ログインMata Melody yang semula berbinar liar penuh intrik mendadak bergetar. Dia menoleh seketika, mengikis sisa jarak untuk menatap wajah pria di kursi kemudi itu secara menyeluruh di bawah pendar remang lampu jalanan.
Bukan David.
Pria ini sama sekali bukan David. Ketampanannya berada di tingkatan yang sama sekali berbeda, tipe ketampanan sempurna.
Bibir tipisnya yang berwarna merah alami menyunggingkan senyum samar, sebuah senyuman minim yang justru melipatgandakan daya pikat maskulinnya.
Detak jantung Melody berdegup kencang secara tidak teratur.
"Ah! Sial," bisik Melody halus, suara parau sensualnya menggema di dalam kabin mobil yang kedap suara. "Aku salah mobil."
Melody menyandarkan punggungnya ke jok kulit yang empuk sambil menatap pria asing itu dari balik bulu matanya yang basah.
"Tapi, ya sudahlah. Sudah telanjur," bisik Melody. Jemari lentiknya perlahan terangkat, memberanikan diri menyusuri tepi kerah kemeja mahal milik pria itu dengan gerakan menggoda yang amat tipis. "Dan lagipula... aku lihat kamu jauh lebih tampan untukku."
Pria itu sama sekali tidak bergeming. Tatapan mata cokelat gelapnya yang setajam elang turun menatap jemari Melody di kerah kemejanya, lalu perlahan naik mengunci kembali bola mata Melody. Tidak ada riak rasa terkejut di wajah tampan itu, hanya ada ketenangan eksklusif yang sangat dingin.
Dengan gerakan lambat namun penuh penekanan, pria itu mencengkeram pergelangan tangan Melody. Cengkeramannya tidak menyakitkan, namun cukup kuat untuk menghentikan pergerakan jemari nakal wanita itu.
“Silakan turun, Nona," ujar pria itu. Suara baritonnya yang berat dan serak basah bergema tenang, sangat dekat di depan wajah Melody. "Aku tidak butuh wanita malam ini."
Penolakan dingin dari pria setampan ini justru bagaikan bensin yang disiramkan ke dalam api pemberontakan di dada Melody. Dikhianati oleh Arthur membuat harga dirinya hancur, dan malam ini, dia tidak akan biarkan siapa pun meremehkannya atau mengusirnya begitu saja.
Melody tertawa pelan, sebuah tawa kecil yang terdengar manis, menggoda, sekaligus beracun.
Bukannya mundur, Melody justru memiringkan tubuhnya, menumpukan sebelah tangannya di paha tegap pria itu. Dia memajukan wajahnya hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan, membiarkan napasnya yang hangat menyapu bibir tipis sang pria.
"Kau yakin?" bisik Melody dengan suara parau menggoda. "Pria sepertimu... benar-benar tega menolak wanita yang sudah basah kuyup di dalam mobilmu?"
Melody sengaja menggeser posisi duduknya sedikit lebih dekat, membiarkan kehangatan tubuhnya yang terekspos gaun basah bergesekan tipis dengan lengan kemeja pria itu.
"Aku bisa menjadi apa saja yang kau mau malam ini," lanjut Melody pelan, suaranya turun satu oktav, berubah menjadi bisikan binal yang membuai.
“Atau... kau takut tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri kalau aku tetap di sini?"
Pria asing itu menyipitkan matanya. Sorot matanya menggelap.
Dia mengencangkan genggamannya, mendekatkan bibirnya ke telinga Melody, berbisik dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk Melody berdiri.
"Kau sedang bermain dengan api, Nona kecil," bisik pria itu, mengembuskan napas hangatnya yang pekat akan aroma rokok. "Dan kau sama sekali tidak tahu siapa yang sedang kau goda saat ini."
Melody menyunggingkan senyum menantang, hendak membalas bisikan itu. Namun sebelum kata-kata lolos dari bibirnya, tubuhnya mendadak bergetar hebat. Rasa dingin dari hujan deras di luar yang membasahi pakaiannya kini mulai menembus kulit, beradu dengan efek alkohol yang perlahan memudar dan meninggalkan rasa mual serta lelah yang amat sangat.
Hatchi!
Melody bersin pelan, lalu mengerutkan dahinya saat rasa pusing yang menyengat menghantam kepalanya. Tatapan binal yang tadi terpancar di matanya seketika meredup, mengganti sosok wanita liar tadi menjadi sosok gadis kecil yang rapuh, basah kuyup, dan terluka.
Pria asing itu memperhatikan perubahan raut wajah Melody. Tatapan matanya yang tadi tajam menakutkan mendadak melunak. Siluet tampannya di bawah cahaya remang terlihat jauh lebih hangat.
Pria itu menghela napas pendek, sebuah helaan napas pasrah yang terdengar begitu tenang. Tanpa mengucap sepatah kata pun, jemari kokohnya yang tadi menahan tangan Melody perlahan melepas cengkeramannya. Dia menjangkau ke kursi belakang, meraih sebuah jas hitam tebal berbahan wool premium milik dirinya.
Dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati, pria itu menyampirkan jas hangatnya ke bahu Melody, membungkus tubuh wanita itu yang menggigil basah.
Melody terpaku. Tatapan matanya membelalak kecil. Rasa hangat dari jas itu, yang masih menyimpan wangi maskulin khas sang pria, seketika meresap ke dalam kulitnya, mengusir rasa dingin yang menyiksa. Perlakuan sederhana namun begitu protektif ini terasa sangat asing bagi Melody, sesuatu yang bahkan tak pernah Arthur lakukan secara tulus.
Jantung Melody berdesir hebat. Kali ini bukan karena dendam atau gairah alkohol, melainkan karena getaran manis dari pesona sang pria yang tak terduga.
Pria itu kemudian menarik beberapa lembar tisu tebal dari kotak konsol tengah. Tanpa permisi, jemari panjangnya yang tegas memegang dagu Melody secara lembut, menengadahkan wajah wanita itu agar menatapnya.
Dengan ketelatenan yang luar biasa tenang, pria itu menyeka bulir-bulir air hujan yang menetes di pelipis, pipi, hingga leher jenjang Melody. Usapan tisu itu begitu perlahan, seolah-olah dia sedang membersihkan porselen berharga yang mudah retak.
“Liar... tapi rapuh," gumam pria itu pelan. Suara baritonnya tidak lagi sedingin tadi, melainkan terdengar begitu dalam, hangat, dan membius.
Melody menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa kering. Sentuhan lembut jemari pria itu di dagunya mengirimkan sengatan listrik halus yang menjalar hingga ke ujung jarinya.”Tidur denganku malam ini, berikan aku kehangatan…” bisik Melody lagi.
“Kau sadar apa yang kau katakan, Nona?”
”Ayo kita masuk. Aku tidak kuat lagi menahan dingin, aku butuh kehangatanmu…” bisik Melody.
“Jangan pernah menyesal setelah ini, Nona.” Ucapnya tegas dan seketika dengan gerakan cepat mematikan mesin mobil dan mengangkat tubuh Melody menuju ke lobi, beberapa orang tampak membungkuk hormat, tapi pria itu mengabaikan. Dia terus melangkah menuju ke lift dan melanjutkan melintasi koridor, sampai akhirnya mereka tiba di kamar mewah
“Perselisihan itu biasa, Melody. Yang penting jangan pernah pergi meninggalkan rumah apapun permasalahannya selesaikan berdua. Setan-setan banyak berkeliaran yang ingin membuat kita berpisah."Melody menunduk. "Iya, Kek.""Maaf, Sayang. Aku belum sempat menjelaskan semuanya. Semua terjadi begitu cepat di tengah kesibukanku. Maaf telah membuatmu kesal..." bisik Casey nyaris tak terdengar."Melody, kau terlalu polos untuk dunia yang kejam, jadi percayakan semuanya pada Casey."Kakek Whitney masih menggenggam erat jemari Melody, menyalurkan kehangatan seorang sesepuh yang telah makan asam garam kehidupan. Tawa renyahnya perlahan mereda, berganti dengan tatapan teduh yang menyapu wajah kedua cucunya secara bergantian."Melihat kalian duduk berdua seperti ini membuat Kakek teringat masa lalu," ucap Kakek Whitney dengan nada bernostalgia. Pria tua itu bersandar pada sandaran sofa, memandangi langit-langit ruang keluarga yang megah. "Dulu, saat ibu kamu masih ada, Melody... dia selalu bila
“Terimakasih, Kek. Aku sempat kawatir kakek akan murka jika aku mengabarkan pernikahan kami yang dadakan.” Ucap Casey menunduk.“Oh! Tentu tidak. Asalkan itu kau yang menjadi suami Melody, kakekk tidak akan marah bahkan sekarang merasa lega dan bebanku terasa berkurang. Aku sudah rela kalau harus mati sekarang…” Refleks Melody menggenggam lengan kakek. “Kakek, jangan bicara begitu. Kami ingin kakek berumur lebih panjang lagi.”“Beban kakek selama ini terasa berat, karena memang belum melihat dengan pasti pria yang benar-benar pantas untukmu. Tapi beruntungnya Casey lah orangnya. Sungguh, Kakek merasa sudah menepati janji kakek pada mendiang ibumu. Kakek merasa sangat lega sekarang…”“Casey juga lega akhirnya bertemu di saat yang tepat dengan Melody, Kek.” Tegas Casey sambil menggenggam dan mencium tangan istrinya, Melody sempat menahan tapi mata Casey tampak memberi kode, akhirnya Melody pasrah dan menikmati permainan suaminya yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.“Oh, ya, ngom
Suasana tegang yang mengendap di kediaman Whitney mendadak pecah tatkala sebuah iring-iringan mobil sedan klasik berwarna hitam melaju pelan memasuki pekarangan rumah. Dominic yang sedang berdiri di depan pintu utama langsung menegakkan tubuhnya, matanya membelalak kaget saat mengenali pelat nomor kendaraan tersebut."Tuan Casey!" panggil Dominic tergesa-gesa melalui intercom ke ruang kerja. "Kakek... Kakek Whitney tiba-tiba datang ke sini!"Casey yang sedang mengulas berkas langsung tersentak berdiri. Wajah tampannya menegang. Kedatangan sang kakek, kepala keluarga tertinggi Whitney, tanpa pemberitahuan sama sekali adalah hal yang sangat tak biasa. Pria tua itu biasanya menetap di kediaman peristirahatan di Bogor dan jarang mencampuri urusan rumah tangga cucu-cucunya kecuali untuk hal yang amat krusial.Belum sempat Casey melangkah turun ke lantai satu, pintu kamar utama lebih dulu terbuka. Melody keluar dengan balutan gaun hamil yang longgar, raut wajahnya tampak bingung melihat k
Tepat pukul tiga sore, sedan hitam mewah yang membawa Casey tiba di pelataran kediaman utama Whitney. Pria itu keluar dari mobil dengan langkah tergesa-gesa. Jas mewahnya sudah ia lepaskan, menyisakan kemeja putih dengan gulungan hingga ke siku dan kancing atas yang terbuka. Rasa lelah akibat jadwal rapat maraton di beberapa anak perusahaan sejak pagi menguap begitu saja, berganti dengan perasaan cemas yang membuncah."Bagaimana keadaan Melody?" tanya Casey cepat kepada Dominic yang berjalan sejajar dengannya di lorong utama."Mbok Salmah melaporkan bahwa Nyonya sudah makan siang dan meminum vitaminnya dengan teratur, Tuan. Sepanjang hari Nyonya hanya beristirahat di dalam kamar," jawab Dominic sopan.Casey menghembuskan napas lega. Ia menghentikan langkahnya sebentar di depan pintu kamar utama, mengusap wajahnya yang letih. Ada keinginan kuat untuk menerobos masuk dan merengkuh tubuh istrinya, namun ia menahan diri. Pria itu tidak ingin memicu emosi Melody yang masih rentan."Siapkan
Keheningan malam merayap masuk perlahan menyelimuti kamar utama. Casey mendorong pintu kayu tebal itu sangat pelan, memastikan tidak ada gesekan suara yang bisa mengusik lelapnya sang istri. Langkah kakinya yang beralas kaus kaki mengendap-endap mendekati sisi ranjang.Di bawah cahaya redup lampu tidur, wajah Melody tampak begitu damai walau jejak kelelahan masih terpancar di sana. Casey mendudukkan tubuhnya perlahan di tepi kasur. Dengan napas tertahan, tangan besarnya terulur mengusap lembut helai rambut Melody yang terurai, lalu mendaratkan kecupan hangat yang lama di keningnya.Jemari Casey bergerak turun, mengusap lembut perut datar istrinya yang terbalut selimut sutra. Senyum tawar terukir di bibirnya yang sedikit pucat."Maafin Papa belum bisa belai kamu," bisik Casey sangat lirih di dekat perut Melody. "Mamamu sedang murka. Papa takut kalau Papa tidak mengalah, bisa-bisa mamamu bahayain kamu..."Pria itu menahan kepedihan yang menekan dadanya, membiarkan jemarinya berlama-lama
Keesokan harinya, seberkas sinar matahari pagi menyusup lembut melalui celah gorden kamar utama yang tinggi. Melody terbangun dari tidur lelapnya yang rapuh. Tubuhnya masih terasa lemas, namun kepalanya tidak sesakit kemarin.Saat Melody mencoba menyangga tubuhnya untuk duduk di tepi ranjang, suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu, disusul suara ramah seorang wanita paruh baya."Nyonya Melody... permisi," panggil suara itu dari balik pintu.Melody menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan yang lengang. Setelah memastikan Casey benar-benar tidak ada di dalam kamar, ia merapikan letak pakaiannya. "Masuklah."Pintu kayu jati itu terbuka perlahan. Dua orang pelayan wanita berseragam rapi melangkah masuk membawa nampan berisi bubur gandum hangat, buah-buahan segar, dan segelas susu khusus kehamilan. Wanita paruh baya di depan tersenyum hangat dan membungkuk hormat."Selamat pagi, Nyonya Muda. Perkenankan saya Mbok Salmah, kepala pelayan baru yang ditugaskan Tuan Casey untuk men







