로그인Teman-temanku sudah pada pulang dengan rasa iba. Berpikir jika raut sedih dan gelisah di wajahku akibat kerja rodi atas hukuman Idris yang keterlaluan terhadapku. Sebagai kompensasi dari tangkai bunga anggreknya yang patah. Membuat rombongan dari tim walikota gagal dalam lawatannya malam ini.
Padahal, gelisah ini sebab adanya sidak dan audit mendadak di asrama. Petugas dan penanggung jawab asrama akan memeriksa tiap kamar dan almari malam ini. Merilis andai di antara kami menyimpan narkotika, obat-obatan daftar hitam, bahkan juga senjata tajam yang dilarang. Bocoran informasi akan operasi ini harusnya membuatku siaga. Tetapi apa daya, putra si bos mendapati kesalahanku dan kini menahanku untuk dihukumnya kembali semalaman. Hanya pasrah dan mengharap pembelaan dariNya sajalah harapanku. Di taman inilah sekarang. Sedang mengelus daun pisang-pisangan dengan kapas dan cairan khususnya. Pak Idris telah meminta orang untuk mengantar tangga serta sebotol besar obat oles khusus untuk daun tanaman hias. Membuatnya mengkilap indah, anti serangga, dan anti segala jamur. Serta menutrisi daun secara langsung dan bereaksi cukup cepat. Hingga pukul dua belas tengah malam, raga ini tidak sanggup lagi terjaga. Segera aku tinggalkan taman dan pergi ke restoran yang kami sebut kantin di penginapan. Sebab larut malam, hanya kupesan kopi hitam dan burger daging pedas yang sama persis dengan yang dibeli Dina hari itu. Aku tidak lupa jika rasanya amat lezat terpercaya. “Tumben beli burger, Sha! Eh, bukankah kamu shift pagi?!” Bang Beni bertanya sambil mencatat pesananku. Lekas kurangkai kata menjawab pertanyaannya. “Tiba-tiba ingin ngerasa burger yang dibuat koki sini, Bang. Bos yang nyuruh aku dobel shift,” ujarku. Biasanya, burger memang tidak kusuka. Tetapi ini enak! “Bos siapa, Sha?!” Bang Beni bertanya dengan mata melotot hingga akan terlempar keluar kedua bola mata lebarnya. “Eh, anu … Pak Idris, Bang! Anaknya Pak Hendrawan,” sahutku. “Soalnya itu Sha … kita sama atasan diminta tutup setelah makan pagi hingga menjelang makan siang. Takziah …!” “Apa, Bang Ben? Sampek tutup … emang siapa yang ninggoy?” Kutahan napasku sejenak. “Loh, kamu belum tahu? Bos besar, Sha! Pak Hendrawan kritis hebat tadi sore, akhirnya meninggal barusan,” jelas Bang Beni. "Oh ...," keluhku hampa. Kusebut nama-Nya perlahan. Nyess … lemess … sedih, serasa masih barusan kusapa Pak Hendrawan. Teringat terakhir bertatap muka saat saat akan pergi hari itu, bos penginapan berpamitan pada kami. Bahkan sempat mengusap kepalaku dua kali. Beliau berpesan agar bersemangat, bersikap baik-baik, dan selalu jujur dalam bekerja. Padahal biasanya tidak pernah. Pergi ya pergi saja. Tau-tau sudah kembali lagi ke penginapan. Namun, tidak kali ini, tiba-tiba mengalami kecelakaan dan koma. Sekarang, hanya kabar dukanya yang datang. Rasanya sungguh haru, nyesek, sedih ... tak bisa dikata lagi! Meski tidak dekat dan diri tak berarti, Pak Hendrawan adalah bos kami yang acapkali berbagi rezeki. Beliau tidak pelit dan dermawan luar biasa. Sering melihatku langsung melakukan pekerjaan. Rasanya suka meski beliau tidak sekali pun berkata-kata. Merasa diperhatikan tanpa dicari adanya kesalahanku. Seperti sangat perhatian terhadapku. Kami sering mendapat hadiah dan bonus tiba-tiba yang mengejutkan. Entah amplop berisi lembar-lembar seratusan, vocher belanja … atau kupon makan gratis. Oh, Pak Hendrawan, nasibmu malang nian! Demi kebaikan bos penginapan yang wajib dikenang, kini kulakukan sungguh-sungguh apa yang sudah diperintahkan Idris padaku. Juga rapal doa dan ayat tidak henti aku persembahkan pada nama almarhum pemilik penginapan. Rasanya jadi simpati dan bela sungkawa pada Idris, sang putra. Lelaki yang juga tidak kutahu jelas bagaimana wataknya. Entah sebaik mendiang ayahnya atau justru sebaliknya. Sekadar aku ikhlaskan diri bekerja sebagaimana janjiku ke dia petang tadi. “Sha … Shaqilah!” Namaku seperti dipanggil dari jauh. Saat kukedip -kedipkan mata, sudah ada Dina di hadapanku. Sambil mengguncang keras bahuku. “Eh, Dina …,” sambutku tergagap. Kepalaku sangat pening rasanya. Ternyata telah ketiduran di atas meja taman. Dengan satu pot kemuning yang daunnya sangat kecil, pot terakhir yang mendapat gilir elusanku. Tapi tertidur hingga Dina datang untuk kerja di shift pagi. “Din, hasil audit semalam bagaimana?” tanyaku antusias. Dadadaku berdebar kencang. Seketika kepalaku jadi enteng, mataku terasa cling, dan terang. Resah, waswas, gelisah, dan takutku semalaman, akan terjawab pagi ini. “Bisa banget kamu mecahin rekor di asrama, Sha …,” ucap Dina dengan bola mata membesar memandangku. Tapi bukan sorot jijik atau ilfil. Melainkan geli dan heran. “Maksud kamu, Din?” Berdebar keras jantungku. “Rekor maling sabun hotel,” jawab Dina sambil geleng-geleng menatapku. “Emang ada lagi yang doyan nilep sabun dari hotel selainku?” tanyaku berusaha tenang dan santai. Padahal dada ini berdebum riuh dan bising. “Hampir semua … contohnya aku sendiri. Tapi hanya tujuh biji saja yang kusimpan, nggak seperti kamu,” ucap Dina dengan ekspresi heran memandangku. “Mereka menghitung?” Kejarku penasaran. “Ya, punyamu paling unggul. Tiga lusin. Bushet, rajin nyolong banget kamu, Sha! Mereka sudah bikin rekapan resmi dan akan kirim laporan ke manajemen asrama serta ke pihak penginapan,” jelas Dina. Oh, alamak! Terancam lagi diriku! Masalah besar menunggu. Datanglah dan tolong aku, Ayah! Pak Idris … apa kita akan berjumpa lagi? Kamu pasti kian murka dengan pekerjamu yang hina dina ini. “Lalu, apalagi temuan para petugas asrama, Din?” tanyaku berusaha wajar. Menindas rasa sesak dan resah. “Nggak tau lagi, Sha. Mereka tiba-tiba dapat kabar duka. Salah satu penyandang dana di asrama meninggal. Eh, ternyata bos kita, Pak Hendrawan,” ucap Dina juga tampak sedih. Meski sedih, kuhempas juga napas lega. Meski ada berita duka, setidaknya berkurang beban jiwa. Audit sepertinya ditunda dan tidak jadi menyeluruh. Alhasil dewi keberuntungan berdiri nyaman di pundakku. Untuk sabun penginapan, aku memang suka. Sebab dari segi size, aroma, nama, dan tekstur, tidak ada duanya di mana-mana. Penginapan mendatangkannya dari Italia. Lelah hayati dan ragawi rasanya. Padahal buat apa … hanya menumpuk dalam loker belakang asrama. Demi hasrat dan kepuasan batin saat berhasil membawanya. Kini apa yang kurasa … tentu saja menyesalinya! Seperti biasa, aku mencuri bukan untuk dipakai. Tetapi hanya ingin punya-punyaan. Sabun jatah pengunjung yang seharusnya dikembalikan, tetapi justru gemar kubawa pulang. Padahal, bukan diriku saja yang demikian. Rekan kerja senior pun begitu. Aku hanya meniru. Tetapi yang mencengangkan, ternyata penilep terbanyak adalah aku orangnya! 🍒Aku yang semula rebahan di sofa teras, sudah duduk tegak dengan menurunkan kaki. Merasa jika terus merebah, sikapku akan terlihat tidak sopan di depan Indria, kakak ipar perempuanku yang gagah. Ia yang tadi terlihat menyeramkan, kini justru menatap iba. Duduk perlahan di kursi seberangku. “Dias, mana Idris?” tanyanya sangat lembut. Aku jadi bingung, mungkin terlihat gugup di matanya. “Emm … kayaknya masih ada kepentingan dengan rekannya, Kak,” jawabku yang merasa ragu sendiri. Pasti lagi-lagi juga tampak sangat bohong di matanya. “Lalu, siapa lelaki di sana?” Indria menunjuk Iskandar yang tadi bermain ponsel, kini lunglai tertidur. Otakku pun sejenak berputar. “Driver temannya, Kak. Jadi, aku diantar olehnya,” ucapku tenang. Aku menjelaskan komplet daripada Kak Indria repot tanya lagi. Sebab pandangannya lekat pada kendaraan pribadi Idris di bagasi. “Terus membiarkanmu pulang sendiri dan sangat lama nunggu di luaran yang banyak angin seperti ini?” Indria tersenyum s
Kesal sekali, siapa penumpang di depan? Berpengaruh amat pada Idris sampai ia tega memintaku berbohong pada Indria. Aku tidak sudi. "Dias, cepat lakukan." Terdengar suara Idris yang tegas. Ia masih berdiri di luar dengan sebagian tubuh masuk kendaraan. Ia lebih membungkuk dan semakin menyodorkan ponsel ke arah wajahku. "Siapa dalam mobil itu, Pak Idris? Vena? Saya tidak mau menelpon Kak Indria," ucapku tanpa tedeng aling-aling. Idris terlihat gusar dan mungkin merasa kesal. Jakun di lehernya tampak naik turun. Ia menatapku dalam. "Aku bisa meninggalkanmu di kamar hotel begitu saja. Tapi aku masih memikirkanmu dan Indria. Lebih baik kau di asrama saja. Paham?" ucapnya lambat. Bisa dibilang lebih lembut. Ia mungkin sedang berusaha membujukku. Tatapannya berubah teduh. Aku tidak terlalu paham. Tetapi hatiku perlahan luruh. Dari kesal menjadi bimbang. "Untuk apa menyuruhku menyetir?" tanyaku meski menduga maksudnya. Pasti soal wanitanya. "Aku ada perlu dengan Vena. Ada yang
Pria dari negeri sakura itu tersenyum tipis. “Selamat pada Tuan Idris dan Shakila …!” Naoto telah menghampiri kami dan kini menyalami. “Terima kasih kembali atas kehadiran Anda, Tuan Naoto.” Idris tersenyum dan menyambut hangat. Ia bersikap ramah, seolah tidak tahu menahu akan masalahku dan Naoto. Mereka bahkan berbincang sejenak tentang bisnis dan gedung milik Naoto yang masih pembangunan. “Semoga bahagia, Shakila san …,” ucap Naoto seperti biasa. “Terima kasih, Tuan Naoto. Semoga cepat menyusul,” ucapku tulus. Pria Jepang turunan Turki itu hanya tersenyum dan tidak mengaminkan. Kemudian berpamitan tanpa banyak basi-basi. Beberapa orang sudah antri di belakangnya untuk terus bersalaman. Keberlaluan Naoto beserta orang-orang yang tidak kukenal, diganti oleh Kak Indria. Sebab sudah tidak lagi ada antri menyalam di ballroom luas ini. Ia pun menghampiri. “Setelah ini, kalian tidak pulang. Ingat Idris, sudah ada kamar spesial pengantin di gedung ini. Jadi, jangan coba-cob
Aku berubah pikiran saat Ayah menatap dan menunggu jawaban. Tiba-tiba aku berubah pikiran. “Aku akan bilang nanti. Setelah Ayah selesai berbicara bersama Idris,” ucapku. Ia tertegun dan kemudian mengangguk. "Baiklah," ucapnya bersedia. Maka aku menurut saat punggungku ditepuk-tepuk agar lekas berdiri. Bersama dengan Adzan ashar berkumandang seakan memanggil. Aku dan Ayah berpisah sejenak di serambi. Beliau akan berbaur dengan golongannya, diriku pun bercampur dengan golonganku. Setelah ini, kami akan kembali bertemu untuk pergi pada lelaki yang ingin menikahiku. Dua puluh lima menit kemudian. Kami pergi dan taksi pun meluncur membawa kami ke lokasi. Idris yang kupikir akan marah dan sinis, ternyata jauh dari bayangan. Pria itu bersikap ramah pada Ayah, juga fokus dan sopan. Sekilas memang bak calon menantu idaman! Keterlambatan kami sama sekali bukan masalah. Namun, lelaki itu seolah terus menghindar dari menatapku. Seperti berusaha jangan sampai kami saling pandang.
“Apa tujuanmu ke darat, Yah?” tanyaku setelah kami puas bercerita banyak hal. Juga tentang kekerabatannya dengan keluarga Pak Hendrawan. Wajah ayahku yang mulai keriput, semakin berkerut merut menatapku. “Kamu akan menikah, ayahmu ini akan jadi walimu,” sahut Ayah tegas. Ternyata benar, ia sudah tahu dengan jelas. “Ayah, ini hanya untuk kepentingan Idris semata-mata. Aku tidak akan merasa bahagia di pernikahan kami nanti.” Wajah Ayah terlihat berubah sedikit pucat. Namun, ia tidak juga membuka mulutnya. “Bagaimana lelaki itu menghubungimu di lautan tentang ini, Yah?” tanyaku lagi dengan tidak sabar. “Idris mengirim email khusus pada kapten kapal kami yang ternyata kenalannya,” ucap Ayah. “Ayah kenapa tidak pernah menghidupkan ponsel? Bukankah sinyal akan ada sewaktu-waktu meski tak menentu?” protesku kesal akan sikapnya yang tidak pernah berubah. Ayah akan hilang seketika saat sudah kembali berlayar. Ponselnya akan mati. “Sebab … ayahmu ini tidak ingin sedih jika di lauta
Naoto terdiam. Andai kami ada hubungan, nasibnya kali ini sama dengan percintaannya waktu lalu. Apa ia pun berpikir seperti itu? “Apa Shakila san tidak suka berteman denganku?” tanyanya dan membuat bingung. Matanya tak berkedip menatap wajahku. Aku menggeleng. “Tidak ada alasan untuk tidak suka berteman denganmu, Tuan Naoto. Anda sukses, berwawasan, tampan, dan baik. Apa yang kurang dari lelaki seperti mu?" Aku terdiam sejenak dan tersenyum demi membesarkan hatinya. "Maaf, Tuan Naoto, saya hanya ingin bebas dari resiko kesalahan saya yang telah mencuri barangmu ….” Dadaku terasa sesak. Menunggu tanggapannya dengan gejolak penuh harap. Benar yang kubilang, aku tidak masalah berteman dengannya, bahkan juga beruntung. Namun, janganlah dengan embel-embal menghukumku. Ini terlihat tidak ada harganya dan murah. “Shaqila san, ini hampir pukul tujuh. Kamu boleh pergi dan mengerjakan tugasmu sendiri. Aku juga akan pergi ke luar kota. Terima kasih datangmu pagi-pagi,” ucap Naoto







