Masuk
[Reyhan] : Aku lembur malam ini. Ada rapat dadakan dengan klien luar negeri. Kamu tidur duluan saja, tidak usah menungguku.
Kirana menatap layar ponselnya yang meredup dengan tatapan kosong. Cahaya dari ponselnya adalah satu-satunya penerang di dalam kamarnya yang luas dan lengang. Jarum jam dinding baru menunjukkan pukul sembilan malam, tetapi kesunyian di rumah megah ini sudah mencengkeram begitu pekat. Pesan singkat itu singkat, jelas, dan dingin. Tanpa emotikon, tanpa kata manis, apalagi ucapan bahwa pria itu merindukannya. Kirana mendesah pelan. Jemarinya yang kurus mengetik balasan pendek. [Kirana] : Baik, Mas. Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan malam. Pesan itu terkirim. Kirana menunggu. Satu menit, dua menit, hingga sepuluh menit berlalu, tanda dua centang biru di layar tak kunjung berubah menjadi balasan. Reyhan bahkan tidak merepotkan dirinya sendiri untuk mengetik satu kata "ya" atau sekadar memberi tanda jempol. Kirana meletakkan ponselnya di atas meja rias, lalu berjalan perlahan menuju ranjang besar di tengah ruangan. Seprai mahal di kamarnya itu terasa begitu dingin saat bersentuhan dengan kulit lengannya yang terbuka. Ia merapatkan selimut hingga ke dada, memeluk guling erat-erat, mencoba menyalurkan kehangatan pada dirinya sendiri. Tiga tahun. Tiga tahun sudah ia menyandang status sebagai istri dari Reyhan Nugraha. Seorang direktur muda yang tampan, sukses, dan terpandang. Di mata teman-temannya dulu, saat Kirana masih menjadi seorang pelayan toko yang yatim piatu. Pernikahan ini adalah sebuah keajaiban layaknya dongeng Cinderellla. Pria kaya raya dan berpendidikan tinggi mendadak jatuh hati, meminangnya, dan memboyongnya ke dalam kemewahan. Orang-orang mengira Kirana adalah wanita paling beruntung di dunia. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu rahasia dingin di balik pintu kamar ini. Selama tiga tahun pernikahan, Reyhan sekali pun tidak pernah menyentuhnya. Setiap kali Kirana mencoba mendekat, mencoba menyentuh jemari suaminya di atas ranjang, atau sekadar memberanikan diri mengenakan gaun tidur yang sedikit lebih terbuka, Reyhan selalu punya sejuta alasan untuk membentengi dirinya. Capek, lembur, meeting, dan pekerjaan yang menumpuk adalah alasan yang paling sering diucapkannya dengan nada datar tanpa penyesalan. Jika Kirana memberanikan diri bertanya lebih lanjut. Nada suara Reyhan akan berubah menjadi dingin dan ketus. "Kamu ini kenapa, sih? Otakmu cuma isi hubungan badan saja?" cetus Reyhan suatu malam, saat Kirana dengan mata berkaca-kaca menanyakan kenapa mereka tidak pernah berhubungan seperti suami istri pada umumnya. "Pernikahan itu bukan cuma soal nafsu fisik, Kirana. Harusnya kamu bersyukur sudah kuberikan rumah yang layak, kartu kredit tanpa batas, dan hidup berkecukupan. Jangan bertindak seperti wanita yang tidak pernah mengenyam pendidikan." Kalimat-kalimat itu membakar harga diri Kirana hingga tak bersisa. Kata-kata yang diucapkan dengan tenang, tetapi menancap dalam seperti pisau. Sejak malam itu, Kirana merasa kotor dan hina setiap kali ia merindukan sentuhan suaminya sendiri. Ia dibuat merasa bersalah hanya karena menginginkan kehangatan wajar dari pria yang telah mengucapkannya janji suci di hadapan penghulu. Kirana memiringkan tubuhnya, menatap sisi ranjang di sebelahnya yang selalu rapi tanpa lipatan. Bantal di sebelah kirinya masih seharum pelembut pakaian, tak pernah tersentuh oleh kepala Reyhan. Pria itu lebih sering tertidur di sofa ruang kerja dengan alasan tak ingin mengganggu tidur Kirana saat ia pulang larut malam. Atau jika tidur di ranjang pun, Reyhan akan membentang jarak sedemikian rupa, membelakangi Kirana seolah-olah tubuh istrinya adalah noda yang menular. Kenapa? Apa yang salah dari dirinya? Pikiran ini terus melayang di benak Kirana. Kirana bangkit dari ranjang, melangkah menuju cermin besar di sudut kamar. Ia menatap pantulan dirinya dalam remang lampu tidur. Wajahnya masih cantik, kulitnya bersih, dan tubuhnya proporsional. Ia meraba lehernya sendiri, membelai bahunya yang dingin. Ia masih muda, tetapi hatinya terasa renta dan keriput oleh rasa kesepian yang menggerogoti jiwanya setiap malam. Rasa kasihan pada diri sendiri membuncah di dada. Kirana meremas jemarinya. “Pernikahan bukan cuma soal nafsu,” kata Reyhan. Tapi apakah pernikahan juga berarti hidup berdampingan seperti dua orang asing yang terikat kontrak sewa rumah? Detik demi detik berjalan amat lambat. Dalam keheningan malam, setiap bunyi kecil berdentang begitu keras. Suara angin yang menabrak kaca jendela, detak jarum jam dinding, hingga detak jantung Kirana yang berpacu kencang setiap kali mendengar suara deru mesin mobil dari luar. Pukul satu malam... Pukul dua malam... Pukul tiga malam. Sepertiga malam telah tiba. Waktu di mana kesepian Kirana mencapai puncaknya. Hingga akhirnya, saat langit di luar jendela mulai bergeser menjadi abu-abu pekat. Hampir mendekati subuh, suara deru mesin mobil Reyhan yang sudah sangat Kirana hafal terdengar masuk ke pelataran rumah. Suara pintu gerbang otomatis berderit pelan, disusul gemeretak langkah kaki yang tegas di atas marmer lantai bawah. Jantung Kirana berdesir hebat. Refleks, ia langsung berbaring kembali, merapatkan selimut hingga ke leher, dan memejamkan matanya rapat-rapat. Ia memilih berpura-pura tidur. Ia terlalu lelah untuk melihat wajah dingin Reyhan, terlalu takut untuk mendengar alasan formalitas yang sama. Gagang pintu kamar berputar pelan. Langkah kaki Reyhan terdengar mendekat. Aroma parfum Reyhan memenuhi udara kamar yang semula hampa. Kirana menahan napasnya. Mengatur helaan dadanya agar terlihat seperti wanita yang sedang lelap dalam mimpi. Ia merasakan aura dingin saat Reyhan berdiri di samping tempat tidur. Pria itu tidak membungkuk untuk mencium keningnya. Tidak pula mengusap kepalanya. Reyhan hanya berdiri diam di sana. Menatap tubuh istrinya yang terbungkus selimut dengan tatapan yang tak bisa dibaca. Tak lama, terdengar helaan napas pendek dari Reyhan. Sebuah helaan napas yang terdengar penuh beban, seolah-olah berada di dalam kamar itu bersamanya adalah sebuah siksaan. Suara gesekan kain terdengar saat Reyhan melepaskan jasnya dan mencampakkannya begitu saja ke atas kursi. Tanpa menyapa, tanpa berniat menyentuh ujung kaki Kirana sekalipun, Reyhan membalikkan badan dan melangkah menuju kamar mandi. Suara gemercik air shower mendadak memenuhi ruangan, memecah kesunyian subuh. Di balik pejam matanya, air mata yang sejak tadi ditahan Kirana akhirnya lolos. Tetesan hangat itu mengalir perlahan, melewati pelipisnya, dan meresap basah ke dalam kain bantal yang dingin. Di atas ranjang yang luas itu, di samping pria yang menyandang status sebagai suaminya, Kirana merasa sepenuhnya sendirian.Sisa-sisa air mata di pipi Kirana telah mengering, meninggalkan bekas yang kaku dan panas. Kirana terbangun dari posisi tertunduknya di balik meja kerja, diselimuti oleh keheningan toko bunga yang begitu dingin dan asing. Cahaya matahari pagi menembus celah-celah tirai, menyinari cangkir kopi dingin yang masih mendekap di tangannya sepanjang malam. Kirana memposisikan dirinya duduk tegak dengan jemari yang kaku. Seluruh sendi tubuhnya ngilu, tetapi rasa sakit fisik itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehampaan yang menganga di dalam dadanya. Pagi yang biasanya dipenuhi aroma segar mawar dan suara sapaan hangat kini terasa seperti kuburan yang membisu. Ponselnya yang tergeletak di atas meja tak berhenti bergetar. Kirana menatap layarnya dengan mata sembap dan tatapan yang benar-benar hampa. Ratusan notifikasi membanjiri layar ponsel itu. Berita keberhasilan, pujian dari para insan mode, hingga foto-foto dirinya yang tampil anggun di atas
Sorak-sorai tepuk tangan membahana di dalam ballroom megah itu, tetapi bagi Kirana, seluruh suara itu teredam bagai tenggelam di dalam air. Lampu-lampu kilat media terus menyambar wajahnya, namun matanya yang membelalak lebar hanya tertuju pada satu titik di sudut temaram ruangan.Tempat di mana Zayn tadinya berdiri... kini telah kosong hampa.Genggaman tangan Bara di jemarinya terasa membakar kulitnya. Tanpa peduli pada protokol acara, tanpa memikirkan puluhan kamera yang masih menyorotnya, Kirana secara refleks menarik tangannya dari cengkeraman Bara."Mbak Kirana?" tanya Bara halus dengan kening berkerut penuh kebingungan yang dibuat-buat.Kirana tidak menjawab. Ia mengangkat pinggiran gaun malam berwarna biru lembutnya, lalu berlari membelah kerumunan tamu VIP. Suara tumit sepatu hak tingginya beradu cepat dengan lantai marmer, berpacu dengan detak jantungnya yang bergemuruh diliputi rasa panik yang membakar dada.Kirana mengabaikan panggi
Pagi berikutnya, hening yang memekakkan telinga menyelimuti toko Kirana Flower. Hujan lebat semalam telah usai, menyisakan hawa dingin yang merayap di sela-sela daun jendela. Kirana berdiri kaku di balik meja kerjanya, menatap pintu masuk dengan dada yang bergemuruh cemas. Bayangan pertengkarannya dengan Zayn kemarin pagi dan presensi hangat Bara di lokasi resort semalam terus berputar seperti gulungan film yang menyiksa pikirannya.Denting bel pintu berdenting halus. Zayn melangkah masuk.Tidak ada aura amarah, tidak ada kilat cemburu, dan tidak ada tuduhan tajam yang biasanya membakar mata pria itu. Zayn berjalan pelan dengan setelan kemeja formal yang sangat rapi. Wajahnya berseri tenang, tetapi matanya redup, begitu redup dan berjarak, seolah ada dinding kaca tak kasat mata yang sangat tebal baru saja terbangun di antara mereka."Zayn..." panggil Kirana lirih, suaranya bergetar.Zayn tidak menjawab dengan nada tinggi. Ia melangkah mendekat, meletak
Pagi berikutnya, ketegangan sisa percekcokan kemarin masih membekas kaku di udara. Zayn melangkah masuk ke dalam toko Kirana Flower dengan wajah letih. Dua lingkaran hitam menggantung di bawah matanya setelah semalaman bertarung dengan tim hukum demi menyelamatkan proyek perumahan Nugraha Group. Di tangannya, Zayn membawa sebuah kantong kertas berisi sarapan favorit Kirana, upaya kecil untuk meruntuhkan dinding es yang mendadak terbangun di antara mereka."Na," panggil Zayn pelan, melemparkan senyum tipis yang dipaksakan. Ia meletakkan kantong kertas itu di atas meja kerja Kirana."Aku belikan bubur langgananmu. Kita sarapan dulu, ya? Sekalian aku mau jelaskan soal masalah audit kemarin."Kirana menatap Zayn sejenak. Ada rasa iba melihat kekasihnya terlihat kacau, tetapi rasa kecewa atas sikap keras dan penolakan Zayn kemarin masih menyisakan nyeri yang enggan padam."Terima kasih, Zayn. Tapi aku sedang tidak berselera," jawab Kirana datar, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar la
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang kerja Kirana Flower. Ketegangan di antara Zayn dan Kirana begitu pekat, seolah pendar biru dari mawar di dalam tabung kaca itu memancarkan rasa dingin yang membekukan atmosfer di sekitar mereka.Zayn melemparkan kartu ucapan bertinta emas itu ke atas meja. Tatapannya yang tajam bergeser merengkuh wajah Kirana yang masih memucat. "Kembalikan bunga ini, Kirana."Kirana tersentak. Kerutan halus tercipta di dahinya. "Apa? Kenapa harus dikembalikan, Zayn? Ini hanya ucapan selamat dari Pak Bara atas kontrak kita.""Ini bukan sekadar ucapan selamat!" nada suara Zayn meninggi, sarat akan proteksi yang menekan. "Mawar biru... kata-kata bersirat di kartu itu... Seorang pengusaha yang baru mengenalmu semalam tidak akan pernah mengirimkan hadiah se-personal ini jika tidak memiliki niat terselubung. Dia sedang mengujimu, Na!"Kirana mendesah berat, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. Perasaan lelah atas drama yang tak kunjung usai kembali merayapi
Deru mesin mobil yang halus membelah heningnya jalanan ibu kota di larut malam. Kirana masih belum bisa menghentikan senyum bahagia yang mengembang di bibirnya. Di sampingnya, Zayn mengemudikan kendaraan dengan tenang, sesekali melirik wanita di sebelahnya dengan tatapan penuh kehangatan, meski jauh di dalam benaknya, bayangan tatapan dingin Bara Mahendra masih menancap kuat.Zayn memutar kemudi, membawa mobil mereka berbelok ke arah sebuah bukit kecil di pinggiran kota, area rooftop view terbuka yang sepi dan menyajikan pemandangan gemerlap lampu kota dari ketinggian."Zayn? Kita tidak langsung pulang?" tanya Kirana lembut, menoleh penasaran.Zayn mematikan mesin mobil, lalu berbalik menatap Kirana sepenuhnya. "Aku ingin merayakan malam kebahagiaanmu tanpa ada gangguan siapa pun, Na."Zayn keluar, membukakan pintu untuk Kirana, lalu menuntunnya berdiri di tepi pagar pembatas. Angin malam meraba lembut kulit mereka, membawa kedamaian yang sudah lama tidak mereka rasakan. Zayn merogoh







