LOGIN
Pagi yang dingin di salah satu kampus ternama di Kota London.
Udara pagi seolah-olah menusuk kulit, dingin dan lembab, menyapu trotoar kampus University of London yang mulai dipenuhi mahasiswa. Kabut tipis masih menggantung di antara gedung-gedung batu tua yang menjulang megah, seolah-olah sedang menyembunyikan sejarah panjang dan cerita-cerita tersembunyi di balik dindingnya. Cassie berjalan cepat, hampir setengah berlari, menyusuri lorong trotoar menuju gedung kuliah utamanya. Ransel hitam lusuh tergantung di punggungnya, dan jaket abu-abu tipis yang dikenakannya terlihat usang, kontras dengan mantel-mantel mahal dan tas-tas bermerek yang digunakan sebagian besar mahasiswa di kampus itu. Dia mengecek jam tangan digitalnya yang sudah agak pudar, pukul tujuh lewat lima puluh delapan menit. Dua menit lagi kelas bisnis akan dimulai. Dia menggigit bibir bawahnya, berharap bisa masuk sebelum dosen terkenal yang galak itu menutup pintu. Namun, langkah Cassie tiba-tiba terhenti ketika tiga mahasiswi berdiri menghadang di depannya, tepat di dekat tangga masuk gedung kuliah. “Lihat siapa yang buru-buru. Si beasiswa,” ejek seorang gadis berambut pirang dengan jaket bulu putih yang jelas sangat mahal. Namanya Melisa. Di sebelahnya, dua sahabatnya, Amy dan Judith, terkikik geli. Cassie diam. Dia tahu ini akan terjadi lagi. Hal semacam ini bukan pertama kalinya mereka mengolok-oloknya. Gadis itu menarik napas panjang dan mencoba berjalan melewati mereka tanpa mengucap sepatah kata pun. Namun Melisa menahan langkahnya dengan mengangkat tangan. “Mau ke mana kamu? Nggak ada salam dulu sama anak-anak kaya seperti kita?” Amy tertawa sinis. “Ha-ha-ha. Iya, Cassie. Harusnya kamu bersyukur masih bisa kuliah di sini. Tanpa kami anak-anak dari kalangan atas, kamu nggak akan dapat beasiswa di kampus ini, tahu?” Judith menambahkan, “Lihat deh baju dia, udah kayak dari toko barang bekas. Apa kamu tinggal di rumah tua pinggir kota?” Cassie masih diam. Matanya menunduk. Tangan gemetarnya menggenggam erat tali ranselnya. Hatinya sakit, tapi dia tahu membalas hanya akan membuat keadaan lebih buruk. Melisa kemudian mengambil sesuatu dari tas jinjingnya. Sekantong plastik berisi tepung. “Eh, Amy, kamu tahu nggak? Katanya tepung itu bisa bikin orang terlihat lebih mahal! Ha-ha-ha!” seru Melisa sambil tertawa. Sebelum Cassie sempat bergerak mundur, tepung putih itu sudah beterbangan ke udara, menyelimuti bagian depan jaket dan rambutnya. Cassie terdiam, menahan napas. Rambutnya yang hitam panjang kini tertutup debu putih. Suara tawa keras ketiga gadis itu menggema di lorong kampus yang mulai dipenuhi mahasiswa lain yang hanya melihat, tapi tak berani ikut campur. “Cocok banget tuh buat kamu. Sekarang kamu jadi kayak roti miskin. Ha-ha-ha!” seru Amy, sambil tertawa geli. Cassie menutup matanya sebentar, menenangkan diri. Dia menahan air mata yang menggenang di ujung kelopak, lalu menghembuskan napas panjang. Tanpa berkata apa-apa, gadis itu melangkah melewati mereka, menuju gedung kuliah. Beberapa mahasiswa lain melihatnya lewat dengan pandangan iba, tapi tak satupun yang berkata sesuatu. Dunia ini tak adil, dan Cassie sudah terbiasa dengan itu. Seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya perlahan. “Cassie!” suara laki-laki itu pelan tapi terdengar prihatin. Cassie menoleh. Itu Alan, salah satu teman sekelasnya yang terkenal cerdas dan bersahabat. Dia memandang Cassie dengan ekspresi khawatir. “Kamu nggak apa-apa? Mereka keterlaluan!” ujarnya. Cassie menggeleng. “Aku nggak mau terlambat kelas,” katanya pelan. Alan membuka jaketnya dan menyodorkannya pada Cassie. “Pakai ini dulu. Bajumu kotor banget. Kita jalan bareng, ya?” Cassie terdiam, menatap Alan sejenak, sebelum akhirnya mengangguk perlahan. Dia menerima jaket itu dan memakainya, meski masih ada sisa-sisa tepung di rambutnya. “Terima kasih,” bisiknya. “Kamu nggak harus diam aja, kamu tahu? Mereka nggak berhak perlakukan kamu kayak gitu.” Cassie hanya tersenyum tipis. “Aku tahu. Tapi aku di sini bukan untuk balas dendam. Aku di sini untuk belajar. Aku punya mimpi, Alan. Dan aku nggak akan biarkan mereka menghancurkannya.” Alan mengangguk, kagum pada ketegaran Cassie. Saat mereka tiba di pintu kelas, bel tanda kuliah dimulai baru saja berbunyi. Dosen mereka, Prof. Charles Bliss, baru membuka pintu. “Masuk,” katanya singkat, menatap tajam ke arah Cassie dan Alan. “Kalian jangan lambat lagi.” Cassie duduk di bangkunya dengan tenang. Di dalam kelas, suasana jauh lebih damai. Dia mengeluarkan buku catatannya, yang meski lusuh, selalu rapi dan penuh tulisan. Tepung di bajunya sudah tak terlalu terlihat di balik jaket Alan, tapi di hati Cassie masih ada sisa sakit. Namun di sela-sela rasa perih itu, ada tekad yang membara. Cassie berjanji dalam hati, suatu hari nanti, dia akan membuktikan bahwa nilai seseorang bukan ditentukan oleh baju yang mereka pakai, melainkan oleh hati, ketekunan, dan impian yang mereka perjuangkan. Pagi itu, suasana kelas bisnis terasa hangat meski cuaca di luar berkabut. Ruangan dipenuhi mahasiswa yang duduk rapi di kursi berbaris, catatan terbuka, dan tatapan sebagian besar mengarah ke pria yang berdiri di depan kelas, Profesor Charles Bliss. Dengan setelan jas abu gelap dan dasi biru tua, Prof. Charles berdiri gagah di depan papan tulis digital. Sorot matanya tajam, penuh karisma. Setiap gerakannya memiliki presisi, setiap kata yang diucapkannya terdengar seperti perintah yang tak bisa dibantah. Tidak hanya cerdas dan sukses, Prof. Charles memiliki paras tampan dan tubuh atletis yang membuat sebagian besar mahasiswi terdiam saat dia masuk kelas. Cassie duduk di barisan ketiga dari depan. Matanya sayu, kepalanya nyaris tertunduk. Dia mencoba mencatat, tapi kelopak matanya terasa berat. Gadis itu baru pulang kerja pukul dua dini hari tadi. Tadi malam, bar tempatnya bekerja sangat ramai. Cassie harus mencuci gelas, melayani pelanggan, dan membantu bagian dapur. Semua itu dia lakukan agar bisa tetap bertahan hidup di kota ini. Di sebelahnya duduk Alan, yang dari luar tampak bersahabat. Tapi sejak pagi tadi, sorot mata Alan berbeda. Pandangannya diam-diam menilai Cassie, dan senyumnya menyimpan sesuatu yang tidak sepenuhnya tulus. Alan menyandar ke arah Cassie dan berbisik pelan, “Kamu kelihatan lelah sekali. Masih bisa fokus sama penjelasan Prof. Charles? Kalau nggak ayo ikut aku ke kafetaria!” Cassie hanya tersenyum tipis, menggeleng pelan. Dia tidak membalas komentar Alan. Tapi dalam hatinya, ada keganjilan. Sejak semalam, Alan mulai sering mengirim pesan aneh. Dan pagi tadi, dia sengaja menyodorkan jaketnya agar bisa lebih dekat dengannya. Cassie belum sempat berpikir lebih jauh karena pikirannya sudah terlalu lelah. “Baiklah.” Suara Prof Charles terdengar tegas di seluruh ruangan. “Kita akan masuk ke topik hari ini, Strategi Pasar Global dan Ekspansi Bisnis Multinasional. Perhatikan baik-baik. Saya tidak ingin ada yang tertinggal.” Cassie mencoba fokus. Tapi perlahan, pandangannya mulai kabur. Suara Prof Charles terdengar seperti gema yang semakin jauh. Kepalanya mulai tertunduk. Dalam hitungan menit, dia tak lagi sepenuhnya sadar. Dalam lamunannya, Cassie kembali melihat wajah Prof. Charles. Namun kini bukan sebagai dosen, melainkan sebagai sosok yang lebih pribadi. Dalam khayalannya, dia dan Charles berada di kelas hanya berdua saja. Charles melepas jasnya, menyingsingkan lengan kemejanya, dan mendekat ke arah Cassie. Suaranya tak lagi resmi, tapi lembut dan penuh perhatian. “Cassie,” ucapnya dalam mimpi. “Kamu pantas mendapatkan lebih dari semua penderitaan ini. Kamu sangat cantik! Aku sangat terpesona denganmu.” Cassie menatapnya. Mereka berdiri berhadapan di depan meja kelas. Charles menyentuh pipinya dengan lembut. Cassie merasakan kehangatan yang tidak pernah dirinya rasakan sebelumnya. Lalu keduanya terlibat dalam ciuman ganas. Prof. Charles melahap habis bibir Cassie. Bahkan tangan sang profesor mulai menyelinap masuk ke dalam bajunya dan mulai meremas kedua bukit kembar miliknya. Yang membuat Cassie menjadi melayang sampai ke langit ketujuh. Namun tiba-tiba, Brak! Suara pukulan keras di meja membangunkan Cassie dari lamunannya. Gadis itu tersentak, dan seluruh kelas menoleh padanya. Prof. Charles berdiri di depannya, wajahnya marah, rahangnya mengeras. “Cassie Florence!” Suara Prof. Charles terdengar tegas. “Anda mau belajar? Atau mau tidur di dalam kelas?”Keesokan harinya, pagi yang cerah di Taormina.Sinar matahari musim panas menembus tirai tipis kamar hotel mereka. Suara burung camar dan aroma laut menyambut pagi yang baru. Charles masih tergolek di tempat tidur, matanya belum sepenuhnya terbuka, sementara Cassie sudah mengenakan sundress kuning dan kacamata hitam di atas kepala.Cassie berdiri di dekat balkon sambil menyeruput kopi.“Bangun, sleepyhead,” serunya sambil membuka tirai sepenuhnya, membiarkan cahaya menerpa wajah Charles.Charles mengerang, lalu menutup wajahnya dengan bantal. “Tolong … mataharinya jahat.”Cassie tertawa. “Bukan matahari yang jahat, kamu saja yang terlalu nyaman di kasur, Darling.”Charles mengintip dari balik bantal. “Tentu. Karena ada aroma kamu di sini.”Cassie pura-pura muak. “Aduh, so sweet baru juga pagi-pagi. Cepat mandi! Kita mau ke pasar!”Charles duduk, mengucek matanya. “Pasar? Kita lagi bulan madu, bukan acara belanja mingguan.”Cassie mendekat dan menarik lengannya. “Justru itu! Kita cari
Pagi di Perugia. Matahari musim panas menyelinap ke jendela kamar hotel mereka di Perugia. Cassie masih terlelap, berbalut selimut tipis. Charles terbangun lebih dulu. Dia menatap wajah istrinya lama sekali, seolah tak pernah bosan.Charles membelai pipi istrinya. “Bagaimana mungkin kamu tetap cantik bahkan saat tidur?” gumamnya pelan.Cassie membuka matanya setengah. “Karena aku punya suami yang selalu bilang aku cantik,” balasnya, masih malas-malasan.Charles tersenyum. “Bangun, sleepyhead. Hari ini kita ke Taormina!”Cassie langsung membuka mata penuh. “Taormina?! Laut! Pantai! Panas!”Charles mengangguk. “Dan gelato.”Cassie menepuk dadanya. “Kamu benar-benar tahu cara membuatku bahagia.”Charles menatapnya penuh cinta. “Aku belajar dari yang terbaik.”Cassie mendekat, mengecup pipi Charles. “Aku cinta kamu.”Charles membalas ciumannya. “Aku juga.”Perjalanan menuju Taormina.Mereka naik kereta menuju Sisilia, lalu berpindah ke mobil sewaan untuk mencapai Taormina. Perjalanan pan
Masih di Trento.Sinar matahari lembut merayap masuk melalui tirai tipis kamar hotel di Trento. Cassie terbangun lebih dulu, mengusap matanya, masih mengenakan kaus panjang abu-abu. Charles terlelap, satu tangan terulur ke arah tempat Cassie semula berbaring.Cassie memandangi wajah suaminya, tersenyum lembut. “Astaga … bahkan waktu tidur, kamu kelihatan tampan sekali,” gumamnya.Charles mengerang pelan, setengah sadar. “Aku dengar itu, Darling,” katanya dengan suara serak.Cassie terkikik. “Good. Supaya kamu ingat kalau kamu memang tampan.”Charles membuka sebelah matanya. “Aku lebih suka kamu bilang aku hebat di ranjang.”Cassie memukul bahunya. “Charles! Kamu memalukan.”Charles tertawa Pelan. “Tapi kamu tetap cinta aku, kan?”Cassie tersenyum. “Selalu.”Charles meregangkan tubuh. “Jadi … hari ini ke mana?”Cassie memekik kecil. “Perugia!”Charles mengerjap. “Perugia, pusat cokelat itu?”Cassie mengangguk bersemangat. “Betul! Dan universitas tertua di sana. Kita bakal jalan kaki k
Salju turun perlahan di luar jendela hotel. Bintik-bintik putih beterbangan di udara, memantul cahaya lampu jalan yang kuning keemasan. Di dalam kamar, suasana hangat tercipta oleh cahaya lampu temaram dan aroma kayu manis samar dari vin brule yang masih tersisa di gelas di meja kecil.Cassie berdiri di depan jendela, memandang keluar. Wajahnya penuh takjub. Dia masih mengenakan sweater tebal berwarna krem, rambut panjangnya tergerai menutupi bahu. Charles baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya sedikit basah, mengenakan sweater rajut abu-abu. Dia memperhatikan istrinya diam-diam.“Cassie,” panggil Charles dengan suara rendah.Cassie menoleh, senyum lebar langsung mekar di wajahnya. “Hey, ganteng.”Charles berjalan mendekat. “Kamu kelihatan cantik sekali berdiri di situ, dengan salju di belakangmu.”Cassie tertawa pelan. “Aku kelihatan seperti es krim vanilla di salju, ya?”Charles mengerutkan kening dramatis. “Tentu saja tidak. Kamu lebih manis dari jenis es krim apa pun.”Cass
Pagi yang hangat.Cahaya matahari mulai menembus tirai tipis kamar mereka di Lecce. Cassie terbangun lebih dulu, menatap Charles yang masih tertidur pulas, bibir sedikit terbuka, rambutnya acak. Cassie terkikik kecil.“Charles bangun, Darling. Kita mau ke Trento hari ini,” bisik Cassie sambil mengusap pipi suaminya.Charles menggumam. “Trento … Alpen … pegunungan, dingin rasanya.”Cassie tertawa pelan. “Kamu pasti akan suka. Trento kota cantik, seperti di negeri dongeng. Ada kastil, Alpen, dan strudel.”Charles membuka sebelah matanya. “Ada strudel? Okay, aku ikut.”Cassie mengangguk. “Tentu saja ada strudel. Kita kan mau ke daerah yang dekat sama Austria.”Charles menguap panjang. “Baiklah. Demi strudel, aku bangun.”Cassie mencubit pinggang Charles. “Bukan cuma strudel, Sayang. Pegunungan Alpen itu luar biasa. Udara dingin, salju di puncak, dan Kota Tua Trento penuh warna pastel.”Charles mengusap wajahnya. “Baik, baik. Aku pasrah.”Mereka naik kereta pagi, menempuh perjalanan panja
Keesokan harinya.Mentari Modena mulai mengintip malu-malu di balik tirai jendela kamar hotel. Suasana kamar masih terasa hangat, sisa keakraban semalam. Cassie terbangun duluan, rambutnya sedikit acak, masih mengenakan tanktop tipis. Dia menatap Charles yang tertidur lelap, satu tangan masih melingkar di pinggangnya.Cassie tersenyum, lalu membelai rambut suaminya. “Hey, Baby bangun.”Charles menggumam, matanya setengah terbuka. “Cassie … apa masih gelap?”Cassie tertawa pelan. “Charles, sekarang sudah jam tujuh. Kita harus siap-siap ke Lecce.”Charles mengerang. “Lecce … Florence of the South, katanya.”Cassie menepuk dadanya pelan. “Betul. Aku tidak mau melewatkan kota itu. Baroque architecture, Baby!”Charles terkekeh, masih setengah ngantuk. “Aku butuh baroque coffee.”Cassie mendaratkan ciuman cepat di bibir Charles. “Nanti kita cari espresso. Cepat mandi.”Charles menatap Cassie. “Mandi bareng?” tanyanya dengan nada nakal.Cassie pura-pura melotot. “Charles! Kita bisa ketinggal







