Home / Romansa / GODAAN SANG PROFESOR / 35. Romantisme Yang Tak Berkesudahan

Share

35. Romantisme Yang Tak Berkesudahan

last update publish date: 2026-09-28 23:53:40

Pagi di Perugia.

Matahari musim panas menyelinap ke jendela kamar hotel mereka di Perugia. Cassie masih terlelap, berbalut selimut tipis. Charles terbangun lebih dulu. Dia menatap wajah istrinya lama sekali, seolah tak pernah bosan.

Charles membelai pipi istrinya. “Bagaimana mungkin kamu tetap cantik bahkan saat tidur?” gumamnya pelan.

Cassie membuka matanya setengah. “Karena aku punya suami yang selalu bilang aku cantik,” balasnya, masih malas-malasan.

Charles tersenyum. “Bangun, sleepyhead.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • GODAAN SANG PROFESOR   36. Menutup Hari Dengan Pelukan Hangat

    Keesokan harinya, pagi yang cerah di Taormina.Sinar matahari musim panas menembus tirai tipis kamar hotel mereka. Suara burung camar dan aroma laut menyambut pagi yang baru. Charles masih tergolek di tempat tidur, matanya belum sepenuhnya terbuka, sementara Cassie sudah mengenakan sundress kuning dan kacamata hitam di atas kepala.Cassie berdiri di dekat balkon sambil menyeruput kopi.“Bangun, sleepyhead,” serunya sambil membuka tirai sepenuhnya, membiarkan cahaya menerpa wajah Charles.Charles mengerang, lalu menutup wajahnya dengan bantal. “Tolong … mataharinya jahat.”Cassie tertawa. “Bukan matahari yang jahat, kamu saja yang terlalu nyaman di kasur, Darling.”Charles mengintip dari balik bantal. “Tentu. Karena ada aroma kamu di sini.”Cassie pura-pura muak. “Aduh, so sweet baru juga pagi-pagi. Cepat mandi! Kita mau ke pasar!”Charles duduk, mengucek matanya. “Pasar? Kita lagi bulan madu, bukan acara belanja mingguan.”Cassie mendekat dan menarik lengannya. “Justru itu! Kita cari

  • GODAAN SANG PROFESOR   35. Romantisme Yang Tak Berkesudahan

    Pagi di Perugia. Matahari musim panas menyelinap ke jendela kamar hotel mereka di Perugia. Cassie masih terlelap, berbalut selimut tipis. Charles terbangun lebih dulu. Dia menatap wajah istrinya lama sekali, seolah tak pernah bosan.Charles membelai pipi istrinya. “Bagaimana mungkin kamu tetap cantik bahkan saat tidur?” gumamnya pelan.Cassie membuka matanya setengah. “Karena aku punya suami yang selalu bilang aku cantik,” balasnya, masih malas-malasan.Charles tersenyum. “Bangun, sleepyhead. Hari ini kita ke Taormina!”Cassie langsung membuka mata penuh. “Taormina?! Laut! Pantai! Panas!”Charles mengangguk. “Dan gelato.”Cassie menepuk dadanya. “Kamu benar-benar tahu cara membuatku bahagia.”Charles menatapnya penuh cinta. “Aku belajar dari yang terbaik.”Cassie mendekat, mengecup pipi Charles. “Aku cinta kamu.”Charles membalas ciumannya. “Aku juga.”Perjalanan menuju Taormina.Mereka naik kereta menuju Sisilia, lalu berpindah ke mobil sewaan untuk mencapai Taormina. Perjalanan pan

  • GODAAN SANG PROFESOR   34. Kamu Membuat Semuanya Sempurna

    Masih di Trento.Sinar matahari lembut merayap masuk melalui tirai tipis kamar hotel di Trento. Cassie terbangun lebih dulu, mengusap matanya, masih mengenakan kaus panjang abu-abu. Charles terlelap, satu tangan terulur ke arah tempat Cassie semula berbaring.Cassie memandangi wajah suaminya, tersenyum lembut. “Astaga … bahkan waktu tidur, kamu kelihatan tampan sekali,” gumamnya.Charles mengerang pelan, setengah sadar. “Aku dengar itu, Darling,” katanya dengan suara serak.Cassie terkikik. “Good. Supaya kamu ingat kalau kamu memang tampan.”Charles membuka sebelah matanya. “Aku lebih suka kamu bilang aku hebat di ranjang.”Cassie memukul bahunya. “Charles! Kamu memalukan.”Charles tertawa Pelan. “Tapi kamu tetap cinta aku, kan?”Cassie tersenyum. “Selalu.”Charles meregangkan tubuh. “Jadi … hari ini ke mana?”Cassie memekik kecil. “Perugia!”Charles mengerjap. “Perugia, pusat cokelat itu?”Cassie mengangguk bersemangat. “Betul! Dan universitas tertua di sana. Kita bakal jalan kaki k

  • GODAAN SANG PROFESOR   33. Malam Romantis di Trento

    Salju turun perlahan di luar jendela hotel. Bintik-bintik putih beterbangan di udara, memantul cahaya lampu jalan yang kuning keemasan. Di dalam kamar, suasana hangat tercipta oleh cahaya lampu temaram dan aroma kayu manis samar dari vin brule yang masih tersisa di gelas di meja kecil.Cassie berdiri di depan jendela, memandang keluar. Wajahnya penuh takjub. Dia masih mengenakan sweater tebal berwarna krem, rambut panjangnya tergerai menutupi bahu. Charles baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya sedikit basah, mengenakan sweater rajut abu-abu. Dia memperhatikan istrinya diam-diam.“Cassie,” panggil Charles dengan suara rendah.Cassie menoleh, senyum lebar langsung mekar di wajahnya. “Hey, ganteng.”Charles berjalan mendekat. “Kamu kelihatan cantik sekali berdiri di situ, dengan salju di belakangmu.”Cassie tertawa pelan. “Aku kelihatan seperti es krim vanilla di salju, ya?”Charles mengerutkan kening dramatis. “Tentu saja tidak. Kamu lebih manis dari jenis es krim apa pun.”Cass

  • GODAAN SANG PROFESOR   32. Trento dan Pesonanya

    Pagi yang hangat.Cahaya matahari mulai menembus tirai tipis kamar mereka di Lecce. Cassie terbangun lebih dulu, menatap Charles yang masih tertidur pulas, bibir sedikit terbuka, rambutnya acak. Cassie terkikik kecil.“Charles bangun, Darling. Kita mau ke Trento hari ini,” bisik Cassie sambil mengusap pipi suaminya.Charles menggumam. “Trento … Alpen … pegunungan, dingin rasanya.”Cassie tertawa pelan. “Kamu pasti akan suka. Trento kota cantik, seperti di negeri dongeng. Ada kastil, Alpen, dan strudel.”Charles membuka sebelah matanya. “Ada strudel? Okay, aku ikut.”Cassie mengangguk. “Tentu saja ada strudel. Kita kan mau ke daerah yang dekat sama Austria.”Charles menguap panjang. “Baiklah. Demi strudel, aku bangun.”Cassie mencubit pinggang Charles. “Bukan cuma strudel, Sayang. Pegunungan Alpen itu luar biasa. Udara dingin, salju di puncak, dan Kota Tua Trento penuh warna pastel.”Charles mengusap wajahnya. “Baik, baik. Aku pasrah.”Mereka naik kereta pagi, menempuh perjalanan panja

  • GODAAN SANG PROFESOR   31. Perjalanan Ke Lecce

    Keesokan harinya.Mentari Modena mulai mengintip malu-malu di balik tirai jendela kamar hotel. Suasana kamar masih terasa hangat, sisa keakraban semalam. Cassie terbangun duluan, rambutnya sedikit acak, masih mengenakan tanktop tipis. Dia menatap Charles yang tertidur lelap, satu tangan masih melingkar di pinggangnya.Cassie tersenyum, lalu membelai rambut suaminya. “Hey, Baby bangun.”Charles menggumam, matanya setengah terbuka. “Cassie … apa masih gelap?”Cassie tertawa pelan. “Charles, sekarang sudah jam tujuh. Kita harus siap-siap ke Lecce.”Charles mengerang. “Lecce … Florence of the South, katanya.”Cassie menepuk dadanya pelan. “Betul. Aku tidak mau melewatkan kota itu. Baroque architecture, Baby!”Charles terkekeh, masih setengah ngantuk. “Aku butuh baroque coffee.”Cassie mendaratkan ciuman cepat di bibir Charles. “Nanti kita cari espresso. Cepat mandi.”Charles menatap Cassie. “Mandi bareng?” tanyanya dengan nada nakal.Cassie pura-pura melotot. “Charles! Kita bisa ketinggal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status