LOGIN“Jangan, lepaskan! Ini bukan punyaku.” Aluna terus berusaha mempertahankan hak miliknya.
Maya dan kedua temannya juga tak mau mengalah, mereka hampir saja merebut laptop itu, tetapi Aluna bergerak cepat, menendang keras betis Maya hingga jatuh terduduk, menggigit lengan salah satu temannya, sehingga laptop itu tak jadi terlepas dari pelukannya.
“Akkh, kurang ajar, kamu berani menendangku!”
“Sialan, kamu menggigitku?!”
Saat salah satu teman Maya lagi berusaha membantunya berdiri, Aluna kembali tak tinggal diam, dia segera mendorong orang itu hingga tersungkur menimpa Maya, segera menyambar tasnya dan berlari keluar.
“Kurang ajar, awas kau!” seru teman Maya tak terima dengan perlawanan Aluna
Gadis itu terus berlari keluar, hingga berpapasan dengan Syani yang baru keluar dari kamar kecil.
“Aluna, kamu ngapain!?”
Aluna menoleh, dan segera menghampirinya.
“Maya mengejarku, dia mau merebut laptopku. Ini cepetan ambil, nanti kamu ngaku kalau ini punya teman kamu, ya.”
Syani ikut kelimpungan disodorkan tas berisi laptop dengan buru-buru, lalu didorong pergi.
“Sana, cepetan pergi, jangan sampai mereka melihat kita.”
Setelah berkata demikian, Aluna segera putar badan, mengambil jalan berbeda. Benar saja, Maya dan temannya sudah mengejarnya.
“Maya, berhenti. Serahkan laptop itu ke aku!” Terdengar teriakan Maya yang memenuhi seluruh lorong kampus membuat beberapa mahasiswa yang ada di situ ikutan menoleh ke arah mereka.
Aluna menghentikan langkah hingga sedikit terhuyung, tetapi segera mampu menyeimbangkan badan, lalu berbalik.
“Laptopnya sudah aku balikin.” Aluna tersenyum sumbang sembari memperlihatkan kedua tangannya ke mereka.
Maya jelas tidak percaya dengan omongan Aluna, mendekat dan segera merebut tas ranselnya.
“Mana laptopnya, mana?!” sentak Maya saat menyadari tas itu tak ada sesuatu yang seperti laptop. Dia pun melempar tas itu sembarangan ke lantai.
“Hm, awas aja kalau sampai aku tahu kamu bohong, mati kau!” Maya lantas mendorong tubuh Aluna dengan kuat hingga jatuh terduduk, tetapi Aluna tidak sedih, melainkah tersenyum puas. Dia bernapas lega setelah Maya dan kedua genknya balik badan meninggalkannya.
Aluna mengikuti mereka dari belakang untuk memastikan mereka benar-benar telah meninggalkan kampus. Setelah itu, dia pun bergegas mencari keberadaan Syani. Namun, yang dicari-cari justru menghilang dari permukaan bumi.
Gadis itu segera mengeluarkan ponsel, barulah ia tahu jika Syani telah meninggalkan kampus tanpa menunggunya karena takut akan ketahuan oleh Maya.
“Kamu sudah datang? Kenapa dengan laptop ini, kenapa dengan Maya, kenapa mau merebut laptop kamu?” cecar Syani begitu Aluna muncul di pintu rumah kosnya.
Dia sangat penasaran dengan sikap Aluna tadi di kampusnya.
“Banyak banget pertanyaannya, mana yang harus aku jawab dulu?” Aluna terus berjalan masuk tanpa menghiraukan Syani yang mengekor menatapnya penuh rasa penasaran.
“Alah, jawab aja satu-satu, gak usah sok gak acuh gitu deh ah.” Syani menarik Aluna hingga terduduk di ranjang. Wajahnya masih dipenuhi rasa ingin tahu.
Aluna menarik napas panjang, melirik Syani sejenak lalu murung.
“Maya gak pernah suka kalau aku punya barang bagus, semua harus jadi miliknya. Jadi meskipun aku beli pakai uangku, kalau dia mau ambil ya harus dikasi, kalau gak, ibu pasti marah.” Aluna tertunduk lesu, air matanya lagi-lagi berlinang.
Syani mendengkus kesal mendengar kisah temannya itu. “Huh, pantas aja si Maya pakaiannya bagus terus, sedangkan kamu ....” Syani menunjuk Aluna dari kepala hingga kaki diikuti kepalanya yang naik turun menatap tubuh Aluna.
“Astagfirullah, kayak anak terlantar tau gak?” Emosi Syani seakan meledak dengan mata melotot tajam.
“Marahnya jangan ke aku dong, Syan, aku yang sedih aku juga yang kena marah.”
Syani langsung tersenyum kecele mendengarnya. “Eh hehe, sorry. Soalnya emosi bener dengarnya.”
“Eh, btw. Terus laptop ini gimana? Bagaimana cara kamu menyembunyikannya, hah?” lanjut Syani tampak khawatir dan penasaran.
“Aku titip di rumah kamu aja ya, aku gak berani bawa ini ke kampus, nanti kalau pulang kampus aku langsung ke sini buat ngerjain tugas kalau ada, ya.” Aluna menatap Syani dengan wajah memelas seraya menggenggam tangannya.
Syani mengangguk cepat. “Oke.”
Mereka tersenyum, Syani bangkit dari duduknya hendak ke kamar mandi, sedang Aluna merebahkan badan, matanya terasa berat dan lelah.
Baru saja matanya terpejam, ponselnya berdering. Dia mengangkatnya dengan malas tanpa melihat siapa yang menelepon.
“Halo ....”
“Pulang!”
Singkat, padat, dan sangar suara di seberang membuat Aluna bagai tersengat listrik langsung bangkit dan melompat dari pembaringan.
“Syani, aku pulang ya. Ibuku menelepon!” serunya sambil berlari keluar, memesan ojek online dan segera pulang ke rumahnya.
“Mana laptop kamu? Sini!”
Aluna yang baru masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru langsung mematung mendengar pertanyaan dan permintaan kasar dari ibu tirinya.
“Mana?!”
Aluna tetap mematung bahkan hampir lupa bernapas.
Maya yang sedang duduk menyaksikan di sofa, terlihat tak sabar dan langsung berdiri merebut tas Aluna lantas memeriksanya.
Lagi-lagi tak menemukan apa-apa, dia kembali menghempaskan tas itu ke lantai.
“Iih, mana laptopnya?” ia memberengut manja ke mamanya.
“Aluna, mana laptopnya?!” Mata Ibu Mirah semakin melotot. Ia lantas menarik tangan Aluna yang masih berdiri mematung hingga tergeser ke depan, tetapi gadis itu tetap diam.
“Aku tanya, mana?!” Suara Ibu Mirah sudah melengking, membuat Aluna langsung bergidik ketakutan, tetapi mulutnya tetap bungkam.
Plaak!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi gadis itu, membuatnya terhuyung ke samping tetapi ia tetap bungkam.
“Hei, kamu anjingkah? Hah? Ditanya kok diam?!” Ibu Mirah semakin tidak sabar melihat kelakuan Aluna. sekali lagi dia menangkap dan menghentakkan tangan Aluna hingga gadis itu berbalik menghadapnya, menangkap wajahnya dan mencengkeramnya dengan kuat. Wajahnya di dekatkan ke wajah Aluna dengan mata melotot lebar, gigi gemeretak menahan kesal.
“Mana?!”
Aluna cuma menggeleng pelan dengan air mata berlinang.
“Bohong!” Bu Mirah menghempaskan wajah Aluna yang dicengkeramnya ke samping membuat Aluna sedikit pusing dan oleng ke samping akhirnya sempoyongan hingga jatuh terduduk.
“Katakan, di mana?!
Aluna terpaku dengan kepala yang kian merunduk, seolah beban kata-kata yang menghujamnya memiliki berat yang tak kasat mata. Di bawah intimidasi rentetan tanya, suaranya terkubur dalam keheningan yang menyesakkan, ia karam dalam ketidakberdayaan untuk membela diri. Ia terus terdiam.
Bu Mirah semakin kesal, gigi gemeretak dan tangannya yang mengepal kuat membuatnya gemetar, wajah yang memerah bagai banteng ngamuk, siap menghancurkan kepala gadis yang terus mematung di depannya.
“Ngomong!!”
Aluna tetap menggeleng pasrah, lidahnya kelu, terpasung oleh tuntutan jawaban yang tak mampu ia rangkai menjadi makna.
Tangan Bu Mirah yang terkepal kuat dan gemetar akhirnya mendarat di pelipis gadis itu, membuat gadis malang itu seketika terhempas ke samping dan tak bergerak lagi.
Maya terkesiap, matanya membelalak kaget, ia segera mendekat dan perlahan membungkuk di samping kakaknya.
“Hei, Lun ... Luna!”
Tak ada suara dan tak ada reaksi membuat Maya jadi pias. Ia lantas mendongak menatap mamanya yang masih sibuk menarik napas yang terasa sesak menahan kesal yang membuncah.
“Ma!” Maya berteriak dengan suara gemetar menatap mamanya yang tidak menggubrisnya.
“Apa?!” jawabnya sarkas menoleh ke anaknya.
Maya menunjuk Aluna dengan gemetar. “I-itu ... Aluna, ma.” Wajah Maya meringis seakan hampir menangis.
“Ma, di-dia pi-pingsan.”
Jangan Lupa komen dan bintangnya ya
Faris kembali menghadap ke depan, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, memperbaiki posisi tegak tubuhnya, wajahnya diangkat sedikit, mengarah tepat ke meja bartender, tatapannya tajam tertuju pada ketiga LC pembully Aluna yang ternyata tengah berdiri di sana. Mereka langsung terkesiap, matanya terbelalak, terlihat ketakutan, wajahnya langsung ditekuk sambil meremas jemari. Seakan mereka paham akan maksud dari tatapan tersebut.Aluna mengintip ke arah tatapan itu, penasaran dengan hal yang membuat pria tinggi di depannya berhenti mendadak. Saat melihat ketiga LC di depan sana menunduk ketakutan, mata Aluna terbeliak, segera menengok ke atas dan ketika melihat aura dingin membunuh di sana, Aluna makin terbeliak, menahan napas, nyalinya seolah menciut, segera memperbaiki posisinya seperti semula.“Kalian bertiga, aku harap peristiwa yang tadi, jangan sampai terulang lagi!” suaranya dingin, datar, tetapi penuh tekanan dan ancaman. Mereka hanya bisa mengangguk cepat tanpa beran
“Masih kepikiran dengan gadis kemarin?” Bos kafe tempat Aluna bekerja itu menatap Faris yang tengah termenung sembari menimang gelas minuman di tangannya.Melihat pria dingin yang juga merupakan temannya itu masih terdiam, ia tersenyum lantas menepuk bahunya.“Ayolah, gak usah terlalu dipikirkan, kan kamu udah ngasih kompensasi? Apalagi yang kamu khawatirkan?”Faris menenggak minumannya dengan sekali tuang, meletakkan gelasnya lantas menggeleng pelan.“Bukan itu yang aku pikirkan.”“Terus?” Bos kafe menatapnya bingung.“Aku terus kepikiran dengan kejadian kemarin.” Faris menatap kosong ke depan, kedua tangannya bertautan sembari memainkan kedua ibu jarinya.Mata bos kafe itu berbinar nakal melirik pria disebelahnya.“Kenapa? Apa ada yang beda?” ia terlihat sangat antusias.Faris tersenyum miring, hanya sebentar kemudian wajahnya kembali datar. Ia menunduk menatap ujung sepatunya, kedua tangannya masih asik memainkan ibu jari.“Setelah hampir lima tahun menikah dengan Rossa, baru kemari
Bu Mirah menatap Maya bergantian dengan Aluna yang sedang terbujur di lantai, wajah kesalnya belum hilang.“Kalau pingsan memangnya kenapa? Gak usah panik, sana ambilkan air!” Bu Mirah berbalik dan kembali ke sofa, duduk dengan santai seolah tak ada yang terjadi, meskipun aura kesalnya masih terlihat di wajahnya.Maya mengangguk dengan gugup, beranjak perlahan diselimuti rasa takut dan cemas di wajahnya, masuk ke dalam mengambil segayung air.Gadis itu lantas menyerahkan air itu ke mamanya.“Ini Ma.” Wajahnya terlihat bingung menatap mamanya dan air di tangannya.Bu Mirah berdiri, meraih gayung di tangan Maya, menuju Aluna yang masih terbaring di lantai, dan langsung menyiramkan air segayung di wajahnya.Gadis malang itu terperanjat, perlahan matanya terbuka, terlihat sangat lemah. Ia menarik napas pelan berusaha mengatur ingatannya yang kabur agar segera terkumpul kembali. Lambat laun jiwanya yang karam kini telah menangkap sosok dirinya yang terkapar, terpuruk dan terperosok dalam ju
“Jangan, lepaskan! Ini bukan punyaku.” Aluna terus berusaha mempertahankan hak miliknya.Maya dan kedua temannya juga tak mau mengalah, mereka hampir saja merebut laptop itu, tetapi Aluna bergerak cepat, menendang keras betis Maya hingga jatuh terduduk, menggigit lengan salah satu temannya, sehingga laptop itu tak jadi terlepas dari pelukannya.“Akkh, kurang ajar, kamu berani menendangku!”“Sialan, kamu menggigitku?!”Saat salah satu teman Maya lagi berusaha membantunya berdiri, Aluna kembali tak tinggal diam, dia segera mendorong orang itu hingga tersungkur menimpa Maya, segera menyambar tasnya dan berlari keluar.“Kurang ajar, awas kau!” seru teman Maya tak terima dengan perlawanan AlunaGadis itu terus berlari keluar, hingga berpapasan dengan Syani yang baru keluar dari kamar kecil.“Aluna, kamu ngapain!?”Aluna menoleh, dan segera menghampirinya.“Maya mengejarku, dia mau merebut laptopku. Ini cepetan ambil, nanti kamu ngaku kalau ini punya teman kamu, ya.”Syani ikut kelimpungan d
Matanya memandang jejak kosong di kejauhan, tempat seharusnya siluet itu berdiri, hadir membawa secarik harapan yang sangat dinantinya. Dentang jam seakan tertawa mendengar detak jantungnya yang berpacu dalam cemas yang hampir kehilangan asa.“Bagaimana, sudah selesai?”Lagi-lagi terdengar suara bariton Pak Dosen, memaksa detak nadi berdebar liar, seolah alarm bahaya yang terus berbunyi tanpa henti.Aluna kelimpungan, dingin dan resah terperangkap dalam jaring gelisah yang ia rajut sendiri, sulit bernapas, sulit melepaskan pandangan dari arah jendela.“Om, aku mohon datanglah,” gumam Aluna pada akhirnya.Ada kecamuk batin yang tak terhindarkan, pertarungan antara keyakinan dan keputusasaan. Ia menarik napas yang panjang dan berat, seolah seribu beban yang menghimpit jiwa.“Pak, izin ke toilet!” Aluna memberanikan diri mengacungkan jari yang mendapat anggukan dari Pak Dosen tanda diberi izin.Gadis itu segera berlari cepat keluar dari kelas menuju toilet yang ada di bagian ujung. Sesa
Syani memeluk Aluna dengan perasaan sedih dan iba seraya mengelus punggungnya. “Yang sabar ya, Lun.” Aluna hanya mengangguk dalam isak tangis pilu. Ada sedikit kehangatan yang dirasakannya saat dipeluk, aliran hangat yang selama ini tidak pernah dirasakannya, sebab selama hidupnya hanya rasa dingin dan kelam yang menjadi selimutnya, membuat perasaannya sedikit terobati. Ponsel Aluna berdering, ia memicingkan mata, menggapai tas pinggangnya dan mengeluarkan ponsel. “Ya, ha_” “Kamu di mana, kenapa belum pulang?!” Suara bentakan di seberang telepon membuat Aluna spontan terbangun, menatap layar ponsel dan segera menghambur pergi meninggalkan kamar Syani tanpa pamit. ‘Gawat, aku kesiangan.’ Aluna meringis menanti ojek online yang baru dipesannya sembari menggigit kuku jari telunjuknya. Rasa cemas tergambar jelas di wajahnya. Sekitar sepuluh menit menunggu, ojek yang dipesannya sudah datang, barulah ia bernapas lega. Namun, begitu sampai di depan rumahnya, Aluna kembali terlihat ce
Faris tidak mengindahkan teriakan Aluna, terus membawanya keluar dari ruangan. Aluna merasa risih dan malu saat melalui para LC dan Ob yang masih bekerja, apalagi katika melihat tatapan para LC yang tadi menindas dan merampoknya, Aluna langsung memejamkan mata, dan menyembunyikan wajah di dada bida
Aluna mengambil uang di depannya dengan sangat hati-hati, menghitungnya dengan tangan gemetar. Tatapan matanya seolah memudar menatap uang tersebut. Rasa menyesal menguasai, air matanya terus mengalir sembari meremas uang itu kuat-kuat. Seakan dunianya mendadak kehilangan warna, seolah perbuatannya
"Berapa yang kamu butuhkan?"Aluna menatap pria asing yang berdiri di sampingnya sedang memakai kemeja. Wajahnya yang tampan, penuh wibawa dan karisma, terlihat bukan pria biasa. Dingin seolah tak punya perasaaan.Namun, pertanyaannya bagai belati yang menghunjam ulu hati Aluna. Gadis mungil bertu







