MasukPagi di Serenity Soul Retreat dimulai dengan sinar matahari yang sudah terik, tapi udara masih segar karena embun pagi yang belum sepenuhnya menguap.Ayara dan Raymond bangun dengan tubuh yang masih hangat dan sensitif dari malam sebelumnya. Setiap sentuhan kecil, setiap gesekan kain sarung di kulit, membuat mereka tersenyum kecil dan saling pandang dengan mata yang penuh rahasia. Mereka tidak banyak bicara pagi itu. Ayara memberikan pelukan singkat, ciuman lembut di bibir suaminya, dan senyum yang bilang “Kita lanjut malam ini lagi ya sayang...”."Aw...can't wait honey...", ucap Raymond sambil mengigit bibir bawahnya dan mencubit pantat Ayara. Program hari ini adalah **Nature Immersion & Free Flow Intimacy**. Sebuah sesi bebas di alam terbuka, tanpa struktur ketat, hanya panduan ringan dari Wayan untuk “membiarkan tubuh dan jiwa mengalir bersama alam”. Sebelum berangkat, Wayan mengumpulkan semua pasangan di bale utama untuk briefing pagi. “Selamat pagi,” kata Wayan dengan suara le
Malam ketiga di Serenity Soul Retreat terasa seperti api yang akhirnya bebas dari bara. Udara lebih hangat dari biasanya, angin sawah membawa aroma bunga kamboja yang pekat dan manis, seperti parfum nafsu yang disembunyikan alam. Langit di atas Ubud penuh bintang tanpa satu pun awan, seolah-olah alam ikut menyaksikan apa yang akan terjadi malam ini.Setelah sesi tantra sore tadi, Ayara dan Raymond kembali ke cottage dengan langkah yang lebih ringan, tapi juga lebih gelisah. Energi yang mereka bangun di bale tadi masih mengalir di antara mereka. Rasanya seperti listrik statis yang sudah terlalu kuat, menunggu sentuhan akhir untuk menyala dan membakar habis semua perasaan.Di dalam cottage, lampu minyak kecil sudah dinyalakan, cahayanya kuning lembut memantul di dinding kayu dan kain tenun, menciptakan bayang-bayang yang menari pelan di tubuh mereka. Perapian kecil di sudut ruangan menyala pelan, kayu kering berderak lembut, mengeluarkan aroma manis seperti madu hangat yang meleleh. Ay
Hari ketiga di Serenity Soul Retreat terasa seperti puncak perjalanan yang mereka mulai dengan ragu. Kabut pagi sudah hilang sepenuhnya, matahari naik tinggi, dan angin sawah membawa aroma padi basah serta kemenyan dari pura kecil di kejauhan. Ayara dan Raymond bangun dengan napas yang lebih ringan dari hari-hari sebelumnya. Retakan di hati mereka masih ada, tapi sudah mulai terisi oleh cahaya kecil yang tumbuh dari sesi-sesi sebelumnya. Sesi tantra hari ini diadakan di bale khusus yang lebih intim—terpisah dari area utama, dikelilingi pohon beringin tua dan lilin-lilin kecil yang sudah menyala sejak subuh. Lantai ditutup tikar pandan tebal, bantal-bantal besar berwarna krem tersebar, aroma minyak esensial cendana, ylang-ylang, dan sedikit vanila menguar pelan seperti hembusan napas alam. Hanya empat pasangan yang ikut, termasuk mereka. Semua diminta melepas pakaian luar, hanya mengenakan kain sarung tipis yang disediakan—tanpa bra, tanpa celana dalam, kain itu hanya menjadi penghala
Pagi di Serenity Soul Retreat dimulai dengan suara gamelan yang lembut dari kejauhan, bercampur embun pagi yang masih menempel di daun sawah. Cahaya matahari baru saja menembus kabut tipis, mewarnai semuanya dengan warna emas muda yang hangat.Ayara terbangun lebih dulu, badan masih hangat dari pelukan Raymond semalam. Ia duduk di tepi ranjang, menatap suaminya yang masih tertidur lelap, selimut ilalang menutupi bahunya yang lebar. Wajah Raymond terlihat damai, tapi Ayara tahu di balik ketenangan itu masih ada bayangan rasa bersalah yang belum sepenuhnya hilang.Ia mencium kening Raymond pelan, lalu bangkit, mengenakan kain sarung dan kaus longgar yang disediakan retreat. Di luar cottage, udara pagi terasa segar, bercampur aroma bunga kamboja dan kemenyan dari sesajen kecil di altar keluarga pemilik. Ayara berjalan pelan menuju bale terbuka tempat sesi pagi dimulai:Breathwork & Intention SettingWayan sudah menunggu, duduk bersila di atas tikar pandan, di depannya ada lilin kecil dan
Pesawat mendarat di Denpasar tepat saat matahari mulai condong ke barat, cahaya jingga lembut menyelinap di antara awan tipis. Udara Bali langsung menyambut mereka begitu pintu pesawat terbuka—aroma kemenyan samar, bunga kamboja, tanah basah setelah hujan singkat, dan hembusan angin hangat yang membawa rasa damai. Ayara menarik napas dalam-dalam, tangannya menggenggam tangan Raymond erat saat mereka berjalan menuju pintu keluar. “Trip kali ini kerasa beda ya,” kata Ayara pelan, suaranya hampir tenggelam di antara suara penumpang lain. “Kepikiran pantai, kepikiran momen honeymoon kita Mond. Jadi kepikiran kaya balik ke titik start...hahaha...” Raymond tersenyum kecil, jarinya mengusap punggung tangan Ayara. “Gue juga...Inget kita pertama kali sex dan titik awal kita saling jadi candu satu sama lain. Hahaha..." Sopir retreat sudah menunggu di pintu kedatangan, memegang papan nama “Ayara & Raymond”. Pria Bali berwajah ramah, bernama Ketut, menyapa mereka dengan senyum lebar dan sembah
Ayara keluar dari restoran hotel dengan langkah cepat tapi terkendali, high heels-nya berbunyi pelan di lantai marmer lobby yang dingin. Udara Jakarta pagi itu terasa lebih berat dari biasanya—campuran bau asap knalpot, hujan semalam, dan aroma kopi dari kedai-kedai kecil di sekitar Senayan. Ia tidak langsung pulang. Ia naik mobil, menyetir pelan menuju kantor, tapi pikirannya tidak di sana. Kata-kata Bunda masih bergema di kepalanya seperti echo yang tak mau hilang. “…dikasih barang rusak…” “…sebelum kamu menyesal seumur hidup…” “…kamu masih bisa dapat yang lebih baik…” Ayara menarik napas dalam-dalam, tangannya mencengkeram setir lebih erat. Ia tahu Bunda bicara dari cinta—cinta yang salah arah, cinta yang terlalu lama dibentuk oleh norma keluarga besar, norma “harus punya anak”, norma “laki-laki harus utuh”. Tapi itu tidak membuat kata-kata itu terasa kurang sakit. Sampai di tempat kerja sementara yang sudah ia sewa khusus selama beberapa bulan, Ayara langsung masuk ke ruangan







