LOGIN“Emangnya dia selalu bayar segitu, pria yang diajaknya kencan dalam se malam?” tanya Eva yang merasa uang diberikan Jenny untuk ku itu cukup banyak.“Nggak juga sih, malahan pria yang aku temui di night club membantu rencanaku mendekatinya tadi malam hanya dibayar Rp. 200.000,- sekali kencan.” jawab ku.“Hemmm... Berarti dia sangat puas dengan layananmu tadi malam, makanya kamu diberi uang segitu banyaknya.” ujar Eva diiringi senyumnya.“Walaupun banyak tapi uang ini dari Om ku sendiri, untung aja aku dapat membongkar kelakuannya sekarang, kalau dibiarkan berlarut-larut bukan nggak mungkin Om Ramlan bisa bangkrut dipeloroti untuk kesenangannya sendiri.” tutur ku kesal.“Ya juga sih, secara dia mencari kesenangan itu bukan uangnya sendiri melainkan dari suaminya.” Tambah Eva.“Gimana mau punya uang sendiri jika dia sejak dinikahi Om Ramlan hanya enak-enakan saja di rumah, padahal kalau dia mau seperti Tante membuka usaha, aku rasa dari dulu ia bisa wujudkan itu karena Om Ramlan pasti m
“Iya Mas, aku janji akan merahasiakannya dari Ryan. Ide yang Mas katakan itu sangat bagus dan tepat, Aku rasa udah sepantasnya pula kita ke desa mengunjungi dan membantu Mas Ardi sekeluarga. Selama ini boleh dikatakan nggak ada sedikitpun yang kita berikan pada mereka, selain hubungan keluarga yang masih terjalin baik hingga sekarang ini.” ujar Tante Dewi menyetujui usulan suaminya itu.“Akhir bulan ini kita mengunjungi Mas Ardi di desa, bawa anak-anak sekalian agar mereka tahu pula keadaan desa tempat kelahiran Papanya.” ucap Om Ramlan, Tante Dewi mengangguk setuju dan merasa senang akan diajak pulang ke desa mengunjungi keluarga ku.****Sekitar jam 4 sore Om Ramlan mengunjungi Jenny di kediamannya, rumah tempat kediaman istri mudanya itu memang tak sebesar rumah yang dihuni Tante Dewi, tapi segala isi dan kemewahan di rumah itu tak kalah jauh dengan yang ada di rumah Tante Dewi. Setelah menghentikan mobil yang ia kemudikan sendiri di halaman rumah itu, Om Ramlan segera ke luar lalu
Tante Dewi tak habis pikir kenapa aku sampai se nekat itu demi membongkar kelakuan Jenny, dalam hatinya saat itu merasa bersalah karena ia paling menginginkan aku membantunya menyelediki Jenny, namun ia tak mampu berucap apa-apa saat itu selain ikut menyaksikan aku mengirim foto-foto yang ada di ponsel ku ke ponsel milik suaminya itu.Sementara Om Ramlan belum kepikiran sampai ke situ, yang ada di benaknya saat itu secepatnya ingin mengurus perceraiannya dengan bukti yang ia dapatkan dari ku. Sedangkan aku berusaha untuk tetap tenang mempersiapkan diri jika Om Ramlan akan bertanya banyak hal kepada ku.Semua foto yang ada di ponsel telah aku kirimkan ke ponsel Om Ramlan, aku kembali meneguk kopi hangat dan menyulut sebatang rokok agar pikiran ku agak tenang, karena bagaimanapun juga aku tetap merasa kuatir kalau-kalau Om Ramlan mempermasalahkan hal yang telah aku lakukan itu.“Nah, sekarang foto-foto ini udah ada di ponsel Om nanti sore aku akan menemui Jenny. Makasih Ryan, kamu udah
Apa yang menjadi alasan ku tak ingin diantar Jenny memang benar, aku tidak langsung pulang ke kediaman ku melainkan menuju suatu tempat, hanya saja bukan rumah teman yang aku katakan tadi pada Jenny, melainkan rumah Tante Dewi dan di hari minggu itu tentu saja Om Ramlan juga berada di sana.Kedatangan ku pagi itu tentu saja membuat Om Ramlan dan Tante Dewi kaget, karena memang tak biasanya aku berkunjung ke sana pagi-pagi begitu, biasanya jika aku ingin berkunjung selepas tengah hari dan sore harinya.“Wah, tumben pagi-pagi sekali kamu datang ke sini, Ryan!” seru Om Ramlan menyambut ku di teras, saat ia melihat dari dalam rumah aku berjalan memasuki halaman.“Iya Om, karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan pada Om.” ujar ku saat telah tiba di teras itu.“Ayo, kita masuk!” ajak Om Ramlan.“Kayaknya seru di teras ini aja, Om. Di sini udara pagi terasa sangat segar,” ujar ku.“Oh ya udah kalau begitu, kita duduk di sini aja.” Om Ramlan urungkan niatnya untuk mengajak ku masuk ke
“Tante juga sangat cantik, Aku senang sekali dapat berkenalan dan menemani Tante malam ini.” ujar ku balas tersenyum seraya lebih mendekatkan tubuh ke istri muda Om ku itu, hal itu tentu saja membuat Jenny semakin senang.Karena aku hanya suka minum bir di antara minum-minuman yang ada di meja itu, Jenny jadi ikut-ikutan dan tentu saja tak membuat ia mabuk berat seperti yang sering ia lakukan bersama Rocky malam-malam sebelumnya. Sekitar jam 11 malam Jenny pun mengajak ku ke luar dari night club itu, awalnya Jenny menawarkan agar aku yang mengemudi mobil namun aku bilang belum bisa, akhirnya Jenny sendiri yang mengemudikan mobilnya membawa ku ke sebuah hotel mewah.Diajak ke hotel bukan hal yang baru lagi bagi ku, dan aku pun sudah bisa menebak apa tujuan Jenny membawa ku ke sana, dengan pengalaman yang aku dapati aku tak merasa canggung saat tiba di kamar hotel dan Jenny langsung mengajak ku bercinta. Karena tujuan ku untuk membongkar perilaku buruk yang dilakukan istri muda Om ku it
“Ya Tante, nanti sekali waktu aku dan Tante Eva pasti akan mampir ke sana.” ujar ku.“Baiklah Ryan, karena hari udah semakin sore aku pamit pulang dulu ya? Kapan-kapan aku akan berkunjung lagi ke sini, aampai salamku pada Eva!” ucap Dola.“Ya Tante, nanti aku sampaikan.” ujar ku mengiringi Dola berdiri dan berjalan akan ke luar dari ruangan cafe itu.Setibanya di depan meja kasir yang memang berada di depan pintu ke luar cafe itu, Dola hentikan langkahnya, Dola bertanya pada Lusy berapa biaya makanan yang tadi dipesan Eva di mejanya itu, Lusy tak mau menjawab dan bilang tak usah dibayar, namun Dola ngotot dan takan berkunjung ke cafe itu lagi jika tak disebutkan dan menerima uang untuk membayar pesanan di mejanya itu.Karena Dola ngotot dan bilang begitu, Lusy akhirnya menyebutkan berapa jumlah yang harus dibayar, setelah membayarnya Dola baru melangkah ke luar dari ruangan cafe menuju mobilnya, aku pun mengantar mantan Guru ku itu hingga ke mobil.“Aku pamit ya Ryan? Janji ya kapan-k
Apa yang selama ini tidak membuatnya terlalu curiga pada Deni, saat mendengar Riko sahabat mereka bercerita melalui sambungan telepon kabel, kalau Deni suaminya itu tengah terlibat jalinan cinta terlarang dengan seorang wanita karyawan di perusahaan tempatnya bekerja. Dola seakan tidak percaya deng
Malam itu di rumah Bu Dola kedatangan seorang pria yang telah hampir sebulan tidak mengunjungi Guru cantik itu, pria yang bernama Deni itu merupakan suaminya yang baru kembali dari luar kota. Harusnya ada kehangatan tersendiri saat mereka berkumpul kembali, namun hal yang terlihat justru sebaliknya
“Nggak ada apa-apa,” ujar ku.“Lalu kenapa berhenti?”“Aku rasa kita udah bertindak terlalu jauh, buat aku sih nggk akan jadi masalah tapi buat kamu nantinya bisa jadi masalah besar yang tentu akan menjadi sebuah penyesalan,” jawab ku menahan semua hasrat yang tadi sulit aku bendung, Lani kembali d
“Sebagai wanita normal tentu saja rasa itu ada, tapi jika bersamanya lebih baik tidak melakukan sama sekali. Kebencian yang tumbuh di hati, lebih besar dari hasrat ingin bercinta.”“Bi Lastri benar, jika di hati sudah mulai muncul sesuatu yang tak lagi harmonis rasanya dengan pasangan takan pernah







