Share

Bab 6

Penulis: LibraRahutia
last update Tanggal publikasi: 2026-06-08 11:42:25

"Pagi, Sayang."

Suara lembut membuat Arga langsung mengenali siapa pemiliknya bahkan tanpa perlu menoleh.

Rosa.

Wanita itu berdiri di sampingnya dengan senyum manis sempurna di bibir merahnya. Dress putih selutut yang dipakainya pagi itu membuat penampilannya terlihat anggun dan feminin.

Rosa lalu melingkarkan satu tangannya pelan di lengan Arga manja.

"Kenapa berhenti di sini?"

Namun kalimatnya terpotong saat matanya mengikuti arah tatapan Arga.

Dan untuk sesaat…

Ekspresi Rosa berubah tipis.

Terkejut.

Karena di sana, Nayla baru saja berdiri di samping Juno sambil tersenyum kecil.

Rosa jelas tidak menyangka akan melihat wanita itu di perusahaan Arga.

Tatapan matanya sempat mengamati Nayla beberapa detik.

Blouse krem sederhana.

Rok span hitam.

Penampilan yang rapi dan elegan.

Sangat berbeda dari bayangan Rosa tentang mantan istri Arga.

Namun sedetik kemudian, Rosa kembali memasang senyum manisnya seperti biasa.

Meski di dalam hati wanita itu mulai dipenuhi tanda tanya.

Kenapa Nayla ada di sini?

Apa wanita itu bekerja di perusahaan ini?

Sejak kapan?

Dan kenapa Arga tidak pernah membicarakannya?

Namun Rosa terlalu pintar untuk langsung bertanya sekarang.

Terlebih saat ia bisa melihat sendiri bagaimana tatapan Arga masih terpaku pada Nayla.

Maka wanita itu memilih diam.

Menyembunyikan rasa penasarannya di balik ekspresi lembutnya.

"Bukankah itu mantan istri kamu?"

Arga tidak menjawab.

Tatapannya masih tertuju lurus pada Nayla.

Sementara di sisi lain, Nayla akhirnya menyadari keberadaan mereka.

Tatapan wanita itu sempat bertemu dengan Arga.

Lalu berpindah pada Rosa.

Namun Nayla tetap terlihat tenang.

Tidak marah.

Tidak juga terkejut.

Dan entah kenapa sikap itu justru membuat Rosa makin tidak nyaman.

Karena wanita di hadapannya terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang baru bertemu mantan suami dan tunangannya sekaligus.

Arga memalingkan wajah, lalu tanpa berkata ia langsung meninggalkan tempat tersebut.

"Arga tungguin aku," ucap Rosa sambil berlari menghampiri Arga.

Juno yang mendengar nama Arga disebut spontan menoleh ke arah sumber suara.

Dan saat itu juga ia langsung tahu siapa pria yang sedang berjalan menjauh bersama Rosa itu.

Arga.

Rahang Juno sedikit mengeras.

Tatapannya sempat mengikuti punggung pria itu beberapa detik sebelum akhirnya beralih pada Nayla di sampingnya.

Namun wanita itu terlihat biasa saja.

Terlalu biasa malah.

Seolah kemunculan Arga dan Rosa barusan

sama sekali tidak mempengaruhinya.

Padahal Juno tahu betul itu mustahil.

Karena setenang apa pun Nayla sekarang, luka yang ditinggalkan Arga dulu tidak mungkin hilang begitu saja.

Juno menatap Nayla beberapa saat.

Sorot matanya dipenuhi kebingungan sejak tadi.

Karena jujur saja…

ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu Arga di kota ini.

Selama ini Nathan memang pernah mengatakan kalau Arga sekarang sedang mengurus perusahaan milik pamannya di luar kota.

Namun Nathan tidak pernah menyebut kota mana.

Dan Juno tidak pernah berpikir kalau kota yang dimaksud ternyata adalah kota tempat mereka tinggal sekarang.

Lebih mengejutkannya lagi…

perusahaan tempat Nayla bekerja ternyata milik keluarga Arga.

"Nay…" panggil Juno pelan, masih terlihat belum percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

Tatapannya kembali mengarah ke pintu lobby tempat Arga tadi pergi bersama Rosa.

Rahang pria itu perlahan mengeras.

Karena dulu…

Arga bukan cuma mantan suami Nayla.

Tapi juga mantan sahabatnya.

Mereka bertiga dulu nyaris selalu bersama.

Sampai semuanya hancur karena perceraian itu.

Dan sekarang tanpa diduga, mereka kembali berada di kota yang sama.

Bahkan bekerja di lingkungan yang saling berdekatan.

"Dia di sini selama ini…" gumam Juno pelan seolah bicara pada dirinya sendiri.

Nayla terdiam.

Sementara Juno kembali menatap wanita itu.

"Kenapa kamu gak pernah bilang kalau perusahaan ini punya Arga?"

Nayla tersenyum kecil.

Tipis sekali.

"Dia menggantikan bosku yang lama,"

Juno langsung mengerti.

Pantas saja.

Kalau Nayla tahu sejak awal, wanita itu mungkin tidak akan pernah mau bekerja di sana.

Hening beberapa detik.

Lalu Juno menghela napas panjang.

Hening beberapa detik.

Lalu Juno menghela napas panjang.

Tatapan pria itu kembali mengarah ke pintu lobby sebelum akhirnya menepuk pelan kepala Nayla seperti dulu.

"Kalau ada apa-apa bilang sama aku."

Nayla hanya mengangguk kecil.

Juno menatapnya sebentar lagi seolah memastikan wanita itu benar-benar baik-baik saja.

Namun karena Nayla tetap memasang wajah tenang, pria itu akhirnya mundur selangkah.

"Oke, aku pergi dulu."

"Iya."

Juno berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari lobby.

Namun sebelum masuk, pria itu sempat menoleh sekali lagi ke arah Nayla.

Sorot matanya masih menyimpan banyak pertanyaan.

Tentang Arga.

Tentang perusahaan ini.

Dan tentang bagaimana Nayla bisa bertahan bekerja di tempat milik mantan suaminya sendiri.

Namun pada akhirnya Juno memilih diam.

Karena ia tahu Nayla bukan tipe wanita yang suka dikasihani.

Tak lama setelah itu mobil Juno keluar meninggalkan area gedung.

Sementara Nayla masih berdiri di luar lobby beberapa saat.

Angin pagi berhembus pelan menerbangkan sedikit anak rambutnya.

Matanya sempat menatap kosong ke arah jalan depan gedung.

Entah kenapa dadanya terasa sedikit sesak.

Bukan karena melihat Arga bersama Rosa.

Melainkan karena kenyataan bahwa setelah sekian lama, takdir kembali mempertemukan mereka di kota yang sama.

Dan itu jelas bukan sesuatu yang Nayla harapkan.

Wanita itu mengembuskan napas pelan lalu segera melangkah memasuki gedung.

Suasana lobby pagi itu masih cukup ramai oleh karyawan yang baru datang bekerja.

Namun Nayla memilih fokus berjalan lurus menuju meja resepsionis tanpa memedulikan beberapa tatapan yang sempat mengarah padanya.

Sepatu heels miliknya beradu pelan dengan lantai marmer lobby.

Tenang.

Teratur.

Sama seperti ekspresi wajahnya sekarang.

Padahal di dalam hati wanita itu, pikirannya masih berantakan sejak kemunculan Rosa tunangan mantan suaminya, beberapa menit lalu.

Nayla menekan tombol lift lalu menunggu dalam diam.

Tak lama kemudian pintu lift terbuka.

Wanita itu masuk bersama beberapa karyawan lain sebelum akhirnya lift bergerak naik menuju lantai atas.

Lift berhenti tepat di lantai tempat Nayla bekerja.

Pintu terbuka perlahan.

Nayla melangkah keluar sambil membawa beberapa map di tangannya.

Koridor kantor pagi itu sudah mulai ramai oleh aktivitas para karyawan. Suara langkah kaki dan percakapan kecil terdengar samar memenuhi area tersebut.

Dan tepat di depan sana…

Arga baru saja berdiri di depan ruangannya.

Pria itu tampak rapi dengan jas abu gelap yang membuat penampilannya terlihat semakin dingin dan berwibawa. Kulit putih bersihnya tampak kontras dengan warna pakaian yang dikenakannya pagi itu.

Sementara di sampingnya, Rosa masih bergelayut manja di lengan pria tersebut.

"Nanti malam jadi kan makan di rumah?" tanya Rosa lembut sambil menatap Arga.

Arga membuka pintu ruangannya sebentar lalu menjawab singkat.

"Lihat nanti."

Tatapan Nayla tanpa sadar sempat tertuju ke arah mereka beberapa detik.

Lalu wanita itu kembali berjalan.

Karena tepat di depan ruangan Arga…

adalah meja kerjanya.

Meja sekretaris direktur.

Meja milik Nayla.

Area kerja wanita itu berada persis di samping pintu ruangan Arga dan tidak tertutup penuh, sehingga siapa pun yang keluar masuk ruangan direktur pasti akan melewati dirinya.

Nayla meletakkan map di atas meja dengan tenang lalu menarik kursinya pelan.

Namun sebelum duduk, Nayla mendengar suara Rosa tertawa kecil sambil merapikan dasi Arga.

"Jangan sibuk kerja terus."

Arga tidak menjawab.

Tatapannya justru perlahan bergeser ke arah Nayla yang sedang membuka laptop di mejanya.

Dan untuk sesaat…

suasana terasa aneh.

Karena Nayla tetap terlihat biasa saja.

Tidak menyapa.

Tidak juga menunjukkan ekspresi terganggu meski kini ia harus duduk tepat di depan ruangan mantan suaminya setiap hari.

Sikap itu entah kenapa membuat Rosa sedikit tidak nyaman.

Tatapan wanita itu diam-diam memperhatikan Nayla beberapa detik.

Penampilan Nayla sederhana.

Namun rapi dan elegan.

Aura tenang wanita itu justru membuat Rosa sulit mengalihkan perhatian.

"Baby, kamu masih hutang penjelasan loh sama aku," ucap Rosa.

Arga menoleh kearah Rosa, lalu sebelumnya matanya sempat melirik kearah meja sekertaris. "Mantan istri kamu, kenapa bisa berada dikantor kamu?" sambung Rosa dengan milik wajah tak suka.

Arga tersenyum, sebelum akhirnya menjawab. "Kenapa kamu harus khawatir, dia itu hanya sekertaris, seorang bawahan sama seperti yang lainnya. Jadi apa yang kamu takutkan Hm?" Arga mengusap lembut wajah Rosa, dan itu tanpa sengaja terlihat oleh Nayla. Wanita itu langsung membuang pandangannya kearah lain.

'Sadar Nay, kamu gak berhak lagi atas pria itu,' batinnya mengingatkan diri sendiri.

next..

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 26.

    Di sebuah toko kue yang cukup terkenal, suasana tampak ramai oleh para pengunjung yang datang silih berganti. Aroma roti yang baru matang dan kue-kue manis memenuhi ruangan, berpadu dengan suara pelayan yang sibuk melayani pelanggan. Di depan etalase kaca yang dipenuhi aneka kue cantik, Bu Ajeng berdiri dengan anggun. Tatapannya menyusuri satu per satu pilihan yang tersusun rapi, mulai dari cake ulang tahun, pastry, hingga berbagai dessert dengan hiasan yang menggugah selera. Sesekali ia menunjuk beberapa kue sambil bertanya kepada pramuniaga mengenai rasa dan bahan yang digunakan. Wajahnya terlihat serius memilih, seolah ingin memastikan hanya kue terbaik yang akan ia bawa pulang. Sebelum sempat menentukan pilihannya, seseorang tiba-tiba menabraknya dari arah samping. Bruk! Seorang anak perempuan kecil terjatuh hingga terduduk di lantai. Dengan wajah meringis, ia mengangkat tangan mungilnya untuk mengusap kening yang terasa nyeri akibat benturan itu. "Au..." lirihnya pe

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 25

    Sinar matahari senja mulai meredup ketika Nayla akhirnya menutup panggilan dengan pihak maskapai. Setelah beberapa kali berbicara dengan petugas, ia mengembuskan napas pelan. Penerbangan hari itu sudah tidak memungkinkan lagi. Tiket mereka telah hangus, dan jadwal paling cepat untuk kembali ke Jakarta adalah esok pagi. Nayla memejamkan mata sesaat, lalu membalikkan badan. "Pak Arga," panggilnya pelan. Arga yang masih duduk di tepi ranjang mengangkat pandangan. "Saya sudah menghubungi maskapai. Penerbangan berikutnya baru besok pagi." Arga mengangguk singkat. "Kalau begitu, kita pulang besok." "Iya, Pak. Untuk malam ini hotelnya harus diperpanjang dulu." "Ya sudah." Nayla meraih tasnya. "Saya ke resepsionis sebentar." Baru saja ia hendak melangkah, suara Arga kembali menghentikannya. "Nayla." Langkah wanita itu langsung terhenti. Ia menoleh. "Iya, Pak?" Arga menghela napas pelan. Wajahnya tetap datar, tetapi nada suaranya terdengar sedikit lebih rendah

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   24

    Tubuh Arga terasa begitu panas. Napasnya memburu, sementara keningnya dipenuhi butiran keringat. Nayla buru-buru mengambil handuk kecil di kamar mandi, membasahinya dengan air dingin, lalu mengompres dahi pria itu. "Pak Arga... bangun. Bapak demam tinggi," ucapnya cemas. Arga hanya mengerang pelan. Kelopak matanya tetap terpejam. Sesaat kemudian, bibir pria itu bergerak lirih. "...Jangan pergi..." Nayla menghentikan gerakannya. Tangannya yang sedang mengusap dahi Arga seketika membeku. Arga kembali bergumam, suaranya lemah dan nyaris tak terdengar. "...Nayla..." Jantung Nayla berdegup semakin cepat. Sudah tiga tahun berlalu sejak terakhir kali ia mendengar Arga menyebut namanya dengan nada selembut itu. Matanya mulai berkaca-kaca. "Pak Arga..." Namun Arga belum benar-benar sadar. Ia masih terjebak dalam demamnya. "Maaf..." Satu kata itu membuat dada Nayla terasa sesak. Selama ini, Arga selalu bersikap dingin, penuh kebencian, bahkan tak pernah mau mende

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 23

    Saat ini, di kediaman keluarga Wijaya, Bu Ajeng dan Rosa tengah duduk di ruang tamu. Sudah tiga hari berlalu sejak Arga berangkat ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Hari ini, Arga dijadwalkan kembali. Rosa tampak gelisah. Jemarinya terus memainkan cangkir teh yang sudah mulai dingin. "Tante, apa Mas Arga sudah memberikan kabar?" Bu Ajeng menggeleng pelan. "Belum. Tante juga masih menunggu kabarnya." Rosa mengembuskan napas panjang. "Kalau saja dari awal aku tahu Nayla yang ikut mendampingi Mas Arga ke luar kota, aku pasti sudah mencegahnya." Bu Ajeng menoleh ke arahnya. "Kamu memang baru tahu setelah Arga berangkat?" Rosa mengangguk kesal. "Iya, Tante. Biasanya yang mendampingi Mas Arga saat perjalanan dinas itu asistennya. Aku sama sekali tidak menyangka kali ini Nayla yang ikut. Aku baru tahu setelah salah satu karyawan perusahaan membicarakannya." Wajah Bu Ajeng langsung mengeras. "Itu juga yang membuat Tante kesal. Arga seharusnya memilih orang lain, bu

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 22

    Nayla menoleh. Seketika napasnya tertahan saat melihat sosok yang berdiri beberapa langkah di depannya. Seorang pria dengan kemeja yang kusut berjalan sempoyongan ke arahnya. Wajahnya merah padam, rambutnya berantakan, sementara aroma alkohol yang menyengat langsung menyeruak begitu ia mendekat. Matanya menyapu tubuh Nayla tanpa rasa sungkan, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. Pria itu menyeringai. "Wah... cantik sekali," gumamnya dengan lidah yang terdengar pelo. "Sendirian, ya?" Nayla refleks mundur selangkah. "Maaf, Pak. Permisi." Ia berusaha melewati pria itu untuk kembali ke lorong hotel. Namun pria tersebut justru bergeser, menutup jalan keluar sambil terkekeh pelan. "Jangan buru-buru." Senyumnya semakin lebar. "Temenin saya sebentar. Bosan nih." Jantung Nayla mulai berdegup semakin cepat. Lorong menuju balkon itu begitu sepi. Hanya terdengar desiran angin malam yang menerpa dedaunan dan suara musik pesta yang samar dari dalam ballroom. "Maaf, sa

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 21

    Arga dan Nayla sama-sama membeku. Tak ada satu pun dari mereka yang bergerak. Hanya suara napas yang saling bersahutan di tengah kamar yang sunyi. Tatapan Arga turun perlahan ke wajah Nayla. Wanita itu tampak gugup. Pipi yang semula pucat kini memerah, sementara bulu matanya bergetar pelan karena gugup. Sudah bertahun-tahun Arga berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua perasaan itu telah berakhir. Bahwa Nayla kini hanyalah bawahannya, sekaligus seseorang yang pernah mengisi hidupnya. Namun malam itu... Jarak yang begitu dekat membuat seluruh benteng pertahanannya runtuh sedikit demi sedikit. "Nayla..." gumamnya lirih. Nayla menelan ludah. "I-iya..." Suara itu terdengar begitu pelan hingga hampir tak terdengar. Arga mengangkat sebelah tangannya perlahan. Jemarinya bergerak hati-hati, menyingkirkan beberapa helai rambut Nayla yang jatuh menutupi wajah wanita itu. Sentuhan itu membuat Nayla membeku. Sudah lama sekali ia tidak merasakan kelembutan yang begitu dikena

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 1

    Nayla berlari kecil memasuki gedung pencakar langit itu sambil merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan diterpa angin pagi. Suara hak tinggi miliknya berdetak cepat di lantai marmer lobby yang luas dan mewah. Tubuh sintalnya terbalut rok span hitam dan kemeja putih fit body yang memb

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 5

    Tubuh Arga yang sejak tadi bersandar malas langsung menegang saat sepasang tangan melingkar manja di lehernya dari belakang. Aroma parfum wanita yang tajam dan mahal langsung memenuhi indera penciumannya. "Baby…" Suara lembut itu terdengar manja di telinganya. Nathan yang melihat sosok wani

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 4

    Sementara itu, dari dalam rumah, ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka dalam diam. Tatapan itu tertuju pada Arabella yang tadi sempat tertawa riang di gendongan Juno. Wajahnya perlahan melunak. Hangat. Pemandangan itu selalu membuat hatinya tenang. Dan orang itu ada

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 7

    Masih di ruangan Arga. Rosa tersenyum tipis setelah mendengar jawaban Arga. Meski hatinya masih dipenuhi rasa tidak nyaman, wanita itu tetap berusaha terlihat manis. Tatapannya kembali mengarah pada Nayla yang sedang membuka laptop di meja sekretaris. Lalu perlahan Rosa melangkah mendekat.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status