LOGINBram ternyata menuju ruang tengah menyalakan tv sambil rebahan, tak berselang lama Bram pun tertidur karena cukup lelah juga menyetir dari Kota R ke Kota P beberapa saat yang lalu. Saat Bram tidur teryata Dola telah bangun dan mandi, ia pun ke luar dari kamarnya lalu menuju dapur yang di sana ia temui Bu Sumi tengah memasak.“Maaf, Bibi ini siapa ya?” sapa Dola yang membuat Bi Sumi kaget lalu membalikan tubuhnya, Dola memang tak mengetahui kedatangan Bi Sumi di rumah itu karena tadi ia lagi tidur di kamarnya.“Aku Sumi, pembantunya Tuan Bram. Tadi aku diminta ke sini oleh Tuan Bram, Nyonya Dola ya?” jawab Bi Sumi sembari balik bertanya, Dola hanya anggukan kepala sembari tersenyum.“Wah, Nyonya cantik sekali!” puji Bi Sumi sembari melanjutkan memasak.“Ah, Bi Sumi terlalu memuji. Aku merasa biasa-biasa aja kok, udah lama Bi Sumi kerja dengan Bram?” tanya Dola.“Udah hampir 6 tahun, Nyonya.” jawab Bi Sumi.“Oh, udah cukup lama juga ya? Aku juga punya pembantu namanya Bi Lastri, namun s
Bram mengikuti saja saat Dola memilih meja di pinggir kanan di restoran itu, ia pun duduk setelah istrinya itu duduk terlebih dahulu.“Dola mau makan pakai apa? Biar aku pesankan!” Bram memberanikan diri untuk bertanya menu makan apa yang diingini Dola.“Terserah kamu saja,” jawab Dola singkat.“Hemmm... Restoran ini terkenal dengan ikan bakarnya, bagaimana kalau kita pesan itu saja?” tawar Bram, Dola hanya anggukan kepala dengan sikap yang masih tetap dingin tanpa senyuman sedikitpun.Bram kembali menghadapi sikap istrinya itu dengan senyuman, dan dia pun memaklumi karena itu merupakan awal baginya untuk bersabar menjalani rumah tangga yang notabenenya diwujudkan secara mendadak, atau kata lain melalui perjodohan tanpa mengenal lebih lama antara satu dengan yang lainnya.Bagi Bram hal itu takan jadi permasalahan, karena dia sendiri menyanggupi semua resiko yang akan dihadapinya berumah tangga dengan Dola, lagi pula Bram malah merasa tertantang dengan sikap yang ditunjukan Dola itu, i
“Eh, ternyata Nak Bram dan Bapak udah pulang!” sapa Bu Sofia ikut gabung duduk diberanda rumah itu.“Iya Tante, tadi Om ngajak aku lihat-lihat perusahaannya. Ternyata perusahaan Om sangat besar dan jauh lebih berkembang pesat dibandingkan perusahaan yang tengah aku pimpin sekarang, Papa sih memang sering cerita akan perusahaan itu namun tak sekalipun aku diajaknya untuk mengunjunginya. Beruntung hari ini Om Rehan mengajakku ke sana, hingga aku benar-benar tahu akan perkembangan perusahaan itu bukan hanya cerita dari Papa saja.” tutur Bram, sementara Pak Rehan hanya tersenyum merasa tersanjung akan pujian menantunya itu.“Begini Pak, tadi siang Dola bilang katanya ingin kembali ke Kota P besok pagi. Apakah Bapak ijinin?” tanya Bu Sofia.“Tentu saja Bu, kebetulan Bram juga ingin kembali secepatnya ke sana, karena perusahaannya udah mulai beraktifitas kembali setelah libur lebaran.” jawab Pak Rehan yang setuju sekali akan permintaan Dola untuk kembali ke rumahnya di Kota P besok pagi.“B
Meskipun begitu meriah dan ramainya acara resepsi pernikahan itu, namun bagi Dola serasa hampa dan sepi, tak ada kegembiraan sedikitpun di hatinya justru terasa semakin perih. Ia tak sanggup membayangkan jika nanti aku mengetahui semuanya, tentu saja tak kalah menyakitkan hati ku yang sangat ia cintai itu.Jatuh ke dalam air mata Dola, saat duduk di pelaminan teringat akan aku yang bakal terpukul setelah mengetahui dirinya menikah lagi dengan Bram. Ia merasa takut sekali jika nanti aku meninggalkan dirinya, hal itu pulalah yang membuat matanya sulit dipejamkan saat ia berbaring disamping Bram di ranjang pengantin mereka.Meskipun malam pertama namun Bram tak menyetuh istri itu, mungkin karena kelelahan mengikuti acara resepsi yang baru saja selesai dilaksanakan, Bram tertidur begitu pulasnya, sementara Dola hanya menatap langit-langit kamar. Kedua bola matanya memang terasa perih karena tak kunjung dapat dipejamkan, mungkin disebabkan ada hal yang lebih menyakitkan yang mengganjal di
Panen itu dilakukan selama 2 hari karena sawah yang digarap Ayah hampir 1 hektar luasnya, dan panen kali ini menghasilkan padi hampir dua kali lipat banyaknya dari panen pertama yang waktu itu aku tak dapat membantu karena berada di kota, dulu aku hanya bisa membantu saat pertama kali membersihkan lahan persawahan itu yang diserahkan Pak Syamsul untuk digarap.Tentu hasil panen itu sebagian besar dijual setelah menyisihkan untuk bekal mereka selama 6 bulan mendatang, dari hasil penjualan padi-padi itu Ayah mendapatkan uang yang cukup lumayan banyak, dan yang mengherankan Pak Syamsul tak mau menerima sepeserpun dari hasil panen itu, seperti halnya yang ia tolak saat Ayah memberikan sebagian hasil penjualan padinya saat panen pertama dulu.Melihat Pak Syamsul enggan menerima uang dari hasil penjualan padi, Ayah pun berinisiatif memberikan beras sebanyak 2 karung penuh dengan menyuruh salah seorang warga desa mengantarkannya ke rumah sahabatnya itu, dengan begitu Pak Syamsul tidak dapat
“Maaf Pa, maksud Papa ingin menjodohkan aku dengan putra Pak Arman itu?” tanya Dola.“Ya, kenapa? Kamu nggak mau?” kembali suara Pak Rehan terdengar keras. “Bukan begitu Pa, masalahnya kami belum saling mengenal satu dengan yang lainnya. Masa langsung dijodohkan begitu saja,” jawab Dola.“Nanti siang kami akan memperkenalkan kalian, aku yakin Bram mau dijodohkan dengan kamu.”“Tapi Pa..”“Udah nggak pakai tapi-tapian! Jika nanti Bram bersedia dan mau menikah denganmu, kamu nggak ada alasan lagi untuk menolak!” potong Pak Rehan membuat Dola terdiam.*****Siang itu cuaca di Kota R cukup cerah, meskipun beberapa awan tampak menyelimuti ke biruan langit, namun tak ada tanda-tanda akan turun hujan hingga sore nanti. Sebuah mobil sedan berkelas di masa itu masuk lalu terparkir di halaman rumah megah milik Pak Rehan, beberapa orang yang ada di dalam mobil itu segera turun kemudian menuju pintu dan memencet bel.Seorang pria paruh baya berjalan dari dalam rumah menghampiri pintu, begitu pin
“Aku sendiri sebelum menikah dengan Mas Rudi masih kuliah di salah satu perguruan negeri ternama di kota ini, Papa dan Mama nggak menyetujui hubungan ku dengan Mas Rudi karena Mas Rudi hanya seorang buruh pabrik. Kami memutuskan untuk kawin lari, dan itu tentu membuat Papa dan Mama ku marah besar l
Riko sahabat Deni sekaligus juga sahabat Dola, hari itu permohonan cuti kerja yang ia ajukan dipenuhi perusahaannya selama 1 minggu, tentu saja kesempatan itu ia manfaatkan untuk mengunjungi istri dan anak-anaknya di Kota P. Dengan sedan bekas yang dibeli dari hasil kerjanya selama 2 tahun di perus
“Riko! Kapan kamu pulang?” seru Dola yang mengenal betul tamu yang datang itu adalah sahabatnya yang bekerja satu perusahaan dengan Deni di Kota M.“Kemarin sore aku tiba di sini,” jawab Riko.“Wah, dalam merangka apa nih pulang? Udah lama kan, kamu nggak pulang?”“Kangen sama keluarga saja dan keb
Perpustakaan sekolah siang itu ramai dikunjungi para siswa SMEA Negeri Kota P, sebagian dari mereka adalah siswa-siswa yang baru masuk ke sekolah itu setelah tamat dari SMP di daerah mereka masing-masing, di sana juga ada aku yang selalu setia ditemani Desy, sementara Lani yang tidak lagi duduk seb







