Se connecterKecupan hangat Zayn yang meluncur dari rahang menuju leher jenjang Kirana, membuat seluruh persendian gadis itu melumpuh. Jemari Zayn bergerak perlahan menarik sisa satu tali lingerie sutra putih di bahu Kirana hingga baju transparan itu meluncur turun. Sensasi dingin udara malam sontak menyapu kulit polos Kirana seperti sengatan listrik.
Bayangan wajah Reyhan yang dingin, benturan keras di lantai marmer, hingga cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya mendadak berkelebat hebat di kepala Kirana. Logika dan kesadaran moralnya yang sempat kabur kini tersentak bangun. "Z-Zayn... tunggu..." Suara Kirana bergetar, begitu tipis dan nyaris tenggelam oleh deru napas mereka yang memburu. Kirana menahan dada tegap Zayn dengan telapak tangannya yang gemetar. Matanya yang sayu dan sembap mendongak, menatap Zayn dengan kilat ketakutan yang bercampur aduk dengan rasa haus akan sentuhan. "Apa... apa yang sedang kita lakukan?" lirih Kirana, air mata baru kembali menggenang di sudut matanya. "Ini salah, Zayn... ini sangat salah. Aku ini istri kakakmu. Kita tidak boleh melakukan ini..." Kirana mencoba menyuarakan batas-batas moral yang selama tiga tahun ini ia jaga setengah mati, meski bahasa tubuhnya memancarkan keputusasaan yang bertolak belakang. Walaupun mulutnya merajut kata-kata penolakan, kedua tangannya yang menahan dada Zayn sama sekali tidak memiliki tenaga untuk mendorong pria itu menjauh. Jemarinya justru meremas baju tipis Zayn dengan erat, seolah-olah jika Zayn benar-benar melangkah pergi saat ini juga, jiwa Kirana akan kembali hancur tak berbekas. Kirana tidak berusaha menarik kembali tali lingerie-nya yang melorot di lengan. Tubuhnya terbaring pasrah, begitu haus akan kehangatan, perlindungan, dan rasa dihargai yang selama ini diharamkan oleh suaminya sendiri. Kirana membenci dirinya sendiri di detik itu. Ia tahu ini dosa. Ia tahu ini pengkhianatan terlarang. Namun, rasanya begitu memabukkan saat ada seorang pria yang menatapnya seolah-olah dialah satu-satunya hal paling berharga di dunia ini. Zayn tidak marah. Pria itu tidak menunjukkan kekecewaan. Zayn justru mengecup lembut dahi Kirana yang basah oleh keringat dingin, menyalurkan rasa tenang yang langsung merayap ke seluruh tubuh wanita itu. Zayn menatap lurus ke dalam iris mata Kirana yang gemetar. Mengunci pandangannya dengan sorot mata yang penuh pemakluman dan dominasi yang menghipnotis. "Salah?" bisik Zayn dengan suara berat yang rendah dan intim, begitu tenang seakan sedang membacakan sebuah kebenaran mutlak. "Menurutmu, apa yang sebenarnya salah malam ini, Kirana?" Jemari Zayn mengusap lembut pipi Kirana, menyingkirkan anak rambut yang menempel di sana. "Apakah salah jika seorang wanita ingin disentuh dengan lembut? Apakah salah jika kamu hanya ingin merasa dicintai di hari ulang tahunmu sendiri?" tanya Zayn pelan, setiap katanya menghantam dinding pertahanan batin Kirana. "Yang salah itu ketika kamu membiarkan dirimu sendiri mati rasa dan hancur di rumah ini." Kirana menahan napasnya, bibirnya bergetar tanpa sanggup membalas ucapan Zayn sepatah kata pun. Zayn memajukan wajahnya, mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Kirana. Hembusan napas hangat pria itu menyapu kulit sensitif di leher Kirana, membuat bulu kuduknya meremang hebat. "Kak Reyhan sudah melepaskan haknya sebagai suami sejak dia mendorongmu ke lantai malam ini, Kirana," bisik Zayn, menyuntikkan racun pembenaran yang terasa begitu masuk akal di dada Kirana yang terluka. "Dia yang menghancurkan pernikahan kalian lebih dulu, bukan kamu. Dia yang melemparmu ke dalam rasa kesepian. Jadi jangan merasa bersalah..." Zayn menggeser posisinya, menatap wajah Kirana dari jarak seujung jari. Tangannya merayap turun, menggenggam jemari Kirana yang tadinya menahan dadanya, lalu menautkan jemari mereka dengan sangat erat di atas sprei. "Malam ini... kamu tidak sedang melanggar batas, Kirana," gumam Zayn, sorot matanya mengunci seluruh jiwa Kirana. "Kamu hanya sedang mengambil kembali hakmu untuk bahagia. Dan kalau dunia ingin menyalahkan seseorang atas malam ini... satu-satunya orang yang pantas bersalah hanyalah Kak Reyhan." Kata-kata Zayn meruntuhkan benteng moralitas Kirana yang terakhir. Logikanya yang rasional menyerah kalah pada luka batin yang teramat dalam. Batin Kirana membenarkan setiap ucapan Zayn. Reyhan yang telah mengusirnya, Reyhan yang telah menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang istri. Mengapa ia harus terus menjadi martir untuk pria yang bahkan tidak peduli apakah ia bernapas atau tidak? Perasaan bersalah itu menguap, berganti menjadi sebuah kepasrahan total yang membakar. Kirana melepaskan cengkeramannya dari baju Zayn. Jemarinya merambat naik menuju leher Zayn, lalu menyusup ke sela-sela rambut belakang pria itu. Kirana menarik tubuh Zayn mendekat, mengikis sisa jarak di antara mereka, dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang kali ini ia balaskan dengan penuh keyakinan. Zayn mengerang rendah di dalam tenggorokannya. Sebuah pemicu gairah yang meledak hebat. Respons aktif dari Kirana membuat kendali diri Zayn runtuh sepenuhnya. Ciuman mereka berubah menjadi lebih panas, lebih menuntut, dan penuh dahaga terlarang. Zayn menindih tubuh Kirana dengan kehangatan tubuhnya, menyatukan dua jiwa yang sama-sama terikat dalam kegelapan malam. Tangan Zayn bergerak gesit menyelusup ke balik gaun tidur sutra putih itu, menariknya perlahan melewati lekuk tubuh Kirana hingga pakaian transparan itu terlepas sepenuhnya dan terlempar ke sudut ranjang. Zayn melepaskan pautan bibirnya sejenak, mendongak untuk menatap mahakarya indah di bawah terkaman tubuhnya. Pandangan matanya yang pekat menggelap oleh hasrat murni. "Jangan pikirkan apa pun, Kirana. Hanya nikmati malam ini," bisik Zayn dengan suara serak yang memabukkan, sebelum kembali menjatuhkan tubuhnya dan melahap bibir Kirana tanpa menyisakan sekat sedikit pun di antara mereka.Sisa-sisa air mata di pipi Kirana telah mengering, meninggalkan bekas yang kaku dan panas. Kirana terbangun dari posisi tertunduknya di balik meja kerja, diselimuti oleh keheningan toko bunga yang begitu dingin dan asing. Cahaya matahari pagi menembus celah-celah tirai, menyinari cangkir kopi dingin yang masih mendekap di tangannya sepanjang malam. Kirana memposisikan dirinya duduk tegak dengan jemari yang kaku. Seluruh sendi tubuhnya ngilu, tetapi rasa sakit fisik itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehampaan yang menganga di dalam dadanya. Pagi yang biasanya dipenuhi aroma segar mawar dan suara sapaan hangat kini terasa seperti kuburan yang membisu. Ponselnya yang tergeletak di atas meja tak berhenti bergetar. Kirana menatap layarnya dengan mata sembap dan tatapan yang benar-benar hampa. Ratusan notifikasi membanjiri layar ponsel itu. Berita keberhasilan, pujian dari para insan mode, hingga foto-foto dirinya yang tampil anggun di atas
Sorak-sorai tepuk tangan membahana di dalam ballroom megah itu, tetapi bagi Kirana, seluruh suara itu teredam bagai tenggelam di dalam air. Lampu-lampu kilat media terus menyambar wajahnya, namun matanya yang membelalak lebar hanya tertuju pada satu titik di sudut temaram ruangan.Tempat di mana Zayn tadinya berdiri... kini telah kosong hampa.Genggaman tangan Bara di jemarinya terasa membakar kulitnya. Tanpa peduli pada protokol acara, tanpa memikirkan puluhan kamera yang masih menyorotnya, Kirana secara refleks menarik tangannya dari cengkeraman Bara."Mbak Kirana?" tanya Bara halus dengan kening berkerut penuh kebingungan yang dibuat-buat.Kirana tidak menjawab. Ia mengangkat pinggiran gaun malam berwarna biru lembutnya, lalu berlari membelah kerumunan tamu VIP. Suara tumit sepatu hak tingginya beradu cepat dengan lantai marmer, berpacu dengan detak jantungnya yang bergemuruh diliputi rasa panik yang membakar dada.Kirana mengabaikan panggi
Pagi berikutnya, hening yang memekakkan telinga menyelimuti toko Kirana Flower. Hujan lebat semalam telah usai, menyisakan hawa dingin yang merayap di sela-sela daun jendela. Kirana berdiri kaku di balik meja kerjanya, menatap pintu masuk dengan dada yang bergemuruh cemas. Bayangan pertengkarannya dengan Zayn kemarin pagi dan presensi hangat Bara di lokasi resort semalam terus berputar seperti gulungan film yang menyiksa pikirannya.Denting bel pintu berdenting halus. Zayn melangkah masuk.Tidak ada aura amarah, tidak ada kilat cemburu, dan tidak ada tuduhan tajam yang biasanya membakar mata pria itu. Zayn berjalan pelan dengan setelan kemeja formal yang sangat rapi. Wajahnya berseri tenang, tetapi matanya redup, begitu redup dan berjarak, seolah ada dinding kaca tak kasat mata yang sangat tebal baru saja terbangun di antara mereka."Zayn..." panggil Kirana lirih, suaranya bergetar.Zayn tidak menjawab dengan nada tinggi. Ia melangkah mendekat, meletak
Pagi berikutnya, ketegangan sisa percekcokan kemarin masih membekas kaku di udara. Zayn melangkah masuk ke dalam toko Kirana Flower dengan wajah letih. Dua lingkaran hitam menggantung di bawah matanya setelah semalaman bertarung dengan tim hukum demi menyelamatkan proyek perumahan Nugraha Group. Di tangannya, Zayn membawa sebuah kantong kertas berisi sarapan favorit Kirana, upaya kecil untuk meruntuhkan dinding es yang mendadak terbangun di antara mereka."Na," panggil Zayn pelan, melemparkan senyum tipis yang dipaksakan. Ia meletakkan kantong kertas itu di atas meja kerja Kirana."Aku belikan bubur langgananmu. Kita sarapan dulu, ya? Sekalian aku mau jelaskan soal masalah audit kemarin."Kirana menatap Zayn sejenak. Ada rasa iba melihat kekasihnya terlihat kacau, tetapi rasa kecewa atas sikap keras dan penolakan Zayn kemarin masih menyisakan nyeri yang enggan padam."Terima kasih, Zayn. Tapi aku sedang tidak berselera," jawab Kirana datar, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar la
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang kerja Kirana Flower. Ketegangan di antara Zayn dan Kirana begitu pekat, seolah pendar biru dari mawar di dalam tabung kaca itu memancarkan rasa dingin yang membekukan atmosfer di sekitar mereka.Zayn melemparkan kartu ucapan bertinta emas itu ke atas meja. Tatapannya yang tajam bergeser merengkuh wajah Kirana yang masih memucat. "Kembalikan bunga ini, Kirana."Kirana tersentak. Kerutan halus tercipta di dahinya. "Apa? Kenapa harus dikembalikan, Zayn? Ini hanya ucapan selamat dari Pak Bara atas kontrak kita.""Ini bukan sekadar ucapan selamat!" nada suara Zayn meninggi, sarat akan proteksi yang menekan. "Mawar biru... kata-kata bersirat di kartu itu... Seorang pengusaha yang baru mengenalmu semalam tidak akan pernah mengirimkan hadiah se-personal ini jika tidak memiliki niat terselubung. Dia sedang mengujimu, Na!"Kirana mendesah berat, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. Perasaan lelah atas drama yang tak kunjung usai kembali merayapi
Deru mesin mobil yang halus membelah heningnya jalanan ibu kota di larut malam. Kirana masih belum bisa menghentikan senyum bahagia yang mengembang di bibirnya. Di sampingnya, Zayn mengemudikan kendaraan dengan tenang, sesekali melirik wanita di sebelahnya dengan tatapan penuh kehangatan, meski jauh di dalam benaknya, bayangan tatapan dingin Bara Mahendra masih menancap kuat.Zayn memutar kemudi, membawa mobil mereka berbelok ke arah sebuah bukit kecil di pinggiran kota, area rooftop view terbuka yang sepi dan menyajikan pemandangan gemerlap lampu kota dari ketinggian."Zayn? Kita tidak langsung pulang?" tanya Kirana lembut, menoleh penasaran.Zayn mematikan mesin mobil, lalu berbalik menatap Kirana sepenuhnya. "Aku ingin merayakan malam kebahagiaanmu tanpa ada gangguan siapa pun, Na."Zayn keluar, membukakan pintu untuk Kirana, lalu menuntunnya berdiri di tepi pagar pembatas. Angin malam meraba lembut kulit mereka, membawa kedamaian yang sudah lama tidak mereka rasakan. Zayn merogoh







