Home / Romansa / GODAAN DI SEPERTIGA MALAM / 15. GODAAN DI SEPERTIGA MALAM

Share

15. GODAAN DI SEPERTIGA MALAM

Author: Mystique
last update publish date: 2026-07-30 21:30:36

Rasa sakit di dada Kirana perlahan luluh oleh kehangatan yang menjalar dari bibir Zayn. Sentuhan pria itu di lehernya begitu lembut namun menuntut, seolah berusaha menghapus setiap jejak hinaan yang baru saja dilontarkan Reyhan di kamar atas. Jemari Zayn mengusap sisa air mata di wajah Kirana, lalu merayap naik menangkup rahang gadis itu dengan lembut namun posesif.

Dengan gerakan sigap, ia mengangkat tubuh Kirana, mendudukkannya di atas meja dapur yang dingin. Panasnya sentuhan Zayn
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   65. JEJAK KASIH

    Dekapan erat itu menjadi perisai paling aman bagi Kirana di tengah malam yang dingin. Setelah semua rahasia kelam tentang kematian kedua orang tuanya terlepas dari bibirnya, beban berat yang selama bertahun-tahun menghimpit dada Kirana seolah luruh bersama air mata. Di dalam pelukan Zayn, luka masa lalu itu perlahan diobati oleh ketulusan yang tak bertepi. Keesokan paginya, cahaya matahari menyusup lembut melalui celah tirai apartemen Zayn. Ketika Kirana terbangun, aroma harum kopi dan sarapan hangat sudah menyambut indra penciumannya. Zayn tidak membiarkan Kirana tenggelam dalam kesedihan semalam. Pria itu justru menyiapkan sebuah kejutan kecil untuk mengusir sisa-sisa bayangan kelam di kepala wanita yang sangat dicintainya itu. "Hari ini kita pergi ke suatu tempat," ucap Zayn lembut saat Kirana melangkah ke ruang makan dengan balutan kemeja kasual. "Ke mana?" tanya Kirana dengan mata berbinar penasaran.

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   64. JEJAK LUKA

    Malam merayap perlahan menyelimuti kota, membawa angin sejuk yang berembus lembut di balkon apartemen Zayn. Sekarang mereka tidak tinggal di rumah Reyhan lagi karena rumah itu sudah disita. Di apartemen Zayn, suasana begitu tenang. Di bawah pendar lampu gantung yang temaram dan hangat, Kirana duduk bersandar di dada bidang Zayn. Jemari lentiknya yang kini dihiasi cincin berada dalam genggaman erat Zayn. Setelah restu dari Nyonya Sofia didapat dan lamaran manis di antara semerbak harum Kirana Flower terucap, status mereka kini resmi. Mereka adalah dua insan yang saling memiliki, bersiap melangkah ke jenjang pernikahan yang suci. Zayn menyesap cangkir tehnya, lalu mengusap lembut punggung tangan Kirana dengan jempolnya. Pria itu menunduk, menatap lekat wajah wanita yang kini sah menjadi tunangannya. Pendar kebahagiaan memang terpancar dari sepasang mata Kirana, namun jauh di dasar matanya, Zayn selalu menangkap bayang-baya

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   63. DILINDUNGI SEUMUR HIDUP

    Restu yang diberikan oleh Nyonya Sofia hari itu terasa seperti kehangatan matahari yang akhirnya menembus awan mendung di hidup Kirana. Tidak ada lagi rasa bersalah, tidak ada lagi ketakutan akan pandangan orang lain. Untuk pertama kalinya, Kirana bisa bernapas tanpa ada beban yang menghimpit dadanya. Sore harinya, Kirana kembali ke Kirana Flower. Senyuman tak lepas dari bibirnya sepanjang ia merapikan tangkai-tangkai bunga di toko. Suasana toko bunga yang tenang dinaungi cahaya sore yang kekuningan terasa makin sempurna dengan kedamaian yang baru saja ia dapatkan. Saat jam menunjukkan pukul lima sore, denting bel di atas pintu toko berbunyi halus. Kirana memutar tubuhnya seraya tersenyum ramah, menduga ada pembeli yang datang menjelang toko tutup. Namun, langkah kakinya terhenti. Di balik pintu kaca, Zayn berdiri dengan balutan kemeja putih yang lengan bagian sikunya dilipat rapi. Pria itu berjalan masuk seraya menyungg

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   62. RESTU NYONYA SOFIA

    Mobil melaju dengan tenang membelah jalanan kota. Di balik kemudi, Zayn menoleh sekilas ke arah Kirana dengan senyum simpul yang penuh arti."Sekarang semua masalah di masa lalu sudah benar-benar selesai," ucap Zayn lembut, memecah keheningan. Tangan kirinya terulur, menggenggam jemari Kirana yang bertumpu di atas pangkuan. "Berarti, ini saatnya kita melangkah ke tahap selanjutnya, Na."Kirana mengerutkan kening, menatap pria itu dengan raut bingung. "Tahap selanjutnya? Melakukan apa?""Kita ke rumah Mama. Sudah waktunya kita meminta restu secara resmi," jawab Zayn yakin.Seketika itu juga, senyum di bibir Kirana memudar. Ia menoleh sepenuhnya ke arah Zayn dengan raut wajah yang mendadak dipenuhi kekhawatiran. Jemarinya meremas tangan Zayn tanpa sadar."Zayn... apa ini tidak terlalu cepat?" bisik Kirana, suaranya terdengar ragu dan cemas. "Surat perceraianku dengan Reyhan baru saja resmi keluar. Aku takut Mama akan berpikir buruk tentang kita. Bagaimana kalau Mama malah mengira kita m

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   61. RESMI BERCERAI

    Pesan manis dari Zayn di siang hari itu menjadi pelengkap sempurna dari mekarnya toko Kirana Flower. Melangkah ke masa depan yang bersih berarti harus menuntaskan seluruh sisa ketakutan dan keterikatan masa lalu sampai ke akar-akarnya. Kebahagiaan Kirana tidak akan pernah benar-benar utuh selama namanya masih terikat secara hukum dengan pria yang telah memberikan neraka dalam hidupnya.Dua hari kemudian, lembaran yang paling ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba.Sebuah amplop cokelat berstempel resmi dari Pengadilan Agama mendarat di meja kerja Zayn. Surat Keputusan Perceraian Resmi antara Kirana dan Reyhan. Salinan sah yang menyatakan bahwa secara hukum dan negara, ikatan pernikahan yang selama ini menjadi rantai penjerat bagi Kirana telah resmi diputus dan tak berlaku lagi.Kirana menatap lembaran kertas itu dengan dada bergemuruh. Tidak ada raut kesedihan, hanya ada helai napas lega yang begitu panjang. Zayn berdiri di sampingnya merangkul bahu Kirana deng

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   60. TOKO BUNGA KIRANA

    Pagi hari di pesisir pantai kemarin meninggalkan kehangatan yang masih tertinggal jelas di dada Kirana. Namun, wanita itu sadar bahwa memulai lembaran baru tidak hanya soal merayakan kebebasan emosional, melainkan juga menemukan kembali arah hidupnya sendiri. Kirana tidak ingin menjadi wanita yang hanya bergantung dan berpangku tangan. Ia ingin berdiri di atas kakinya sendiri, mengisi hari-harinya dengan hal-hal yang ia cintai tanpa ada ketakutan atau tekanan."Zayn... aku bosan kalau cuma diam di rumah terus," gumam Kirana pelan seraya menatap Zayn yang sibuk meminum kopinya. "Gimana kalau aku mulai coba cari pekerjaan?"Zayn meletakkan cangkirnya, menatap Kirana dengan senyum tipis. "Boleh saja. Nanti coba aku pikirkan pekerjaan apa yang paling cocok buat kamu, ya?"Sebuah bangunan berarsitektur minimalis dengan kaca-kaca besar yang transparan berdiri anggun di sudut jalan utama yang asri. Di atas pintu masuk utamanya, terukir papan kayu berukir halus: K

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status