Home / Romansa / GAIRAH LIAR PASANGAN MUDA / Hidup Tetap Berjalan

Share

Hidup Tetap Berjalan

Author: Tutur K. S
last update Last Updated: 2025-10-19 21:57:06

Pagi itu, Ayara bangun lebih cepat dari alarm. Sunyi menempel di udara. Ia menatap plafon, lalu menarik napas panjang—napas perempuan yang sudah belajar untuk tidak panik pada kehilangan.

Ia menatap dirinya di cermin—mata sembab, tapi tidak menangis. Ia sudah mencoba semalam, tapi yang keluar hanya dengusan tawa getir. Tangisnya mungkin sudah habis di dalam.

Ia membuka keran wastafel, membasuh wajah. Air dingin terasa seperti tamparan, tapi tidak membuatnya segar. “Basi,” gumamnya. “Semua laki-laki sama aja.”

Cermin memantulkan sosoknya dengan rambut acak-acakkan, eyeliner luntur, bibir pecah. Perempuan tiga puluh lima tahun yang tiba-tiba kehilangan definisi tentang dirinya sendiri.

Pesan W******p masuk.

Alex: “Sayang, kenapa kamu gak bales chat aku dari kemarin? Kamu kemana aja? Aku tungguin Lo kemarin, katanya mau ngajak dinner...”

Ayara cuma mengecek pesan dari notifikasi tanpa membukanya, lalu menggeser notifikasi itu ke samping.

Alex: “Sayang...bales dong WA aku...”

Tiga belas pesan menumpuk, terakhir dengan emoji menangis.

Ayara mengetuk ikon pesan, lalu menghapus seluruh chat tanpa membacanya. Tapi setelah itu, jemarinya menggigil seolah kehabisan oksigen. Ia belum melabrak Alex tentang apa yang ia lihat dan dengan kemarin di hotel. Otak dan hatiknya masih berbenturan dan memproses semuanya. Haruskah ia menjambak wanita dan pria itu bersamaan dan membuat drama? atau ada cara yang lebih elegan untuk menaruh Ratu di depan budak yang tidak berdaya di atas papan catur. Oh sesungguhnya Ayara tidak suka drama, tapi ia ingin sekali melempar segelas air comberan ke wajah Alex dan tante girang itu!

Begitu mudahnya menghapus tujuh tahun, pikirnya. Tapi kenapa dada ini tetap berat?

Di meja kerja, laptopnya masih terbuka. File terakhir yang ia buka malam tadi: “AyLex Wedding Plan.xlsx.”.

Ia mengernyit kecil, menatap nama file itu seperti menatap bekas luka yang belum kering.

Dibukanya file itu.

Kolom-kolom rapi: Venue, Dekorasi, Catering, Gaun, MC, Musik. Semuanya sudah dipilih, dengan catatan harga dan kontak vendor.

Ada sheet lain: “Moodboard dream wedding" yang sudah ia tata seapik mungkin.

Foto-foto prewedding dari Pinterest—gaun putih sederhana, pesta kecil di taman dengan lampu gantung, tulisan tangan “till we make sense” di pojok bawah.

Ayara menatap satu foto lama di folder: dirinya memakai dress putih saat fitting. Alex memotretnya diam-diam waktu itu, lalu bilang, “Kamu cantik banget, Ra. Gue gak sabar.”

Kata-kata yang dulu membuatnya tersenyum, kini hanya membuatnya dingin.

Ia tidak menangis.

Ia hanya membuka tab “Budget”, menyorot semua angka, dan menekan Delete.

Kosong. Begitu mudah menghapus harapan yang pernah ia rancang rapi.

Ia menyalakan lagu di Spotify—instrumental jazz, tanpa lirik.

Karena semua lagu cinta tiba-tiba terdengar seperti ejekan.

“Lucu ya,” gumamnya ke udara kosong. “Kita diajarin dari kecil kalau nikah itu tujuan. Padahal… mungkin cuma ilusi yang diwariskan turun-temurun.”

Ia membuka catatan lama di ponsel—daftar teman-teman yang baru dilamar:

“Rani — surprise engagement di Bali.”

“Tika — cincin di tengah hiking.”

“Dini — live proposal di I*.”

Ayara menggulir, lalu tertawa kecil. “Dan gue? Dapat kejutan di depan pintu hotel.”

Tawanya kering, tanpa nada.

Bukan cemburu. Lebih ke kesadaran getir bahwa ia sudah menaruh terlalu banyak makna pada sesuatu yang rapuh.

Ia bukan tipe yang anti cinta. Tapi hari itu, ia mulai merasa bahwa cinta dan kebodohan mungkin hanya beda konteks.

Pukul sebelas, ia masih duduk di kursi yang sama. Pakaian rapi, rambut disisir, makeup tipis—karena kebiasaan profesional sulit hilang, bahkan ketika hati sudah kehilangan alasan.

Ada meeting via Zoom dengan klien jam dua belas.

Dunia tidak peduli siapa yang patah hati; dunia hanya butuh semuanya tetap berjalan. Keras memang hidup di dunia.

Sebelum meeting dimulai, ia sempat menatap pantulan wajahnya di layar hitam Zoom.

“Lo keliatan baik-baik aja,” katanya pada diri sendiri.

“Dan itu masalahnya.”

Siang itu, ia menolak panggilan dari Nadia. Tak ada energi untuk menjelaskan lagi.

Ia hanya membalas singkat lewat chat: “Gue baik Nad. Gak usah khawatir. Gue meeting dulu ya...”

Kalimat yang paling sering dipakai orang yang sebenarnya hancur.

Sore menjelang, ia mematikan laptop, berdiri di depan jendela.

Langit Jakarta mulai jingga, mobil-mobil kecil mengalir di bawah sana ditemani sayup-sayup terdengar suara klakson bersautan.

Dunia tetap sibuk. Hidup tetap harus berjalan.

Ayara menatap semuanya dengan tenang, dingin, dan sedikit getir.

“Cowok, nikah, cinta...” ia berbisik. “Bullshit!"

Telepon dari ibunya berdering—panggilan video.

Ia menatap layar beberapa detik sebelum menolak.

“Jadi kamu sama Alex ke rumah weekend ini sayang? Papah udah nanyain tuh...dia udah mau nodong Alex biar cepet-cepet bawa orang tuanya ke rumah...”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • GAIRAH LIAR PASANGAN MUDA   Akhirnya Bahagia Berdua. Cukup.

    “Mond…akhirnya hari ini juga ya...kita kumpul keluarga di rumah Bunda,” kata Ayara pelan. Raymond mengangguk, jarinya mengusap punggung tangan Ayara. “Iya. Kita udah siap. Kita nggak perlu sembunyi lagi. Kita bahagia berdua. Itu cukup.” Keesokan harinya, mereka datang ke rumah besar Bunda Maharani di kawasan Pondok Indah. Kumpul keluarga rutin—Bunda, Bapak, kakak-kakak Ayara, adik Raymond, dan beberapa sepupu. Meja makan penuh makanan khas: sate ayam, rendang, sayur lodeh, dan es campur.Suasana hangat, penuh tawa, tapi juga penuh pertanyaan yang biasa: “Kapan punya anak?” “Udah coba IVF belum?” “Ayara, lo nggak hamil-hamil juga?” Ayara dan Raymond saling pandang, lalu Ayara berdiri. Suaranya tenang, tapi tegas. “Bunda, Bapak, Ayah, Mama, semua… gue dan Raymond mau bilang sesuatu.” "Kamu hamil Ra????! Alhamdulillah...", ucap kakak Raymond."Enggak...""Terus?" “Kami sudah coba punya anak. Sudah ke dokter, sudah tes, sudah ke Singapura. Tapi… kenyataanya punya keturunan bukan ses

  • GAIRAH LIAR PASANGAN MUDA   Pulang Untuk Pengakuan 21+

    Setelah penerbangan pulang dari Bali yang terasa singkat karena mereka tidur saling peluk di kursi pesawat, Ayara dan Raymond tiba di Jakarta saat malam sudah menyelimuti kota. Udara ibu kota terasa lebih lembab dan berat dari Ubud yang sejuk, tapi hati mereka lebih ringan dari sebelum berangkat. Bagasi mereka sederhana—hanya tas kecil dengan kain sarung, minyak esensial, dan jurnal yang penuh catatan dari retreat. Sopir sudah menunggu di bandara, membawa mereka kembali ke apartemen mewah di kawasan Kuningan, tempat mereka pertama kali memulai pernikahan impulsif itu. Di dalam apartemen, cahaya lampu kota menyelinap lewat jendela kaca lebar, menerangi ruangan minimalis dengan sentuhan kayu dan kain tenun Bali yang baru mereka tambah. "Gue dah WA di grup keluarga kalau besok kita mau buat pengumuman..." kata Ayara sambil menaruh ponselnya di atas meja makan. Ayara meletakkan tas di lantai, lalu berbalik ke Raymond, matanya sudah berbinar dengan campuran lelah dan hasrat yang m

  • GAIRAH LIAR PASANGAN MUDA   Adegan Liar di Tengah Alam Ubud 21+

    Pagi di Serenity Soul Retreat dimulai dengan sinar matahari yang sudah terik, tapi udara masih segar karena embun pagi yang belum sepenuhnya menguap. Ayara dan Raymond bangun dengan tubuh yang masih hangat dan sensitif dari malam sebelumnya. Setiap sentuhan kecil, setiap gesekan kain sarung di kulit, membuat mereka tersenyum kecil dan saling pandang dengan mata yang penuh rahasia. Mereka tidak banyak bicara pagi itu. Ayara memberikan pelukan singkat, ciuman lembut di bibir suaminya, dan senyum yang bilang “Kita lanjut malam ini lagi ya sayang...”. "Aw...can't wait honey...", ucap Raymond sambil mengigit bibir bawahnya dan mencubit pantat Ayara. Program hari ini adalah **Nature Immersion & Free Flow Intimacy**. Sebuah sesi bebas di alam terbuka, tanpa struktur ketat, hanya panduan ringan dari Wayan untuk “membiarkan tubuh dan jiwa mengalir bersama alam”. Sebelum berangkat, Wayan mengumpulkan semua pasangan di bale utama untuk briefing pagi. “Selamat pagi,” kata Wayan dengan suara

  • GAIRAH LIAR PASANGAN MUDA   Pelepasan Nafsu Yang Tertahan 21+

    Malam ketiga di Serenity Soul Retreat terasa seperti api yang akhirnya bebas dari bara. Udara lebih hangat dari biasanya, angin sawah membawa aroma bunga kamboja yang pekat dan manis, seperti parfum nafsu yang disembunyikan alam. Langit di atas Ubud penuh bintang tanpa satu pun awan, seolah-olah alam ikut menyaksikan apa yang akan terjadi malam ini.Setelah sesi tantra sore tadi, Ayara dan Raymond kembali ke cottage dengan langkah yang lebih ringan, tapi juga lebih gelisah. Energi yang mereka bangun di bale tadi masih mengalir di antara mereka. Rasanya seperti listrik statis yang sudah terlalu kuat, menunggu sentuhan akhir untuk menyala dan membakar habis semua perasaan.Di dalam cottage, lampu minyak kecil sudah dinyalakan, cahayanya kuning lembut memantul di dinding kayu dan kain tenun, menciptakan bayang-bayang yang menari pelan di tubuh mereka. Perapian kecil di sudut ruangan menyala pelan, kayu kering berderak lembut, mengeluarkan aroma manis seperti madu hangat yang meleleh. Ay

  • GAIRAH LIAR PASANGAN MUDA   Ubud: Therapy Retreat 21+ Part 3

    Hari selanjutnya di Serenity Soul Retreat terasa seperti puncak perjalanan yang mereka mulai dengan ragu. Kabut pagi sudah hilang sepenuhnya, matahari naik tinggi, dan angin sawah membawa aroma padi basah serta kemenyan dari pura kecil di kejauhan. Ayara dan Raymond bangun dengan napas yang lebih ringan dari hari-hari sebelumnya. Retakan di hati mereka masih ada, tapi sudah mulai terisi oleh cahaya kecil yang tumbuh dari sesi-sesi sebelumnya. Sesi tantra hari ini diadakan di bale khusus yang lebih intim—terpisah dari area utama, dikelilingi pohon beringin tua dan lilin-lilin kecil yang sudah menyala sejak subuh. Lantai ditutup tikar pandan tebal, bantal-bantal besar berwarna krem tersebar, aroma minyak esensial cendana, ylang-ylang, dan sedikit vanila menguar pelan seperti hembusan napas alam. Hanya empat pasangan yang ikut, termasuk mereka. Semua diminta melepas pakaian luar, hanya mengenakan kain sarung tipis yang disediakan—tanpa bra, tanpa celana dalam, kain itu hanya menjadi pen

  • GAIRAH LIAR PASANGAN MUDA   Ubud: Therapy Retreat 21+ Part 2

    Pagi di Serenity Soul Retreat dimulai dengan suara gamelan yang lembut dari kejauhan, bercampur embun pagi yang masih menempel di daun sawah. Cahaya matahari baru saja menembus kabut tipis, mewarnai semuanya dengan warna emas muda yang hangat. Ayara terbangun lebih dulu, badan masih hangat dari pelukan Raymond semalam. Ia duduk di tepi ranjang, menatap suaminya yang masih tertidur lelap, selimut ilalang menutupi bahunya yang lebar. Wajah Raymond terlihat damai, tapi Ayara tahu di balik ketenangan itu masih ada bayangan rasa bersalah yang belum sepenuhnya hilang. Ia mencium kening Raymond pelan, lalu bangkit, mengenakan kain sarung dan kaus longgar yang disediakan retreat. Di luar cottage, udara pagi terasa segar, bercampur aroma bunga kamboja dan kemenyan dari sesajen kecil di altar keluarga pemilik. Ayara berjalan pelan menuju bale terbuka tempat sesi pagi dimulai: Breathwork & Intention Setting Wayan sudah menunggu, duduk bersila di atas tikar pandan, di depannya ada lilin ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status