แชร์

Bab 2 Hanya Gadis Malang

ผู้เขียน: Bunda Umu
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-09 12:37:28

Aluna mengambil uang di depannya dengan sangat hati-hati, menghitungnya dengan tangan gemetar. Tatapan matanya seolah memudar menatap uang tersebut. Rasa menyesal menguasai, air matanya terus mengalir sembari meremas uang itu kuat-kuat. Seakan dunianya mendadak kehilangan warna, seolah perbuatannya telah melenyapkan pelangi indah di matanya dan kini tinggal menyisakan warna kelabu yang pekat dan menyesakkan. Jiwanya benar-benar telah jatuh terpuruk pada palung yang terdalam.

Setelah beberapa saat tenggelam oleh rasa sakit dan penyesalan, Aluna membuka mata, mengusap dan membersihkan wajah, gadis itu segera memasukkan uang tersebut ke dalam tasnya. Sejenak menatap ponsel.

“Hah, udah jam 3 subuh?” Aluna menghela napas panjang, dengan enggan memasukkan ponsel ke dalam tas dan bersiap untuk pergi.

Baru saja beranjak dari duduknya, tiga orang LC tiba-tiba masuk ke ruangan itu dan menghampirinya dengan gusar.

Salah seorang yang berbaju merah berbadan montok langsung mendorong tubuhnya dengan kuat hingga terhempas di sofa. Aluna kaget bukan kepalang.

“Berani sekali merebut Pak Faris dari kami!” Wanita itu berkacak pinggang menatap Aluna yang membego menatap mereka bergantian.

Salah seorang lagi mendekat, membungkukkan badan di depan Aluna dan menantang tatapan mata Aluna yang masih bengong ketakutan.

“M-m-mba mau ngapain?” Aluna tergagap ketakutan dan beringsut mundur.

“Kamu pikir kamu itu cantik, hah?” Wanita berbaju biru gradasi, agak jangkung itu menoyor bahu Aluna dengan kuat membuat gadis itu terpojok ke sandaran sofa.

“Secantik apasih kamu, hahh?” Wanita ketiga yang agak pendek dan bohai  ikutan mendekat, menangkap wajah Aluna dan meremasnya dengan kuat, menghempaskannya dengan kuat ke samping, membuat gadis malang itu meringis kesakitan. Ia tampak semakin panik dan ketakutan menghadapi tiga orang LC yang beringas.

“Ka-kalian mau ngapain?” Air mata Aluna sudah mulai berlinang, tubuhnya gemetar, dan berusaha menghindari tatapan mata mereka.

“Gimana cara kamu menggoda Pak Faris, hah?” Rambut Aluna ditarik dengan kuat hingga terdongak. Aluna menjerit tertahan segera menahan tangan wanita berbaju merah.

“Aakh, sakkit, Mbak. Lepasin.” Aluna memelas kesakitan.

Wanita itu bukannya melepas malah semakin kuat menjambak rambutnya. Aluna semakin menjerit, tetapi ia tak perduli.

“Cepatan ngomong, gimana cara kamu merayu Faris!”

“A-aku gak merayunya, Mbak, sumpah.” Aluna mengacungkan dua jarinya untuk menyakinkan omongannya.

“Kamu pikir kami percaya dengan sumpah kamu, hahh? Tahu gak, kamu, selama ini kami udah lakukan berbagai cara tetapi Faris sama sekali nggak melirik, ngerti!”

Kepala Aluna dihempas ke samping hingga terbanting di sofa.

Wanita pendek bohai melirik tas selempang milik Aluna, segera merampas dan membukanya. Aluna kaget dan berusah merebut kembali tasnya, tetapi ditahan oleh dua wanita lainnya.

“Jangan, kembalikan tasku!” Aluna berusaha meronta menggapai-gapai agar tasnya tidak dibuka.

“Waah tenyata banyak juga tipsnya.” Wanita itu terperangah dan langsung tertawa puas melihat lembaran uang di dalam tas Aluna.

Ia segera mengeluarkan semuanya, kedua wanita yang menahan Aluna ikutan berpaling dan menatap riang lembaran uang di tangan temannya.

“Jangan, jangan ambil uangku!” Aluna berusaha merebut uang itu, tetapi kedua wanita yang menahannya tadi segera mendorongnya hingga kembali terhempas ke sofa. Aluna hanya bisa pasrah menatap uangnya dirampas.

“Uang ini memang seharusnya milik kami, ngerti!”

“Emang kamu siapa, hahh?” Wanita bergaun merah dan biru bergantian menoyor kepala dan bahu Aluna.

Si bohai segera membagi uang rampasan itu dengan sangat gembira bagaikan mendapat harta karun di tengah gurun.

Wanita bergaun merah kembali membungkuk menatap tajam Aluna.

“Kamu cuma pelayan pengantar minuman, gak pantas mendapatkan tip dari pelanggan, ngerti.” Ia lagi-lagi menoyor jidat Aluna hingga gadis itu terjungkang ke belekang. Aluna bersadar pasrah di sofa, hanya air matanya yang bisa menggambarkan betapa kesal dan sedihnya menatap semua hartanya habis dijarah.

“Wuiih, asik dapat tip gratis nih.” Wanita bergaun biru tertawa puas sambil mencium uang di tangannya. Yang lain ikutan tertawa.

Wanita bergaun merah lantas menoleh menatap Aluna dengan sinis.

“Kamu! Jangan berani pulang sebelum kamu bereskan semua ruangan di kafe ini, ngerti?”

“Ta-tapi, Mbak. Kan ada OB.” Aluna mencoba membela diri.

Si gadis jangkung langsung menarik lengan Aluna hingga berdiri dan mendorongnya ke depan.

“Dibilang beresin, ya beresin!” Aluna terhuyung, wajahnya mengerut meringis menahan rasa perih dan ngilu di selangkangannya.

“Cepetan!” Wanita bergaun merah ikutan membentak dan menunjuknya.

Aluna hanya bisa mengangguk pasrah. Sambil menahan rasa sakit yang bukan kepalang, gadis itu mulai membereskan meja, membuang botol kosong ke dalam tempat sampah dan memungut tissue yang bertebaran di lantai.

“Lelet banget sih jadi orang!” Wanita berbaju merah langsung menendang bokongnya yang sedang berjongkok sehingga gadis itu terjungkang dan terjerembab di lantai membuat para wanita itu tertawa terbahak-bahak karena merasa lucu melihat kondisi Aluna, kemudian melenggang pergi tanpa peduli lagi dengannya.

 Aluna meringis, mencoba bangkit perlahan, dengan kedua tangannya menumpu di lantai meratapi dirinya seumpama puisi yang terkoyak sebelum sempat dibaca, menghabiskan petang dengan memunguti serpihan harga diri yang diporak-porandakan oleh tawa sumbang ketiga wanita itu. Ibarat jatuh tertimpa tangga pula, deritanya seolah tiada habisnya.

Gadis itu melangkah perlahan, menyelesaikan tugasnya membersihkan ruangan itu, berangsur keluar untuk berpindah ke ruangan lain dengan langkah yang lunglai, berusaha mencari ruangan yang sudah kosong ditinggal penghuninya.

Tubuhnya terlihat lusuh, rambutnya acak-acakan meski telah dirapikan, bekas dijambak oleh para LC keparat tak berperasaan. Ia berjalan gontai menyusuri lorong ruangan VVIP yang telah menorehkan rasa trauma yang sangat besar baginya, sesekali harus berhenti dan berpegangan di dinding menahan rasa nyeri yang tak terperi, teriring deraian air mata yang seakan tak mau habis mengucur setiap saat di pipinya.

Ia kembali berjalan dengan langkah yang berat, merasa seolah seluruh dunia bisa membaca catatan kelam yang tertulis di balik matanya yang sembab.

“Sakit?”

Aluna tersentak, segera mendongak menatap ke depan di mana asal suara berada. Matanya yang redup, buram oleh air mata, susah payah dibulatkan, mengucek sebentar matanya agar terlihat jelas.

“Om?” Aluna menatapnya sangsi.

Tenyata orang itu belum meninggalkan kafe, entah senang, takut atau segan, Aluna menjadi gugup, hingga mundur selangkah, tatapannya tetap lurus menatap pria dingin di depannya.

“Sakit?” Sekali lagi pertanyaan itu dilontarkan. Aluna cuma menggigit bibir sembari mengangguk pelan dan ragu karena tidak mengerti arah maksud pertanyaannya.

Faris mendekat, Aluna segera melangkah mundur, tetapi Faris terus mendekat dengan perlahan dan menatap Aluna tak berkedip membuat gadis itu semakin ketakutan dan gemetar terus mundur hingga terbentur di dinding.

Saat mereka berhadapan begitu dekat, jantung Aluna berdebar bagai gendang perang yang sedang ditabuh dengan kencang. Ia mencoba menggapai sesuatu tetapi dinding di belakanganya begitu polos dan tak ada celah sedikit pun untuknya berpegangan.

Faris langsung berjongkok dan langsung mengangkat Aluna ke dalam gendongannya.

“Aaakh, Om ngapain? lepasin!” Gadis itu panik dan langsung meronta.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 5 Om, Datanglah!

    Matanya memandang jejak kosong di kejauhan, tempat seharusnya siluet itu berdiri, hadir membawa secarik harapan yang sangat dinantinya. Dentang jam seakan tertawa mendengar detak jantungnya yang berpacu dalam cemas yang hampir kehilangan asa. “Bagaimana, sudah selesai?” Lagi-lagi terdengar suara bariton Pak Dosen, memaksa detak nadi berdebar liar, seolah alarm bahaya yang terus berbunyi tanpa henti.Aluna kelimpungan, dingin dan resah terperangkap dalam jaring gelisah yang ia rajut sendiri, sulit bernapas, sulit melepaskan pandangan dari arah jendela.“Om, aku mohon datanglah,” gumam Aluna pada akhirnya. Ada kecamuk batin yang tak terhindarkan, pertarungan antara keyakinan dan keputusasaan. Ia menarik napas yang panjang dan berat, seolah seribu beban yang menghimpit jiwa. “Pak, izin ke toilet!” Aluna memberanikan diri mengacungkan jari yang mendapat anggukan dari Pak Dosen tanda diberi izin. Gadis itu segera berlari cepat keluar dari kelas menuju toilet yang ada di bagian ujung

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 4 Dalam Deraan Dingin dan Kelam

    Syani memeluk Aluna dengan perasaan sedih dan iba seraya mengelus punggungnya. “Yang sabar ya, Lun.” Aluna hanya mengangguk dalam isak tangis pilu. Ada sedikit kehangatan yang dirasakannya saat dipeluk, aliran hangat yang selama ini tidak pernah dirasakannya, sebab selama hidupnya hanya rasa dingin dan kelam yang menjadi selimutnya, membuat perasaannya sedikit terobati. Ponsel Aluna berdering, ia memicingkan mata, menggapai tas pinggangnya dan mengeluarkan ponsel. “Ya, ha_” “Kamu di mana, kenapa belum pulang?!” Suara bentakan di seberang telepon membuat Aluna spontan terbangun, menatap layar ponsel dan segera menghambur pergi meninggalkan kamar Syani tanpa pamit. ‘Gawat, aku kesiangan.’ Aluna meringis menanti ojek online yang baru dipesannya sembari menggigit kuku jari telunjuknya. Rasa cemas tergambar jelas di wajahnya. Sekitar sepuluh menit menunggu, ojek yang dipesannya sudah datang, barulah ia bernapas lega. Namun, begitu sampai di depan rumahnya, Aluna kembali terlihat ce

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 3 Diantar Pulang

    Faris tidak mengindahkan teriakan Aluna, terus membawanya keluar dari ruangan. Aluna merasa risih dan malu saat melalui para LC dan Ob yang masih bekerja, apalagi katika melihat tatapan para LC yang tadi menindas dan merampoknya, Aluna langsung memejamkan mata, dan menyembunyikan wajah di dada bidang Faris.“Om, tasku ketinggalan!” Aluna mencoba berontak lagi setelah tiba di luar kafe. Namun, Faris tetap tak mengindahkan teriakannya, terus membawanya ke mobil.“Tunggu di sini, biar aku ambilkan!” Faris kembali ke dalam kafe dan beberapa saat kemudian keluar lagi dengan membawa tas miliknya. Aluna terus menatap Faris dengan rasa heran dan tidak yakin dengan apa yang baru saja dialaminya.Faris menoleh menatap Aluna setelah duduk di sampingnya di depan kemudi. Dia perlahan mendekat, membuat jantung Aluna terkesiap. Faris semakin dekat, sampai Aluna terpaksa memejamkan mata erat, mengira pria itu akan berbuat yang aneh-aneh. Namun, setelah sesaat tidak ada yang terjadi, Aluna membuka mat

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 2 Hanya Gadis Malang

    Aluna mengambil uang di depannya dengan sangat hati-hati, menghitungnya dengan tangan gemetar. Tatapan matanya seolah memudar menatap uang tersebut. Rasa menyesal menguasai, air matanya terus mengalir sembari meremas uang itu kuat-kuat. Seakan dunianya mendadak kehilangan warna, seolah perbuatannya telah melenyapkan pelangi indah di matanya dan kini tinggal menyisakan warna kelabu yang pekat dan menyesakkan. Jiwanya benar-benar telah jatuh terpuruk pada palung yang terdalam.Setelah beberapa saat tenggelam oleh rasa sakit dan penyesalan, Aluna membuka mata, mengusap dan membersihkan wajah, gadis itu segera memasukkan uang tersebut ke dalam tasnya. Sejenak menatap ponsel.“Hah, udah jam 3 subuh?” Aluna menghela napas panjang, dengan enggan memasukkan ponsel ke dalam tas dan bersiap untuk pergi.Baru saja beranjak dari duduknya, tiga orang LC tiba-tiba masuk ke ruangan itu dan menghampirinya dengan gusar.Salah seorang yang berbaju merah berbadan montok langsung mendorong tubuhnya denga

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 1 Om, Tolongin Aku!

    "Berapa yang kamu butuhkan?"Aluna menatap pria asing yang berdiri di sampingnya sedang memakai kemeja. Wajahnya yang tampan, penuh wibawa dan karisma, terlihat bukan pria biasa. Dingin seolah tak punya perasaaan.Namun, pertanyaannya bagai belati yang menghunjam ulu hati Aluna. Gadis mungil bertubuh kurus, berusia sekitar dua puluh tahunan itu hanya bisa menggigit bibir sembari memejamkan mata erat. Air matanya merembes melalui sudut mata. Tangannya perlahan bergerak meraba sofa berniat mencari pakaiannya yang entah di mana.Pria itu pun membantunya mengambil pakaian Aluna, dan menutupi tubuhnya yang terbaring polos di sofa.Aluna masih terdiam, ia tak tahu harus menjawabnya, ia memang butuh uang tapi bukan ditukar dengan tubuhnya, hanya saja semua sudah terjadi. Aluna semakin serba salah, menggigit bibir dan mengatupkan mata erat-eratPria itu menatap tajam Aluna yang terdiam bagai mayat kaku seakan peluru yang siap menembus jantung, meskipun tampak tenang, tetapi aura dinginnya me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status