Home / Mafia / Gadis Kecil Dua Miliar / Hari Pertama Bekerja

Share

Hari Pertama Bekerja

Author: Masdawati
last update Huling Na-update: 2025-10-30 21:35:33

“Cukup mahal. Aku berharap kali ini tidak mengecewakan dan tidak ada kebohongan dari mulutmu lagi Valery. Sekali lagi terjadi seperti sebelumnya, Kau tahu seperti apa hukuman yang akan kau terima kan?” tanya orang dibalik panggilan ponsel itu.

“Aku pastikan tuan tidak kecewa.” Jawab Valery mantap.

“Baiklah, aku transfer sekarang. Dalam satu jam ke depan aku harap kau antarkan bertemu denganku, dandan dia semenarik mungkin” ponsel dimatikan sepihak namun Valery tersenyum bahagia.

Benar saja tidak dalam dua menit, bunyi ponsel Valery berbunyi dan menampilkan nominal bayaran masuk ke Valery, sama dengan yang dia minta. Senyum lebar Valery tidak hilang dari wajah Valery.

“Baiklah. Sepertinya kali ini adalah rezekimu Beatrice. Kau hanya menemani seorang pria kaya raya. Aku berikan uang bayaranmu lima ratus juta sekarang, jika kau menyenangkan hatinya. kau akan mendapatkan insentif lagi” jelas Valery. Mendengar itu Beatrice dan Jhon terkejut. Tidak pernah ada dipikiran mereka untuk memegang uang sebanyak itu.

“Apakah ini benar nyonya?” tanya Jhon memastikan.

“Ambilkan uang dari yang ada di koper kecil itu” perintah Valery kepada asistennya. Dan benar saja saat koper kecil itu dibuka setumpukan uang ada di dalamnya. Mata Jhon berbinar sementara Beatrice terkejut.

“Aku tidak bercanda, sekarang ambillah koper ini, dan bawalah uangnya. Bayarlah hutangmu semuanya, aku rasa ini masih lebih” ucap Valery sambil menyerahkan koper uang itu kepada Jhon.

“Kembali lah Jhon, putrimu tinggalkan disini. Sekarang dia aku tanggung jawabi” Jhon mengangguk dan tanpa mengucapkan apapun, membawa koper uang itu pergi. Beatrice melihat ayahnya keluar hingga Jhon tidak terlihat lagi di ruangan itu.

Valery diam dan menyaksikan kepergian Jhon meninggalkan ruangan itu sambil menggelengkan kepalanya kecil dan pandangannya teralihkan menatap Beatrice, Valery melihat wajah ketakutan dan sedih tersirat di wajah Beatrice

“Ayo. Kita harus siap siap. Kau harus di dandan Beatrice” ucap Valery, Beatrice memutar pandangannya menatap Valery dan mengangguk kecil. Valery dan Beatrice berjalan ke arah ruang dandan.

“ Nanti pria yang akan bersamamu berwajah tua, rambut putih, sudah tua juga. bisa dikatakan kalau dia mungkin usianya diatas ayahmu. Namun dia kaya. Mungkin dengan kau meminta apapun kepadanya, semuanya akan dipenuhi. Karena setiap dia memesan perempuan untuk menemaninya. Perempuan itu selalu meminta lagi dan lagi untuk dipertemukan” Valery mencoba mencairkan suasana dengan mengajak Beatrice bercerita.

“Apa dia jahat? maksudku suka memukul seperti ayah?” tanya Beatrice dengan polosnya. Valery menatap wajah Beatrice dan tersenyum.

“Dia tidak jahat, jika kau menuruti apa yang dia katakan. Dia akan jauh lebih baik” Valery berusaha membuat Beatrice agar tidak terlihat ketakutan dengan pemesannya itu.

Akhirnya mereka tiba di ruang dandan, Beatrice dikenalkan dengan perempuan yang ada disana. Beatrice melihat semua perempuan disana berpakaian kurang bahan.

“Selamat malam semuanya” sapa Beatrice. Sapaan itu dijawab dengan deheman bahkan ada yang memutar matanya malas. Beatrice terdiam saat melihat orang orang disana seakan akan tidak menyukainya.

“Tidak perlu bersifat baik kepada mereka. Mereka hanya iri denganmu” jelas Valery. Beatrice hanya mengangguk mengerti.

“Dandan dia secantik mungkin dalam waktu satu jam ke depan, dan berikan pakaian yang tercantik yang kita punya. Pastikan tidak ada lecet di tubuhnya karena ulah kalian. Kompres memar yang ada diwajahnya.” perintah Valery kepada orang yang ditugaskan mendadan perempuan di ruangan itu. Mendengsr itu Beatrice semakin dibenci oleh perempuan lainnya karena tidak pernah diperlakukan semanis itu oleh Valery.

Setelah satu jam kedepan Beatrice di dandan akhirnya selesai. Valery ada di ruangan itu selama Beatrice di tangani.

“Kenapa dia diperlakukan semanis dan seistimewa itu nyonya?. Dia hanya orang baru dan terlihat seperti gadis desa” tanya salah satu gadis disana yang tidak suka dengan keadaan itu.

“Dia pesanan tamu istimewaku. Bayaran yang fantastis dapat aku terima dari satu orang saja” jawab Valery dengan santai sambil bermain ponsel. Jawaban itu semakin membuat yang lainnya merasa kepanasan dan berbisik dan bahkan ada secara terang terangan mengatakan Beatrice kampungan dan jelek. Valery hanya diam dan menggelengkan kepalanya. Selama itu tidak merusak atau melukai fisik Beatrice, Valery tidak akan marah.

“Selesai nyonya” ucap orang yang memegang Valery. Valery mengalihkan pandangannya dan menatap Beatrice dari atas sampai kebawah. Beatrice menyaksikan Beatrice sangat terlihat cantik menggunakan gaun pendek berwarna hitam membentuk lekukan tubuhnya dan polesan bedak yang tidak terlalu tebal di wajahnya.

“Cantik sekali.” gumam Valery dengan tersenyum bangga. Sementara Beatrice mencoba menurunkan gaun pendek sepaha nya itu karena tidak nyaman.

“Bawa dia kedalam mobilku. aku akan mengantarkannya”. Perintah Valery. Valery dan Beatrice berjalan bersama orang yang mendandan Beatrice ke arah lift dan menuju parkiran.

“Masuk Beatrice” perintah Valery membukakan pintu untuk Beatrice duduk di kursi penumpang.

“Nyonya, tidak adalah pakaian yang lebih tertutup lagi, aku kurang nyaman dengan ini” pinta Beatrice, Karena memang gaun itu pendek dan membentuk lekukan tubuh Beatrice bahkan dada Beatrice terlihat belahannya.

“Itu sudah cantik, aku pastikan pria itu akan betah bersamamu” ucapnya dengan bangga. Beatrice tidak mengucapkan apapun lagi, dan hanya berusaha menutupi bagian atas dan bawahnya selama di dalam mobil.

Hanya perjalanan dua puluh menit membelah kegelapan malam itu menuju rumah yang memesan Beatrice.

“Ayo masuk”. Ajak Valery setelah mereka tiba di rumah mewah.

“Selamat malam tuan, nyonya Valery datang” ucap pengawal rumah yang menuntun Valery dan Beatrice.

“Selamat malam tuan Batara. Ini gadis yang ku katakan tadi” ucap Valery memperkenalkan Beatrice. Batara melihat Beatrice dari atas hingga bawah. Beatrice yang ditatap seperti itu tidak nyaman dan berusaha menutupi dada dan menarik gaunnya ke bawah.

“Silahkan pergi Valery” perintah pria itu membuat Valery tersenyum dan berbeda dengan Beatrice yang ketakutan dan bingung.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Gadis Kecil Dua Miliar    Kurang Percaya

    “Sepertinya penanganan di rumah sakit ini tidak ada benarnya, bagaimana mungkin seseorang yang sudah di tangani dokter yang katanya profesional itu tidak mampu memberikan yang terbaiknya, yang ada anak itu semakin parah. Dimana keahlian mereka?” marah Maximian yang berada di luar ruangan itu, sambil mendaratkan beberapa pukulan di dinding. Tiffani bersembunyi di balik tubuh Beatrice, sementara Deon hanya berdiri sambil menatap pintu ruangan Helen di rawat, seakan akan tidak ingin mengalihkan pandangannya dari pintu itu sampai pintu itu terbuka. Beatrice mencoba menenangkan Tiffani yang berada dibelakang Beatrice. Gage menyadari itu lalu mendekat ke arah Maximian. “Tuan, sepertinya salah satu anak itu takut melihat tuan seperti itu, kontrol emosimu tuan,” bisik Gage, Maximian tersadar dan melihat ke arah Tiffani yang ketakutan. “Ah maafkan paman, Fani. Paman tidak mampu mengendalikan emosi paman,” ucap Maximian sambil menurunkan tubuhnya sambil merentangkan tangannya. “Sepertinya

  • Gadis Kecil Dua Miliar    Tidak Mendapatkan Restu

    “Aku mendengar kau sudah memiliki anak dari seorang gadis malam.” Ucap Graciella istri dari Robert, saat Maximian menemui kakeknya di rumah saat mendengar kakeknya sudah sadarkan diri. “Ini pasti ibu yang memberitahu,” gumam Maximian kecil. “Kau jauhi wanita itu, dia hukan wanita yang baik baik. Bukankah ibumu sudah mengenalkanmu dengan Jessie yang jelas jelas perempuan baik baik?” ucap Graciella. Robert hanya diam menatap plafon kamarnya dengan tatapan kosong. “Aku kesini hanya untuk menemui kakek, bukan untuk mendengarkan omongan yang tidak penting,” Ucap Maximian. Graciella terkejut, begitu juga dengan Robert mengalihkan pandangannya menatap cucunya yang duduk di kursi sebelah kasurnya itu. “Sejak kapan kau melawan seperti ini Maximian?” ucap Robert dengan suara dinginnya. Graciella menggelngkan kepalanya. “Aku memiliki anak dengan perempuan itu,” mendengar itu Robert semakin terkejut. “Bagaimana mungkin kau sangat yakin jika itu anakmu. Sementara dia hanya wanita malam yang

  • Gadis Kecil Dua Miliar    Curiga

    “Selamat pagi paman,” sapa Tiffani yang sejak kapan berdiri disamping sofa besar Maximian tidur. “Ah iya pagi Fani, sudah lama berdiri disana?” tanyanya. Tiffani mengangguk dengan polosnya, Maximian melirik sekilas ke arah Beatrice yang sedang memberikan makan Helen. “Kata ibu paman sedang tidak enak badan, itu yang membuat Tiffani tidak membangunkan paman. Takut membuat paman tidak nyaman tidur dan membuat paman semakan sakit.” Maximian menggelengkan kepalanya kecil, melihat sifat manis Tiffani kepadanya. “Terima kasih, Beatrice,” ucap Maximian dengan tulus. “Kau tiba tiba tidak sadarkan diri semalam, dan aku tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa, dan aku meminta salah satu keluarga pasien yang lewat semalam dari depan pintu kamar ini, dan dia menggendong mu untuk masuk di dalam.” Maximian mengangguk mengerti. “Baiklah, ini sudah pagi, tidak baik jika kau berada di ruangan ini berlama lama. Akan menggiring isu yang tidak baik. Aku sudah menghubungi Gage untuk menjemp

  • Gadis Kecil Dua Miliar    Dia wanita baik

    “Kenapa kau muncul setelah apa yang dijalani Beatrice selama ini?” tanya Thomas dengan suara dingin menatap Maximian. “Kau tidak ada hak untuk tahu banyak tentangku dan Beatrice,” tegas Maximian. Pandangannya mengunci mata Thomas yang terlihat lelah itu saat melewati perjalanan yang cukup panjang setelah mendengar Helen sakit, dan menjaga tidur Helen agar tetap nyaman itu. “Dia sudah cerita kepadaku, kalau kalian tidak memiliki hubungan apa apa. Dan bahkan kau yang menegaskan kepadanya untuk tidak memunculkan dirinya di depanmu setelah malam kejadian itu terjadi. Bukankah begitu?” Mendengar itu, perasaan Maximian semakin panas. “Tuan Maximian, aku rasa tuan bisa mencari bahkan banyak wanita yang jauh lebih sempurna yang tuan bisa dapatkan diluar sana. Jangan menganggu Beatrice lagi. Aku akan menjamin mereka dan ketiga anaknya.” Maximian semakin panas dan menarik kerah kemeja Thomas. Namun Thomas tersenyum dan menatap teduh mata Maximian. “Untuk apa kau mengejar wanita malam yang

  • Gadis Kecil Dua Miliar    Mereka tidak mengenalmu

    Maximian parkirkan mobilnya, lalu masuk ke dalam rumah milik kakeknya dan menemui kakeknya yang sedang rebahan di kasur dan selang infus terhubung di tangannya. Maximian sudah paham betul apa yang akan didengarnya di dalam rumah itu. Dan benar saja, Maximian melangkah dan tiba di ruang tamu dimana semua satu keluarga berkumpul, Ariana menatapnya dengan tatapan tidak enak. Maximian mengabaikan itu. Maximian hendak melanjutkan langkahnya menuju kamar kakeknya namun suara ibunya membuatnya berhenti sebentar. “Ternyata kau ingat kalau kau masih memiliki keluarga, Maximian!” tekan Ariana. Maximian menarik nafas dan memandang ibunya sebentar. “Aku harap ibu jangan membuatku semakin menjauh dari keluarga ini,” mendengar itu Ariana merasa sakit hati karena ucapan putra satu satunya itu. “Kau mengatakan seperti itu kepada ibu, Maximian?” tatapan Ariana berubah menjadi sendu. “Aku datang kesini karena hanya ingin melihat keadaan kakek saja, aku tahu kalian juga berkumpul disini bukan sema

  • Gadis Kecil Dua Miliar    Sakit

    Maximian menatap Beatrice dengan tatapan yang cukup dalam, bahkan Beatrice menyadari tatapan itu, namun seberusaha mungkin dia menyembunyikan kegugupan dengan mengajak mengobrol Deon dan Fani. ‘Maximian hanya diam menatap Beatrice dan kedua ketiga anaknya itu secara bergantian. Maximian tidak ingin mengganggu tidur Helen yang di brankar itu. Pikiran Maximian berperang “Kenapa tuan menatapku seperti itu? Apa tuan merasa menyesal membawa putriku ke rumah sakit tuan?” tanya Beatrice karena mulai risih dengan pandangan Maximian kepadanya. Maximian yang awalnya di seberang brankar, berjalan mengitari brankar tempat Helen tertidur dan berdiri tepat di depan Beatrice dan kedua anaknya itu. “Maafkan aku,” Maximian menundukkan kepalanya, air matanya menetes tanpa sadar. “Kenapa paman meminta maaf, paman tidak bersalah. Harusnya kami berterima kasih karena paman membantu membawa adikku ke rumah sakit,” ucap Fani. “Tiffani, kecilkan suaramu yang seperti toa itu, itu akan membuat

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status