FAZER LOGINDi sebuah toko kue yang cukup terkenal, suasana tampak ramai oleh para pengunjung yang datang silih berganti. Aroma roti yang baru matang dan kue-kue manis memenuhi ruangan, berpadu dengan suara pelayan yang sibuk melayani pelanggan. Di depan etalase kaca yang dipenuhi aneka kue cantik, Bu Ajeng berdiri dengan anggun. Tatapannya menyusuri satu per satu pilihan yang tersusun rapi, mulai dari cake ulang tahun, pastry, hingga berbagai dessert dengan hiasan yang menggugah selera. Sesekali ia menunjuk beberapa kue sambil bertanya kepada pramuniaga mengenai rasa dan bahan yang digunakan. Wajahnya terlihat serius memilih, seolah ingin memastikan hanya kue terbaik yang akan ia bawa pulang. Sebelum sempat menentukan pilihannya, seseorang tiba-tiba menabraknya dari arah samping. Bruk! Seorang anak perempuan kecil terjatuh hingga terduduk di lantai. Dengan wajah meringis, ia mengangkat tangan mungilnya untuk mengusap kening yang terasa nyeri akibat benturan itu. "Au..." lirihnya pe
Sinar matahari senja mulai meredup ketika Nayla akhirnya menutup panggilan dengan pihak maskapai. Setelah beberapa kali berbicara dengan petugas, ia mengembuskan napas pelan. Penerbangan hari itu sudah tidak memungkinkan lagi. Tiket mereka telah hangus, dan jadwal paling cepat untuk kembali ke Jakarta adalah esok pagi. Nayla memejamkan mata sesaat, lalu membalikkan badan. "Pak Arga," panggilnya pelan. Arga yang masih duduk di tepi ranjang mengangkat pandangan. "Saya sudah menghubungi maskapai. Penerbangan berikutnya baru besok pagi." Arga mengangguk singkat. "Kalau begitu, kita pulang besok." "Iya, Pak. Untuk malam ini hotelnya harus diperpanjang dulu." "Ya sudah." Nayla meraih tasnya. "Saya ke resepsionis sebentar." Baru saja ia hendak melangkah, suara Arga kembali menghentikannya. "Nayla." Langkah wanita itu langsung terhenti. Ia menoleh. "Iya, Pak?" Arga menghela napas pelan. Wajahnya tetap datar, tetapi nada suaranya terdengar sedikit lebih rendah
Tubuh Arga terasa begitu panas. Napasnya memburu, sementara keningnya dipenuhi butiran keringat. Nayla buru-buru mengambil handuk kecil di kamar mandi, membasahinya dengan air dingin, lalu mengompres dahi pria itu. "Pak Arga... bangun. Bapak demam tinggi," ucapnya cemas. Arga hanya mengerang pelan. Kelopak matanya tetap terpejam. Sesaat kemudian, bibir pria itu bergerak lirih. "...Jangan pergi..." Nayla menghentikan gerakannya. Tangannya yang sedang mengusap dahi Arga seketika membeku. Arga kembali bergumam, suaranya lemah dan nyaris tak terdengar. "...Nayla..." Jantung Nayla berdegup semakin cepat. Sudah tiga tahun berlalu sejak terakhir kali ia mendengar Arga menyebut namanya dengan nada selembut itu. Matanya mulai berkaca-kaca. "Pak Arga..." Namun Arga belum benar-benar sadar. Ia masih terjebak dalam demamnya. "Maaf..." Satu kata itu membuat dada Nayla terasa sesak. Selama ini, Arga selalu bersikap dingin, penuh kebencian, bahkan tak pernah mau mende
Saat ini, di kediaman keluarga Wijaya, Bu Ajeng dan Rosa tengah duduk di ruang tamu. Sudah tiga hari berlalu sejak Arga berangkat ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Hari ini, Arga dijadwalkan kembali. Rosa tampak gelisah. Jemarinya terus memainkan cangkir teh yang sudah mulai dingin. "Tante, apa Mas Arga sudah memberikan kabar?" Bu Ajeng menggeleng pelan. "Belum. Tante juga masih menunggu kabarnya." Rosa mengembuskan napas panjang. "Kalau saja dari awal aku tahu Nayla yang ikut mendampingi Mas Arga ke luar kota, aku pasti sudah mencegahnya." Bu Ajeng menoleh ke arahnya. "Kamu memang baru tahu setelah Arga berangkat?" Rosa mengangguk kesal. "Iya, Tante. Biasanya yang mendampingi Mas Arga saat perjalanan dinas itu asistennya. Aku sama sekali tidak menyangka kali ini Nayla yang ikut. Aku baru tahu setelah salah satu karyawan perusahaan membicarakannya." Wajah Bu Ajeng langsung mengeras. "Itu juga yang membuat Tante kesal. Arga seharusnya memilih orang lain, bu
Nayla menoleh. Seketika napasnya tertahan saat melihat sosok yang berdiri beberapa langkah di depannya. Seorang pria dengan kemeja yang kusut berjalan sempoyongan ke arahnya. Wajahnya merah padam, rambutnya berantakan, sementara aroma alkohol yang menyengat langsung menyeruak begitu ia mendekat. Matanya menyapu tubuh Nayla tanpa rasa sungkan, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. Pria itu menyeringai. "Wah... cantik sekali," gumamnya dengan lidah yang terdengar pelo. "Sendirian, ya?" Nayla refleks mundur selangkah. "Maaf, Pak. Permisi." Ia berusaha melewati pria itu untuk kembali ke lorong hotel. Namun pria tersebut justru bergeser, menutup jalan keluar sambil terkekeh pelan. "Jangan buru-buru." Senyumnya semakin lebar. "Temenin saya sebentar. Bosan nih." Jantung Nayla mulai berdegup semakin cepat. Lorong menuju balkon itu begitu sepi. Hanya terdengar desiran angin malam yang menerpa dedaunan dan suara musik pesta yang samar dari dalam ballroom. "Maaf, sa
Arga dan Nayla sama-sama membeku. Tak ada satu pun dari mereka yang bergerak. Hanya suara napas yang saling bersahutan di tengah kamar yang sunyi. Tatapan Arga turun perlahan ke wajah Nayla. Wanita itu tampak gugup. Pipi yang semula pucat kini memerah, sementara bulu matanya bergetar pelan karena gugup. Sudah bertahun-tahun Arga berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua perasaan itu telah berakhir. Bahwa Nayla kini hanyalah bawahannya, sekaligus seseorang yang pernah mengisi hidupnya. Namun malam itu... Jarak yang begitu dekat membuat seluruh benteng pertahanannya runtuh sedikit demi sedikit. "Nayla..." gumamnya lirih. Nayla menelan ludah. "I-iya..." Suara itu terdengar begitu pelan hingga hampir tak terdengar. Arga mengangkat sebelah tangannya perlahan. Jemarinya bergerak hati-hati, menyingkirkan beberapa helai rambut Nayla yang jatuh menutupi wajah wanita itu. Sentuhan itu membuat Nayla membeku. Sudah lama sekali ia tidak merasakan kelembutan yang begitu dikena
Masih di ruangan Arga. Rosa tersenyum tipis setelah mendengar jawaban Arga. Meski hatinya masih dipenuhi rasa tidak nyaman, wanita itu tetap berusaha terlihat manis. Tatapannya kembali mengarah pada Nayla yang sedang membuka laptop di meja sekretaris. Lalu perlahan Rosa melangkah mendekat.
"Pagi, Sayang." Suara lembut membuat Arga langsung mengenali siapa pemiliknya bahkan tanpa perlu menoleh. Rosa. Wanita itu berdiri di sampingnya dengan senyum manis sempurna di bibir merahnya. Dress putih selutut yang dipakainya pagi itu membuat penampilannya terlihat anggun dan feminin.
Tubuh Arga yang sejak tadi bersandar malas langsung menegang saat sepasang tangan melingkar manja di lehernya dari belakang. Aroma parfum wanita yang tajam dan mahal langsung memenuhi indera penciumannya. "Baby…" Suara lembut itu terdengar manja di telinganya. Nathan yang melihat sosok wani
Sementara itu, dari dalam rumah, ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka dalam diam. Tatapan itu tertuju pada Arabella yang tadi sempat tertawa riang di gendongan Juno. Wajahnya perlahan melunak. Hangat. Pemandangan itu selalu membuat hatinya tenang. Dan orang itu ada







