Share

BAB 3. Godaan

Author: Weena Young
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-23 18:00:38

Mata Melody yang semula berbinar liar penuh intrik mendadak bergetar. Dia menoleh seketika, mengikis sisa jarak untuk menatap wajah pria di kursi kemudi itu secara menyeluruh di bawah pendar remang lampu jalanan.

Bukan David.

Pria ini sama sekali bukan David. Ketampanannya berada di tingkatan yang sama sekali berbeda, tipe ketampanan sempurna.

Bibir tipisnya yang berwarna merah alami menyunggingkan senyum samar, sebuah senyuman minim yang justru melipatgandakan daya pikat maskulinnya.

Detak jantung Melody berdegup kencang secara tidak teratur.

"Ah! Sial," bisik Melody halus, suara parau sensualnya menggema di dalam kabin mobil yang kedap suara. "Aku salah mobil."

Melody menyandarkan punggungnya ke jok kulit yang empuk sambil menatap pria asing itu dari balik bulu matanya yang basah.

"Tapi, ya sudahlah. Sudah telanjur," bisik Melody. Jemari lentiknya perlahan terangkat, memberanikan diri menyusuri tepi kerah kemeja mahal milik pria itu dengan gerakan menggoda yang amat tipis. "Dan lagipula... aku lihat kamu jauh lebih tampan untukku."

Pria itu sama sekali tidak bergeming. Tatapan mata cokelat gelapnya yang setajam elang turun menatap jemari Melody di kerah kemejanya, lalu perlahan naik mengunci kembali bola mata Melody. Tidak ada riak rasa terkejut di wajah tampan itu, hanya ada ketenangan eksklusif yang sangat dingin.

Dengan gerakan lambat namun penuh penekanan, pria itu mencengkeram pergelangan tangan Melody. Cengkeramannya tidak menyakitkan, namun cukup kuat untuk menghentikan pergerakan jemari nakal wanita itu.

“Silakan turun, Nona," ujar pria itu. Suara baritonnya yang berat dan serak basah bergema tenang, sangat dekat di depan wajah Melody. "Aku tidak butuh wanita malam ini."

Penolakan dingin dari pria setampan ini justru bagaikan bensin yang disiramkan ke dalam api pemberontakan di dada Melody. Dikhianati oleh Arthur membuat harga dirinya hancur, dan malam ini, dia tidak akan biarkan siapa pun meremehkannya atau mengusirnya begitu saja.

Melody tertawa pelan, sebuah tawa kecil yang terdengar manis, menggoda, sekaligus beracun.

Bukannya mundur, Melody justru memiringkan tubuhnya, menumpukan sebelah tangannya di paha tegap pria itu. Dia memajukan wajahnya hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan, membiarkan napasnya yang hangat menyapu bibir tipis sang pria.

"Kau yakin?" bisik Melody dengan suara parau menggoda. "Pria sepertimu... benar-benar tega menolak wanita yang sudah basah kuyup di dalam mobilmu?"

Melody sengaja menggeser posisi duduknya sedikit lebih dekat, membiarkan kehangatan tubuhnya yang terekspos gaun basah bergesekan tipis dengan lengan kemeja pria itu.

"Aku bisa menjadi apa saja yang kau mau malam ini," lanjut Melody pelan, suaranya turun satu oktav, berubah menjadi bisikan binal yang membuai.

“Atau... kau takut tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri kalau aku tetap di sini?"

Pria asing itu menyipitkan matanya. Sorot matanya menggelap.

Dia mengencangkan genggamannya, mendekatkan bibirnya ke telinga Melody, berbisik dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk Melody berdiri.

"Kau sedang bermain dengan api, Nona kecil," bisik pria itu, mengembuskan napas hangatnya yang pekat akan aroma rokok. "Dan kau sama sekali tidak tahu siapa yang sedang kau goda saat ini."

Melody menyunggingkan senyum menantang, hendak membalas bisikan itu. Namun sebelum kata-kata lolos dari bibirnya, tubuhnya mendadak bergetar hebat. Rasa dingin dari hujan deras di luar yang membasahi pakaiannya kini mulai menembus kulit, beradu dengan efek alkohol yang perlahan memudar dan meninggalkan rasa mual serta lelah yang amat sangat.

Hatchi!

Melody bersin pelan, lalu mengerutkan dahinya saat rasa pusing yang menyengat menghantam kepalanya. Tatapan binal yang tadi terpancar di matanya seketika meredup, mengganti sosok wanita liar tadi menjadi sosok gadis kecil yang rapuh, basah kuyup, dan terluka.

Pria asing itu memperhatikan perubahan raut wajah Melody. Tatapan matanya yang tadi tajam menakutkan mendadak melunak. Siluet tampannya di bawah cahaya remang terlihat jauh lebih hangat.

Pria itu menghela napas pendek, sebuah helaan napas pasrah yang terdengar begitu tenang. Tanpa mengucap sepatah kata pun, jemari kokohnya yang tadi menahan tangan Melody perlahan melepas cengkeramannya. Dia menjangkau ke kursi belakang, meraih sebuah jas hitam tebal berbahan wool premium milik dirinya.

Dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati, pria itu menyampirkan jas hangatnya ke bahu Melody, membungkus tubuh wanita itu yang menggigil basah.

Melody terpaku. Tatapan matanya membelalak kecil. Rasa hangat dari jas itu, yang masih menyimpan wangi maskulin khas sang pria, seketika meresap ke dalam kulitnya, mengusir rasa dingin yang menyiksa. Perlakuan sederhana namun begitu protektif ini terasa sangat asing bagi Melody, sesuatu yang bahkan tak pernah Arthur lakukan secara tulus.

Jantung Melody berdesir hebat. Kali ini bukan karena dendam atau gairah alkohol, melainkan karena getaran manis dari pesona sang pria yang tak terduga.

Pria itu kemudian menarik beberapa lembar tisu tebal dari kotak konsol tengah. Tanpa permisi, jemari panjangnya yang tegas memegang dagu Melody secara lembut, menengadahkan wajah wanita itu agar menatapnya.

Dengan ketelatenan yang luar biasa tenang, pria itu menyeka bulir-bulir air hujan yang menetes di pelipis, pipi, hingga leher jenjang Melody. Usapan tisu itu begitu perlahan, seolah-olah dia sedang membersihkan porselen berharga yang mudah retak.

“Liar... tapi rapuh," gumam pria itu pelan. Suara baritonnya tidak lagi sedingin tadi, melainkan terdengar begitu dalam, hangat, dan membius.

Melody menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa kering. Sentuhan lembut jemari pria itu di dagunya mengirimkan sengatan listrik halus yang menjalar hingga ke ujung jarinya.”Tidur denganku malam ini, berikan aku kehangatan…” bisik Melody lagi.

“Kau sadar apa yang kau katakan, Nona?”

”Ayo kita masuk. Aku tidak kuat lagi menahan dingin, aku butuh kehangatanmu…” bisik Melody.

“Jangan pernah menyesal setelah ini, Nona.” Ucapnya tegas dan seketika dengan gerakan cepat mematikan mesin mobil dan mengangkat tubuh Melody menuju ke lobi, beberapa orang tampak membungkuk hormat, tapi pria itu mengabaikan. Dia terus melangkah menuju ke lift dan melanjutkan melintasi koridor, sampai akhirnya mereka tiba di kamar mewah

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (74)
goodnovel comment avatar
sava
melody pikir lagi jangan gegabah
goodnovel comment avatar
sava
hei melodi nggak bakalan nyesel kah
goodnovel comment avatar
Mashatantri
Hahha telanjur ga tuh masih bisa keluar padahal dasarnya melodi liat cowo ganteng ga nahan
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Catherine

    Tiga hari berlalu dengan ketegangan yang ditekan serapat mungkin di balik tembok kokoh kediaman utama Whitney. Casey dan Melody menghabiskan waktu dengan saling mempererat ikatan mereka, seolah bersiap menghadapi badai besar yang dijadwalkan tiba pada akhir pekan nanti. Namun, ketenangan itu mendadak diuji pada suatu siang menjelang sore. Suara derum mobil mewah yang berhenti tepat di depan teras utama memecah keheningan rumah. Mbok Salmah yang sedang membereskan meja makan tampak tergesa-gesa melapor kepada Melody yang sedang duduk santai menikmati teh hangat bersama suaminya di ruang keluarga. "Nyonya... ada tamu penting di depan. Nona Catherine dari Kanada," lapor Mbok Salmah dengan nada cemas. Casey langsung menegakkan duduknya. Wajah pria itu mengeras dalam sekejap, rahangnya terkatup rapat, dan sorot matanya memancarkan kemarahan dingin. Tanpa menunggu aba-aba, Casey hendak bangkit untuk menemui dan mengusir wanita itu pergi. Namun, sebuah tangan lembut menahan lengannya

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Batal

    Ancaman itu menggantung di udara, menciptakan jarak di antara mereka berdua. Melody berdiri dengan napas memburu, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah begitu saja membasahi pipinya. Rasa cemburu, kecewa, dan lelah bercampur aduk menjadi satu, menghantam pertahanan mentalnya yang sedang sensitif karena kehamilannya.Casey terpejam sejenak, mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Dilema besar menghimpit dadanya. Di satu sisi, ia tidak sanggup melihat air mata sang istri atau membayangkan rumah tangga yang baru saja mereka bangun harus retak karena bayang-bayang masa lalu. Namun di sisi lain, mengabaikan Catherine secara total detik ini bisa memicu kecurigaan keluarga Sinclair dan bisa memecahkan konsentrasi dalam pengungkapan kasus sabotase kecelakaan kedua orang tuanya. Jika hubungan itu mendadak runtuh, seluruh bukti kejahatan Paman Richard yang sudah dikumpulkannya selama bertahun-tahun terancam menguap begitu saja."Sayang..." panggil Casey lirih, suaranya terdengar se

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Ancaman Melody

    Pagi itu di kediaman yang ditinggali Casey dan Melody tampak suasana semakin hangat dengan interaksi sepasang suami-istri yang telah saling menerima itu."Jangan bergerak, atau aku akan menciummu sampai kehabisan napas..." bisik Casey serak, tepat di lekuk leher istrinya.Suara berat itu terdengar begitu dekat dan penuh gairah, membuat pertahanan Melody langsung runtuh seketika pagi itu. Berdiri di area minibar dapur rumah mereka, tubuh Melody sepenuhnya terperangkap dalam pelukan posesif suaminya. Casey mengurungnya dengan kedua tangan kokoh yang menumpu di meja, sementara napas hangat pria itu menggelitik kulit lehernya.Melody mendengus kecil, meski debaran jantungnya berkhianat memukul cepat di dalam dada. Ia mencoba mendorong pelan dada bidang suaminya yang memakai kemeja putih dengan kancing atas terbuka. "Casey, ini masih pagi... Kalau pelayan rumah lewat gimana?" protesnya setengah hati, sementara pipinya sudah merah padam menahan malu dan gejolak rasa yang dipicu sentuhan

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Damai

    “Mulai sekarang, ceritakan semuanya padaku. Kita hadapi sama-sama," ucap Melody tulus, matanya menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. "Kau juga tahu bukan keluarga besar Whitney tidak benar-benar menerimaku dengan baik. Apalagi ibu Gwen sudah menghasut sedemikian rupa. Bahkan papaku sekalipun seperti sosok yang berbeda untukku. Jadi, ayolah. Berhenti menanggung semuanya sendiri, Casey..."Melody menyelesaikan kalimatnya sambil membelai wajah Casey dengan hangat, mengusap sisa ketegangan di rahang kokoh pria itu.Sentuhan lembut itu bekerja bagai penawar racun bagi jiwa Casey yang bertahun-tahun membeku. Perlahan, napas pria itu mulai teratur. Casey menegakkan tubuhnya, menatap wajah istrinya yang basah oleh air mata dengan perasaan campur aduk, antara rasa bersalah, takjub, dan cinta yang begitu besar."Baiklah," bisik Casey akhirnya, menyerah pada ketulusan yang ditawarkan oleh wanita di hadapannya. "Aku akan menceritakan semuanya. Tapi tidak di sini, dan tidak sekarang. Tubuhm

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Pelukan Hangat

    Tatapan tajam Casey menembus pertahanan Melody, seolah pria itu ingin melihat seberapa jauh informasi gelap yang telah meresap ke dalam benak istrinya. Tidak ada sisa kehangatan dari candaan mereka sebelumnya yang tersisa di udara hanyalah ketegangan mencekam yang siap meledak kapan saja.Dominic yang berdiri tepat di belakang sang tuan besar menunduk dalam-dalam, gestur tubuhnya menyiratkan rasa bersalah yang teramat besar karena telah membiarkan rahasia inti perusahaan dan keluarga bocor ke telinga yang salah."Keluar, Dominic," perintah Casey datar tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari wajah sang istri."Baik, Tuan," sahut Dominic cepat sebelum melangkah pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan pintu perpustakaan tertutup rapat kembali demi privasi nyaman di antara pasangan suami istri itu.Begitu deru langkah Dominic memudar, keheningan di dalam perpustakaan terasa semakin menyesakkan. Melody meremas ujung gaunnya erat-erat, jemarinya dingin dan gemetar. Ia membuka bibir

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Rahasia

    “Kalau kamu diam berarti boleh dong?” rengek Casey dengan senyum usil yang tersungging di bibir tegasnya.Melody spontan mendengus geli campur sebal. Ia mendorong pelan dada suaminya yang kian mendekat. “Modus saja kerjamu! Sana, katanya tadi ada urusan penting dengan jajaran direksi. Jangan buang-buang waktu di sini.”Casey terkekeh rendah. Sebelum benar-benar beranjak berdiri dari sofa ruang keluarga, ia menyempatkan diri mendaratkan satu kecupan singkat di Pipi Melody yang merona merah. “Iya, Sayang. Aku pergi sebentar ke ruang kerja. Jangan ke mana-mana, tunggu aku selesai.”“Aku mau kemana juga, udah jelas di rumah ini mana mungkin bisa kemana-mana.”Setelah bayangan Casey menghilang di balik pintu ruang kerjanya yang kokoh, Melody menghela napas panjang. Suasana rumah utama kembali tenang. Namun, sisa-sisa percakapan di makam tadi pagi dan rasa penasaran luar biasa mengenai bisikan Casey tentang “mengusut semuanya” mendesak-desak pikirannya.Rasa penasaran itu mengalahkan rasa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status