Share

Bab 2

Penulis: LibraRahutia
last update Tanggal publikasi: 2026-05-18 15:32:55

Pintu ruangan presiden direktur tertutup pelan tepat setelah Nayla masuk ke dalam.

Ruangan itu luas dengan dominasi warna hitam dan abu gelap. Aroma khas parfum maskulin langsung menyeruak samar di indera penciumannya. Dingin. Elegan. Sangat mencerminkan Arga.

Dan entah kenapa… itu membuat Nayla semakin gugup.

Arga berdiri di dekat meja kerjanya sambil membuka beberapa dokumen tanpa menatapnya sedikit pun.

"Duduk."

Nada suaranya tenang. Datar. Profesional.

Nayla menarik napas pelan sebelum akhirnya duduk di kursi depan meja kerja pria itu.

Beberapa detik ruangan terasa sunyi.

Arga membuka map hitam di tangannya lalu mulai berbicara seolah mereka hanyalah atasan dan bawahan biasa.

"Mulai minggu ini saya akan mengubah sistem laporan direksi," ucapnya tenang. "Semua jadwal meeting, revisi kerja sama, dan laporan keuangan sementara akan langsung masuk ke sekretaris utama."

Nayla mengangguk kecil sambil membuka catatan.

"Baik, Pak."

Arga menyerahkan satu map padanya.

"Kamu pelajari semua agenda saya minggu ini. Saya tidak suka jadwal berantakan."

"Baik."

"Dan saya tidak mengulang instruksi dua kali."

Nayla menahan napas sesaat.

Masih sama.

Arga memang selalu seperti itu sejak dulu. Tegas. Dingin. Sulit ditebak.

Bedanya sekarang pria itu terasa jauh lebih tajam dibanding tiga tahun lalu.

Nayla mencoba fokus membuka berkas di tangannya meski sebenarnya jantungnya masih belum stabil sejak tadi.

Sementara di balik meja kerjanya, Arga diam-diam memperhatikan wanita di depannya beberapa detik lebih lama.

Sangat sebentar.

Namun cukup untuk membuat rahangnya menegang tipis.

Nayla berubah.

Tubuh wanita itu kini terlihat lebih berisi dibanding dulu. Lekuk pinggangnya semakin jelas terbalut rok span hitam yang pas di tubuhnya. Rambut panjangnya jatuh rapi di bahu dengan aroma manis yang samar sampai ke indera penciumannya.

Dan itu mengganggu fokus Arga lebih dari yang ia suka.

Pria itu segera mengalihkan pandangannya kembali ke laptop di depannya.

Profesional.

Ia harus tetap profesional.

"Jam kerja saya berubah," ucap Arga kembali datar. "Kadang saya bisa meeting sampai malam. Jadi sekretaris saya harus siap kalau sewaktu-waktu dibutuhkan."

Nayla mengangkat wajahnya pelan.

"Sekretaris… saya?"

Arga akhirnya menatapnya langsung.

Tatapan gelap itu terasa menusuk.

"Mulai hari ini kamu jadi sekretaris pribadi saya."

Deg.

Nayla membeku.

"Pak… saya sebelumnya hanya bagian sekretaris administrasi direksi."

"Sekarang tidak lagi."

Jawaban Arga singkat tanpa celah untuk dibantah.

Nayla menggenggam map lebih erat.

"K-kenapa saya?" tanyanya yang terdengar lebih ke protes.

Bukannya menjawab, Arga justru menyandarkan tubuhnya pelan di kursi.

Tatapannya turun sekilas pada wajah Nayla… lalu tanpa sadar bergerak turun beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

Kemeja putih fit body itu membentuk tubuh wanita di depannya terlalu jelas.

Sialnya… Arga masih mengingat tubuh itu dengan sangat baik.

Pria itu segera menarik kembali tatapannya sebelum Nayla sadar.

"Karena kemampuan kerja kamu paling stabil dibanding yang lain," jawabnya akhirnya tenang. "Atau kamu keberatan bekerja langsung di bawah saya?"

Nada suaranya terdengar biasa.

Namun justru itu yang membuat dada Nayla terasa sesak.

Karena Arga benar-benar bersikap seolah mereka hanyalah orang asing.

Nayla menunduk cepat.

"Tidak, Pak."

Hening sesaat.

Arga kembali membuka dokumen di depannya.

"Bagus."

Lalu tanpa menatapnya lagi, pria itu berkata datar,

"Sekarang kembali kerja. Saya mau semua agenda hari ini selesai sebelum pulang."

Nayla langsung berdiri cepat.

“"Baik, Pak."

Namun saat wanita itu berbalik menuju pintu.

"Dan Nayla."

Langkahnya berhenti.

Untuk pertama kalinya sejak tadi, Arga menyebut namanya.

Perlahan Nayla menoleh.

Tatapan pria itu lurus padanya. Dingin seperti biasa.

"Besok jangan sampai terlambat, atau saya akan potong bonusmu."

Nayla terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Baik, Pak."

Setelah pintu tertutup kembali, suasana ruangan mendadak sunyi.

Arga mengembuskan napas panjang sambil melepas dasinya sedikit kasar.

Tatapannya jatuh ke pintu yang baru saja ditutup Nayla.

Rahang pria itu mengeras.

Tiga tahun.

Dan wanita itu masih semampu itu mengacaukan pikirannya hanya dengan berdiri di hadapannya.

***

Sementara itu, diluar ruangan. Nayla menyandarkan tubuhnya dibalik pintu besar itu. Matanya terpejam sesaat. Entah mengapa melihat sikap Arga yang seperti itu membuat dadanya terasa sesak.

Nayla menekan dadanya pelan.

Napasnya terasa berat meski pertemuan itu bahkan belum berlangsung lima belas menit.

Sikap Arga terlalu dingin.

Terlalu formal.

"Bukankah ini yang seharusnya terjadi? Tapi kenapa rasanya sakit?" gumamnya.

"Nayla, kau tak seharusnya kembali kemasa lalu, fokuslah pada masa depanmu."

Nayla melangkah dengan gontai menuju meja kerjanya.

Beberapa pasang mata langsung menoleh saat ia kembali ke ruangan sekretaris direksi. Namun Nayla memilih pura-pura sibuk membuka map di tangannya agar tak ada yang menyadari wajahnya yang sedikit pucat.

"Lo dipanggil Pak Arga?" bisik salah satu rekan kerjanya penasaran.

Nayla hanya mengangguk kecil.

"Gimana? Serem banget ya?"

Nayla tersenyum tipis hambar.

"Hem, profesional."

Jawaban singkat itu justru membuat rekan kerjanya meringis kecil.

"Fix serem berarti."

Nayla tidak menanggapi lagi. Ia segera duduk di kursinya lalu membuka laptop. Namun pikirannya sama sekali tidak fokus pada layar di depannya.

Bayangan tatapan Arga tadi terus berputar di kepalanya.

Dingin.

Asing.

Dan menyakitkan.

Tiga tahun lalu pria itu pernah menatapnya begitu hangat. Pernah memeluknya seolah Nayla adalah rumah tempatnya pulang.

Tapi sekarang… Arga bahkan memperlakukannya seperti orang baru.

Nayla menunduk pelan sambil menahan sesak di dadanya.

Ia masih ingat jelas malam saat rumah tangganya hancur.

Arga berdiri di depan ruang tamu dengan wajah dingin sambil melempar tuduhan yang sampai sekarang masih membekas di hati Nayla.

Perselingkuhan.

Pria itu menuduhnya bermain belakang.

Padahal saat itu justru Nayla yang beberapa kali melihat Arga bersama Rosa. Perempuan yang selalu disukai oleh Ajeng, ibunya Arga. Bahkan pernah tanpa sengaja melihat mantan suaminya masuk ke hotel bersama wanita itu.

Dan sejak malam itu Nayla percaya… tuduhan Arga hanyalah alasan agar pria itu bisa menceraikannya tanpa rasa bersalah.

Bruk.

Map di tangannya jatuh ke meja cukup keras hingga membuat Nayla tersadar dari lamunannya.

Ia mengusap wajah cepat.

"Udah cukup," gumamnya lirih pada diri sendiri. "Semua itu udah selesai."

Namun anehnya… setelah bertemu Arga lagi, luka yang selama ini ia paksa terkubur justru terasa terbuka kembali.

Sementara itu di dalam ruangan presiden direktur.

Arga masih berdiri di depan jendela besar kantornya sambil menatap pemandangan kota dari balik kaca tinggi itu.

Satu tangannya masuk ke saku celana, sementara tangan lainnya membuka kancing paling atas kemejanya yang terasa sesak.

Pikirannya kacau.

Dan itu membuat suasana hatinya memburuk sejak tadi.

Bayangan Nayla terus muncul tanpa izin di kepalanya.

Cara wanita itu menunduk.

Suara pelannya saat menjawab.

Dan aroma parfum manis yang tadi sempat memenuhi ruangannya.

Sial.

Arga mengembuskan napas kasar sebelum kembali berjalan menuju meja kerjanya.

Tatapannya jatuh pada map hitam bertuliskan nama Nayla di atas meja.

Beberapa detik pria itu diam menatap nama tersebut.

Rahangnya mengeras pelan.

Tiga tahun lalu ia pernah berpikir hidupnya akan jauh lebih tenang setelah bercerai dari Nayla.

Namun nyatanya… hanya melihat wanita itu lagi saja sudah cukup membuat seluruh pertahanannya berantakan.

Tok tok tok.

"Masuk."

Seorang pria paruh baya masuk membawa beberapa dokumen meeting.

"Pak, jadwal rapat investor jam dua siang dipindahkan ke ballroom utama."

Arga langsung kembali memasang wajah datarnya.

"Taruh di meja."

"Baik, Pak."

Setelah asistennya keluar, ruangan kembali sunyi.

Arga memijat pelipisnya pelan.

Lalu tanpa sadar tatapannya kembali jatuh pada nama Nayla.

"Arga, dia sudah berselingkuh. Yang harus kau lakukan adalah membencinya. Dan buat dia menyesal karena lebih memilih pengkhianat itu," gumamnya dengan seringai tajam.

next..

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 26.

    Di sebuah toko kue yang cukup terkenal, suasana tampak ramai oleh para pengunjung yang datang silih berganti. Aroma roti yang baru matang dan kue-kue manis memenuhi ruangan, berpadu dengan suara pelayan yang sibuk melayani pelanggan. Di depan etalase kaca yang dipenuhi aneka kue cantik, Bu Ajeng berdiri dengan anggun. Tatapannya menyusuri satu per satu pilihan yang tersusun rapi, mulai dari cake ulang tahun, pastry, hingga berbagai dessert dengan hiasan yang menggugah selera. Sesekali ia menunjuk beberapa kue sambil bertanya kepada pramuniaga mengenai rasa dan bahan yang digunakan. Wajahnya terlihat serius memilih, seolah ingin memastikan hanya kue terbaik yang akan ia bawa pulang. Sebelum sempat menentukan pilihannya, seseorang tiba-tiba menabraknya dari arah samping. Bruk! Seorang anak perempuan kecil terjatuh hingga terduduk di lantai. Dengan wajah meringis, ia mengangkat tangan mungilnya untuk mengusap kening yang terasa nyeri akibat benturan itu. "Au..." lirihnya pe

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 25

    Sinar matahari senja mulai meredup ketika Nayla akhirnya menutup panggilan dengan pihak maskapai. Setelah beberapa kali berbicara dengan petugas, ia mengembuskan napas pelan. Penerbangan hari itu sudah tidak memungkinkan lagi. Tiket mereka telah hangus, dan jadwal paling cepat untuk kembali ke Jakarta adalah esok pagi. Nayla memejamkan mata sesaat, lalu membalikkan badan. "Pak Arga," panggilnya pelan. Arga yang masih duduk di tepi ranjang mengangkat pandangan. "Saya sudah menghubungi maskapai. Penerbangan berikutnya baru besok pagi." Arga mengangguk singkat. "Kalau begitu, kita pulang besok." "Iya, Pak. Untuk malam ini hotelnya harus diperpanjang dulu." "Ya sudah." Nayla meraih tasnya. "Saya ke resepsionis sebentar." Baru saja ia hendak melangkah, suara Arga kembali menghentikannya. "Nayla." Langkah wanita itu langsung terhenti. Ia menoleh. "Iya, Pak?" Arga menghela napas pelan. Wajahnya tetap datar, tetapi nada suaranya terdengar sedikit lebih rendah

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   24

    Tubuh Arga terasa begitu panas. Napasnya memburu, sementara keningnya dipenuhi butiran keringat. Nayla buru-buru mengambil handuk kecil di kamar mandi, membasahinya dengan air dingin, lalu mengompres dahi pria itu. "Pak Arga... bangun. Bapak demam tinggi," ucapnya cemas. Arga hanya mengerang pelan. Kelopak matanya tetap terpejam. Sesaat kemudian, bibir pria itu bergerak lirih. "...Jangan pergi..." Nayla menghentikan gerakannya. Tangannya yang sedang mengusap dahi Arga seketika membeku. Arga kembali bergumam, suaranya lemah dan nyaris tak terdengar. "...Nayla..." Jantung Nayla berdegup semakin cepat. Sudah tiga tahun berlalu sejak terakhir kali ia mendengar Arga menyebut namanya dengan nada selembut itu. Matanya mulai berkaca-kaca. "Pak Arga..." Namun Arga belum benar-benar sadar. Ia masih terjebak dalam demamnya. "Maaf..." Satu kata itu membuat dada Nayla terasa sesak. Selama ini, Arga selalu bersikap dingin, penuh kebencian, bahkan tak pernah mau mende

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 23

    Saat ini, di kediaman keluarga Wijaya, Bu Ajeng dan Rosa tengah duduk di ruang tamu. Sudah tiga hari berlalu sejak Arga berangkat ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Hari ini, Arga dijadwalkan kembali. Rosa tampak gelisah. Jemarinya terus memainkan cangkir teh yang sudah mulai dingin. "Tante, apa Mas Arga sudah memberikan kabar?" Bu Ajeng menggeleng pelan. "Belum. Tante juga masih menunggu kabarnya." Rosa mengembuskan napas panjang. "Kalau saja dari awal aku tahu Nayla yang ikut mendampingi Mas Arga ke luar kota, aku pasti sudah mencegahnya." Bu Ajeng menoleh ke arahnya. "Kamu memang baru tahu setelah Arga berangkat?" Rosa mengangguk kesal. "Iya, Tante. Biasanya yang mendampingi Mas Arga saat perjalanan dinas itu asistennya. Aku sama sekali tidak menyangka kali ini Nayla yang ikut. Aku baru tahu setelah salah satu karyawan perusahaan membicarakannya." Wajah Bu Ajeng langsung mengeras. "Itu juga yang membuat Tante kesal. Arga seharusnya memilih orang lain, bu

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 22

    Nayla menoleh. Seketika napasnya tertahan saat melihat sosok yang berdiri beberapa langkah di depannya. Seorang pria dengan kemeja yang kusut berjalan sempoyongan ke arahnya. Wajahnya merah padam, rambutnya berantakan, sementara aroma alkohol yang menyengat langsung menyeruak begitu ia mendekat. Matanya menyapu tubuh Nayla tanpa rasa sungkan, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. Pria itu menyeringai. "Wah... cantik sekali," gumamnya dengan lidah yang terdengar pelo. "Sendirian, ya?" Nayla refleks mundur selangkah. "Maaf, Pak. Permisi." Ia berusaha melewati pria itu untuk kembali ke lorong hotel. Namun pria tersebut justru bergeser, menutup jalan keluar sambil terkekeh pelan. "Jangan buru-buru." Senyumnya semakin lebar. "Temenin saya sebentar. Bosan nih." Jantung Nayla mulai berdegup semakin cepat. Lorong menuju balkon itu begitu sepi. Hanya terdengar desiran angin malam yang menerpa dedaunan dan suara musik pesta yang samar dari dalam ballroom. "Maaf, sa

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 21

    Arga dan Nayla sama-sama membeku. Tak ada satu pun dari mereka yang bergerak. Hanya suara napas yang saling bersahutan di tengah kamar yang sunyi. Tatapan Arga turun perlahan ke wajah Nayla. Wanita itu tampak gugup. Pipi yang semula pucat kini memerah, sementara bulu matanya bergetar pelan karena gugup. Sudah bertahun-tahun Arga berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua perasaan itu telah berakhir. Bahwa Nayla kini hanyalah bawahannya, sekaligus seseorang yang pernah mengisi hidupnya. Namun malam itu... Jarak yang begitu dekat membuat seluruh benteng pertahanannya runtuh sedikit demi sedikit. "Nayla..." gumamnya lirih. Nayla menelan ludah. "I-iya..." Suara itu terdengar begitu pelan hingga hampir tak terdengar. Arga mengangkat sebelah tangannya perlahan. Jemarinya bergerak hati-hati, menyingkirkan beberapa helai rambut Nayla yang jatuh menutupi wajah wanita itu. Sentuhan itu membuat Nayla membeku. Sudah lama sekali ia tidak merasakan kelembutan yang begitu dikena

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 7

    Masih di ruangan Arga. Rosa tersenyum tipis setelah mendengar jawaban Arga. Meski hatinya masih dipenuhi rasa tidak nyaman, wanita itu tetap berusaha terlihat manis. Tatapannya kembali mengarah pada Nayla yang sedang membuka laptop di meja sekretaris. Lalu perlahan Rosa melangkah mendekat.

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 6

    "Pagi, Sayang." Suara lembut membuat Arga langsung mengenali siapa pemiliknya bahkan tanpa perlu menoleh. Rosa. Wanita itu berdiri di sampingnya dengan senyum manis sempurna di bibir merahnya. Dress putih selutut yang dipakainya pagi itu membuat penampilannya terlihat anggun dan feminin.

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 5

    Tubuh Arga yang sejak tadi bersandar malas langsung menegang saat sepasang tangan melingkar manja di lehernya dari belakang. Aroma parfum wanita yang tajam dan mahal langsung memenuhi indera penciumannya. "Baby…" Suara lembut itu terdengar manja di telinganya. Nathan yang melihat sosok wani

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 4

    Sementara itu, dari dalam rumah, ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka dalam diam. Tatapan itu tertuju pada Arabella yang tadi sempat tertawa riang di gendongan Juno. Wajahnya perlahan melunak. Hangat. Pemandangan itu selalu membuat hatinya tenang. Dan orang itu ada

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status