Home / Urban / GADIS NAKAL CEO / BAB 3 ALIZIA MORIS

Share

BAB 3 ALIZIA MORIS

Author: Jemyadam
last update publish date: 2021-04-27 01:48:45

BAB 3 ALIZIA MORIS

Tanpa sepengetahuan siapapun Sky terbang sendiri ke Seattle, dia berencana untuk mengambil Alizia Moris dari sekolah asramanya.

Kedengarannya memang agak gila tapi jika memang anak itu yang sekarang menjadi kuncinya, maka Sky harus menguasai gadis itu, dan menyembunyikannya dari siapapun terutama dari Vivian.

Sebenarnya Sky juga belum memiliki rencana bakal dia apakan anak itu nantinya, karena Sky sendiri juga tidak memiliki pengalaman mengurus anak perempuan. Sky adalah anak tunggal karena sejak kecil terlahir di keluarga kaya raya ia pun tidak pernah hidup susah, sudah biasa serba dilayani dan sama sekali tidak pernah berencana memiliki anak yang menyusahkan seperti dirinya. Dari sekilas sejarah itu saja sudah jelas jika Sky bukan orang yang bakal becus untuk ditunjuk sebagai orang tua.

Gerald pasti sudah kehilangan akal sehatnya ketika menunjuk pria macam Sky sebagai wali.

Satu jam kemudian, mobil yang Sky kendarai memasuki kawasan Capitol Hill. Deretan bangunan tua bergaya klasik berdiri rapi di sepanjang jalan. Pepohonan rindang menaungi trotoar yang dipenuhi mahasiswa dan warga lokal.

Di tengah lingkungan yang tenang itu berdiri sebuah sekolah asrama khusus putri. Bangunannya megah dan elegan. Dinding bata merah. Jendela-jendela tinggi. Kapel kecil dengan lonceng tua. Tempat itu lebih mirip akademi bangsawan dibanding sekolah biasa.

Sky mematikan mesin mobil sambil menatap bangunan tersebut.

Sulit dipercaya Gerald menyembunyikan putrinya di tempat seperti ini selama bertahun-tahun.

Selain sebagai sekolah asrama khusus putri sepertinya sekolah tersebut juga merupakan sekolah yang sangat religius. Hampir tidak ada laki-laki yang berkeliaran di area sekolah.

"Aku ingin bertemu kelapa sekolah."

Seorang suster menjawab sopan dengan suara halus. "Silahkan Anda terus berjalan sampai ke ujung lorong."

"Terimakasih."

Sky lanjut berjalan, berpapasan dengan beberapa suster yang nampak saling berbisik dan takut mendekat.

"Hai."

Sky coba menyapa dua orang suster yang hampir berpapasan dengannya. Tapi mereka malah buru-buru berbalik arah untuk segera menjauh.

"Apa aku salah?" Gumam Sky merasa bodoh di lingkungan yang tidak biasa.

Sky memang tampan, bermata biru terang dengan rambut agak ikal keemasan, gaya berpakaiannya juga selalu terlihat mahal dan rapi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sky merupakan perwujudan sempurna yang bakal membuat wanita tidak akan cukup berani untuk lama-lama menatapnya tanpa tersipu. Bahkan bagi mereka yang berpakaian tertutup dan selalu menggenggam kitab kecil di tangannya.

Akhirnya Sky sampai pada tujuannya. Dia mengetuk pintu.

Tok

Tok

"Masuk" Suara dari dalam.

Sky mendorong pintu kemudian melangkah masuk.

"Apa aku bisa bertemu kepala sekolah."

Seorang wanita bertubuh subur dengan pakaian tertutup nampak duduk di sebuah meja di ruang kerjanya.

"Ya, silahkan duduk."

Wanita itu menunjuk tempat duduk di depannya.

Sky duduk dengan sopan, kemudian menunjukkan semua berkas yang dia bawa pada kepala sekolah. Wanita itu nampak membaca dengan cermat hingga kacamata nya sedikit merosot dari hidung.

"Jadi Anda, Mr. Adington?"

"Ya." Sky mengangguk.

"Aku datang untuk menjemput Alizia Moris." Sky mempertegas tujuan kedatangannya. "Aku ingin membawa Alizia Moris untuk tinggal bersamaku."

Kepala sekolah menegakkan kepala, reflek terkejut. "Kenapa tidak ada pemberitahuan sebelumnya?"

Kedatangan Sky memang mendadak dan mengejutkan karena tidak memberi pemberitahuan sebelumnya jika dirinya akan mengambil Alizia Moris dari sekolah asrama tersebut.

"Sekarang aku menjadi walinya, aku bisa menjemputnya kapanpun. Dan semua administrasi akan aku selesaikan semuanya."

Meski sempat agak terkejut gugup. Kepala sekolah itu segera mengangguk.

"Tunggu sebentar Mr. Adington, kami akan memanggil Alizia utuk turun."

Kepala asrama meminta seseorang suster yang lebih muda untuk menjemput Alizia.

Selama menunggu Sky hanya berdoa semoga anak itu tidak takut atau rewel ketika bertemu dengannya. Sky juga sudah memikirkan beberapa rencana licik untuk membujuk anak-anak agar mau ikut bersamanya. Sky sudah menyiapkan kamar untuk anak perempuan dan segala pernak pernik anak gadis belia warna merah muda di apartemen barunya.

Apapun akan Sky lakukan untuk bisa membawa Alizia Moris bersamanya. Gadis itu kunci, kunci yang akan mengokohkan kekuasaannya di perusahan.

Usia Sky sekarang sudah hampir tiga puluh satu tahun jadi dalam pikirannya anak berusia enam belas tahun adalah gadis kecil yang mungkin baru mulai beranjak remaja. Jadi Sky sama sekali tidak pernah berpikir Jika Alizia Moris bakal seperti yang dilihatnya kali ini.

Gadis itu berjalan sambil menarik koper merah muda mengekor di belakang suster asrama yang tadi menjemputnya. Sky menatap gadis itu dengan bola mata tak bergerak.

Alizia Moris adalah seorang gadis muda dengan rambut gelap dan mata abu-abu terang persis seperti milik Gerald, tingginya bahkan sudah sama dengan Celine. Sama sekali tidak terlihat seperti anak-anak.

"Lizie, perkenalkan ini, Mr. Adington."

Alizia menghentikan langkahnya.

Lalu mengulurkan tangan.

"Senang bertemu dengan Anda, Mr. Adington."

Sky segera berdiri.

"Panggil saja Sky."

Mereka berjabat tangan.

Tatapan Alizia tajam dan penuh rasa ingin tahu. Tidak terlihat gugup sedikit pun.

"Mulai hari ini Mr. Adington akan menjadi walimu secara hukum."

Alizia hanya mengangguk.

"Oh."

Hanya itu.

Dan Sky benar-benar tidak percaya bila dirinya baru saja mendapatkan anak perempuan yang sudah terlalu besar untuk dia urus. Tiba-tiba rasanya jadi kikuk dan canggung.

Sky segera berpamitan pada kepala sekolah dan pengurus asrama sebelum kemudian membawa Lizie bersamanya.

"Ayo."

Lizie hanya diam mengekor di belakang Sky sambil menarik koper dan menenteng tas punggung kecil yang penuh dengan gantungan kunci warna-warni.

"Kemarikan." Sky meminta koper tersebut untuk dia masukkan ke dalam bagasi.

"Buka saja kuncinya aku bisa memasukannya sendiri."

Sky sempat agak terkejut mendapati penolakan Lizie, tapi Sky masih belum berkomentar dan hanya mempersilahkan gadis itu melakukanya sendiri. Toh, biasanya Sky juga bukan tipe manusia yang suka membantu orang.

Sky langsung duduk di depan kemudi dan taklama Lizie menyusul duduk di kursi belakang sambil melempar ranselnya.

"Terima kasih, Mr. Adington."

"Panggil saja, Sky," Sky mengingatkan siapa tahu gadis itu lupa dengan nama wali barunya.

"Terima kasih, Sky." Lizie sengaja mengulang sambil tersenyum mengedipkan sebelah mata ketika balas menatap Sky dari kaca spion.

Baru saat itu Sky mulai sadar jika ada yang tidak beres.

"Kupikir kau sudah tua dan beruban," lanjut gadis itu, tersenyum menggoda dari kursi belakang.

"Berapa usiamu?" Sky langsung menginjak pedal rem, menghentikan mobilnya yang baru mulai berjalan dan menoleh ke belakang.

"Sejak kapan anak haram punya data kelahiran yang valid," Lizie bicara enteng sambil mengedikkan alis.

Selama ini Lizie memang tinggal di asrama elite tapi ada satu yang lupa Sky catat, yaitu...

'Asrama elit untuk anak naka!'

lebih tepatnya asrama untuk anak nakal yang dipaksa mengikuti kegiatan religius untuk memperbaiki akhlak.

"Aku sempat hidup di jalanan sampai Mr. Dawson memungutku, dia membawaku ke tempat ini dan sekarang menjadikanmu waliku."

Lizie berhenti sebentar untuk melompat dari sela kursi dan berpindah duduk di samping Sky.

"Tapi aku lebih menyukaimu, karena kau membawaku keluar dari tempat terkutuk ini!"

Sky masih mencengkram setir dan belum mulai berjalan karena sudah mulai khawatir apa seharusnya dia membiarkan gadis itu tetap tinggal di asrama saja.

"Aku beritahu sebuah rahasia."

Lizie sudah kembali bicara dengan wajah antusias.

"Sebenarnya usiaku dua tahun lebih tua, tapi karena ibuku buta huruf, jadi dia tidak tahu apa yang dia tulis di akte kelahiranku."

"Mustahil!"

Walapun sama sekali tidak percaya tapi Sky tetap mengerutkan alisnya, kemudian memperhatikan tubuh gadis muda di depannya yang memang sudah sempurna dan penuh.

"Kenapa kau melihatku seperti itu?"

"Memangnya kenapa?" Sky buru-buru mengelak setelah tertangkap basah sedang memperhatikan dada Lizie.

"Kau melihatku seperti tukang potong rumput di asrama!"

"Apa maksudmu?"

Lizie cuma menyeringai mengejek respon otak Sky yang lambat. Tentu tukang potong rumput adalah satu-satunya laki-laki yang bisa berkeliaran di asrama anak perempuan dan matanya sering cabul.

"Sudah ayo cepat jalan!" gadis itu bahkan berani mengendikkan dagunya, menyuruh Sky seperti supirnya.

Saat itu kepala Sky sudah mulai nyeri. Tapi dia masih belum bicara. Dia menjalankan mobil dengan sikap pura-pura tenang.

"Apa ini mobilmu?" Lizie kembali bertanya setelah berapa lama hanya memperhatikan jalanan.

"Aku menyewanya dari bandara."

"Jadi kau akan membawaku ke mana?"

"Kau akan tinggal bersamaku dan mengikuti program home schooling!" tegas Sky masih sambil fokus mengemudi.

Padahal sebenarnya home schooling itu juga ide mendadak, baru terpikir ketika mulutnya bicara.

"Apa benar kau tinggal di New York?"

Tadi pengurus asrama Lizie sempat menjelaskan sedikit mengenai siapa Sky Adington.

"Ya."

Alizia langsung duduk tegak.

"Kedengarannya menarik."

Sky justru semakin khawatir. Karena tidak ada satu pun bagian dari situasi ini yang terdengar menarik baginya.

Sky memang sudah membeli unit apartemen baru di kawasan Fourth Avenue untuk mereka tinggal bersama. Sky ingin gadis itu tetap aman dalam pengawasannya.

Tapi semua rencana itu sebelum Sky tahu jika Alizia Moris adalah seorang gadis bengal yang sepertinya juga bakal hobi menciptakan masalah.

****

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Haniubay
bilang aja mulai bosan pada Celine, apa lagi nanti sudah ketemu sama Si Lizi Lizi itu, pasti tambah lupa tuh sama Celine hhh
goodnovel comment avatar
Fifi Tasya
wkwkwkwk.... makanya kunjungi saja Lizzie biar gak gila sky.
goodnovel comment avatar
Ati Husni
seru ceritanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • GADIS NAKAL CEO   BAB 82 ...

    "Selamat ulang tahun. " Di musim semi ulang tahun Lizie yang ke sembilan belas. Sky mengangkat Lizie untuk duduk di atas pangkuannya, mereka hanya berdua memandang ke luar dari jendela kaca besar yang menghadap langsung ke sisi pegunungan Alpen. "Aku ingin kita seperti ini dulu," bisik Sky ketika mempererat lengannya di pinggang Lizie dan menghirup puncak kepalanya dengan tarikan napas dalam. "Aku ingin memilikimu untuk diriku sendiri." Sky menyarukkan rahangnya yang terasa kasar dan menggelitik sisi leher gadis mudanya yang hangat dan lembut. "Aku adalah milikmu, kau boleh memilikiku sesuka hatimu." Sentuhan Sky adalah apa yang juga akan selalu Lizie inginkan.

  • GADIS NAKAL CEO   BAB 81 PULANG

    Walaupun tangan kirinya masih di perban tapi Sky bersikeras bisa menyetir sendiri untuk membawa lizie pulang bersamanya. Sky memang keras kepala, padahal Tobias sudah sengaja datang pagi-pagi untuk mengantarkan mereka pulang. Lizie terpaksa masuk ke dalam mobil Sky dan melambai pada Tobias Harlot untuk sekaligus minta maaf. Lizie benar-benar merasa tidak enak karena bagaimanapun selama ini Tobias sudah sangat baik pada mereka. "Tulangku hanya retak bukan cacat!" kata Sky setelah Lizie duduk di sampingnya. "Ya, aku percaya." Lizie pilih setuju saja dibanding harus berdebat karena dia tahu Sky tidak suka diremehkan dan hal itu sudah jadi sifat dasarnya yang sulit dirubah. Sky memang masih bisa mengemudi dengan baik, lengan kirinya j

  • GADIS NAKAL CEO   BAB 80 ...

    Tobias Harlot sudah coba menjelaskan dengan tenang tapi nyatanya air mata Lizie tetap merembas hangat dari masing-masing sudut matanya. Lizie meraba kembali perutnya yang sudah kembali rata dengan jemari tangannya yang agak kurus. Rasanya tetap pedih walaupun sudah tidak ada yang terasa perih lagi. "Jadi bayiku tidak selamat? " Tobias hanya berani mengangguk pelan. "Anak-anak akan berada di surga kau tidak perlu cemas." "Aku bahkan tidak sempat melihatnya." "Kau sudah berjuang dengan hebat, Sky pasti juga akan tetap bangga padamu." Lizie mulai menunduk dan terisak pelan.

  • GADIS NAKAL CEO   BAB 79 It Ain't Me

    Sky berjalan kembali ke mobilnya, berusaha mencengkram kemudinya dengan mantap untuk menguatkan langkahnya. Sky tidak boleh menyerah karena Lizie juga sudah berjuang dengan sangat keras. Sky menoleh pada buket bungan matahari di samping tempat duduknya dan kembali menghela napas dalam untuk memenuhi paru-parunya yang sesak. Sky sudah bersumpah pada Gerald untuk menjaga putrinya. Walaupun mungkin sahabatnya itu sudah lebur bersama tanah tapi sumpah Sky akan tetap berlaku untuknya. Sky tidak akan menyerah dia harus tetap hidup demi Lizie dan demi putri mereka yang sudah pergi tanpa sempat menangis. Sky berjalan melalui lorong dingin yang juga sudah dia lalui setiap hari tanpa pernah berubah. Semuanya masih sama, tidak ada perubahan berarti sejak dua bulan berlalu. Sky mengganti bunga matahari di dalam vas kaca dengan yang baru dia bawa,

  • GADIS NAKAL CEO   BAB 78 MUSIM DINGIN

    Sky menoleh kembali tempat tidur di sampingnya yang kosong dan dingin, hampir tiga bulan berlalu tapi rasanya masih sulit dipercaya ia harus menjalani hidup seperti ini. Ini adalah musim dingin paling beku di sepanjang hidupnya . Sky tidak pernah tahan tiap kali mulai memikirkannya, hidup tanpa Lizie dan tanpa bayi mereka. Sky masih tertelungkup di atas tempat tidurnya setelah semalam Tobias menyeretnya pulang dari kekacauan yang dia buat di klub. Tobias sampai harus memukul Sky karena Celine menemukanya mabuk di klub dan berkelahi. Ternyata bukan hanya kesendiriannya yang sulit untuk dijalani, tapi kewarasannya juga semakin sulit untuk dijaga belakangan ini. Sky benar-benar tidak sanggup menjalani hidup seperti ini. Seolah dia hanya berjalan dan bernapas tanpa pernah benar-benar bisa hidup lagi. Sky masih ingat di mana dia menyimpan senjata apinya yang selalu siap sedia untuk mengakhiri segala penderitaan, godaan itu semakin menggoda untuk dituruti dan akan segera menjadikannya pen

  • GADIS NAKAL CEO   BAB 77 GADISKU

    Selama Mark bicara dengan Lizie, Sky sudah membuat keributan. Sky mengancam akan menuntut pihak rumah sakit jika mereka tidak segera mengambil tindakan. Tapi pihak rumah sakit juga tidak bisa melakukan pembedahan paksa tanpa persetujuan pasien. Sky tahu Lizie memanggil Mark Walder untuk meminta pertolongannya dan Sky sudah benar-benar kehilangan akal karena sikap keras kepala Lizie. Begitu melihat Mark baru keluar dari kamar Lizie Sky langsung menghampiri pria itu dan memukulnya. Sky memukul cukup keras sampai sudut bibir Mark langsung berdarah. Mark tidak membalas pukulan Sky karena dia tahu pemuda itu sedang sinting. Mungkin dia pun juga akan demikian jika berada di posisi Sky sekarang. "Jangan pernah merasa kau bisa menjadi pahlawan untuk Lizie ku!" ancam Sky sambil menunjuk Mar

  • GADIS NAKAL CEO   BAB 6

    BAB 6 Sky sudah tertidur ketika Lizie Merangkak naik ke atas ranjangnya dan menggoyang-goyang tubuhnya. "Sky, aku tidak bisa tidur." Sky yang terkejut langsung kembali terbangun, menyalakan lampu di samping ranjang. Sky masih seperti bermimpi ketika melihat Lizie sudah duduk bersimpuh di atas

  • GADIS NAKAL CEO   BAB 5

    BAB 5 Kantor Sky masih berada di kawasan jalan utama Fourth Avenue. Tidak jauh dari apartemennya. Dia cuma memerlukan waktu tidak sampai sepuluh menit untuk sampai di kantor tersebut. Gedung empat puluh tiga lantai itu sekarang sudah dia jadikan sebagai aktor utama untuk induk perusahaannya. Sebu

  • GADIS NAKAL CEO   BAB 4 ALIZIA MORIS

    BAB 4 LIZIE Lizie nampak takjub ketika melihat ke sekeliling apartemen Sky yang memiliki balkon sangat luas. "Jadi ini tempat tinggal mu?" "Semoga kau suka, yang itu kamarmu!" Sky menunjuk kamar yang bersebelahan dengan pintu balkon. Lizie memutar badan, menghadap Sky yang sedang duduk di sof

  • GADIS NAKAL CEO   BAB 2 KEMATIAN GERALD DAWSON

    BAB 2 KEMATIAN GERALD DAWSON Gerald Dawson meninggal dunia beberapa jam setelah mengalami serangan jantung. Kabar itu membuat Sky terpaku cukup lama di dalam jet pribadinya. Sulit dipercaya... Pria yang selama ini menjadi partner bisnis, mentor, sekaligus orang tua kedua baginya, kini telah tiada.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status