LOGINKekalahan telak di ruang rapat eksekutif sore itu benar-benar meremukkan ego Reyhan sampai ke dasar terbawah. Pria yang biasanya selalu pulang larut malam dengan keangkuhan meluap-luap itu mendadak pulang ke rumah pukul lima sore. Suatu hal yang sama sekali tidak pernah terjadi selama tiga tahun pernikahan mereka.
Kirana yang sedang menyiram tanaman di teras depan sampai menghentikan gerakannya. Ia menatap keheranan melihat mobil suaminya terparkir lebih awal. Reyhan keluar dari mobiKekalahan telak di ruang rapat eksekutif sore itu benar-benar meremukkan ego Reyhan sampai ke dasar terbawah. Pria yang biasanya selalu pulang larut malam dengan keangkuhan meluap-luap itu mendadak pulang ke rumah pukul lima sore. Suatu hal yang sama sekali tidak pernah terjadi selama tiga tahun pernikahan mereka.Kirana yang sedang menyiram tanaman di teras depan sampai menghentikan gerakannya. Ia menatap keheranan melihat mobil suaminya terparkir lebih awal. Reyhan keluar dari mobil tanpa membalas tatapan Kirana, melangkah kaku dengan wajah keruh, bibir mengatup rapat, dan mata yang menatap kosong. Tanpa mengucap sepatah kata pun Reyhan langsung masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu lalu menguncinya dari dalam.Setengah jam kemudian, pukul setengah enam sore, raungan mesin mobil sport milik Zayn terdengar memasuki pelataran.Perbedaan aura kedua saudara itu seperti bumi dan langit. Zayn keluar dari mobilnya dengan setelan jas yang sudah dilonggarkan da
Esoknya, suasana sarapan berlangsung seperti biasa, hening, kaku, dan mencekam. Reyhan duduk di ujung meja dengan kemeja kerjanya yang kaku, sibuk menyesap kopi tanpa melirik sedikit pun pada Kirana yang berdiri mematung di dekat area dapur.Pria itu menghabiskan sarapannya dalam diam, lalu berdiri, meraih jas serta tas kerjanya, dan melangkah keluar rumah begitu saja tanpa berpamitan atau mengucap sepatah kata pun pada istrinya.Kirana mengembuskan napas panjang, menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu utama. Hari ini hari pertama Zayn bekerja. Ia mengira pagi ini Zayn akan melakukan hal yang sama seperti Reyhan. Berangkat terburu-buru demi hari pertamanya bekerja di kantor pusat.Zayn melangkah ke area makan dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku dan celana kain bertali pinggang rapi. Pria muda itu tersenyum hangat, memancarkan pesona yang seketika menghidupkan ruang makan yang tadinya sepi dan dingin."Selamat
Ruangan mendadak membeku setelah pujian dari Manajer Senior untuk Kirana itu di ucapkan. Wajah Reyhan yang tadinya begitu sombong kini merah padam, menegang kaku akibat tamparan fakta yang dilayangkan bawahannya sendiri. Pujian jujur Manajer Senior itu menyayat egonya yang setinggi langit.Tak mau harga dirinya makin terinjak di depan istri yang dianggapnya rendah dan adik kandungnya sendiri, Reyhan berdeham keras. Matanya menatap tajam pada Manajer Senior beserta dua sekretarisnya."Kalian ini banyak bicara sekali! Sejak kapan staf boleh ikut campur menilai penampilan pribadi keluarga pimpinan?!" bentak Reyhan, suaranya dipenuhi amarah yang tertahan.Manajer Senior dan kedua sekretarisnya seketika tersentak kaget. Wajah mereka memucat menyadari aura berbahaya dari sang Direktur Utama."M-maafkan kami, Pak Reyhan... Kami tidak bermaksud..." cicit Manajer Senior. Tubuhnya gemetar sembari membungkuk dalam-dalam."Taruh semua dokumen lapora
Mobil sport yang dikendarai Zayn membelah jalanan pusat kota menuju kawasan bisnis paling bergengsi. Di sampingnya, Kirana memegang tali sabuk pengamannya erat-erat. Jemarinya saling bertaut, memancarkan sisa-sisa rasa bingung sekaligus penasaran atas rencana yang dirancang adik iparnya itu.Zayn menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah butik dan salon eksklusif berlantai tiga dengan dinding kaca tinggi yang menampilkan gaun-gaun mahakarya perancang ternama. Tanpa menunggu Kirana bertanya, Zayn keluar dan membukakan pintu, menuntun wanita itu masuk ke dalam kemewahan yang selama ini asing baginya.Tiga orang stylist profesional langsung menyambut mereka atas perintah khusus Zayn. Selama dua jam penuh, Kirana membiarkan tubuhnya dipoles. Rambut hitamnya yang biasanya hanya dikuncir asal kini ditata menjadi gelombang lembut yang jatuh sempurna di atas bahu. Gaun rumahan yang kusam berganti dengan dres berbahan chiffon lembut berwarna rose gold bernuansa
Sinar fajar perlahan menerobos celah tirai kamar utama, membawa kepastian bahwa malam terlarang itu telah berlalu. Kirana terbangun lebih awal. Tubuhnya terasa lelah, namun ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya. Rasa takut yang biasanya membelenggu setiap kali mendengar derap langkah Reyhan kini telah menguap. Tatapan matanya di depan cermin kamar mandi tampak begitu tenang. Jauh lebih tangguh dari biasanya.Di balik gaun tidurnya, di atas meja dapur beberapa jam lalu, Kirana telah membuang seluruh rasa bersalahnya. Ia telah menyerahkan hatinya pada Zayn, dan kenyataan rahasia itu memberinya kekuatan baru untuk menghadapi pria yang berstatus suaminya.Saat Kirana keluar dari kamar mandi, Reyhan baru saja terbangun dari tidurnya. Pria itu duduk di tepi ranjang dengan wajah keruh, mengusap pelipisnya yang berdenyut akibat kelelahan usai bekerja dan beraktivitas hingga larut malam."Mas mau kubuatkan kopi hitam?" tanya Kirana. Wajahnya tenang, tanpa ada g
Rasa sakit di dada Kirana perlahan luluh oleh kehangatan yang menjalar dari bibir Zayn. Sentuhan pria itu di lehernya begitu lembut namun menuntut, seolah berusaha menghapus setiap jejak hinaan yang baru saja dilontarkan Reyhan di kamar atas. Jemari Zayn mengusap sisa air mata di wajah Kirana, lalu merayap naik menangkup rahang gadis itu dengan lembut namun posesif.Dengan gerakan sigap, ia mengangkat tubuh Kirana, mendudukkannya di atas meja dapur yang dingin. Panasnya sentuhan Zayn membuat Kirana mendesah pelan, meremas bahu tegap adik iparnya itu untuk menahan tubuhnya yang mendadak lemas.Ciuman Zayn berlanjut semakin dalam, makin lapar, dan dipenuhi gelombang emosi yang meluap. Jemari pria itu mulai bergerak berani, menyusup ke balik gaun tidur tipis Kirana, mengusap pinggulnya dengan sentuhan yang membakar kulit. Sengatan gairah yang kuat seketika menguasai indra Kirana.Saat jemari Zayn mulai bergerak lebih jauh menuju tahap yang lebih dalam, percik







