LOGINFaris tidak mengindahkan teriakan Aluna, terus membawanya keluar dari ruangan. Aluna merasa risih dan malu saat melalui para LC dan Ob yang masih bekerja, apalagi katika melihat tatapan para LC yang tadi menindas dan merampoknya, Aluna langsung memejamkan mata, dan menyembunyikan wajah di dada bidang Faris.
“Om, tasku ketinggalan!” Aluna mencoba berontak lagi setelah tiba di luar kafe. Namun, Faris tetap tak mengindahkan teriakannya, terus membawanya ke mobil.
“Tunggu di sini, biar aku ambilkan!” Faris kembali ke dalam kafe dan beberapa saat kemudian keluar lagi dengan membawa tas miliknya. Aluna terus menatap Faris dengan rasa heran dan tidak yakin dengan apa yang baru saja dialaminya.
Faris menoleh menatap Aluna setelah duduk di sampingnya di depan kemudi. Dia perlahan mendekat, membuat jantung Aluna terkesiap. Faris semakin dekat, sampai Aluna terpaksa memejamkan mata erat, mengira pria itu akan berbuat yang aneh-aneh. Namun, setelah sesaat tidak ada yang terjadi, Aluna membuka mata dan ia malu sendiri setelah tahu ternyata Faris hanya meraih sabuk pengaman di sisinya.
“Rumah kamu di mana? Biar kuantar pulang,” ucap Faris setelah selesai memasangkan sabuk pengaman.
“Di ....” Aluna berpikir keras. ‘Aku gak boleh pulang ke rumah, bisa mati aku di tangan Ibu.’
“Ah ... antar ke rumah temanku aja, Om. Aku takut pulang ke rumah.” Faris hanya mengangguk dan segera menyalakan mesin mobilnya setelah Aluna menyebutkan alamat.
Sepanjang perjalanan Aluna terdiam, sekelebat kejadian malam itu terus membayangi, yang seharusnya menjadi selimut bagi mimpi-mimpi perawan, justru mengukir sebuah epilog yang keji. Gadis itu, yang jiwanya baru sebatas kuncup yang malu-malu di ambang mekar, kini meranggas, terkapar oleh sisa-sisa malam yang kelam.
Sekumpulan sesak memekakkan dada, memaksa rinai di mata luruh di pipi. Kesuciannya, yang selama ini ia jaga sebagai harta karun paling rahasia, telah direnggut orang asing, meninggalkan rongga hampa yang berteriak tanpa suara. Ia bukan lagi gadis yang sama. Ia adalah monumen kesedihan yang diam, sebuah lambang kerapuhan yang ditinggalkan oleh takdir yang curang.
Tanpa sadar aluna terisak, menggigit bibir kuat-kuat mencoba menekan sesak yang terus mengekang seluruh rasa dan jiwanya.
Faris menoleh menatapnya. Seberkas rasa bersalah menyerang hatinya. Ia bisa melihat gadis itu bukan wanita liar seperti yang selama ini selalu datang merayunya. Gurat penyesalan yang sangat dalam jelas tergambar di wajahnya. Pria dingin itu memejamkan mata erat sembari mencengkeram stir kuat-kuat, lalu menghela napas berat. Kata-kata pemilik kafe yang tadi ditemuinya setelah keluar dari ruangan memenuhi kepalanya. Ternyata pria itu tidak langsung pergi setelah ia meninggalkan Aluna, melainkan datang menemui pemilik kafe yang merupakan temannya sendiri mengenai gadis yang menerobos masuk ke dalam ruangannya.
“Dia cuma gadis malang yang lagi butuh duit buat beli laptop. Gak usah dipikirinlah.”
Faris kembali menghela napas, melirik Aluna sebentar yang masih larut dalam isak tangisnya.
“Gak usah sedih, semua sudah terjadi.” Faris terdengar agak melembut.
Aluna bukannya berhenti, malah makin terisak. ‘Inikah rasanya menjual tubuh, apakah harga diriku hanya seharga itu, lalu nanti apa?’ batin Aluna merana dalam penyesalan tiada tara.
Faris menghentikan mobilnya, menoleh menatap Aluna dengan dingin. Terlihat jelas rasa tak senang terpancar di sana. Untuk sesaat ia hanya diam dan mengamati gadis mungil itu terus terisak pilu.
”Udah, cukup. Aku gak tahan melihat orang cengeng,” ucap Faris sangat ketus, wajah dingin tak senang semakin tergambar di wajahnya.
Aluna mengatupkan bibirnya, menoleh menatap Faris karena kaget. Manik mata mereka yang sempat bersitatap membuat jantung Aluna berdetak dengan kencang. Perlahan gadis itu menurunkan pandangan, tak berani terus menatap mata indah milik pria tampan nan menggoda di depannya. Ia mengangguk perlahan.
Faris mengangkat tangannya dengan pelan, tetapi diurungkan lagi. keinginannya untuk membujuk dan mengelus kepala Aluna ditahannya dengan sangat kuat, entah malu atau gengsi mempelihatkan sisi lembutnya pada gadis itu. Akhirnya ia hanya bisa mengepalkan tangan dengan kuat. Dia kembali menghela napas panjang, mengalihkan tatapan matanya ke depan, mengangguk pasti lalu kembali menyalakan mesin mobilnya.
Suasana hening karena malam sudah berganti ke dini hari dan kedua orang yang masih sangat asing itu saling diam, terutama Aluna yang berusaha kuat agar tidak mengeluarkan suara isak tangis lagi, meski air matanya sesekali masih jatuh dari pelupuk mata.
Kini mereka telah sampai di depan rumah berlantai tiga yang merupakan kos-kosan milik teman Aluna.
“Maksih ya, Om, udah nganterin aku.” Faris hanya mengangguk tanpa menoleh sedikit pun, membiarkan Aluna turun dan berjalan menuju pekarangan. Setelah merasa Aluna telah menjauh, barulah ia menoleh.
Sementara itu di halaman rumah, Aluna tertegun menatap beberapa pemuda masih nongkrong dengan kaleng minuman di depan mereka. Kakinya seolah enggan melangkah ke dalam.
“Ayo aku antar ke atas!”
Aluna terkejut dan segera menoleh mendengar suara Faris di sampingnya.
“Om?”
Ternyata Faris tidak tega membiarkan gadis itu berjalan sendiri di depan para pemuda yang sepertinya sedang minum.
“Ayo!” Faris menarik tangan Aluna dan membimbingnya ke dalam, hingga ke lantai dua tempat sahabatnya berada.
Aluna segera mengetuk pintu begitu mereka sampai. Agak lama hingga akhirnya pintu terbuka.
“Siapa ya?” Seorang gadis dengan rambut awut-awutan berdiri di balik pintu sambil mengucek mata.
“Hai, Syani. Ini aku Aluna.” Gadis itu menyapa sahabatnya sambil tersenyum.
“Aluna? Kok?” Syani mengerutkan kening, menatap Aluna dan Faris bergantian.
“Aku nginap di sini malam ini, ya,” pinta Aluna sedikit memelas.
“Terus dia?” Syani menunjuk sangsi Faris yang berdiri mematung menatap mereka.
“Oh, dia cuma nganterin aku, gak nginap kok.”
“Ya udah, ayo!”
Aluna lalu menoleh menatap Faris dan tersenyum. “Makasih ya Om, udah nganterin aku. aku masuk dulu ya.”
Faris cuma mengangguk dan terus menatap mereka hingga pintu tertutup, barulah ia meninggalkan tempat itu.
“Siapa dia, Lun?” tanya Syani setelah pintu di tutup.
“Dia .... Mmm, dia pelanggan di kafe. Dia cuma nganterin aku pulang.” Aluna mencoba bohong.
Syani menngerutkan kening tak bisa percaya dengan ucapan Aluna.
“Ah udah deh, ayo ah aku ngantuk banget.” Aluna mencoba mengalihkan perhatian temannya dan terus berjalan ke pembaringan. Namun, dia tidak sadar jika cara jalannya yang sedikit ngangkang membuat temannya itu sudah berspekulasi pasti.
“Aluna, jangan bilang kamu udah gak perawan.” Syani mendekat dan menangkap lengan sahabatnya itu dan menatapnya penuh tekanan. Mata Aluna seketika membulat, ia tak menyangka temannya bisa menebak keadaannya.
“Ah, haha, apaan sih, kamu ngomong apa sih?” Aluna tertawa sumbang, mencoba menyembunyikan rasa paniknya.
“Gak usah bohong, lihat cara jalan kamu, terus om-om itu, jelas banget bukan pelanggan biasa, lagian ngapain juga pelanggan kafe pake nganter pulang segala kalau gak habis ngapa-ngapain?”
Aluna terdiam, perlahan tertunduk dan duduk di tepi pembaringan.
Syani ikut duduk, menggenggam kedua tangan sahabatnya dan menatapnya lekat.
“Lun, kenapa kamu harus ngelakuin itu? Apa kamu sebutuh itu dengan uang? Apa gaji kamu selama ini di kafe gak cukup, hahh?” Syani menatapnya dengan rasa kesal dan tak percaya.
Aluna terdiam, ia menggigit bibirnya kuat-kuat. Air matanya mulai menggunung mengisi semua bola matanya.
“Lun, jawab!” Syani mulai tak sabar.
Aluna terisak, ia menggeleng lemah. “Aku gak punya pilihan Syan.”
“Gak punya piliha gimana? Emang gak bisa kabur? Apa kamu diperkaos? Kenapa gak teriak, hahh?” tanya Syani dengan sarkasnya.
“Aku gak bisa, aku minum cola yang dikasi sesuatu bikin aku terangsang hebat, aku gak bisa menahan diri Syan, aku ...” Aluna terlihat agak ragu.
“Aku ... yang menggodanya duluan.”
“Haah, maksudnya?” Syani semakin heran dan tidak mengerti.
Aluna lantas menceritakan semua kejadian yang menimpanya hingga menyerahkan kehormatannya.
“Tapi ngapain juga kamu mau ngutang? Apa sebutuh itu kamu dengan laptop, selama ini aku gak pernah loh melarang kamu pakai laptop aku?” Syani semakin emosi.
“Emang gaji kamu kerja di kafe itu gak belum cukup buat beli laptop, hahh? Kan kamu bisa nyicil kalau gak cukup buat cash. Atau minta kek sama orang tua kamu, aku lihat rumah kamu besar kok, orang tua kamu juga ada toko kelontong yang besar, masa cuma beli laptop gak bisa?”
Aluna menggeleng lemah, air matanya semakin deras mengalir saat mendengar orang tuanya dipertanyakan.
“Mereka gak pernah peduli sama aku Syan. Aku cuma anak tiri yang numpang tidur di sana.”
“Hahh, maksudnya?” Syani semakin heran.
“Iya, ayahku ‘mokondo’ Syan, gak punya harta dan gak punya kerjaan sama sekali, dia cuma numpang di rumah isterinya, toko kelontong yang dikelola ayahku, sebenarnya itu milik ibu tiriku. Jadi kami di sana cuma ibaratnya pekerja, ayah yang kerja cari uang buat mereka, aku yang kerja jadi pembantu. Semua keperluan hidupku, kecuali makan dan tempat tinggal, semuanya aku yang cari sendiri.”
“Gila!” jerit Syani tanpa sadar.
“Kadang-kadang aku gak dikasi makan kalau aku bikin kesalahan.”
Syani menatap sahabatnya dengan iba, tak menyangka selama ini sahabatnya itu ternyata memiliki masalah yang sangat berat tetapi tak pernah sekali pun mengeluh di depannya.
“Terus kamu mau gimana, hahh? Kamu udah gak perawan sekarang, terus gimana kamu di masa depan?”
Aluna hanya bisa menggeleng sedih, air matanya terus merembes mengaburkan tatapan matanya yang kosong, sehingga tak mampu lagi melihat arah masa depannya kelak, hanya ada kelam dan kelabu, benar-benar gelap.
Matanya memandang jejak kosong di kejauhan, tempat seharusnya siluet itu berdiri, hadir membawa secarik harapan yang sangat dinantinya. Dentang jam seakan tertawa mendengar detak jantungnya yang berpacu dalam cemas yang hampir kehilangan asa. “Bagaimana, sudah selesai?” Lagi-lagi terdengar suara bariton Pak Dosen, memaksa detak nadi berdebar liar, seolah alarm bahaya yang terus berbunyi tanpa henti.Aluna kelimpungan, dingin dan resah terperangkap dalam jaring gelisah yang ia rajut sendiri, sulit bernapas, sulit melepaskan pandangan dari arah jendela.“Om, aku mohon datanglah,” gumam Aluna pada akhirnya. Ada kecamuk batin yang tak terhindarkan, pertarungan antara keyakinan dan keputusasaan. Ia menarik napas yang panjang dan berat, seolah seribu beban yang menghimpit jiwa. “Pak, izin ke toilet!” Aluna memberanikan diri mengacungkan jari yang mendapat anggukan dari Pak Dosen tanda diberi izin. Gadis itu segera berlari cepat keluar dari kelas menuju toilet yang ada di bagian ujung
Syani memeluk Aluna dengan perasaan sedih dan iba seraya mengelus punggungnya. “Yang sabar ya, Lun.” Aluna hanya mengangguk dalam isak tangis pilu. Ada sedikit kehangatan yang dirasakannya saat dipeluk, aliran hangat yang selama ini tidak pernah dirasakannya, sebab selama hidupnya hanya rasa dingin dan kelam yang menjadi selimutnya, membuat perasaannya sedikit terobati. Ponsel Aluna berdering, ia memicingkan mata, menggapai tas pinggangnya dan mengeluarkan ponsel. “Ya, ha_” “Kamu di mana, kenapa belum pulang?!” Suara bentakan di seberang telepon membuat Aluna spontan terbangun, menatap layar ponsel dan segera menghambur pergi meninggalkan kamar Syani tanpa pamit. ‘Gawat, aku kesiangan.’ Aluna meringis menanti ojek online yang baru dipesannya sembari menggigit kuku jari telunjuknya. Rasa cemas tergambar jelas di wajahnya. Sekitar sepuluh menit menunggu, ojek yang dipesannya sudah datang, barulah ia bernapas lega. Namun, begitu sampai di depan rumahnya, Aluna kembali terlihat ce
Faris tidak mengindahkan teriakan Aluna, terus membawanya keluar dari ruangan. Aluna merasa risih dan malu saat melalui para LC dan Ob yang masih bekerja, apalagi katika melihat tatapan para LC yang tadi menindas dan merampoknya, Aluna langsung memejamkan mata, dan menyembunyikan wajah di dada bidang Faris.“Om, tasku ketinggalan!” Aluna mencoba berontak lagi setelah tiba di luar kafe. Namun, Faris tetap tak mengindahkan teriakannya, terus membawanya ke mobil.“Tunggu di sini, biar aku ambilkan!” Faris kembali ke dalam kafe dan beberapa saat kemudian keluar lagi dengan membawa tas miliknya. Aluna terus menatap Faris dengan rasa heran dan tidak yakin dengan apa yang baru saja dialaminya.Faris menoleh menatap Aluna setelah duduk di sampingnya di depan kemudi. Dia perlahan mendekat, membuat jantung Aluna terkesiap. Faris semakin dekat, sampai Aluna terpaksa memejamkan mata erat, mengira pria itu akan berbuat yang aneh-aneh. Namun, setelah sesaat tidak ada yang terjadi, Aluna membuka mat
Aluna mengambil uang di depannya dengan sangat hati-hati, menghitungnya dengan tangan gemetar. Tatapan matanya seolah memudar menatap uang tersebut. Rasa menyesal menguasai, air matanya terus mengalir sembari meremas uang itu kuat-kuat. Seakan dunianya mendadak kehilangan warna, seolah perbuatannya telah melenyapkan pelangi indah di matanya dan kini tinggal menyisakan warna kelabu yang pekat dan menyesakkan. Jiwanya benar-benar telah jatuh terpuruk pada palung yang terdalam.Setelah beberapa saat tenggelam oleh rasa sakit dan penyesalan, Aluna membuka mata, mengusap dan membersihkan wajah, gadis itu segera memasukkan uang tersebut ke dalam tasnya. Sejenak menatap ponsel.“Hah, udah jam 3 subuh?” Aluna menghela napas panjang, dengan enggan memasukkan ponsel ke dalam tas dan bersiap untuk pergi.Baru saja beranjak dari duduknya, tiga orang LC tiba-tiba masuk ke ruangan itu dan menghampirinya dengan gusar.Salah seorang yang berbaju merah berbadan montok langsung mendorong tubuhnya denga
"Berapa yang kamu butuhkan?"Aluna menatap pria asing yang berdiri di sampingnya sedang memakai kemeja. Wajahnya yang tampan, penuh wibawa dan karisma, terlihat bukan pria biasa. Dingin seolah tak punya perasaaan.Namun, pertanyaannya bagai belati yang menghunjam ulu hati Aluna. Gadis mungil bertubuh kurus, berusia sekitar dua puluh tahunan itu hanya bisa menggigit bibir sembari memejamkan mata erat. Air matanya merembes melalui sudut mata. Tangannya perlahan bergerak meraba sofa berniat mencari pakaiannya yang entah di mana.Pria itu pun membantunya mengambil pakaian Aluna, dan menutupi tubuhnya yang terbaring polos di sofa.Aluna masih terdiam, ia tak tahu harus menjawabnya, ia memang butuh uang tapi bukan ditukar dengan tubuhnya, hanya saja semua sudah terjadi. Aluna semakin serba salah, menggigit bibir dan mengatupkan mata erat-eratPria itu menatap tajam Aluna yang terdiam bagai mayat kaku seakan peluru yang siap menembus jantung, meskipun tampak tenang, tetapi aura dinginnya me







