เข้าสู่ระบบMobil yang dikendarai Zayn akhirnya sampai di pelataran garasi rumah saat langit mulai sore. Jantung Kirana sedikit lega karena tidak melihat mobil Reyhan di sana. Namun rasa khawatir itu tidak sepenuhnya hilang.
"Zayn... bagaimana kalau Mas Reyhan ternyata sudah di dalam?" bisik Kirana dengan suara gemetar, jemarinya cemas meremas tali kantong belanjaan.Zayn menoleh, mengulas senyum menenangkan yang begitu hangat. Tangannya terulur mengusap lembut tangan Kirana yang dinginAroma harum mawar merah yang segar memenuhi setiap sudut Kirana Flower pagi itu. Di balik meja racik, Kirana sedang menekuni pekerjaannya dengan teliti. Jemarinya yang terampil dengan cekatan memotong tangkai, membersihkan duri-duri tajam, lalu menyusun kuntum demi kuntum mawar merah merekah menjadi sebuah buket yang amat indah. Di tengah kesibukannya, pendar cahaya matahari pagi menimpa jemari tanganya. Kirana menghentikan gerakannya sejenak. Matanya tertambat pada cincin pertunangan berhias berlian yang melingkar sempurna di jari manisnya. Kirana menatap cincin itu cukup lama. Bayangan wajah tegas Zayn, senyuman tipisnya yang langka, serta nada suaranya yang penuh kepemilikan sore kemarin di area parkir kampus seketika melintas di benak Kirana. Dada Kirana berdesir hangat. Rasa bahagia yang meluap-luap membuncah di hatinya. Setelah melewati badai pernikahan masa lalu yang kelam dan perjuangan keras membangun kehidupan baru, Kirana merasa akhirnya ia m
Sejak insiden singkat dengan Pak Aris sore itu, Zayn tampaknya semakin menikmati peran barunya sebagai penjemput setia Kirana. Pria itu hampir tidak pernah absen berada di area parkir kampus menjelang jam kuliah Kirana berakhir.Kehadiran sosok sekelas Zayn Nugraha di lingkungan akademis tentu tidak pernah benar-benar tak terlihat. Pria berwajah tegas dengan setelan kemeja eksekutif kustom, jam tangan mewah yang melingkar elegan di pergelangan, serta aura dominan yang amat memikat itu seketika menjadi daya tarik utama di area luar gedung kuliah.Bagi mahasiswi-mahasiswi muda, kedatangan mobil sedan hitam berpelat nomor khusus itu ibarat panggung hiburan sore. Mereka yang biasanya terburu-buru pulang, kini rela berlama-lama duduk di bangku taman kampus hanya untuk sekadar mencuri pandang, berbisik kagum, atau berpura-pura melintas di dekat Zayn.Sore itu, jadwal kuliah Manajemen Finansial Kirana selesai sedikit lebih lambat karena diskusi dosen di akhir jam
Kemenangan manis atas analisis rantai pasok minggu lalu meninggalkan jejak segar di kehidupan kampus Kirana. Tidak ada lagi yang berani memandangnya sebelah mata atau mencoba memanfaatkannya. Kirana kini dikenal sebagai mahasiswa baru yang cerdas, tekun, dan berpendirian teguh.Prestasi cemerlang itu juga menarik perhatian yang tak disangka-sangka.Di mata kuliah Manajemen Finansial, ada seorang asisten dosen muda bernama Aris. Berusia akhir belasan menuju dua puluhan, berwajah tampan dengan kacamata berbingkai tipis, serta bersikap sangat ramah, Aris menjadi idola baru di kalangan mahasiswi. Sejak presentasi memukau Kirana minggu lalu, Aris secara terbuka menunjukkan kekaguman akademis pada Kirana.Sore itu, kelas baru saja berakhir. Saat mahasiswa lain berhamburan keluar, Kirana masih sibuk merapikan buku-buku tebalnya di meja."Kirana," panggil Aris ramah seraya melangkah menghampiri meja Kirana dengan membawa sebendel jurnal ilmiah bersampul tebal.
Dua minggu berlalu sejak hari pertama pembekalan di auditorium. Pengakuan terbuka dari Zayn tempo hari memang berhasil membungkam bisik-bisik murahan pada mahasiswa, namun dinamika kehidupan kampus rupanya menyimpan ujian tersendiri. Bagi sekelompok mahasiswa muda yang merasa lebih unggul secara akademis dan latar belakang, keberadaan Kirana di kelas Manajemen Bisnis masih sering dipandang sebelah mata.Hari itu, suasana ruang kuliah lantai tiga terasa cukup riuh. Dosen Pengampu mata kuliah Manajemen Operasional baru saja mengumumkan tugas besar pertama yang harus dikerjakan secara berkelompok."Proyek ini menuntut kalian menganalisis efisiensi rantai pasok dari sebuah usaha nyata," ujar sang dosen seraya mengetuk meja. "Saya sudah membagi kelompoknya secara acak. Masing-masing kelompok terdiri dari empat orang. Tenggat waktu presentasi adalah minggu depan."Kirana melihat papan tulis di depan kelas. Namanya tertera di Kelompok 4, bergabung dengan tiga mahasiswa reguler muda: Rico, R
Tekad yang sudah bulat tidak lagi memberi ruang bagi rasa ragu. Setelah malam penuh keputusan bersama Zayn di toko bunga, Kirana mendaftarkan dirinya ke salah satu universitas bisnis ternama di kota itu. Ia mengambil program manajemen untuk memperdalam kemampuannya mengelola Kirana Flower agar semakin berkembang. Hari-hari berikutnya diisi Kirana dengan belajar tanpa kenal lelah. Di sela-sela merangkai bunga dan melayani pelanggan, buku-buku panduan bisnis dan manajemen tebal selalu terbuka di meja kerjanya. Jam di dinding toko menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi lampu meja kerja di sudut Kirana Flower masih menyala terang. Di antara tumpukan tangkai mawar dan kertas pembungkus yang belum dirapikan, dua buku tebal berikatan spiral " Pengantar Manajemen dan Akuntansi Bisnis" terbuka lebar di atas meja. Kirana memijit pelipisnya seraya menatap deretan grafik yang rumit. Pen
Langkah kaki Zayn berpacu cepat menembus remang-remang senja. Sepatunya menapak keras di atas tanah kering lorong sempit di balik panti asuhan. Pandangannya menyapu tajam setiap celah di antara dinding-dinding bangunan tua, namun sosok berjaket hitam itu bergerak sangat cepat dan lincah. Pria misterius itu menghilang di persimpangan jalan besar, menyatu dengan kebisingan lalu lintas kota yang padat. Zayn berhenti dengan napas memburu. Kepalan tangannya menghantam tembok bata di sampingnya dengan keras. "Sial!" umpat Zayn dingin, rahangnya mengetat rapat. Perasaan tak tenang menyergap dadanya saat ia berbalik dan kembali berlari menuju mobil, di mana Kirana menunggunya dengan wajah pucat pasi. Kejanggalan sore itu terbukti menjadi awal dari badai baru. Keesokan harinya, publik dihebohkan oleh berita utama yang menyebar kilat di berbagai portal media daring dan m







