LOGINAku sempat berdecak kagum, dalam hati ku berkata pantas saja wanita cantik yang ada di samping ku itu kaya raya, ternyata memiliki bermacam-macam usaha di berbagai tempat. Sehabis dari ruangan dapur Eva mengajak untuk melihat kamar yang terletak di bagian tengah ruangan itu.Kembali aku berdecak kagum, kamar itu begitu indah, bersih dan rapi. Tempat tidurnya springbet ternama, dan di sana juga terdapat kamar mandi, serta beberapa buah lemari untuk pakaian serta barang-barang lainnya.“Usaha cafe dan kos-kosan sedemikian rupa tentunya Tante dibantu Om, Kok sejak di rumah tadi aku nggak melihat Om. Memangnya dia ke mana, Tante?” tanya ku.“Hemmm... Usaha-usaha ini aku sendiri yang kelola, sedangkan Mas Rangga sibuk dengan bisnisnya di Singapore dan Malaysia. Dia jarang pulang paling juga 2 bulan sekali, mana bisa dia membantu mengurus usaha-usaha ku di kota ini.” tutur Eva.“Oh gitu ya, Tante.” ucap ku yang saat itu kami ngobrol sambil duduk di atas springbet di dalam kamar mewah itu.“
Eva mengajak ku duduk di ruang tengah rumahnya, tak beberapa lama pembantu Eva datang membawakan 2 gelas minuman segar.“Silahkan diminum, Ryan!”“Makasih Bu,” ucap ku sembari tersenyum lalu meneguk minuman yang disuguhkan.“Ada perlu apa nih? Kok tumben baru sekarang kamu bersedia datang ke rumahku ini? Padahal kan udah sejak dulu aku tawarkan, bahkan sering malahan aku minta kamu berkunjung ke sini.” tanya Eva diiringi senyum manisnya.“Maaf Bu, kemarin-kemarin ada saja kesibukan yang aku kerjakan. Di samping kerja sepulang sekolah, minggu-minggu belakangan ini aku juga sibuk mempersiapkan diri dan mengikuti ujian Ebtanas.” tutur ku.“Bagaimana hasilnya, apakah kamu berhasil lulus?” tanya Eva.“Ya Bu, aku lulus. Dan bukan hanya itu saja, aku juga menjadi salah satu siswa undangan dari perguruan tinggi negeri ternama di kota ini.” jawab ku.“Wah, bagus dong! Berarti kamu nggak perlu lagi mengikuti ujian masuk, tinggal kuliah aja langsung, ya kan?”“Iya Bu, berkaitan dengan itu pula ak
“Terima kasih, Mas Ryan. Apapun yang kamu minta untuk tidak mendekati Dola lagi akan aku berikan.” Bram ikut-ikutan merapatkan telapak tangannya seperti memohon pada ku.“Mas Bram ini apa-apaan!” karena sikap Bram terlalu dan hampir duduk bersimpuh di depan ku, aku pun reflek berdiri dari duduk dan mencegah Bram melakukan hal yang tak wajar itu.“Mas Bram tak boleh lakukan ini! Harusnya aku yang lakukan itu, karena telah berbuat kesalahan memenuhi ajakan Tante beberapa hari yang lalu. Padahal aku tahu saat itu status Tante adalah istri Mas Bram, aku terlalu menuruti perasaanku yang tak tega melihat Tante Dola bersedih sejak suaminya yang pertama bernama Deni memperlakukannya secara tidak baik dan membuat hatinya hancur.” tutur ku.“Ya, aku faham. Makanya aku nggak menyalahkan Mas Ryan dalam hal ini karena hingga kini sikap Dola seperti masih trauma akan mantan suaminya dulu, dan aku kira wajar-wajar saja jika saat ini ia belum bisa menerimaku sebagai suaminya. Namun percayalah Mas Rya
“Maaf Om, aku hanya nggak mau ngerepotin Om dan Tante. Sejak kecil aku udah terbiasa bekerja keras, dan kalau di desa aku paling nggak bisa berdiam diri saja di rumah. Selalu ada saja yang aku kerjakan, kalau nggak bantu Ibu di ladang ya ikut Ayah ke kebun karet. Apalagi sekarang Ayah dan Ibu punya lahan persawahan yang bisa digarap, tentu aku manfaatkan waktu yang ada untuk membantu mereka.” tutur ku.“Semua yang kamu lakukan itu memang baik dan Om pun mengakui kamu sosok anak yang rajin suka membantu kedua orang tuamu, tapi jika kamu memiliki tujuan untuk melanjutkan sekolah apalagi nanti ke perguruan tinggi kamu harus lebih fokus dan mengutamakan semua itu dibandingkan hal lainnya,” ujar Om Ramlan.“Iya Om, aku ngerti. Meskipun aku kerja, aku pun selalu mengutamakan sekolahku.” ulas ku, Om Ramlan dan Tante Dewi hanya tersenyum. Malam pun kian larut kami pun memutuskan hentikan percakapan di ruang tengah, lalu menuju kamar untuk beristirahat.Pagi-pagi sekali aku kembali ke kos, mes
Di lantai paling atas ternyata tempat kejutan utama, karena di ruangan itu terdapat meja-meja dan kursi layaknya tempat pesta orang-orang berduit, di sana juga telah tersedia berbagai macam makanan dan minuman serta dilengkapi dengan hiburan musik. Bram mengajak Dola duduk di bangku yang mirip panggung rendah seperti pelaminan, dan tak beselang lama terdengarlah alunan musik yang menuntun orang-orang yang hadir di sana untuk berdansa berpasang-pasangan.Ternyata sejak kedatangan Bram kembali ke kantornya itu, telah ia susun rencana sedemikian rupa untuk menarik simpati Dola, karena Bram memang telah siap untuk berjuang mendapatkan hati Guru cantik yang telah menjadi istrinya itu. Meskipun perlakuan Dola sejak hari pertama di rumahnya, belum ada sedikitpun menunjukan keakraban apalagi kemesraan, tapi bagi Bram itu tak jadi soal karena ia sadar harus banyak berkorban agar tujuannya tercapai.Selama berada di rumah Dola, Bram benar-benar tak seperti seorang suami atau Tuan di rumah itu.
Malam itu Bram makan malam hanya ditemani Bi Sumi, sehabis dari meja makan ia duduk kembali diruang tengah yang disana juga ada Bi Lastri dan Bi Sumi.“Sebaiknya Tuan Bram saja yang sampaikan langsung pada Nyonya Dola!” ucap Bi Sumi.“Aku masih ragu Bi, untuk bicara sama dia! Sejak sekembalinya dari Kota R, sikapnya masih saja dingin padaku. Aku kuatir dia nggak bakalan mau aku ajak ke kantor,” tutur Bram.“Coba Tuan bicara dulu! Siapa tahu dia mau,” ucap Bi Sumi lagi.“Ya nantilah Bi, soalnya dia baru pulang.” ujar Bram yang masih ragu untuk menemui Dola guna menyampaikan sesuatu padanya.Sejam kemudian Bram berusaha nekad untuk menghampiri Dola di kamar, meskipun rasa ragu di hatinya belum hilang, karena bisa saja Dola akan marah karena merasa diganggu.“Dola, boleh aku minta waktunya sebentar? Ada yang perlu aku sampaikan,” sapa Bram ketika telah berada di dalam kamar, Dola yang saat itu berbaring sambil membaca buku seketika duduk dan meletakan buku yang ia baca itu di atas ranjan
“Lele goreng Ibu benar-benar lezat! Sudah lama aku nggak pernah menikmati makanan selezat yang Ibu masak ini,” puji ku, membuat Ibu tersanjung.“Memangnya di kota nggak pernah kamu temui ikan lele yang dimasak seperti yang Ibumu masak, Ryan?” tanya Ayah.“Ada sih lele goreng, tapi lele nya bukan le
“Berangkat jam berapa tadi, Nak?” tanya Ibu yang tak dapat menyembunyikan rasa kangen pada ku putra sulungnya.“Dari terminal bus jam 8 pagi, Bu.” jawab ku yang telah duduk di ruang depan bersama kedua orang tua dan adik-adik ku.“Oh ya Bu, Ayah! Aku berhasil meraih rangking 1 di kelas dan naik ke
Siang itu kembali aku bareng dengan Dola dari sekolah menuju rumah megah milik Guru cantik itu, setelah makan siang bersama dan beristirahat sejenak, aku menuju perkarangan belakang rumah lokasi galian kolam ikan yang dikerjakan para pekerja dari toko bangunan langganan Dola, galian itu benar-benar
“Kamu kenapa, Cindy? Kok kelihatan bingung begitu? Apa kamu masih meragukan keseriusanku untuk menikahimu besok siang?” tanya Deni yang melihat Cindy seperti memikirikan sesuatu, wajahnya pun memperlihatkan kecemasan.“Nggak kenapa-kenapa kok, sayang. Mungkin aku belum benar-benar fit, hingga wajah







