Home / Romansa / Gadis Malang Simpanan CEO / Bab 6 Mana laptopnya?

Share

Bab 6 Mana laptopnya?

Author: Bunda Umu
last update Last Updated: 2026-02-05 11:18:06

“Jangan, lepaskan! Ini bukan punyaku.” Aluna terus berusaha mempertahankan hak miliknya.

Maya dan kedua temannya juga tak mau mengalah, mereka hampir saja merebut laptop itu, tetapi Aluna bergerak cepat, menendang keras betis Maya hingga jatuh terduduk, menggigit lengan salah satu temannya, sehingga laptop itu tak jadi terlepas dari pelukannya.

“Akkh, kurang ajar, kamu berani menendangku!”

“Sialan, kamu menggigitku?!”

Saat salah satu teman Maya lagi berusaha membantunya berdiri, Aluna kembali tak tinggal diam, dia segera mendorong orang itu hingga tersungkur menimpa Maya, segera menyambar tasnya dan berlari keluar.

“Kurang ajar, awas kau!” seru teman Maya tak terima dengan perlawanan Aluna

Gadis itu terus berlari keluar, hingga berpapasan dengan Syani yang baru keluar dari kamar kecil.

“Aluna, kamu ngapain!?”

Aluna menoleh, dan segera menghampirinya.

“Maya mengejarku, dia mau merebut laptopku. Ini cepetan ambil, nanti kamu ngaku kalau ini punya teman kamu, ya.”

Syani ikut kelimpungan disodorkan tas berisi laptop dengan buru-buru, lalu didorong pergi.

“Sana, cepetan pergi, jangan sampai mereka melihat kita.”

Setelah berkata demikian, Aluna segera putar badan, mengambil jalan berbeda. Benar saja, Maya dan temannya sudah mengejarnya.

“Maya, berhenti. Serahkan laptop itu ke aku!” Terdengar teriakan Maya yang memenuhi seluruh lorong kampus membuat beberapa mahasiswa yang ada di situ ikutan menoleh ke arah mereka.

Aluna menghentikan langkah hingga sedikit terhuyung, tetapi segera mampu menyeimbangkan badan, lalu berbalik.

“Laptopnya sudah aku balikin.” Aluna tersenyum sumbang sembari memperlihatkan kedua tangannya ke mereka.

Maya jelas tidak percaya dengan omongan Aluna, mendekat dan segera merebut tas ranselnya.

“Mana laptopnya, mana?!” sentak Maya saat menyadari tas itu tak ada sesuatu yang seperti laptop. Dia pun melempar tas itu sembarangan ke lantai.

 “Hm, awas aja kalau sampai aku tahu kamu bohong, mati kau!” Maya lantas mendorong tubuh Aluna dengan kuat hingga jatuh terduduk, tetapi Aluna tidak sedih, melainkah tersenyum puas. Dia bernapas lega setelah Maya dan kedua genknya balik badan meninggalkannya.

Aluna mengikuti mereka dari belakang untuk memastikan mereka benar-benar telah meninggalkan kampus. Setelah itu, dia pun bergegas mencari keberadaan Syani. Namun, yang dicari-cari justru menghilang dari permukaan bumi.

Gadis itu segera mengeluarkan ponsel, barulah ia tahu jika Syani telah meninggalkan kampus tanpa menunggunya karena takut akan ketahuan oleh Maya.

“Kamu sudah datang? Kenapa dengan laptop ini, kenapa dengan Maya, kenapa mau merebut laptop kamu?” cecar Syani begitu Aluna muncul di pintu rumah kosnya.

Dia sangat penasaran dengan sikap Aluna tadi di kampusnya.

“Banyak banget pertanyaannya, mana yang harus aku jawab dulu?” Aluna terus berjalan masuk tanpa menghiraukan Syani yang mengekor menatapnya penuh rasa penasaran.

“Alah, jawab aja satu-satu, gak usah sok gak acuh gitu deh ah.” Syani menarik Aluna hingga terduduk di ranjang. Wajahnya masih dipenuhi rasa ingin tahu.

Aluna menarik napas panjang, melirik Syani sejenak lalu murung.

“Maya gak pernah suka kalau aku punya barang bagus, semua harus jadi miliknya. Jadi meskipun aku beli pakai uangku, kalau dia mau ambil ya harus dikasi, kalau gak, ibu pasti marah.” Aluna tertunduk lesu, air matanya lagi-lagi berlinang.

Syani mendengkus kesal mendengar kisah temannya itu. “Huh, pantas aja si Maya pakaiannya bagus terus, sedangkan kamu ....” Syani menunjuk Aluna dari kepala hingga kaki diikuti kepalanya yang naik turun menatap tubuh Aluna.

“Astagfirullah, kayak anak terlantar tau gak?” Emosi Syani seakan meledak dengan mata melotot tajam.

“Marahnya jangan ke aku dong, Syan, aku yang sedih aku juga yang kena marah.”

Syani langsung tersenyum kecele mendengarnya. “Eh hehe, sorry. Soalnya emosi bener dengarnya.”

“Eh, btw. Terus laptop ini gimana? Bagaimana cara kamu menyembunyikannya, hah?” lanjut Syani tampak khawatir dan penasaran.

“Aku titip di rumah kamu aja ya, aku gak berani bawa ini ke kampus, nanti kalau pulang kampus aku langsung ke sini buat ngerjain tugas kalau ada, ya.” Aluna menatap Syani dengan wajah memelas seraya menggenggam tangannya.

Syani mengangguk cepat. “Oke.”

Mereka tersenyum, Syani bangkit dari duduknya hendak ke kamar mandi, sedang Aluna merebahkan badan, matanya terasa berat dan lelah.

Baru saja matanya terpejam, ponselnya berdering. Dia mengangkatnya dengan malas tanpa melihat siapa yang menelepon.

“Halo ....”

“Pulang!”

Singkat, padat, dan sangar suara di seberang membuat Aluna bagai tersengat listrik langsung bangkit dan melompat dari pembaringan.

“Syani, aku pulang ya. Ibuku menelepon!” serunya sambil berlari keluar, memesan ojek online dan segera pulang ke rumahnya.

“Mana laptop kamu? Sini!”

Aluna yang baru masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru langsung mematung mendengar pertanyaan dan permintaan kasar dari ibu tirinya.

“Mana?!”

Aluna tetap mematung bahkan hampir lupa bernapas.

Maya yang sedang duduk menyaksikan di sofa, terlihat tak sabar dan langsung berdiri merebut tas Aluna lantas memeriksanya.

Lagi-lagi tak menemukan apa-apa, dia kembali menghempaskan tas itu ke lantai.

“Iih, mana laptopnya?” ia memberengut manja ke mamanya.

“Aluna, mana laptopnya?!” Mata Ibu Mirah semakin melotot. Ia lantas menarik tangan Aluna yang masih berdiri mematung hingga tergeser ke depan, tetapi gadis itu tetap diam.

“Aku tanya, mana?!” Suara Ibu Mirah sudah melengking, membuat Aluna langsung bergidik ketakutan, tetapi mulutnya tetap bungkam.

Plaak!!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi gadis itu, membuatnya terhuyung ke samping tetapi ia tetap bungkam.

“Hei, kamu anjingkah? Hah? Ditanya kok diam?!” Ibu Mirah semakin tidak sabar melihat kelakuan Aluna. sekali lagi dia menangkap dan menghentakkan tangan Aluna hingga gadis itu berbalik menghadapnya, menangkap wajahnya dan mencengkeramnya dengan kuat. Wajahnya di dekatkan ke wajah Aluna dengan mata melotot lebar, gigi gemeretak menahan kesal.

“Mana?!”

Aluna cuma menggeleng pelan dengan air mata berlinang.

“Bohong!” Bu Mirah menghempaskan wajah Aluna yang dicengkeramnya ke samping membuat Aluna sedikit pusing dan oleng ke samping akhirnya sempoyongan hingga jatuh terduduk.

“Katakan, di mana?!

Aluna terpaku dengan kepala yang kian merunduk, seolah beban kata-kata yang menghujamnya memiliki berat yang tak kasat mata. Di bawah intimidasi rentetan tanya, suaranya terkubur dalam keheningan yang menyesakkan, ia karam dalam ketidakberdayaan untuk membela diri. Ia terus terdiam.

Bu Mirah semakin kesal, gigi gemeretak dan tangannya yang mengepal kuat membuatnya gemetar, wajah yang memerah bagai banteng ngamuk, siap menghancurkan kepala gadis yang terus mematung di depannya.  

“Ngomong!!”

Aluna tetap menggeleng pasrah, lidahnya kelu, terpasung oleh tuntutan jawaban yang tak mampu ia rangkai menjadi makna.

Tangan Bu Mirah yang terkepal kuat dan gemetar akhirnya mendarat di pelipis gadis itu, membuat gadis malang itu seketika terhempas ke samping dan tak bergerak lagi.

Maya terkesiap, matanya membelalak kaget, ia segera mendekat dan perlahan membungkuk di samping kakaknya.

“Hei, Lun ... Luna!”

Tak ada suara dan tak ada reaksi membuat Maya jadi pias. Ia lantas mendongak menatap mamanya yang masih sibuk menarik napas yang terasa sesak menahan kesal yang membuncah.

“Ma!” Maya berteriak dengan suara gemetar menatap mamanya yang tidak menggubrisnya.

“Apa?!” jawabnya sarkas menoleh ke anaknya.

Maya menunjuk Aluna dengan gemetar. “I-itu ... Aluna, ma.” Wajah Maya meringis seakan hampir menangis.

“Ma, di-dia pi-pingsan.”

Bunda Umu

Jangan Lupa komen dan bintangnya ya

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 6 Mana laptopnya?

    “Jangan, lepaskan! Ini bukan punyaku.” Aluna terus berusaha mempertahankan hak miliknya.Maya dan kedua temannya juga tak mau mengalah, mereka hampir saja merebut laptop itu, tetapi Aluna bergerak cepat, menendang keras betis Maya hingga jatuh terduduk, menggigit lengan salah satu temannya, sehingga laptop itu tak jadi terlepas dari pelukannya.“Akkh, kurang ajar, kamu berani menendangku!”“Sialan, kamu menggigitku?!”Saat salah satu teman Maya lagi berusaha membantunya berdiri, Aluna kembali tak tinggal diam, dia segera mendorong orang itu hingga tersungkur menimpa Maya, segera menyambar tasnya dan berlari keluar.“Kurang ajar, awas kau!” seru teman Maya tak terima dengan perlawanan AlunaGadis itu terus berlari keluar, hingga berpapasan dengan Syani yang baru keluar dari kamar kecil.“Aluna, kamu ngapain!?”Aluna menoleh, dan segera menghampirinya.“Maya mengejarku, dia mau merebut laptopku. Ini cepetan ambil, nanti kamu ngaku kalau ini punya teman kamu, ya.”Syani ikut kelimpungan d

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 5 Om, Datanglah!

    Matanya memandang jejak kosong di kejauhan, tempat seharusnya siluet itu berdiri, hadir membawa secarik harapan yang sangat dinantinya. Dentang jam seakan tertawa mendengar detak jantungnya yang berpacu dalam cemas yang hampir kehilangan asa.“Bagaimana, sudah selesai?”Lagi-lagi terdengar suara bariton Pak Dosen, memaksa detak nadi berdebar liar, seolah alarm bahaya yang terus berbunyi tanpa henti.Aluna kelimpungan, dingin dan resah terperangkap dalam jaring gelisah yang ia rajut sendiri, sulit bernapas, sulit melepaskan pandangan dari arah jendela.“Om, aku mohon datanglah,” gumam Aluna pada akhirnya.Ada kecamuk batin yang tak terhindarkan, pertarungan antara keyakinan dan keputusasaan. Ia menarik napas yang panjang dan berat, seolah seribu beban yang menghimpit jiwa.“Pak, izin ke toilet!” Aluna memberanikan diri mengacungkan jari yang mendapat anggukan dari Pak Dosen tanda diberi izin.Gadis itu segera berlari cepat keluar dari kelas menuju toilet yang ada di bagian ujung. Sesa

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 4 Dalam Deraan Dingin dan Kelam

    Syani memeluk Aluna dengan perasaan sedih dan iba seraya mengelus punggungnya. “Yang sabar ya, Lun.” Aluna hanya mengangguk dalam isak tangis pilu. Ada sedikit kehangatan yang dirasakannya saat dipeluk, aliran hangat yang selama ini tidak pernah dirasakannya, sebab selama hidupnya hanya rasa dingin dan kelam yang menjadi selimutnya, membuat perasaannya sedikit terobati. Ponsel Aluna berdering, ia memicingkan mata, menggapai tas pinggangnya dan mengeluarkan ponsel. “Ya, ha_” “Kamu di mana, kenapa belum pulang?!” Suara bentakan di seberang telepon membuat Aluna spontan terbangun, menatap layar ponsel dan segera menghambur pergi meninggalkan kamar Syani tanpa pamit. ‘Gawat, aku kesiangan.’ Aluna meringis menanti ojek online yang baru dipesannya sembari menggigit kuku jari telunjuknya. Rasa cemas tergambar jelas di wajahnya. Sekitar sepuluh menit menunggu, ojek yang dipesannya sudah datang, barulah ia bernapas lega. Namun, begitu sampai di depan rumahnya, Aluna kembali terlihat ce

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 3 Diantar Pulang

    Faris tidak mengindahkan teriakan Aluna, terus membawanya keluar dari ruangan. Aluna merasa risih dan malu saat melalui para LC dan Ob yang masih bekerja, apalagi katika melihat tatapan para LC yang tadi menindas dan merampoknya, Aluna langsung memejamkan mata, dan menyembunyikan wajah di dada bidang Faris.“Om, tasku ketinggalan!” Aluna mencoba berontak lagi setelah tiba di luar kafe. Namun, Faris tetap tak mengindahkan teriakannya, terus membawanya ke mobil.“Tunggu di sini, biar aku ambilkan!” Faris kembali ke dalam kafe dan beberapa saat kemudian keluar lagi dengan membawa tas miliknya. Aluna terus menatap Faris dengan rasa heran dan tidak yakin dengan apa yang baru saja dialaminya.Faris menoleh menatap Aluna setelah duduk di sampingnya di depan kemudi. Dia perlahan mendekat, membuat jantung Aluna terkesiap. Faris semakin dekat, sampai Aluna terpaksa memejamkan mata erat, mengira pria itu akan berbuat yang aneh-aneh. Namun, setelah sesaat tidak ada yang terjadi, Aluna membuka mat

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 2 Hanya Gadis Malang

    Aluna mengambil uang di depannya dengan sangat hati-hati, menghitungnya dengan tangan gemetar. Tatapan matanya seolah memudar menatap uang tersebut. Rasa menyesal menguasai, air matanya terus mengalir sembari meremas uang itu kuat-kuat. Seakan dunianya mendadak kehilangan warna, seolah perbuatannya telah melenyapkan pelangi indah di matanya dan kini tinggal menyisakan warna kelabu yang pekat dan menyesakkan. Jiwanya benar-benar telah jatuh terpuruk pada palung yang terdalam.Setelah beberapa saat tenggelam oleh rasa sakit dan penyesalan, Aluna membuka mata, mengusap dan membersihkan wajah, gadis itu segera memasukkan uang tersebut ke dalam tasnya. Sejenak menatap ponsel.“Hah, udah jam 3 subuh?” Aluna menghela napas panjang, dengan enggan memasukkan ponsel ke dalam tas dan bersiap untuk pergi.Baru saja beranjak dari duduknya, tiga orang LC tiba-tiba masuk ke ruangan itu dan menghampirinya dengan gusar.Salah seorang yang berbaju merah berbadan montok langsung mendorong tubuhnya denga

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 1 Om, Tolongin Aku!

    "Berapa yang kamu butuhkan?"Aluna menatap pria asing yang berdiri di sampingnya sedang memakai kemeja. Wajahnya yang tampan, penuh wibawa dan karisma, terlihat bukan pria biasa. Dingin seolah tak punya perasaaan.Namun, pertanyaannya bagai belati yang menghunjam ulu hati Aluna. Gadis mungil bertubuh kurus, berusia sekitar dua puluh tahunan itu hanya bisa menggigit bibir sembari memejamkan mata erat. Air matanya merembes melalui sudut mata. Tangannya perlahan bergerak meraba sofa berniat mencari pakaiannya yang entah di mana.Pria itu pun membantunya mengambil pakaian Aluna, dan menutupi tubuhnya yang terbaring polos di sofa.Aluna masih terdiam, ia tak tahu harus menjawabnya, ia memang butuh uang tapi bukan ditukar dengan tubuhnya, hanya saja semua sudah terjadi. Aluna semakin serba salah, menggigit bibir dan mengatupkan mata erat-eratPria itu menatap tajam Aluna yang terdiam bagai mayat kaku seakan peluru yang siap menembus jantung, meskipun tampak tenang, tetapi aura dinginnya me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status