MasukKami berlima sedang bergurau di ruang laundry. Semua sudah kelar dengan tugas lapangan masing-masing di penginapan. Sisa waktu sepuluh menit dari jam pulang kami gunakan bersantai. Bermain tebakan adalah salah satu media pelepas lelah bagi para pekerja. Bos Hendrawan tidak pernah masalah dengan ini. Kami pernah terciduk begini tidak hanya satu kali.
“Eh, kalen coba tebak. Yang paling cepet bakal dapat doorprize,” ucapku setelah mereka tampak diam dan kosong ide. Mulut kami bahkan sudah sempat mengatup sekian detik. Kini mereka sedang antusias memandangku. “Gini, kan … umurku sekarang 21 tahun. Umur Dina tuh semisal setengahnya umurku. Misal 30 tahun mendatang, umurku dan umur Dina, berapa?!” tanyaku sambil menahan tawa. Dahi mereka serta merta berkerut merut berpikir. “Umurmu 51 tahun lah, Sha!” jerit Dina bersemangat. Merasa bangga menyahut. Sedang yang lain menatap masam dan tak yakin. “Lah, Din. Kita sudah tahu jika umur Shaqilah 30 tahun mendatang adalah 51 tahun! Sekalian jawab dong, usia kamu tuh berapa, Din?!” Rindi yang bertanya. “Ya ampuuun, pake nanya? Jelas umurku tuh setengahnya umur Shaqilah … 51 tahun dibagi dua, kan? Jadi, kala umur Shaqilah 51 tahun,umurku 25 setengah tahunlah!” ucap Dina keras dan yakin. Rindi seketika mengeluskan tangan ke dada. Sambil beristighfar banyak kali. “Napa gitu, Rin?! Kayak nyindir banget, ekspresimu? Kalo iri sama otak cerdasku ya bilang aja, dong!” Dina memprotes dengat raut wajah masamnya. “Ha … ha … ha …! Aku bukan maksud nyindir. Tapi protes dengan cara kamu. Ngitung usia masak gituh?!” Rindi masih meringis tak tahan. “Lah … so, eta terangkanlah!” ucap Dina tak sabaran. “Yang punya tebakan tuh yang wajib jawab,” ucap Nola. Teman sekamarku yang tadinya cuma senyum, kini nyumbang usul. “Gini ya … jika usiaku 21 tahun, usia Dina setengahku, kan 10 setengah tahun tuh. Jadi, aku dan Dina terpaut sekian tahun. Kala usiaku 51 tahun, usia Dina berapa? Ya 51 tahun diambil 10 setengah tahun, kan? Jadi, 40 setengah tahun … bener, nggak?!” terangku. “Eh …?!” Dina ternganga. “Ha … ha … ha …! Iya, bener!” Rindi, Nola dan satu lagi temanku, Lena, tertawa mengakui dengan benar. Kami fokus memandang Dina yang masih saja keheranan dan bingung. “Hem!” Suara dehem! Kami bersamaan menoleh ke pintu. “Eh, Pak …,” sapa kami hampir bersamaan. Satu pria gagah yang kami semua tahu adalah putra Pak Hendrawan, alias Idris, telah berdiri di pintu memandang kami. Kehadiran yang bak jelangkung itu tentu mencengangkan. Terlebih kami tidak pernah saling tegur sapa dan kenal. Kecuali diriku, yang siang tadi sudah berhadapan dengan hanya berduaan. Tapi, bukan bermesraan …. “Bising sekali di sini. Tawa kalian yang seperti kuntilanak itu bahkan sudah menembus ke pluto dan neptunus!” hardiknya. “He … he … he …,” sambut Dina spontan dengan kekehnya. Seketika kembali diam kala sadar Idris menatapnya dengan sangat sinis. Nyalang seperti akan meremukkan semua tulang. Ucapannya terdengar humor tetapi pandangannya horor! “Dengar baik-baik. Jaga kelakuan kalian, bos kalian yang baru saja mengalamai kecelakaan jalan raya kian kritis. Aku akan melihatnya. Sebagai pekerja, sudah sepatutnya kalian berdoa untuk keselamatannya! Bukan tertawa liar seperti tadi!” “Kau ….” Idris menuding lurus padaku. Glek! Kian tegang rasanya. Bahkan aura tidak baik ini juga merasuk pada teman-teman yang lain. Kami berdiri kaku dengan menatap waswas pada Idris. Terlebih-lebih diriku. “Kau telah mematah ranting anggrekku. Kedatangan orang-orang dari walikota terpaksa kutunda sebab ulahmu. Ternyata kelakuanmu bahkan jadi pertanda buruk untuk musibah yang menimpa ayahku.” “Kau harus tanggung jawab. Jangan berani pulang apalagi tidur dan santai. Lap sepanjang malam daun di taman. Jangan berusaha berbuat licik. Kau akan tanggung akibatnya.” “Kalian kurasa tidak terlalu bodoh untuk membantuku mengawasi pekerjaannya. Siapa pun yang tidak di pihakku dan menolongnya, angkat kaki dari penginpan tanpa sedikit pun pesangon dan gaji bulan ini. Semua hak kalian akan kubuat zonk!” Idris menatap tajam kami sebelum badan tegapnya berbalik. Oh, Tuhan. Lelaki yang kini melangkah pergi itu tidak main-main dengan hukumannya. Malam ini aku tidak akan tidur hingga … hingga kapan, bahkan aku tidak tahu. “Sha, apa yang sudah kamu lakukan?” Nola mendekat dan bertanya serius padaku. Secara singkat, aku ceritakan naasku, tentu kubilang jika itu tidak mungkin dengan sengaja. “Gawat, kurasa kamu akan dihukum dengan lama. Bahkan kami dengar, pacarnya saja diputus saat menyenggol pot dan anggrek di meja. Padahal tidak sengaja,” ucap Nola iba. Gadis itu bekerja jauh lebih lama dariku di penginapan. Hingga jam kerjanya pun mendapat banyak keringanan. “Tapi waktu itu mereka emang habis bertengkar. Pacarnya ketahuan selingkuh. Pak Idrisnya ngamuk dan pacarnya diputus. Jadi emang sengaja tuh si cewek bantingin pot yang sebelumnya anteng aja di meja.” ucap Lena yang dari tadi diam dan hanya ikutan ketawa saja. Lena keberadaannya lebih dedengkot lagi di penginapan. Aku bisa bernapas lega akan adanya narasumber yang jauh lebih valid ini. Seenggaknya, hukumanku tidak lama dan tidak mungkin melebihi dua puluh empat jam. Bisa drop ragaku jika tidak tidur selama itu. Idris pun tidak akan berbuat kelewatan jika aku pun tidak keterlaluan di matanya. Bukankah sudah kubilang bahwa aku tak sengaja? “Sha …!” panggil Nola keras sambil mencolek bahuku. “Ada apa, Nol?!” sahutku kasar. Aku paling sebel kalo dipanggil sambil ditabok. Dicolek pun tak suka. “Malam ini di asrama ada audit. Semua dilihat. Barang pribadi di kamar pun! Setahun sekali emang kayak gini. Resiko anak asrama, meski sudah jadi pekerja!” ucap Nola bermimik serius. “Almari?” tanyaku spontan sebab waswas. “Mereka ada kunci duplikat,” ucap Nola sambil bergedik bahu. Nyess! Merinding bulu roma! Hati berdebar kuat dan jantung laju berdetak seketika. Akan tetapi ini bukan cinta. Justru serasa putus asmara saat masih sangat sayang-sayangnya. Aku panik luar binasa! Menyesal mengambil fasilitas tinggal di asrama. Ya beginilah nasibnya, tetapi tak kusangka akan dipantau sedemikian rupa! Ah, ini sungguh terlalu. Tidak sadar kuraba muka dadaku. Sedikit lega, ingat jika bra milik gadis di depanku sudah aku amankan tak sengaja! 🍒Dalam perjalanan menuju penginapan, sudah aku sampaikan pada atasan tentang rencanaku. Membuka total seluruh kamar di penginapan dengan harga dan pelayanan spesial. Yakni dengan penambahan servis pijat di sepuluh kamar istimewa.“Kamu atur-atur bagaimana baiknya saja, Shaqilah …,” sambut Leonard saat kubilang tentang ini.“Oke, Pak Leon. Tetapi tolong, kurasa tidak perlu mengatakan hal ini pada Tuan Naoto. Aku takut dia pindah ke kamar baru dan …,” ucapku menggantung. “Meminta servis pijat dan …,” sahut Leonard yang juga sengaja menggantung. Kami saling pandang dan tersenyum. Kemudian sama-sama terbahak tak lagi ditahan.“Aku tahu ketakutanmu, Sha. Andai bisa, sudah kutunjuk surat kleptomu pada Tuan Naoto. Agar tak perlu lagi kamu datang ke kamarnya. Kali ini aku sungguh tidak paham dengan jalan pikiran Idris.” Leonard sambil menggelengkan kepala lebih dari satu kali.“Terima kasih simpatimu, Pak Leon. Menurutmu, aku harus bagaimana, ingin sekali membuat Pak Idris menyukaiku, dia it
Idris baru bangun setelah gorden di jendela kamar kusingkap sesukaku. Dia tidak melarang dan justru bangun karena silau. Mengkin sudah sadar jika subuh hampir lewat. Tanpa bicara dia segera bangun dan melesat ke dalam kamar mandi sambil menyambar handuk. Napasku menghempas, kupikir dia akan menghardik, ternyata tidak. Tidak lama, Idris keluar kamar mandi dengan santai sambil menggosok rambut yang mungkin baru dikeramas dengan handuk yang tadi disambar. Tampak terkejut dengan adanya aku yang berdiri tegak memandang. “Kau masih di kamarku?!” ucapnya keras sambil memakai handuk itu ke pinggang. Keseksia Idris dengan hanya boxer pun terhalang. Tentu saja mata genit ini tidak bisa lagi memandang. “Ingin bilang kalo sarapan sudah siap. Juga … itu baju kerjamu sudah aku siapkan. Maaf, ya, aku sudah lancang. Tapi itu usahaku untuk mencuri hatimu.” Entah dengar atau tidak ucapanku. Sebab Idris sedang sibuk memakai sarung dan baju. Kemudian membentang sajadah di lantai. Dia akan mengejar wa
Setelah diam sesaat. Aku mulai berani menanggapi tak kalah sungguh -sungguh. “Berjanjilah untuk meninggalkan Vena. Aku juga akan berusaha untuk benar-benar tidak klepto lagi.” Aku juga benar-benar berjanji, keinginan untuk mendapatkan Idris membuncah. Andai barang, mungkin sudah kubawa lari. Namun, memeluk paksa begini sementara cukup melipur inginku. “Untuk itu, sebaiknya tidak usah kau katakan. Buktikan dengan perbuatan baikmu yang tidak lagi memalukan. Suami mana yang sudi dengan istri penuh aib sepertimu? Untuk Vena, jangan sebut-sebut lagi. Dia adalah urusanku sendiri. Kau ini paham apa tidak, Dias?” Mendengar ini, pasti sangat menyakitkan bagi wanita lain. Tapi tidak kurasa, ucapan Idris sering gagal menyakiti perasaanku. Dalam benakku, dia seperti ayah yang sedang memberikan nasihati. Kuanggap Idris menyimpan perasaan sayang dan perhatian padaku. Hingga tidak begitu terasa sakit hati ini. “Iya, aku paham, Pak Idris. Jadi, Anda berniat memiliki dua istri? Maksudku,
Hatiku berdebar keras. Jantungku kencang berdetak. Merasa cemas dan menggebu. Apa ini karena sifat burikku yang timbul seketika. Ingin aku memiliki Idris jiwa raga. Bukan besok atau kapan saja dengan waktu yang diundur-undur. Namun, sungguh ini sangat meresahkan, rasanya ingin kumiliki Idris sekarang juga! Tanpa ingin ditunda-tunda! “Apa yang kamu lakukan, Dias …?” tanya Idris terdengar tajam dan … mungkin terkejut. Aku telah merapat dan memeluk erat punggungnya sangat cepat. Membenamkan wajahku di ketiak. Posisi Idris sedang mengangkat tangan dan menjadikan bantalan wajah. “Aku … aku tiba-tiba ingin mencurimu!” ucapku engah kurang oqsigen. Tetapi Idris sangat wangi, dengan aroma khas yang samar. “Apa maksudmu?” Idris bertanya dingin. “Aku serahkan jiwa raga padamu, Pak Idris. Jadikan aku istrimu lahir batin yang sesungguhnya. Bukan saja demi warisan dan harta. Tinggalkan saja Bu Vena, aku siap menggantikan.” Aku memang bicara sungguh-sungguh. Bahkan air mata ini berlinang
“Asal kau tahu, Dias. Kak Indria sudah pulang, kau bisa kembali ke kamarmu jika ingin …,” ucap Idris sambil menjauh. “Tidak, aku tidak ingin kembali ke kamarku. Maaf, aku menolak tawaran baikmu, Pak Idris,” ucapku dengan rasa debar dan tegang yang susah payah kupendam. “Bagaimana jika sendiri-sendiri saja? Anggap saja tidak pernah ada apa pun antara aku dan kau …,” ucap Idris dengan solusinya. Oh, gampang sekali pikiran dia, ya. Menang sendiri, kan. Rasanya seperti tidak rela dia mendapat keinginannya, sedang aku dicampak begitu saja. Pastilah aku yang merugi, kan! Janda sebelum mencoba … gentar juga rasanya! “Tidak, Pak Idris. Aku akan menuntut tanggung jawabmu. Menikah bukan hanya di bibir. Tetapi lahir dan batin. Aku tidak ingin menjadi janda berencana!” seruku mati-matian. Yah, melawan rasa malu sendiri. “Janda berencana?” Idris telah kembali mendekat dan kini terheran. “Iya. Pak Idris telah menyusun kejahatan berencana. Akan membuangku demi untuk bersatu dengan s
Debaran di dadaku terasa ambyar saat seseorang mengusik. Kak Indria menepuk bahuku. “Sana, masuk. Ikutlah suamimu ke dalam kamar!” Ia bahkan juga mendorong punggung agar aku jalan maju. Jantungku berdetak kencang. "Kak, aku ...," ucapku serba salah. Rasanya sangat malu. Idris tidak peduli padaku, tapi aku harus menawarkan diri padanya. Begitu? "Dias. Kamu harus yakin dan percaya diri. Ingat, kamu cantik, lebih muda, lebih menarik, dan lebih segar daripada wanita simpanan Idris. Modalmu sudah sangat totalitas." Indria membujukku. Ucapannya memang membuatku merasa jadi sedikit lebih kuat. Dalam dada terasa lebih lapang. “Baiklah, Kak …,” sahutku kemudian dan rasanya seperti linglung. Apalagi Idris yang hanya mematung di pintu kamar dengan memandangku. Ia bagai patung, tidak melambai atau sekadar basa-basi mengundangku masuk kamar bersamanya. Ah, pengantin baru macam apa ini? Kenapa aku tidak merasa bahagia sedikit pun? Indahnya jadi pengantin baru setelah pernikahan







