LOGINLangit sore mulai berubah jingga ketika Nayla akhirnya keluar dari gedung perusahaan dengan langkah pelan. Bahunya terasa pegal setelah seharian mencoba menata pikirannya yang terus kacau sejak bertemu Arga lagi.
Ia menggenggam tasnya erat sambil menuruni anak tangga lobby utama. Namun langkah Nayla mendadak berhenti. Sebuah mobil hitam sudah terparkir di depan lobby seperti biasa. Dan saat pintu mobil itu terbuka— Seorang pria tinggi keluar dari sana sambil tersenyum hangat ke arahnya. "Nay." Nayla mengembuskan napas kecil. "Juno." Pria itu berjalan mendekat dengan santai. Wajah tampannya terlihat teduh dan ramah, jauh berbeda dari aura dingin Arga. "Kamu lembur lagi?" tanyanya pelan. Nayla tersenyum tipis. "Hari ini kerjaan agak banyak." Juno mengangguk paham. "Kelihatan capek." Nayla hanya mengangkat bahu pelan. Selama hampir dua bulan terakhir sejak Nayla bekerja di perusahaan itu, Juno memang sering menjemputnya pulang kerja. Awalnya Nayla berkali-kali menolak. Namun pria itu selalu punya jawaban santai untuk membungkam penolakannya. ‘Rumah kita satu arah.’ ‘Aku juga lewat sini.’ ‘Daripada kamu pulang sendirian malam-malam.’ Dan lama-lama Nayla menyerah. Apalagi Juno memang tak pernah memaksa atau membuatnya tidak nyaman. Pria itu hanya menemani. Sesederhana itu. "Bisa pulang sekarang?" tanya Juno lagi. Nayla mengangguk kecil. "Hm." Juno langsung membukakan pintu mobil untuknya. Namun tanpa mereka sadari— Dari lantai atas gedung perusahaan, sepasang mata sedang memperhatikan semuanya dalam diam. Tatapan Arga lurus mengarah pada pemandangan di bawah sana. Dan saat melihat siapa pria yang bersama Nayla— Rahangnya langsung mengeras. Juno. Tangan Arga perlahan mengepal kuat di samping tubuhnya. Kulit putihnya terlihat memerah menahan emosi yang tiba-tiba naik begitu saja. Bayangan masa lalu langsung bermunculan tanpa izin di kepalanya. Juno yang selalu ada di dekat Nayla. Juno yang selalu membela Nayla. Dan Juno yang dulu menjadi alasan terbesar kehancuran rumah tangganya. Atau setidaknya… Itu yang Arga yakini sampai hari ini. Brak. Map di tangan Arga terlempar kasar ke meja. Dadanya terasa panas melihat Juno membukakan pintu mobil untuk Nayla dengan gerakan begitu terbiasa. Seolah itu bukan pertama kalinya. Dan memang bukan. Sudah hampir dua bulan. Dua bulan mereka bersama tanpa sepengetahuannya. Tatapan Arga semakin gelap. "Sampai sekarang masih menempel juga rupanya," gumamnya dingin. Sementara di bawah sana, Nayla hendak masuk ke mobil saat Juno tiba-tiba bersuara pelan. "Hari pertamamu sama bos baru gimana?" Tubuh Nayla menegang samar. Bayangan wajah Arga langsung muncul di kepalanya. Tatapan dingin pria itu. Nada suaranya yang formal. Dan cara Arga memperlakukannya seolah mereka tak pernah saling mencintai. Namun Nayla cepat-cepat menepis semuanya. Belum saatnya. Ia belum ingin siapa pun tahu kalau pria yang kini menjadi atasannya adalah Arga. Termasuk Juno. Nayla memaksakan senyum kecil. "Biasa aja kok. Lumayan galak." Juno terkekeh kecil. "Namanya juga bos." Nayla hanya mengangguk pelan sambil menunduk menyembunyikan kegelisahan di matanya. Beberapa saat kemudian .. Mobil Juno akhirnya memasuki pekarangan rumah milik orang tua Nayla. Nayla yang baru saja menutup pintu mobil langsung menoleh saat suara kecil itu terdengar nyaring dari halaman rumah. "Mamaa…!" Seorang gadis kecil berlari dengan langkah pendeknya yang masih sedikit oleng khas anak seusia tiga tahun. Rambutnya yang dikuncir dua bergoyang lucu sementara wajah mungilnya tampak berbinar melihat Nayla. Bruk. Tubuh kecil itu langsung memeluk kaki Nayla erat. Nayla tertawa kecil lalu buru-buru jongkok agar putrinya tidak jatuh. "Pelan-pelan, sayang…' ucapnya lembut sambil memeluk Arabella hangat. Arabella mengangkat wajah bulatnya dengan senyum lebar. Pipinya gembul dan matanya berbinar lucu. "Abea tunggu Mamaa dari tadii…" Suara cadelnya terdengar menggemaskan. Huruf R masih berubah jadi L, dan beberapa kata masih terdengar pelo khas anak kecil. Nayla langsung mencium pipi putrinya gemas. "Iya, sayang Mama udah pulang sekarang." Arabella terkikik kecil sebelum matanya tiba-tiba menoleh ke arah Juno yang baru keluar dari balik mobil. Senyumnya langsung makin lebar. "Papa Junooo!" Deg. Nayla langsung memejamkan mata sebentar sambil menghela napas panjang pasrah. Sementara Juno hanya tertawa kecil seperti biasa. Arabella bahkan langsung melepas pelukan Nayla lalu berlari kecil menghampiri pria itu dengan tangan mungil terbuka. "Papaaa…" Juno membungkuk lalu mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya dengan mudah. "Wah, princess Papa belum istirahat?" tanyanya lembut. Arabella menggeleng cepat. "Nggak! Abea nunggu Mama pulang." Juno tersenyum tipis lalu mengusap rambut halus anak itu penuh sayang. "Anak pintar." "Papa lamaa jemput Mama…" omel Arabella cadel sambil memonyongkan bibir. Juno terkekeh geli. "Iya nih, Papa kena macet." "Juno…" tegur Nayla pelan. Tatapan wanita itu langsung menusuk kecil ke arah pria tersebut. Ia sudah berkali-kali meminta Juno menghentikan kebiasaan Arabella memanggilnya papa. Namun lelaki itu sama sekali tidak pernah mempermasalahkannya. "Aku udah bilang jangan dibiasain," gumam Nayla pelan. Juno menoleh santai. "Aku nggak ngajarin." "Tapi kamu juga nggak larang." "Karena aku nggak keberatan." Jawaban itu langsung membuat Nayla terdiam sesaat. Sementara Arabella malah sibuk memainkan kerah baju Juno dengan wajah polosnya. Sejak kecil, anak itu memang terlalu dekat dengan Juno. Pria itu selalu ada di saat Arabella membutuhkannya. Membawakan susu saat demam. Menemani bermain. Mengantar ke taman. Bahkan kadang menidurkannya saat Nayla kelelahan sepulang kerja. Dan mungkin karena itulah… Tanpa ada yang mengajarkan, Arabella mulai memanggilnya papa. Awalnya Nayla selalu membetulkan. 'Om Juno, sayang.' Namun Arabella yang masih kecil justru terus mengulang panggilan itu dengan polos. Dan Juno… Tak pernah sekalipun menolak. “Udah makan belum, sayang?” tanya Nayla lembut sambil mengusap pipi putrinya. Arabella mengangguk semangat di gendongan Juno. "Udah sama Neneek." "Makan pake apa, Sayang?" "Sup ayammm sama telol!" Nayla tertawa kecil mendengar cadel putrinya. "Telur, sayang." "Telol," ulang Arabella polos membuat Juno ikut tertawa pelan. Suasana hangat itu terasa begitu sederhana. Begitu nyaman. Sampai tanpa sadar, Nayla sempat lupa bagaimana kacau harinya sejak bertemu Arga lagi. Namun bayangan wajah dingin pria itu kembali melintas di kepalanya secepat kilat. Tatapan tajamnya. Nada formalnya. Dan entah kenapa… Dada Nayla mendadak terasa sesak lagi. "Nay." Suara Juno membuyarkan lamunannya. "Kamu keliatan capek banget." Nayla buru-buru menarik senyum kecil. "Aku cuma perlu istirahat." Juno menatapnya beberapa detik lalu mengangguk pelan. "Oke. Besok aku jemput lagi." Arabella langsung bersorak kecil dalam gendongan Juno. "Asiik! Papa Juno jemput Mama lagiii!" Nayla langsung memijat pelipisnya pasrah. Sementara Juno hanya tertawa kecil tanpa rasa bersalah sedikit pun. Sementara itu, dari dalam rumah. Ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka. bersambung..Di sebuah toko kue yang cukup terkenal, suasana tampak ramai oleh para pengunjung yang datang silih berganti. Aroma roti yang baru matang dan kue-kue manis memenuhi ruangan, berpadu dengan suara pelayan yang sibuk melayani pelanggan. Di depan etalase kaca yang dipenuhi aneka kue cantik, Bu Ajeng berdiri dengan anggun. Tatapannya menyusuri satu per satu pilihan yang tersusun rapi, mulai dari cake ulang tahun, pastry, hingga berbagai dessert dengan hiasan yang menggugah selera. Sesekali ia menunjuk beberapa kue sambil bertanya kepada pramuniaga mengenai rasa dan bahan yang digunakan. Wajahnya terlihat serius memilih, seolah ingin memastikan hanya kue terbaik yang akan ia bawa pulang. Sebelum sempat menentukan pilihannya, seseorang tiba-tiba menabraknya dari arah samping. Bruk! Seorang anak perempuan kecil terjatuh hingga terduduk di lantai. Dengan wajah meringis, ia mengangkat tangan mungilnya untuk mengusap kening yang terasa nyeri akibat benturan itu. "Au..." lirihnya pe
Sinar matahari senja mulai meredup ketika Nayla akhirnya menutup panggilan dengan pihak maskapai. Setelah beberapa kali berbicara dengan petugas, ia mengembuskan napas pelan. Penerbangan hari itu sudah tidak memungkinkan lagi. Tiket mereka telah hangus, dan jadwal paling cepat untuk kembali ke Jakarta adalah esok pagi. Nayla memejamkan mata sesaat, lalu membalikkan badan. "Pak Arga," panggilnya pelan. Arga yang masih duduk di tepi ranjang mengangkat pandangan. "Saya sudah menghubungi maskapai. Penerbangan berikutnya baru besok pagi." Arga mengangguk singkat. "Kalau begitu, kita pulang besok." "Iya, Pak. Untuk malam ini hotelnya harus diperpanjang dulu." "Ya sudah." Nayla meraih tasnya. "Saya ke resepsionis sebentar." Baru saja ia hendak melangkah, suara Arga kembali menghentikannya. "Nayla." Langkah wanita itu langsung terhenti. Ia menoleh. "Iya, Pak?" Arga menghela napas pelan. Wajahnya tetap datar, tetapi nada suaranya terdengar sedikit lebih rendah
Tubuh Arga terasa begitu panas. Napasnya memburu, sementara keningnya dipenuhi butiran keringat. Nayla buru-buru mengambil handuk kecil di kamar mandi, membasahinya dengan air dingin, lalu mengompres dahi pria itu. "Pak Arga... bangun. Bapak demam tinggi," ucapnya cemas. Arga hanya mengerang pelan. Kelopak matanya tetap terpejam. Sesaat kemudian, bibir pria itu bergerak lirih. "...Jangan pergi..." Nayla menghentikan gerakannya. Tangannya yang sedang mengusap dahi Arga seketika membeku. Arga kembali bergumam, suaranya lemah dan nyaris tak terdengar. "...Nayla..." Jantung Nayla berdegup semakin cepat. Sudah tiga tahun berlalu sejak terakhir kali ia mendengar Arga menyebut namanya dengan nada selembut itu. Matanya mulai berkaca-kaca. "Pak Arga..." Namun Arga belum benar-benar sadar. Ia masih terjebak dalam demamnya. "Maaf..." Satu kata itu membuat dada Nayla terasa sesak. Selama ini, Arga selalu bersikap dingin, penuh kebencian, bahkan tak pernah mau mende
Saat ini, di kediaman keluarga Wijaya, Bu Ajeng dan Rosa tengah duduk di ruang tamu. Sudah tiga hari berlalu sejak Arga berangkat ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Hari ini, Arga dijadwalkan kembali. Rosa tampak gelisah. Jemarinya terus memainkan cangkir teh yang sudah mulai dingin. "Tante, apa Mas Arga sudah memberikan kabar?" Bu Ajeng menggeleng pelan. "Belum. Tante juga masih menunggu kabarnya." Rosa mengembuskan napas panjang. "Kalau saja dari awal aku tahu Nayla yang ikut mendampingi Mas Arga ke luar kota, aku pasti sudah mencegahnya." Bu Ajeng menoleh ke arahnya. "Kamu memang baru tahu setelah Arga berangkat?" Rosa mengangguk kesal. "Iya, Tante. Biasanya yang mendampingi Mas Arga saat perjalanan dinas itu asistennya. Aku sama sekali tidak menyangka kali ini Nayla yang ikut. Aku baru tahu setelah salah satu karyawan perusahaan membicarakannya." Wajah Bu Ajeng langsung mengeras. "Itu juga yang membuat Tante kesal. Arga seharusnya memilih orang lain, bu
Nayla menoleh. Seketika napasnya tertahan saat melihat sosok yang berdiri beberapa langkah di depannya. Seorang pria dengan kemeja yang kusut berjalan sempoyongan ke arahnya. Wajahnya merah padam, rambutnya berantakan, sementara aroma alkohol yang menyengat langsung menyeruak begitu ia mendekat. Matanya menyapu tubuh Nayla tanpa rasa sungkan, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. Pria itu menyeringai. "Wah... cantik sekali," gumamnya dengan lidah yang terdengar pelo. "Sendirian, ya?" Nayla refleks mundur selangkah. "Maaf, Pak. Permisi." Ia berusaha melewati pria itu untuk kembali ke lorong hotel. Namun pria tersebut justru bergeser, menutup jalan keluar sambil terkekeh pelan. "Jangan buru-buru." Senyumnya semakin lebar. "Temenin saya sebentar. Bosan nih." Jantung Nayla mulai berdegup semakin cepat. Lorong menuju balkon itu begitu sepi. Hanya terdengar desiran angin malam yang menerpa dedaunan dan suara musik pesta yang samar dari dalam ballroom. "Maaf, sa
Arga dan Nayla sama-sama membeku. Tak ada satu pun dari mereka yang bergerak. Hanya suara napas yang saling bersahutan di tengah kamar yang sunyi. Tatapan Arga turun perlahan ke wajah Nayla. Wanita itu tampak gugup. Pipi yang semula pucat kini memerah, sementara bulu matanya bergetar pelan karena gugup. Sudah bertahun-tahun Arga berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua perasaan itu telah berakhir. Bahwa Nayla kini hanyalah bawahannya, sekaligus seseorang yang pernah mengisi hidupnya. Namun malam itu... Jarak yang begitu dekat membuat seluruh benteng pertahanannya runtuh sedikit demi sedikit. "Nayla..." gumamnya lirih. Nayla menelan ludah. "I-iya..." Suara itu terdengar begitu pelan hingga hampir tak terdengar. Arga mengangkat sebelah tangannya perlahan. Jemarinya bergerak hati-hati, menyingkirkan beberapa helai rambut Nayla yang jatuh menutupi wajah wanita itu. Sentuhan itu membuat Nayla membeku. Sudah lama sekali ia tidak merasakan kelembutan yang begitu dikena
Masih di ruangan Arga. Rosa tersenyum tipis setelah mendengar jawaban Arga. Meski hatinya masih dipenuhi rasa tidak nyaman, wanita itu tetap berusaha terlihat manis. Tatapannya kembali mengarah pada Nayla yang sedang membuka laptop di meja sekretaris. Lalu perlahan Rosa melangkah mendekat.
"Pagi, Sayang." Suara lembut membuat Arga langsung mengenali siapa pemiliknya bahkan tanpa perlu menoleh. Rosa. Wanita itu berdiri di sampingnya dengan senyum manis sempurna di bibir merahnya. Dress putih selutut yang dipakainya pagi itu membuat penampilannya terlihat anggun dan feminin.
Pintu ruangan presiden direktur tertutup pelan tepat setelah Nayla masuk ke dalam. Ruangan itu luas dengan dominasi warna hitam dan abu gelap. Aroma khas parfum maskulin langsung menyeruak samar di indera penciumannya. Dingin. Elegan. Sangat mencerminkan Arga. Dan entah kenapa… itu membuat Nayl
Nayla berlari kecil memasuki gedung pencakar langit itu sambil merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan diterpa angin pagi. Suara hak tinggi miliknya berdetak cepat di lantai marmer lobby yang luas dan mewah. Tubuh sintalnya terbalut rok span hitam dan kemeja putih fit body yang memb







