Share

Bab 7

Author: LibraRahutia
last update publish date: 2026-06-09 07:19:41

Masih di ruangan Arga.

Rosa tersenyum tipis setelah mendengar jawaban Arga.

Meski hatinya masih dipenuhi rasa tidak nyaman, wanita itu tetap berusaha terlihat manis.

Tatapannya kembali mengarah pada Nayla yang sedang membuka laptop di meja sekretaris.

Lalu perlahan Rosa melangkah mendekat.

"Hei kamu…"

Nayla mengangkat wajah.

Rosa tersenyum tipis, namun bukan senyum bersahabat.

"Bisa tolong bikinin aku teh hangat?"

Hening sejenak.

Nayla menatap Rosa beberapa detik sebelum akhirnya menjawab dengan sopan.

"Maaf, Mbak. Saya sekretaris direktur, bukan office girl."

Nada bicaranya tenang.

Tidak terdengar kasar.

Namun kalimat itu tetap membuat suasana sekitar berubah canggung.

Beberapa karyawan yang kebetulan lewat langsung melirik pelan ke arah mereka.

Rosa terlihat sedikit terdiam.

Ekspresi di wajahnya langsung berubah.

Namun sebelum wanita itu sempat bicara—

"Lakukan saja."

Suara dingin Arga langsung terdengar.

Nayla perlahan menoleh.

Pria itu berdiri di depan pintu ruangannya sambil menatapnya datar.

"Jangan memperumit hal sepele."

Kalimat itu membuat suasana makin sunyi.

Tatapan Nayla bertemu dengan Arga beberapa detik.

Dan entah kenapa…

dada wanita itu terasa sedikit nyeri.

Nayla terdiam sesaat sebelum akhirnya menunduk pelan.

"Baik, Pak."

Wanita itu lalu berdiri dari kursinya dan berjalan menuju pantry tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Sementara Rosa diam-diam memperhatikan punggung Nayla yang menjauh.

Dan untuk pertama kalinya sejak tadi…

wanita itu merasa menang.

Sedangkan Arga, pria itu masih menatap ke arah pantry beberapa saat sebelum akhirnya masuk ke ruangannya sendiri.

Namun rahangnya tampak mengeras samar.

Karena meski mulutnya membela Rosa…

ia tahu jelas bagaimana tatapan Nayla barusan.

Tatapan seseorang yang sedang menahan harga dirinya agar tidak runtuh di depan banyak orang.

Nayla kembali sambil membawakan secangkir teh hangat, sebelum masuk ia sempat melihat Rosa yangNayla kembali beberapa menit kemudian sambil membawa secangkir teh hangat di atas tatakan kecil.

Langkahnya tetap tenang meski hatinya terasa berat.

Saat sampai di depan ruang kerja Arga, pintu ruangan itu sedikit terbuka.

Dan tanpa sengaja…

matanya langsung menangkap pemandangan di dalam sana.

Rosa duduk di sofa dekat meja kerja Arga sambil tertawa kecil.

Sedangkan Arga berdiri di dekat wanita itu dengan satu tangan bertumpu di sandaran sofa.

Terlalu dekat.

Sangat dekat.

Rosa lalu merapikan kerah kemeja Arga pelan sambil berkata manja, “Kamu tuh kalau kerja terlalu serius.”

Biasanya…

Arga akan langsung menjauh jika ada wanita bersikap terlalu lengket seperti itu.

Namun kali ini tidak.

Pria itu justru diam membiarkan.

Bahkan sengaja menundukkan wajah sedikit mendekat ke arah Rosa.

Tatapannya sesekali melirik ke arah pintu ruangan.

Ke arah Nayla.

Seolah memastikan wanita itu melihat semuanya dengan jelas.

Dan memang itulah yang Arga inginkan.

Karena sejak melihat Nayla bersama Juno waktu itu…

ada sesuatu dalam dirinya yang belum benar-benar reda.

Jika Nayla bisa tertawa dengan pria lain di depan matanya… jika Nayla bisa membuatnya sesakit itu…

maka Arga juga bisa melakukan hal yang sama.

Meski kenyataannya—

ia sendiri sebenarnya merasa risih dengan sandiwara ini.

Tangan Rosa yang terus menyentuhnya. Suara manja wanita itu. Kedekatan yang dipaksakan.

Semuanya terasa asing.

Namun Arga tetap mempertahankan ekspresi datarnya.

Ego pria itu terlalu tinggi untuk mengaku kalau dirinya masih terluka karena Nayla.

Sedangkan di depan pintu…

jemari Nayla perlahan mencengkeram tatakan cangkir teh sedikit lebih erat.

Tatapannya sempat bertemu dengan Arga.

Dan pria itu sengaja tidak mengalihkan pandangan.

Seolah menantangnya untuk bereaksi.

Namun Nayla hanya menurunkan matanya pelan.

Lalu masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi setenang biasanya.

"Tehnya, Nona."

Suaranya terdengar profesional.

Tenang.

Terlalu tenang.

Nayla meletakkan cangkir itu di meja lalu hendak mundur.

Namun tepat saat itu—

Arga tiba-tiba duduk di samping Rosa dengan jarak yang sangat dekat.

Bahkan sengaja merangkul sandaran sofa di belakang tubuh wanita itu.

"Nanti malam jangan sampai telat ya Sayang?" ucap Rosa lembut.

"Kalau begitu saya keluar dulu," ucap Nayla tiba-tiba, sebelum mendengar jawaban Arga.

Belum sempat ia kembali ke mejanya—

"Sebentar."

Suara Arga membuat langkah Nayla terhenti.

Wanita itu menoleh pelan.

Arga kini menatapnya datar seperti biasa.

"Tolong revisi jadwal meeting siang ini. Aku mau semua selesai setelah jam tiga."

"Baik, Pak."

Setelah mengambil map diatas meja, Nayla pergi begitu saja keluar dari ruangan itu, namun bukan menuju ruangannya, melainkan tempat lain.Langkah Nayla terdengar pelan menyusuri lorong kantor.

Wanita itu berjalan lurus tanpa memperhatikan siapa pun yang menyapanya.

Tangannya masih menggenggam map tipis di dada seolah itu satu-satunya penyangga agar dirinya tetap terlihat baik-baik saja.

Selama beberapa hari terakhir sejak kembali bertemu dengan Arga…

mereka memang tidak pernah sekali pun membahas masa lalu.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada kata kenapa.

Baik Arga maupun Nayla sama-sama bersikap seolah mereka hanyalah atasan dan bawahan biasa yang baru saling mengenal.

Formal.

Dingin.

Berjarak.

Padahal kenyataannya…

hati keduanya jelas tidak pernah benar-benar tenang.

Tatapan Arga yang terlalu sering tertahan pada Nayla.

Cara Nayla selalu cepat menghindar setiap pria itu berada terlalu dekat.

Semua itu sudah cukup menjelaskan kalau perasaan lama mereka belum benar-benar hilang.

Hanya saja, tidak ada satu pun yang cukup berani untuk membukanya lebih dulu.

Dan sekarang setelah melihat semua yang dilakukan Arga barusan…

Nayla akhirnya sadar.

Mungkin pria itu memang sudah benar-benar berubah.

Nayla terus berjalan menuju tangga darurat.

Sepatunya menaiki anak tangga satu per satu hingga akhirnya sampai di rooftop gedung kantor.

Brak.

Pintu rooftop terbuka pelan.

Angin langsung menerpa wajahnya.

Area itu cukup sepi siang itu.

Hanya ada suara embusan angin dan langit mendung samar di atas sana.

Begitu pintu di belakangnya tertutup kembali, langkah Nayla perlahan melemah.

Wanita itu berjalan ke pinggir pagar pembatas rooftop lalu berhenti di sana.

Tangannya mencengkeram besi dingin di depannya erat.

Dadanya terasa sesak.

Bukan semata karena Rosa.

Tapi karena Arga sengaja membuatnya melihat semua itu.

"Ternyata… kamu masih marah ya sama aku…"

Suara Nayla lirih tertelan angin.

Wanita itu tertawa kecil.

Namun tawa itu justru terdengar menyedihkan.

Karena sejujurnya…

selama ini Nayla selalu tahu.

Di balik sikap dingin Arga, pria itu belum benar-benar melupakan apa yang terjadi di antara mereka dulu.

Dan mungkin…dirinya juga sama.

"Ekhem.."

Nayla langsung menoleh saat mendengar suara dari belakang.

"Apa tujuanmu datang kembali kehidupan Arga?"

Seorang wanita yang tak lain adalah Rosa. Menatapnya dengan tajam.

Nayla menarik nafas, lalu menghembuskannya perlahan. Ia tahu, cepat atau lambat dirinya akan menghadapi semua yang berhubungan dengan mantan suaminya itu, termasuk keluarganya.

"Menurutmu apa yang akan kulakukan?" tanya balik Nayla, tak lupa senyum miring yang ia berikan pada Rosa, membuat wanita itu menggeram.

'Sudah cukup selama dua tahun aku diam, jika kalian kembali mengusikku, maka jangan salahkan aku jika aku melawan,' batinnya.

next..

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 26.

    Di sebuah toko kue yang cukup terkenal, suasana tampak ramai oleh para pengunjung yang datang silih berganti. Aroma roti yang baru matang dan kue-kue manis memenuhi ruangan, berpadu dengan suara pelayan yang sibuk melayani pelanggan. Di depan etalase kaca yang dipenuhi aneka kue cantik, Bu Ajeng berdiri dengan anggun. Tatapannya menyusuri satu per satu pilihan yang tersusun rapi, mulai dari cake ulang tahun, pastry, hingga berbagai dessert dengan hiasan yang menggugah selera. Sesekali ia menunjuk beberapa kue sambil bertanya kepada pramuniaga mengenai rasa dan bahan yang digunakan. Wajahnya terlihat serius memilih, seolah ingin memastikan hanya kue terbaik yang akan ia bawa pulang. Sebelum sempat menentukan pilihannya, seseorang tiba-tiba menabraknya dari arah samping. Bruk! Seorang anak perempuan kecil terjatuh hingga terduduk di lantai. Dengan wajah meringis, ia mengangkat tangan mungilnya untuk mengusap kening yang terasa nyeri akibat benturan itu. "Au..." lirihnya pe

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 25

    Sinar matahari senja mulai meredup ketika Nayla akhirnya menutup panggilan dengan pihak maskapai. Setelah beberapa kali berbicara dengan petugas, ia mengembuskan napas pelan. Penerbangan hari itu sudah tidak memungkinkan lagi. Tiket mereka telah hangus, dan jadwal paling cepat untuk kembali ke Jakarta adalah esok pagi. Nayla memejamkan mata sesaat, lalu membalikkan badan. "Pak Arga," panggilnya pelan. Arga yang masih duduk di tepi ranjang mengangkat pandangan. "Saya sudah menghubungi maskapai. Penerbangan berikutnya baru besok pagi." Arga mengangguk singkat. "Kalau begitu, kita pulang besok." "Iya, Pak. Untuk malam ini hotelnya harus diperpanjang dulu." "Ya sudah." Nayla meraih tasnya. "Saya ke resepsionis sebentar." Baru saja ia hendak melangkah, suara Arga kembali menghentikannya. "Nayla." Langkah wanita itu langsung terhenti. Ia menoleh. "Iya, Pak?" Arga menghela napas pelan. Wajahnya tetap datar, tetapi nada suaranya terdengar sedikit lebih rendah

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   24

    Tubuh Arga terasa begitu panas. Napasnya memburu, sementara keningnya dipenuhi butiran keringat. Nayla buru-buru mengambil handuk kecil di kamar mandi, membasahinya dengan air dingin, lalu mengompres dahi pria itu. "Pak Arga... bangun. Bapak demam tinggi," ucapnya cemas. Arga hanya mengerang pelan. Kelopak matanya tetap terpejam. Sesaat kemudian, bibir pria itu bergerak lirih. "...Jangan pergi..." Nayla menghentikan gerakannya. Tangannya yang sedang mengusap dahi Arga seketika membeku. Arga kembali bergumam, suaranya lemah dan nyaris tak terdengar. "...Nayla..." Jantung Nayla berdegup semakin cepat. Sudah tiga tahun berlalu sejak terakhir kali ia mendengar Arga menyebut namanya dengan nada selembut itu. Matanya mulai berkaca-kaca. "Pak Arga..." Namun Arga belum benar-benar sadar. Ia masih terjebak dalam demamnya. "Maaf..." Satu kata itu membuat dada Nayla terasa sesak. Selama ini, Arga selalu bersikap dingin, penuh kebencian, bahkan tak pernah mau mende

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 23

    Saat ini, di kediaman keluarga Wijaya, Bu Ajeng dan Rosa tengah duduk di ruang tamu. Sudah tiga hari berlalu sejak Arga berangkat ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Hari ini, Arga dijadwalkan kembali. Rosa tampak gelisah. Jemarinya terus memainkan cangkir teh yang sudah mulai dingin. "Tante, apa Mas Arga sudah memberikan kabar?" Bu Ajeng menggeleng pelan. "Belum. Tante juga masih menunggu kabarnya." Rosa mengembuskan napas panjang. "Kalau saja dari awal aku tahu Nayla yang ikut mendampingi Mas Arga ke luar kota, aku pasti sudah mencegahnya." Bu Ajeng menoleh ke arahnya. "Kamu memang baru tahu setelah Arga berangkat?" Rosa mengangguk kesal. "Iya, Tante. Biasanya yang mendampingi Mas Arga saat perjalanan dinas itu asistennya. Aku sama sekali tidak menyangka kali ini Nayla yang ikut. Aku baru tahu setelah salah satu karyawan perusahaan membicarakannya." Wajah Bu Ajeng langsung mengeras. "Itu juga yang membuat Tante kesal. Arga seharusnya memilih orang lain, bu

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 22

    Nayla menoleh. Seketika napasnya tertahan saat melihat sosok yang berdiri beberapa langkah di depannya. Seorang pria dengan kemeja yang kusut berjalan sempoyongan ke arahnya. Wajahnya merah padam, rambutnya berantakan, sementara aroma alkohol yang menyengat langsung menyeruak begitu ia mendekat. Matanya menyapu tubuh Nayla tanpa rasa sungkan, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. Pria itu menyeringai. "Wah... cantik sekali," gumamnya dengan lidah yang terdengar pelo. "Sendirian, ya?" Nayla refleks mundur selangkah. "Maaf, Pak. Permisi." Ia berusaha melewati pria itu untuk kembali ke lorong hotel. Namun pria tersebut justru bergeser, menutup jalan keluar sambil terkekeh pelan. "Jangan buru-buru." Senyumnya semakin lebar. "Temenin saya sebentar. Bosan nih." Jantung Nayla mulai berdegup semakin cepat. Lorong menuju balkon itu begitu sepi. Hanya terdengar desiran angin malam yang menerpa dedaunan dan suara musik pesta yang samar dari dalam ballroom. "Maaf, sa

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 21

    Arga dan Nayla sama-sama membeku. Tak ada satu pun dari mereka yang bergerak. Hanya suara napas yang saling bersahutan di tengah kamar yang sunyi. Tatapan Arga turun perlahan ke wajah Nayla. Wanita itu tampak gugup. Pipi yang semula pucat kini memerah, sementara bulu matanya bergetar pelan karena gugup. Sudah bertahun-tahun Arga berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua perasaan itu telah berakhir. Bahwa Nayla kini hanyalah bawahannya, sekaligus seseorang yang pernah mengisi hidupnya. Namun malam itu... Jarak yang begitu dekat membuat seluruh benteng pertahanannya runtuh sedikit demi sedikit. "Nayla..." gumamnya lirih. Nayla menelan ludah. "I-iya..." Suara itu terdengar begitu pelan hingga hampir tak terdengar. Arga mengangkat sebelah tangannya perlahan. Jemarinya bergerak hati-hati, menyingkirkan beberapa helai rambut Nayla yang jatuh menutupi wajah wanita itu. Sentuhan itu membuat Nayla membeku. Sudah lama sekali ia tidak merasakan kelembutan yang begitu dikena

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 3

    Langit sore mulai berubah jingga ketika Nayla akhirnya keluar dari gedung perusahaan dengan langkah pelan. Bahunya terasa pegal setelah seharian mencoba menata pikirannya yang terus kacau sejak bertemu Arga lagi. Ia menggenggam tasnya erat sambil menuruni anak tangga lobby utama. Namun langkah

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 2

    Pintu ruangan presiden direktur tertutup pelan tepat setelah Nayla masuk ke dalam. Ruangan itu luas dengan dominasi warna hitam dan abu gelap. Aroma khas parfum maskulin langsung menyeruak samar di indera penciumannya. Dingin. Elegan. Sangat mencerminkan Arga. Dan entah kenapa… itu membuat Nayl

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 5

    Tubuh Arga yang sejak tadi bersandar malas langsung menegang saat sepasang tangan melingkar manja di lehernya dari belakang. Aroma parfum wanita yang tajam dan mahal langsung memenuhi indera penciumannya. "Baby…" Suara lembut itu terdengar manja di telinganya. Nathan yang melihat sosok wani

  • GAIRAH MANTAN SUAMIKU YANG NAKAL   Bab 4

    Sementara itu, dari dalam rumah, ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka dalam diam. Tatapan itu tertuju pada Arabella yang tadi sempat tertawa riang di gendongan Juno. Wajahnya perlahan melunak. Hangat. Pemandangan itu selalu membuat hatinya tenang. Dan orang itu ada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status