sky tahu sahabatnya Gerald bukan tipe pria yang melakukan sesuatu tanpa alasan.

"Saya akan langsung ke intinya."

Max membuka dokumen pertama.

"Mayoritas saham milik Gerald Dawson serta delapan puluh persen aset pribadinya diwariskan kepada seorang ahli waris bernama Alizia Moris."

Sky membeku.

"Siapa?"

"Alizia Moris."

"Maaf, aku tidak pernah mendengar nama itu."

"Karena selama ini keberadaannya dirahasiakan." Max menatapnya lurus. "Dia adalah putri biologis Mr. Dawson."

Ruangan mendadak terasa hening. Sky bahkan sempat mengira dirinya salah dengar.

"Putri biologis?"

"Ya."

"Mustahil." Sky reflek menggeleng.

"Tidak."

Max mendorong beberapa berkas ke hadapannya.

"Semua bukti sudah diverifikasi."

Sky membaca cepat. Tanggal lahir, dokumen sekolah, catatan pembayaran, semuanya nyata. Ternyata Gerald menyembunyikan seorang anak selama bertahun-tahun. Dan tidak seorang pun tahu, termasuk Celine dan Vivian.

"Kalau begitu kenapa aku harus tahu semua ini?" tanya Sky tajam.

Max menarik napas. Lalu menyerahkan halaman terakhir.

"Karena Anda ditunjuk sebagai wali sah Alizia Moris."

Sky menatap tulisan itu. Lalu menatap Max. Kemudian kembali menatap dokumen tersebut.

"Apa?"

"Mulai hari kematian Mr. Dawson hingga Alizia berusia delapan belas tahun dan siap mengelola harta warisannya."

Sky berdiri mendadak. "Kau bercanda."

"Saya tidak bercanda." Max Marton tetap tenang.

"Gerald menunjukku untuk mengurus anak rahasianya?" Sky melotot.

"Ya."

"Apa Gerald sudah gila?!"

"Mr. Dawson tidak gila, dia hanya sudah meninggal dan putrinya yang kaya raya butuh perwalian."

"Dengan warisan sebesar itu Alizia Moris bakal jadi remaja paling kaya sedunia. Tapi masalahnya apa Vivian dan Celine bakal tinggal diam?"

"Sebab itu semua identitas Alizia Moris harus dirahasiakan. Karena nyawa gadis itu bisa berada dalam bahaya."

Sky mengusap wajah kasar. Kepalanya mulai berdenyut. Bahkan susahnya untuk mendekati Celine tiba-tiba jadi sia-sia. Karena wanita itu tidak mendapatkan apa-apa.

Max kembali menyodorkan map di hadapannya.

"Alamat sekolah asramanya ada di sana."

Sky menatap map itu. Entah kenapa benda sederhana tersebut terasa lebih berat daripada seluruh dokumen perusahaan yang pernah dipercayakan Gerald padanya.

"Tugas Anda, temukan Alizia Moris."

Max mengetukkan jari di atas permukaan meja. Tatapannya tajam.

"Lalu lindungi pewaris tunggal Gerald Dawson."

Jantung Sky langsung berdegup keras.

Masalahnya bagaimana Sky harus tiba-tiba mengasuh gadis remaja?

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
marlaina marliana
wah produk kelicikan ... br tau ada julukan untuk yg satu ini hihihihi...
goodnovel comment avatar
Ling Ling
produk dri klicikan.... wkwkwk, trnyata Celine hsil dri pria lain.
goodnovel comment avatar
Wakhidah Dani
Vivian nih antagonis nya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • GADIS NAKAL CEO   BAB 82 ...

    "Selamat ulang tahun. " Di musim semi ulang tahun Lizie yang ke sembilan belas. Sky mengangkat Lizie untuk duduk di atas pangkuannya, mereka hanya berdua memandang ke luar dari jendela kaca besar yang menghadap langsung ke sisi pegunungan Alpen. "Aku ingin kita seperti ini dulu," bisik Sky ketika mempererat lengannya di pinggang Lizie dan menghirup puncak kepalanya dengan tarikan napas dalam. "Aku ingin memilikimu untuk diriku sendiri." Sky menyarukkan rahangnya yang terasa kasar dan menggelitik sisi leher gadis mudanya yang hangat dan lembut. "Aku adalah milikmu, kau boleh memilikiku sesuka hatimu." Sentuhan Sky adalah apa yang juga akan selalu Lizie inginkan.

  • GADIS NAKAL CEO   BAB 81 PULANG

    Walaupun tangan kirinya masih di perban tapi Sky bersikeras bisa menyetir sendiri untuk membawa lizie pulang bersamanya. Sky memang keras kepala, padahal Tobias sudah sengaja datang pagi-pagi untuk mengantarkan mereka pulang. Lizie terpaksa masuk ke dalam mobil Sky dan melambai pada Tobias Harlot untuk sekaligus minta maaf. Lizie benar-benar merasa tidak enak karena bagaimanapun selama ini Tobias sudah sangat baik pada mereka. "Tulangku hanya retak bukan cacat!" kata Sky setelah Lizie duduk di sampingnya. "Ya, aku percaya." Lizie pilih setuju saja dibanding harus berdebat karena dia tahu Sky tidak suka diremehkan dan hal itu sudah jadi sifat dasarnya yang sulit dirubah. Sky memang masih bisa mengemudi dengan baik, lengan kirinya j

  • GADIS NAKAL CEO   BAB 80 ...

    Tobias Harlot sudah coba menjelaskan dengan tenang tapi nyatanya air mata Lizie tetap merembas hangat dari masing-masing sudut matanya. Lizie meraba kembali perutnya yang sudah kembali rata dengan jemari tangannya yang agak kurus. Rasanya tetap pedih walaupun sudah tidak ada yang terasa perih lagi. "Jadi bayiku tidak selamat? " Tobias hanya berani mengangguk pelan. "Anak-anak akan berada di surga kau tidak perlu cemas." "Aku bahkan tidak sempat melihatnya." "Kau sudah berjuang dengan hebat, Sky pasti juga akan tetap bangga padamu." Lizie mulai menunduk dan terisak pelan.

  • GADIS NAKAL CEO   BAB 79 It Ain't Me

    Sky berjalan kembali ke mobilnya, berusaha mencengkram kemudinya dengan mantap untuk menguatkan langkahnya. Sky tidak boleh menyerah karena Lizie juga sudah berjuang dengan sangat keras. Sky menoleh pada buket bungan matahari di samping tempat duduknya dan kembali menghela napas dalam untuk memenuhi paru-parunya yang sesak. Sky sudah bersumpah pada Gerald untuk menjaga putrinya. Walaupun mungkin sahabatnya itu sudah lebur bersama tanah tapi sumpah Sky akan tetap berlaku untuknya. Sky tidak akan menyerah dia harus tetap hidup demi Lizie dan demi putri mereka yang sudah pergi tanpa sempat menangis. Sky berjalan melalui lorong dingin yang juga sudah dia lalui setiap hari tanpa pernah berubah. Semuanya masih sama, tidak ada perubahan berarti sejak dua bulan berlalu. Sky mengganti bunga matahari di dalam vas kaca dengan yang baru dia bawa,

  • GADIS NAKAL CEO   BAB 78 MUSIM DINGIN

    Sky menoleh kembali tempat tidur di sampingnya yang kosong dan dingin, hampir tiga bulan berlalu tapi rasanya masih sulit dipercaya ia harus menjalani hidup seperti ini. Ini adalah musim dingin paling beku di sepanjang hidupnya . Sky tidak pernah tahan tiap kali mulai memikirkannya, hidup tanpa Lizie dan tanpa bayi mereka. Sky masih tertelungkup di atas tempat tidurnya setelah semalam Tobias menyeretnya pulang dari kekacauan yang dia buat di klub. Tobias sampai harus memukul Sky karena Celine menemukanya mabuk di klub dan berkelahi. Ternyata bukan hanya kesendiriannya yang sulit untuk dijalani, tapi kewarasannya juga semakin sulit untuk dijaga belakangan ini. Sky benar-benar tidak sanggup menjalani hidup seperti ini. Seolah dia hanya berjalan dan bernapas tanpa pernah benar-benar bisa hidup lagi. Sky masih ingat di mana dia menyimpan senjata apinya yang selalu siap sedia untuk mengakhiri segala penderitaan, godaan itu semakin menggoda untuk dituruti dan akan segera menjadikannya pen

  • GADIS NAKAL CEO   BAB 77 GADISKU

    Selama Mark bicara dengan Lizie, Sky sudah membuat keributan. Sky mengancam akan menuntut pihak rumah sakit jika mereka tidak segera mengambil tindakan. Tapi pihak rumah sakit juga tidak bisa melakukan pembedahan paksa tanpa persetujuan pasien. Sky tahu Lizie memanggil Mark Walder untuk meminta pertolongannya dan Sky sudah benar-benar kehilangan akal karena sikap keras kepala Lizie. Begitu melihat Mark baru keluar dari kamar Lizie Sky langsung menghampiri pria itu dan memukulnya. Sky memukul cukup keras sampai sudut bibir Mark langsung berdarah. Mark tidak membalas pukulan Sky karena dia tahu pemuda itu sedang sinting. Mungkin dia pun juga akan demikian jika berada di posisi Sky sekarang. "Jangan pernah merasa kau bisa menjadi pahlawan untuk Lizie ku!" ancam Sky sambil menunjuk Mar

  • GADIS NAKAL CEO   BAB 6

    BAB 6 Sky sudah tertidur ketika Lizie Merangkak naik ke atas ranjangnya dan menggoyang-goyang tubuhnya. "Sky, aku tidak bisa tidur." Sky yang terkejut langsung kembali terbangun, menyalakan lampu di samping ranjang. Sky masih seperti bermimpi ketika melihat Lizie sudah duduk bersimpuh di atas

  • GADIS NAKAL CEO   BAB 5

    BAB 5 Kantor Sky masih berada di kawasan jalan utama Fourth Avenue. Tidak jauh dari apartemennya. Dia cuma memerlukan waktu tidak sampai sepuluh menit untuk sampai di kantor tersebut. Gedung empat puluh tiga lantai itu sekarang sudah dia jadikan sebagai aktor utama untuk induk perusahaannya. Sebu

  • GADIS NAKAL CEO   BAB 4 ALIZIA MORIS

    BAB 4 LIZIE Lizie nampak takjub ketika melihat ke sekeliling apartemen Sky yang memiliki balkon sangat luas. "Jadi ini tempat tinggal mu?" "Semoga kau suka, yang itu kamarmu!" Sky menunjuk kamar yang bersebelahan dengan pintu balkon. Lizie memutar badan, menghadap Sky yang sedang duduk di sof

  • GADIS NAKAL CEO   BAB 3 ALIZIA MORIS

    BAB 3 ALIZIA MORIS Tanpa sepengetahuan siapapun Sky terbang sendiri ke Seattle, dia berencana untuk mengambil Alizia Moris dari sekolah asramanya. Kedengarannya memang agak gila tapi jika memang anak itu yang sekarang menjadi kuncinya, maka Sky harus menguasai gadis itu, dan menyembunyikannya dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status