ログインMatanya memandang jejak kosong di kejauhan, tempat seharusnya siluet itu berdiri, hadir membawa secarik harapan yang sangat dinantinya. Dentang jam seakan tertawa mendengar detak jantungnya yang berpacu dalam cemas yang hampir kehilangan asa.
“Bagaimana, sudah selesai?” Lagi-lagi terdengar suara bariton Pak Dosen, memaksa detak nadi berdebar liar, seolah alarm bahaya yang terus berbunyi tanpa henti. Aluna kelimpungan, dingin dan resah terperangkap dalam jaring gelisah yang ia rajut sendiri, sulit bernapas, sulit melepaskan pandangan dari arah jendela. “Om, aku mohon datanglah,” gumam Aluna pada akhirnya. Ada kecamuk batin yang tak terhindarkan, pertarungan antara keyakinan dan keputusasaan. Ia menarik napas yang panjang dan berat, seolah seribu beban yang menghimpit jiwa. “Pak, izin ke toilet!” Aluna memberanikan diri mengacungkan jari yang mendapat anggukan dari Pak Dosen tanda diberi izin. Gadis itu segera berlari cepat keluar dari kelas menuju toilet yang ada di bagian ujung. Sesampainya di sana, segera menelpon, tetapi tidak terjawab. Resah semakin merambati setiap pembuluh darah, menjadikannya seperti kawat tegang yang siap putus. Dengan jemari yang bergetar, kecamuk batin memaksa rinai dari manik indahnya harus berurai menghalangi tatap pada layar ponsel di tangannya. “Om, mana janjinya? Aku butuh laptopnya tapi nyatanya gak ada sampai sekarang. Om jahat, gak punya perasaan, omong kosong, penipu!” Aluna mengirim pesan suara yang bergetar dipenuhi getir luapan emosi yang membuncah, diiringi isak tangis laksana melodi kesedihan memilukan. Tubuh Aluna lunglai, meminjam polosnya dinding kosong untuk bersadar. Namun, lututnya yang lemas seakan kehilangan seluruh sokongan persendian membuat tubuhnya menelusur ke bawah hingga ambruk terduduk di ubin yang dingin. Gema isak tangisnya mengisi ruang kosong toilet yang terdiam iba. ‘Aku harus gimana sekarang?’ Pilu hatinya kembali menyayat seluruh jiwa tatkala teringat akan pengorbanan tubuhnya yang sia-sia, merampas seluruh harta berharga miliknya tetapi semua hanya tipu daya. Aluna menenggelamkan kepala di antara kedua lututnya dan memeluknya dengan erat. Derai tangisnya semakin tak terbendung, sakit tak terperi. Ia ingin mengikis kulitnya, membuang memori yang menempel layaknya racun di pori-pori. Namun, ia hanya bisa meringkuk, mengutuk malam itu, dan menghisap sisa-sisa keberanian yang kini menguap menjadi abu. Ponselnya tiba-tiba berdering setelah hampir sejam ia meringkuk di toilet itu. “Aku sudah di bawah, kamu di mana?” Manik mata Aluna menyala, senyum secerah mentari pagi tersungging di bibirnya. Bagai mendapat angin segar, gadis itu bangkit dan segera berlari keluar dari toilet menuju ke bawah. Matanya sibuk mencari-cari setelah sampai di pintu gerbang kampus, menoleh ke kiri dan ke kanan. Ponselnya kembali berdering. “Halo, Om di mana?” “Coba berbalik.” Alun segera berbalik, tetapi tidak menemukan mobil mewah yang semalam mengantarnya pulang, raut kecewa kembali membayangi wajahnya. Namun, tiba-tiba dari seberang jalan, terlihat sebuah mobil jenis sedan berwarna silver membuka jendela kaca di bagian kursi belakang kemudi, dan sebuah tangan melambai padanya. Ia segera mengenalinya, wajahnya yang suram kembali bercahaya. Ia segera berlari menyeberang dan mendekatinya, menengok ke dalam, tetapi pintu langsung terbuka. “Ayo masuk!” Aluna tersenyum sembari mengangguk dan langsung masuk, duduk di samping Faris. “Kamu habis nangis? Kenapa?” Faris menatap wajah Aluna penuh selidik. “Om kenapa lama sekali?” Aluna sedikit merajuk manja. Ada rasa bersalah dan iba di matanya, apalagi teringat pesan suara yang tadi dikirimkan gadis itu padanya. “Maaf, tadi aku ada rapat jadi agak lama.” Faris mengelus – elus kepala Aluna dengan lembut. “Nih!” Faris menyerahkan sebuah kardus tipis dan lebar padanya. Aluna menyambutnya dengan penuh semangat, tak ubahnya anak kecil mendapat hadiah. Wajahnya berseri-seri. Faris tersenyum lega melihatnya. “Coba buka, sesuai pesanan gak?” Aluna mengangguk cepat dan membuka kardus itu dengan sangat antusias. “Waah, makasih banyak ya, Om, aku suka banget. Aaakh.” Aluna menjerit kesenangan sembari memeluk benda pipih segi empat berwarna hitam itu erat. Aluna segera memasukkan laptopnya ke dalam tas hadiah yang menyertai laptop itu. “Makasih banyak ya, Om. Makasi-iih banget.” “Cuma makasih?” Aluna terdiam, mengerutkan kening mendengar pertanyaan sangsi dari Faris. “Terus Om mau apa?” Faris menarik sedikit ujung bibirnya untuk memberi kesan senyum simpul yang dingin, lalu maju mendekatkan pipinya ke Aluna. Gadis itu cukup tanggap seolah mengerti yang diinginkan oleh lawan bicaranya. Segera maju hendak memberikan ciuman di pipinya. Namun, di saat yang bersamaan, Faris mengubah posisi wajahnya menghadap padanya sehingga tak ayal, bibir mereka tepat berpapasan dan menempel dengan eratnya. Faris tak membuang kesempatan, menekan tengkuk Aluna, mereguk cawan madu dari bibirnya, sebuah kecupan purba yang terasa seperti peleburan dua keping jiwa yang lama hilang. Aluna mematung, membiarkan setiap tetesan kasih yang melebur ke dalam jiwanya. Sejenak ia telah lupa dengan semua kelam kehilangan harta berharganya. Semua kini terasa candu, manis, dan nikmat berbaur menjadi satu, menutup setiap lubang hitam penyesalan yang mendera. “Makasih ya, Om. Aku masuk dulu,” pamit Aluna setelah Faris menyudahi kecupannya. “Tunggu!” Faris menahan tangannya. “Apa lagi, Om?” “Ini, buat jajan.” Faris menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu. “Tapi Om, kan semalam ....” Faris tak mengindahkan penolakan Aluna, memasukkan uang itu ke dalam kantong tas laptopnya. “Pergilah!” Aluna memberengut manja menatap Faris yang mendominasi. “Ya udah, aku pergi ya, Om. Daaa!” Aluna melenggang pergi, meninggalkan mobil itu dengan sangat bahagia, senyum indah terus terukir di wajahnya. “Ciee, laptop baru nie.” Kelakar teman-teman Aluna saat ia telah mengeluarkan isi tasnya. Aluna hanya tersenyum tanpa berani menanggapi mereka. untungnya Aluna masih bisa mengejar ketertinggalan pelajarannya berkat Syani yang bersedia membantunya. Pelajaran telah usai, tetapi Aluna masih betah di kelas, ia masih harus menyesuaikan beberapa file yang baru di ambilnya dari Syani. “Lun, aku duluan ya, kebelet,” pamit Syani sambil terus berlalu pergi meninggalkan sahabatnya yang masih asik bekerja. “Waah beneran punya laptop baru ya.” Aluna mendongak kaget mendengar suara yang sangat akrab di telinganya. “Ma-ya?” Aluna terbata mengeja nama adik tirinya yang kini telah berdiri dengan wajah sinis di depannya bersama dua orang teman. Aluna segera menutup laptopnya dan mendekapnya dengan erat. “Ini punya temanku, aku cuma pinjam.” Aluna beralasan. Ia sangat hapal perangai adik tirinya yang selalu mengincar setiap barang bagus yang ia miliki. “Bohong, aku lihat sendiri tadi dia ngambil dari mobil mewah, ada om-om di dalamnya,” celetuk salah satu teman Maya. “Jangan-jangan ... kamu sekarang jadi ‘Ayam kampus’ ya?” tuding Maya pada Aluna. “Gak, mana ada.” “Alah ngaku aja, dari mana kamu bisa dapat laptop kalau bukan jual diri,” tuding yang satu lagi. “Sini-in laptopnya, kamu gak pantas punya barang bagus begini!” Maya mencoba merebut paksa laptop dalam pelukan Aluna. “Jangan, ini bukan punyaku, ini punya temanku!” Aluna kekeh mempertahankan barang miliknya. “Aku bilang sini-in!” “Gak mau!” Terjadi tarik-menarik di antara keduanya. "Kalian ngapain bengong aja, bantuin aku!" bentak Maya pada kedua temannya.Matanya memandang jejak kosong di kejauhan, tempat seharusnya siluet itu berdiri, hadir membawa secarik harapan yang sangat dinantinya. Dentang jam seakan tertawa mendengar detak jantungnya yang berpacu dalam cemas yang hampir kehilangan asa. “Bagaimana, sudah selesai?” Lagi-lagi terdengar suara bariton Pak Dosen, memaksa detak nadi berdebar liar, seolah alarm bahaya yang terus berbunyi tanpa henti.Aluna kelimpungan, dingin dan resah terperangkap dalam jaring gelisah yang ia rajut sendiri, sulit bernapas, sulit melepaskan pandangan dari arah jendela.“Om, aku mohon datanglah,” gumam Aluna pada akhirnya. Ada kecamuk batin yang tak terhindarkan, pertarungan antara keyakinan dan keputusasaan. Ia menarik napas yang panjang dan berat, seolah seribu beban yang menghimpit jiwa. “Pak, izin ke toilet!” Aluna memberanikan diri mengacungkan jari yang mendapat anggukan dari Pak Dosen tanda diberi izin. Gadis itu segera berlari cepat keluar dari kelas menuju toilet yang ada di bagian ujung
Syani memeluk Aluna dengan perasaan sedih dan iba seraya mengelus punggungnya. “Yang sabar ya, Lun.” Aluna hanya mengangguk dalam isak tangis pilu. Ada sedikit kehangatan yang dirasakannya saat dipeluk, aliran hangat yang selama ini tidak pernah dirasakannya, sebab selama hidupnya hanya rasa dingin dan kelam yang menjadi selimutnya, membuat perasaannya sedikit terobati. Ponsel Aluna berdering, ia memicingkan mata, menggapai tas pinggangnya dan mengeluarkan ponsel. “Ya, ha_” “Kamu di mana, kenapa belum pulang?!” Suara bentakan di seberang telepon membuat Aluna spontan terbangun, menatap layar ponsel dan segera menghambur pergi meninggalkan kamar Syani tanpa pamit. ‘Gawat, aku kesiangan.’ Aluna meringis menanti ojek online yang baru dipesannya sembari menggigit kuku jari telunjuknya. Rasa cemas tergambar jelas di wajahnya. Sekitar sepuluh menit menunggu, ojek yang dipesannya sudah datang, barulah ia bernapas lega. Namun, begitu sampai di depan rumahnya, Aluna kembali terlihat ce
Faris tidak mengindahkan teriakan Aluna, terus membawanya keluar dari ruangan. Aluna merasa risih dan malu saat melalui para LC dan Ob yang masih bekerja, apalagi katika melihat tatapan para LC yang tadi menindas dan merampoknya, Aluna langsung memejamkan mata, dan menyembunyikan wajah di dada bidang Faris.“Om, tasku ketinggalan!” Aluna mencoba berontak lagi setelah tiba di luar kafe. Namun, Faris tetap tak mengindahkan teriakannya, terus membawanya ke mobil.“Tunggu di sini, biar aku ambilkan!” Faris kembali ke dalam kafe dan beberapa saat kemudian keluar lagi dengan membawa tas miliknya. Aluna terus menatap Faris dengan rasa heran dan tidak yakin dengan apa yang baru saja dialaminya.Faris menoleh menatap Aluna setelah duduk di sampingnya di depan kemudi. Dia perlahan mendekat, membuat jantung Aluna terkesiap. Faris semakin dekat, sampai Aluna terpaksa memejamkan mata erat, mengira pria itu akan berbuat yang aneh-aneh. Namun, setelah sesaat tidak ada yang terjadi, Aluna membuka mat
Aluna mengambil uang di depannya dengan sangat hati-hati, menghitungnya dengan tangan gemetar. Tatapan matanya seolah memudar menatap uang tersebut. Rasa menyesal menguasai, air matanya terus mengalir sembari meremas uang itu kuat-kuat. Seakan dunianya mendadak kehilangan warna, seolah perbuatannya telah melenyapkan pelangi indah di matanya dan kini tinggal menyisakan warna kelabu yang pekat dan menyesakkan. Jiwanya benar-benar telah jatuh terpuruk pada palung yang terdalam.Setelah beberapa saat tenggelam oleh rasa sakit dan penyesalan, Aluna membuka mata, mengusap dan membersihkan wajah, gadis itu segera memasukkan uang tersebut ke dalam tasnya. Sejenak menatap ponsel.“Hah, udah jam 3 subuh?” Aluna menghela napas panjang, dengan enggan memasukkan ponsel ke dalam tas dan bersiap untuk pergi.Baru saja beranjak dari duduknya, tiga orang LC tiba-tiba masuk ke ruangan itu dan menghampirinya dengan gusar.Salah seorang yang berbaju merah berbadan montok langsung mendorong tubuhnya denga
"Berapa yang kamu butuhkan?"Aluna menatap pria asing yang berdiri di sampingnya sedang memakai kemeja. Wajahnya yang tampan, penuh wibawa dan karisma, terlihat bukan pria biasa. Dingin seolah tak punya perasaaan.Namun, pertanyaannya bagai belati yang menghunjam ulu hati Aluna. Gadis mungil bertubuh kurus, berusia sekitar dua puluh tahunan itu hanya bisa menggigit bibir sembari memejamkan mata erat. Air matanya merembes melalui sudut mata. Tangannya perlahan bergerak meraba sofa berniat mencari pakaiannya yang entah di mana.Pria itu pun membantunya mengambil pakaian Aluna, dan menutupi tubuhnya yang terbaring polos di sofa.Aluna masih terdiam, ia tak tahu harus menjawabnya, ia memang butuh uang tapi bukan ditukar dengan tubuhnya, hanya saja semua sudah terjadi. Aluna semakin serba salah, menggigit bibir dan mengatupkan mata erat-eratPria itu menatap tajam Aluna yang terdiam bagai mayat kaku seakan peluru yang siap menembus jantung, meskipun tampak tenang, tetapi aura dinginnya me







