/ Romansa / GODAAN DI SEPERTIGA MALAM / 5. PERHATIAN YANG LEMBUT

공유

5. PERHATIAN YANG LEMBUT

작가: Mystique
last update 게시일: 2026-07-23 11:33:25

"Zayn, jangan..."

Kalimat itu meluncur lirih dari mulut Kirana tepat saat wajah Zayn semakin mengikis jarak diantara bibir mereka. Spontan Kirana memejamkan mata rapat-rapat, memalingkan wajahnya ke samping untuk menyembunyikan parasnya yang memerah bercampur panik. Tangannya yang gemetar mendorong dada Zayn, menahan agar tubuh tegap pria itu tidak semakin menindih tubuhnya yang terbaring di atas ranjang.

Zayn menghentikan gerakannya seketika. Sebuah tawa kecil meluncur dari bibirnya. "Mulutmu bilang tidak, tapi jantungmu berdegup kencang sekali, Mbak..." kekeh Zayn pelan.

Zayn menarik tubuhnya sedikit, memberi ruang bernafas untuk Kirana. Pandangannya tak sengaja berlabuh pada siku dan paha Kirana. Di bawah remang cahaya lilin aromaterapi, kulit mulus wanita itu tampak memar merah. Bekas benturan keras saat Reyhan mendorongnya tersungkur di lantai marmer tadi.

Raut wajah Zayn berubah seketika. Tawa ringannya meluap tanpa sisa. Sorot mata yang tadinya dipenuhi gairah mendadak surut, berganti menjadi sebuah tatapan penuh keprihatinan yang amat dalam. Seperti tatapan seorang pria yang benar-benar terluka melihat wanita di hadapannya disakiti.

Zayn menghela napas pendek. Tanpa mengumbar kata-kata kasar untuk Reyhan, ia menyingkirkan tubuhnya secara perlahan dari atas tempat tidur, melepas terkamannya dari Kirana.

"Tunggu di sini," bisik Zayn lembut, suaranya kini terdengar sangat tenang dan menenangkan.

Kirana terpaku, perlahan membuka matanya. Dada dan pikirannya campur aduk oleh rasa canggung, bingung, dan sedikit rasa panik. Ia memperhatikan Zayn melangkah menuju kamar mandi utama, lalu kembali beberapa saat kemudian dengan membawa kotak P3K dan sebuah handuk kecil yang sudah dibasahi air hangat.

Zayn kembali duduk di tepi ranjang, tepat di samping Kirana yang masih memeluk dadanya sendiri. Suasana kamar temaram oleh nyala lilin, kini dipenuhi oleh keheningan yang serasa menyedot seluruh ketakutan Kirana.

"Ini pasti sakit, kan?" tanya Zayn pelan. Tangannya yang hangat dan kokoh menyangga lengan Kirana dengan sangat hati-hati.

Dengan kelembutan yang tak pernah Kirana bayangkan datang dari sosok pria yang terkesan nakal dan liar ini, Zayn menyapu memar di siku Kirana dengan kain hangat. Usapannya begitu perlahan, nyaris tak bertekanan, kemudian Zayn mengoles salep dingin untuk mengobati luka memar tersebut.

Dada Kirana berdesir hebat. Air mata baru menetes perlahan di pelipisnya, bukan karena rasa sakit fisik di sikunya, melainkan karena rasa haru yang tak terbendung. Selama tiga tahun menikah, jika Kirana terluka atau sakit, Reyhan selalu menganggapnya sebagai kelemahan yang mengganggu. Reyhan tak pernah sekalipun mengoleskan obat untuknya. Dan kini, adik dari suaminya sendiri berlutut di tepi ranjang hanya demi mengobati luka kecil di tubuhnya.

"Kenapa... kenapa kamu melakukan ini, Zayn?" bisik Kirana dengan suara serak, menatap lekat garis wajah Zayn yang berada begitu dekat dengannya. "Aku ini cuma... cuma istri kakakmu yang menyedihkan."

Zayn menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap Kirana, menyapu tetesan air mata di pipi wanita itu dengan ujung jari lalu tersenyum dengan sangat tulus. Sebuah senyuman manis tanpa intrik atau kepalsuan.

"Kamu bukan wanita menyedihkan, Kirana," ujar Zayn. Kali ini, ia sengaja menghilangkan sebutan 'Mbak' di depan namanya, menegaskan hubungan sejajar di antara mereka sebagai seorang pria dan wanita. "Kamu wanita yang luar biasa indah. Hanya saja, suamimu terlalu buta dan bodoh untuk menyadarinya."

Zayn bangkit sejenak, berjalan menuju meja samping tempat tidur untuk mengambilkan segelas air putih, lalu menyerahkannya pada Kirana. Kirana meminumnya sedikit dengan tangan gemetar, merasakan rasa segar yang perlahan mengalir menenangkan tenggorokannya yang sempat tercekik isakan.

Setelah mengembalikan gelas itu, Zayn memandang sekeliling kamar tidur bernuansa romantis hasil dekorasi Kirana. Pandangannya berlabuh pada kelopak mawar yang tersebar di atas sprei abu-abu dan lilin-lilin wangi yang berkedip pelan.

"Semua ini... kamu yang menyiapkannya sendiri?" tanya Zayn pelan.

Kirana menunduk canggung, meremas jemarinya di atas pangkuan. "Iya. Aku cuma ingin... membuat suasana beda di hari ulang tahunku. Tapi Mas Reyhan malah marah besar."

Zayn mendesah panjang. Menggelengkan kepalanya pelan seakan tak percaya ada pria yang tega merusak ketulusan sebesar ini. Zayn mengikis jarak, kembali memangkas ruang di antara mereka hingga Kirana bisa merasakan aura kehangatan tubuh pria itu.

"Kalau begitu, biarkan aku yang menggantikan kakakku," gumam Zayn. Pria itu mengulurkan tangannya, mengusap lembut helai rambut Kirana yang menutupi dahinya. "Selamat ulang tahun, Kirana. Kamu pantas mendapatkan seluruh kebahagiaan di dunia ini."

Ucapan sederhana itu mendarat tepat di relung hati Kirana yang paling hampa. Tembok pertahanan moral yang selama ini dijaganya mati-matian mendadak goyah. Rasa haus akan kasih sayang, rasa ingin dihargai sebagai seorang wanita, kini mulai terobati oleh sosok Zayn.

Kirana menatap mata Zayn yang jernih dan pekat. Hasratnya mengalahkan logikanya. Yang dirasakan Kirana kini adalah kepasrahan dan rasa ketagihan akan kepedulian yang begitu manis ini.

Zayn mendekatkan wajahnya secara perlahan, memberikan Kirana waktu jika saja wanita itu ingin kembali memalingkan wajah seperti tadi. Namun, Kirana tetap membeku di tempatnya, menatap bibir Zayn dengan napas yang tertahan.

Hingga akhirnya, bibir Zayn menyentuh bibir Kirana.

Ciuman itu dimulai dengan sangat manis dan lembut. Perpaduan antara rasa hormat dan hasrat terpendam yang akhirnya pecah. Zayn menyesap bibir Kirana dengan kehati-hatian yang memabukkan, menyalurkan segala rasa hangat yang tak pernah Kirana rasakan seumur hidupnya.

Desiran asing dan gairah yang terlarang meledak di dalam dada Kirana. Tanpa sadar, tangannya yang gemetar terangkat dari pangkuan, naik perlahan hingga jemarinya meremas bahu tegap Zayn. Kirana membalas ciuman itu, sebagai keputusasaan seorang wanita yang akhirnya menemukan pelindung di dalam kegelapan.

Merasakan respons dan kepasrahan Kirana, ciuman Zayn berubah menjadi lebih dalam, lebih menuntut, dan penuh intensitas yang membakar. Tangan Zayn yang tadinya berada di pipi Kirana kini bergerak merayap turun ke leher jenjang gadis itu. Lalu perlahan menarik satu tali lingerie sutra putih di bahu Kirana hingga meluncur turun.

Zayn melepaskan ciumannya sebentar, menyisakan jarak hanya seujung jari, menatap lekat mata Kirana yang sayu dan memerah oleh gairah.

"Biarkan aku menyembuhkan semua sakitmu malam ini, Kirana," bisik Zayn dengan suara serak dan berat yang memabukkan, sebelum kembali menjatuhkan kecupan hangat di sepanjang leher Kirana.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   92. HATI YANG TULUS

    Gelas kristal di genggaman Valerie retak dalam diam, seiring mobil mewahnya yang melaju membelah malam Jakarta usai kekalahan telaknya di Gala Amal Outdoor. Rasa malu dan amarah yang membakar dada tak lantas membuat wanita itu kehabisan akal. Justru, reputasinya yang tercoreng di depan para tamu elit memicu insting liciknya untuk melancarkan serangan dari pintu yang jauh lebih menentukan: Keluarga Nugraha.Dalam benak Valerie, Kirana hanyalah orang luar yang tidak akan pernah punya panggung jika tak didukung oleh Nugraha Group. Dan kunci utama dari benteng pertahanan itu ada pada Nyonya Sofia, ibu kandung Zayn sekaligus ibu kandung Reyhan.Valerie tahu betul betapa Nyonya Sofia dahulunya sangat memanjakan dirinya. Bagi Valerie, wanita paruh baya itu masih memandangnya sebagai calon menantu idaman yang tak tergantikan. Valerie sangat yakin Nyonya Sofia belum mengetahui hubungan asmara antara Zayn dan Kirana, apalagi menyetujui seorang janda dari kakak kandung Zayn untuk bersanding deng

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   91. NILAI DIRI

    Langkah kaki Kirana menjauh dari tempat sampah dekoratif itu tanpa sedikit pun keraguan. Rasa puas mengalir hangat di dadanya saat melihat Valerie terpaku membisu di balik pilar ballroom. Keesokan harinya, berkat keberhasilan spektakuler Kirana mengubah krisis menjadi mahakarya Rustic Modern Elegance, reputasinya melambung tinggi. Pihak penyelenggara utama tidak hanya memberi bonus, tetapi juga secara khusus meminta Kirana Flower untuk menangani ulang seluruh dekorasi Gala Amal Outdoor yang digelar esok malamnya di taman eksklusif area perumahan elit Jakarta Selatan.Malam acara Gala Amal Outdoor pun tiba. Suasana taman bernuansa eksklusif itu disulap menjadi panggung megah berbalut cahaya lampu temaram yang hangat. Rangkaian bunga karya Kirana, perpaduan eksotis antara mawar segar berwarna soft blush dan untaian bunga kering keemasan yang menjuntai artistik menjadi pusat perhatian utama para tamu VIP, pengusaha papan atas, hingga awak media sosialita.Kirana hadir mendampingi Zayn N

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   90. KELUAR DARI JEBAKAN

    "Mbak Kirana! Ada pesanan masuk lewat pesan resmi! Jumlahnya besar sekali untuk acara gala dinner nanti malam!"Teriakan gembira Sisi memecah konsentrasi Kirana yang sedang merapikan vas di meja utama. Kirana melangkah mendekat, memperhatikan lembar rincian pesanan yang baru saja dicetak. Sebuah perusahaan atas nama PT Magenta Pratama meminta puluhan rangkaian bunga segar mewah untuk diantar sore ini ke ballroom hotel bintang lima di pusat kota. Pembayarannya bahkan sudah dilunasi secara penuh di depan tanpa menawar."Wah, nama Kirana Flower benar-benar makin melambung setelah masuk majalah bisnis ya, Mbak," puji Sisi dengan mata berbinar.Kirana tersenyum, meski ada sedikit getaran asing di hatinya. Pesanan mendadak dengan jumlah fantastis dan batas waktu yang sangat mepet selalu menyimpan risiko tinggi. Tetapi, sebagai pebisnis profesional, Kirana tak ingin membuang kesempatan emas ini. Tanpa menyadari bahwa di balik nama PT Magenta Pratama ada tangan dingin Valerie Suwandi yang sia

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   89. RENCANA SABOTASE

    "Awas durinya, Sisi! Mawar merah dari Cipanas ini masih sangat segar, batangnya keras!"Kirana berseru seraya memotong mawar lokal dengan gunting dahan di tangannya. Bunyi klik-klik tajam dari gunting besi memecah riuh pagi di toko. Di sekelilingnya, daun-daun hijau dan potongan batang berjatuhan ke dalam keranjang. Kirana mengelap keringat tipis di dahinya dengan lengan baju, lalu menepuk-nepuk lembut mahkota mawar yang baru saja ia tancapkan ke dalam vas air."Aroma sedap malamnya juga makin semerbak ya, Mbak," sahut Sisi sambil menyerahkan seikat krisan kuning yang langsung disambut Kirana dengan senyuman lebar.Perhatian Kirana mendadak teralihkan ketika layar ponselnya di atas meja bergetar hebat. Nama Zayn tertera di sana, menyala terang bersamaan dengan sebuah tautan artikel berita yang dikirimkan pria itu melalui pesan singkat.Kirana menekan tautan tersebut. Matanya membelalak takjub saat membaca judul utama yang bertengger di salah satu portal berita bisnis independen ternam

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   88. MATA-MATA VALERIE

    Aroma harum bunga mawar segar, krisan yang menenangkan, dan wangi khas dedaunan memenuhi setiap sudut toko bunga milik Kirana sejak pagi. Pengiriman pertama bunga segar dari kebun Pak Karya di Cipanas baru saja tiba beberapa jam lalu, dan kualitasnya benar-benar melebihi ekspektasi. Warna-warni kelopak yang mekar sempurna kini menghiasi vas-vas besar di area kerja.Kertas pembungkus aesthetic, pita-pita satin berbagai warna, dan tangkai-tangkai bunga berserakan rapi di atas meja kayu panjang. Kirana dan tiga orang karyawannya sedang fokus merangkai pesanan besar pertama mereka. Dekorasi bunga segar untuk pameran seni dan pesanan berkala dari perusahaan manajemen gedung yang mereka dapatkan kemarin."Mbak Kirana, krisan putihnya bagus banget! Batangnya tebal, jadi gampang banget diatur," seru Sisi, salah satu karyawan muda Kirana, dengan mata berbinar antusias seraya memotong pangkal batang bunga.Kirana tersenyum bahagia, jemarinya lincah memadukan mawar m

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   87. KEBUN BUNGA

    "Kita sudah berkendara hampir tiga jam, Zayn. Kamu tidak sedang berencana menculikku ke puncak gunung, kan?"Suara renyah Kirana memecah keheningan di dalam kabin mobil yang terasa hangat. Gadis itu menoleh ke arah kursi kemudi, menatap Zayn dengan mata memicing penuh selidik, namun seulas senyum geli tak bisa disembunyikan dari bibirnya.Zayn tertawa pelan, suara baritonnya mengalun merdu berpadu dengan alunan musik jazz dari pemutar audio mobil. Satu tangannya bertengger santai di lingkar kemudi, sementara sebelah tangannya yang lain tak melepaskan genggamannya pada jemari Kirana sejak mereka meninggalkan jalan tol."Kalau iya, memangnya kamu mau lari ke mana, hm?" goda Zayn seraya melirik sekilas ke arah Kirana. "Lagi pula, menculikmu ke tempat seindah ini rasanya bukan ide yang buruk."Kirana tertawa lalu kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Pemandangan gedung-gedung beton Jakarta telah lama tertinggal di belakang, digantikan oleh

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status