Share

Bab 7 Kamu Kuat, Lun

Penulis: Bunda Umu
last update Tanggal publikasi: 2026-03-04 21:38:43

Bu Mirah menatap Maya bergantian dengan Aluna yang sedang terbujur di lantai, wajah kesalnya belum hilang.

“Kalau pingsan memangnya kenapa? Gak usah panik, sana ambilkan air!” Bu Mirah berbalik dan kembali ke sofa, duduk dengan santai seolah tak ada yang terjadi, meskipun aura kesalnya masih terlihat di wajahnya.

Maya mengangguk dengan gugup, beranjak perlahan diselimuti rasa takut dan cemas di wajahnya, masuk ke dalam mengambil segayung air.

Gadis itu lantas menyerahkan air itu ke mamanya.

“Ini Ma.” Wajahnya terlihat bingung menatap mamanya dan air di tangannya.

Bu Mirah berdiri, meraih gayung di tangan Maya, menuju Aluna yang masih terbaring di lantai, dan langsung menyiramkan air segayung di wajahnya.

Gadis malang itu terperanjat, perlahan matanya terbuka, terlihat sangat lemah. Ia menarik napas pelan berusaha mengatur ingatannya yang kabur agar segera terkumpul kembali. Lambat laun jiwanya yang karam kini telah menangkap sosok dirinya yang terkapar, terpuruk dan terperosok dalam jurang kesedihan akibat rongrongan ketidakberdayaannya di  tangan sang ibu tiri.

“Bangun, cepetan!” Bu Mirah menendang betis Aluna dengan keras.

Aluna yang masih berusaha mengumpulkan seluruh jiwa dan raganya, kembali terperanjat dan berupaya kuat untuk bangun.

Belum lagi kepalanya tegak, Bu Mirah sudah menjabakya hingga terdongak menatap wajah wanita setengah baya itu berapi-api.

Jiwa Aluna yang sedang merangkak dari keterpurukan kembali terhempas dan terjungkang, hingga tonggak kesedihan menembus dadanya, memaksa rinai di matanya yang mulai kering kembali mencuat, hingga akhirnya luruh membasahi pipi.

Gadis itu menggigit bibir mencoba menahan isak yang terus memaksa keluar dari mulutnya, hingga hidungnya terlihat kembang kempis. Tangan kurusnya mencoba memegang tangan ibu tirinya agar kulit kepalanya tidak terasa perih. Namun, yang lebih perih adalah hati dan perasaannya.

Aluna perlahan menutup mata, mencoba menyelam menemukan jiwanya yang telah karam agar bisa memeluk, menyabarkan, dan meyakinkannya agar tetap kuat.

‘Sabar, Lun. Kamu hanya sendiri, tak ada yang bisa menolongmu, bertahanlah. Jangan menyerah, kamu kuat, Lun.’

“Masih diam, hah?!” sentak Bu Mirah semakin geram, mencengkeram lebih kuat rambut Aluna.

Gadis itu hanya meringis, menggigit bibir lebih keras, wajahnya sampai mengerut menahan sakit.

“Katakan, kamu taroh di mana laptop itu, hah?!” Bu Mirah semakin sarkas. Kini ia berjongkok, mulutnya tepat di samping telinga Aluna hingga suaranya seolah memenuhi gendang telinga. Namun, gadis itu masih tetap bergeming.

Maya ikut tidak sabar melihat Aluna yang masih terdiam mematung, lantas mendekat dan menyepak paha Aluna.

“Wei, jangan diam, ngomong Anjing!”

Aluna cuma menggeleng pelan.

Bu Mirah semakin pitam langsung menghempaskan kepala Aluna ke samping, membuat gadis itu kembali oleng hampir jatuh, untung tangannya segera bertumpu di lantai.

“Maya, ambilkan rotan Mama!”

Aluna langsung mendongak menatap ibu tirinya dengan rasa takut yang teramat sangat. Bendungan air di matanya seolah tak bisa dihentikan untuk terus mengalirkan air hangat di pipinya. Tangan Aluna mulai gemetar mendengar ancaman itu, bunyi pecutan rotan yang selalu menderanya seolah terdengar nyaring,  rasa perih dan ngilu seakan telah terasa disekujur tubuhnya membuat tulang-belulangnya seketika lemas, tubuhnya langsung bergidik akibat rasa trauma setiap mendengar kata rotan. Hal itu pula yang selalu dimanfaatkan oleh ibu tirinya untuk membuatnya tunduk dan patuh.

“Mau bicara, Nggak? Kalau gak, rotanku yang akan bicara!” ancam Bu Mirah seraya memukul-mukulkan rotan panjang dan besar di telapak tangannya.

Aluna tetap bungkam, meski tubuhnya bergidik berkali-kali, tetapi gadis itu seakan bertekad untuk melakukan perlawanan. Ia memejamkan mata, lantas menggeleng cepat, giginya mengerat kuat, kedua tangannya mengepal kuat, seakan telah siap menerima pecutan bengis rotan ibu tirinya.

“Ooh, berani membangkang ya, ini kamu yang minta.” Bu Mira langsung melayangkan rotan itu ke udara, dan ...

 Cethaar!

Suara pecutan rotan yang mengenai punggung Aluna menggema di udara, seakan meraung mewakili perasaan Aluna yang bungkam dan meringis menerima setiap sentuhannya.

Namun, kali ini Aluna terlihat tegar, meski air matanya terus mengalir, tetapi wajahnya tegas, dan tidak terlihat rasa takut sedikit pun. Hal itu membuat Bu Mirah semakin beringas. Pecutan demi pecutan terus dilayangkan di tubuh gadis itu.

“Ayo, ngaku!” hardiknya kemudian setelah tangannya sudah pegal memecut.

Aluna tetap bungkam.

“Sini, Ma. Biar aku yang lanjutin!” Maya merebut rotan di tangan mamanya.

Baru saja tangannya terayun hendak merotan Aluna, Bapaknya datang.

“Maya, hentikan, kamu mau ngapain, hah?”

Bu Mirah dan Maya langsung menoleh. Wajah mereka terlihat makin tak senang.

“Ini loh, Pa. Aluna jadi simpanan om-om di luar.” Maya protes tak mau kalah.

“Hahh, maksudnya?” Pak Damar, suami Bu Mirah, yang merupakan bapak kandung Aluna itu terlihat syok.

“Bener, Pa. Tadi temen aku lihat sendiri dia turun dari mobil mewah milik om-om sambil bawa laptop mahal,” jelas Maya antusias.

“Terus, mana laptopnya?”

“I-itu ... dia ....” Maya terlihat gelagapan.

“Itulah makanya, Pa, kita paksa dia bicara, laptopnya taroh di mana, dari tadi dia gak mau ngaku,” lanjut Maya kesal.

“Gak ada laptop ya gak usah dipaksakan ngomong. Sudah, sudah. Luna, sana bikinkan Ayah kopi!”

Seolah tak ada yang terjadi, Pak Damar begitu enteng hanya menyuruh anaknya membuatkan kopi, bukannya bertanya tentang kondisinya ataupun membelanya.

Aluna bangkit dengan enggan dan berjalan gontai menuju dapur.

“Damar! Berani-benarninya kamu!” Bu Mirah membentak suaminya karena telah membiarkan Aluna pergi tanpa hasil yang diinginkannya.

“Aah, sudah, sudah. Ayo duduk dulu, jangan terlalu emosi. Nanti kena hypertensi. Ayo!” Pak Damar mencoba membujuk isterinya dan menarik lembut tangan Bu Mirah menuju sofa.

Maya yang tidak bisa menerima Aluna pergi begitu saja tanpa berhasil mendapatkan laptop, menghentakkan kakinya dengan kuat di lantai, wajahnya manyun dan memberengut kesal.

“Pa, pokoknya aku mau laptop mahal kayak punya Aluna!”

Namun, teriakan Maya tidak dihiraukan oleh Pak Damar, dan terus membimbing isterinya ke sofa. Alhasil, Maya kesal dan putar badan menuju kamarnya.

Sementara di dapur, Aluna terus menitikkan air mata dalam diam. Suaranya seolah telah hilang ditelan rasa sakit dan kecewa terhadap sikap ayahnya yang sama sekali tak menganggapnya sedikit pun.

Tangan Aluna terlihat gemetar, bahkan mengangkat panci untuk menjerang air pun rasanya susah. Barulah ia sadar, sejak pagi sampai sore ini belum ada sesuatu pun yang masuk di perutnya. Saat melirik meja makan, Aluna melihat sesisir pisang di sana. Setelah mengamati ruangan itu tak ada siapa-siapa yang melihatnya, ia pun segera mendekat dan mengambilnya, kemudian kembali ke dapur untuk menjerang air.

Sambil menunggu air matang, Aluna menatap pisang di tangannya. Senyum getir terlihat di sudut bibirnya yang pucat.

“Untuk sebiji pisang ini pun aku harus seperti maling.”

Pisang itu seharusnya terasa manis, tetapi di lidah Aluna terasa pahit, bahkan terasa sulit untuk ditelan. Lembutnya buah bulat panjang itu bagaikan duri yang menusuk kerongkongan, sehingga Aluna menelannya dengan susah payah, diiringi deraian air mata.

Aluna mengantar kopi untuk ayahnya ke depan, di ruang keluarga. Saat meletakkan kopi di meja, ia sengaja melirik ayahnya sedikit, untuk mengetahui apakah ayahnya memperhatikannya atau tidak, tetapi harapannya bagai debu di musim kering, terbang tak bersisa. Ayahnya hanya sibuk memijit kepala isteri tersayangnya yang tampak asik menikmati setiap pijitan itu dengan mata terpejam.

“Kopinya udah jadi, Yah,” ucap Aluna tanpa mau lagi menatap ayahnya, berbalik dan segera pergi dari tempat itu.

“Hmm,” respon Pak Damar terhadap anaknya, sambil melirik kepergian gadis itu. Raut di wajahnya jelas menggambarkan rasa sedih dan iba yang teramat dalam, tetapi ia hanya diam.

“Aluna, jangan lupa memasak!”

Teriakan Bu Mirah yang tiba-tiba bagaikan petir yang sanggup membuat langkah Aluna langsung terhenti.

“Baik, Bu,” jawab Aluna dengan enggan dan hampir tak terdengar.

Sambil berlinangan air mata, Aluna melaksanakan pekerjaan rutinnya tanpa ada keluhan yang terdengar, hingga semua tugasnya selesai, ia pun menyelinap keluar melalui jendela kamarnya menuju kafe tempatnya bekerja.

Sial tak dapat ditolak, untung tak dapat di raih. Sesampainya di kafe, ketiga LC yang membullynya semalam, telah menghadangnya di pintu ruang ganti pakaian.

“Masih berani datang?” Tatapan penuh kebencian mengarah lurus pada Aluna bagaikan anak panah yang siap menghunjam dadanya.

Gadis itu tersentak dan gemetar ketakutan dibuatnya.

‘Hahh, kapan berakhirnya derita ini, Tuhan.’ Air mata Aluna menggunung, membuat kabur penglihatannya. Kedua tangannya mencengkeram erat tali tasnya, napasnya tersengal memaksa air matanya jatuh menetes di pipi. Ia benar-benar berada dalam tekanan yang amat besar. Bisakah ia lolos kali ini?

Bunda Umu

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak ya

| Sukai
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Tidak Cocok Untukku

    Faris kembali menghadap ke depan, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, memperbaiki posisi tegak tubuhnya, wajahnya diangkat sedikit, mengarah tepat ke meja bartender, tatapannya tajam tertuju pada ketiga LC pembully Aluna yang ternyata tengah berdiri di sana. Mereka langsung terkesiap, matanya terbelalak, terlihat ketakutan, wajahnya langsung ditekuk sambil meremas jemari. Seakan mereka paham akan maksud dari tatapan tersebut.Aluna mengintip ke arah tatapan itu, penasaran dengan hal yang membuat pria tinggi di depannya berhenti mendadak. Saat melihat ketiga LC di depan sana menunduk ketakutan, mata Aluna terbeliak, segera menengok ke atas dan ketika melihat aura dingin membunuh di sana, Aluna makin terbeliak, menahan napas, nyalinya seolah menciut, segera memperbaiki posisinya seperti semula.“Kalian bertiga, aku harap peristiwa yang tadi, jangan sampai terulang lagi!” suaranya dingin, datar, tetapi penuh tekanan dan ancaman. Mereka hanya bisa mengangguk cepat tanpa beran

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 8 Suara Semalam

    “Masih kepikiran dengan gadis kemarin?” Bos kafe tempat Aluna bekerja itu menatap Faris yang tengah termenung sembari menimang gelas minuman di tangannya.Melihat pria dingin yang juga merupakan temannya itu masih terdiam, ia tersenyum lantas menepuk bahunya.“Ayolah, gak usah terlalu dipikirkan, kan kamu udah ngasih kompensasi? Apalagi yang kamu khawatirkan?”Faris menenggak minumannya dengan sekali tuang, meletakkan gelasnya lantas menggeleng pelan.“Bukan itu yang aku pikirkan.”“Terus?” Bos kafe menatapnya bingung.“Aku terus kepikiran dengan kejadian kemarin.” Faris menatap kosong ke depan, kedua tangannya bertautan sembari memainkan kedua ibu jarinya.Mata bos kafe itu berbinar nakal melirik pria disebelahnya.“Kenapa? Apa ada yang beda?” ia terlihat sangat antusias.Faris tersenyum miring, hanya sebentar kemudian wajahnya kembali datar. Ia menunduk menatap ujung sepatunya, kedua tangannya masih asik memainkan ibu jari.“Setelah hampir lima tahun menikah dengan Rossa, baru kemari

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 7 Kamu Kuat, Lun

    Bu Mirah menatap Maya bergantian dengan Aluna yang sedang terbujur di lantai, wajah kesalnya belum hilang.“Kalau pingsan memangnya kenapa? Gak usah panik, sana ambilkan air!” Bu Mirah berbalik dan kembali ke sofa, duduk dengan santai seolah tak ada yang terjadi, meskipun aura kesalnya masih terlihat di wajahnya.Maya mengangguk dengan gugup, beranjak perlahan diselimuti rasa takut dan cemas di wajahnya, masuk ke dalam mengambil segayung air.Gadis itu lantas menyerahkan air itu ke mamanya.“Ini Ma.” Wajahnya terlihat bingung menatap mamanya dan air di tangannya.Bu Mirah berdiri, meraih gayung di tangan Maya, menuju Aluna yang masih terbaring di lantai, dan langsung menyiramkan air segayung di wajahnya.Gadis malang itu terperanjat, perlahan matanya terbuka, terlihat sangat lemah. Ia menarik napas pelan berusaha mengatur ingatannya yang kabur agar segera terkumpul kembali. Lambat laun jiwanya yang karam kini telah menangkap sosok dirinya yang terkapar, terpuruk dan terperosok dalam ju

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 6 Mana laptopnya?

    “Jangan, lepaskan! Ini bukan punyaku.” Aluna terus berusaha mempertahankan hak miliknya.Maya dan kedua temannya juga tak mau mengalah, mereka hampir saja merebut laptop itu, tetapi Aluna bergerak cepat, menendang keras betis Maya hingga jatuh terduduk, menggigit lengan salah satu temannya, sehingga laptop itu tak jadi terlepas dari pelukannya.“Akkh, kurang ajar, kamu berani menendangku!”“Sialan, kamu menggigitku?!”Saat salah satu teman Maya lagi berusaha membantunya berdiri, Aluna kembali tak tinggal diam, dia segera mendorong orang itu hingga tersungkur menimpa Maya, segera menyambar tasnya dan berlari keluar.“Kurang ajar, awas kau!” seru teman Maya tak terima dengan perlawanan AlunaGadis itu terus berlari keluar, hingga berpapasan dengan Syani yang baru keluar dari kamar kecil.“Aluna, kamu ngapain!?”Aluna menoleh, dan segera menghampirinya.“Maya mengejarku, dia mau merebut laptopku. Ini cepetan ambil, nanti kamu ngaku kalau ini punya teman kamu, ya.”Syani ikut kelimpungan d

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 5 Om, Datanglah!

    Matanya memandang jejak kosong di kejauhan, tempat seharusnya siluet itu berdiri, hadir membawa secarik harapan yang sangat dinantinya. Dentang jam seakan tertawa mendengar detak jantungnya yang berpacu dalam cemas yang hampir kehilangan asa.“Bagaimana, sudah selesai?”Lagi-lagi terdengar suara bariton Pak Dosen, memaksa detak nadi berdebar liar, seolah alarm bahaya yang terus berbunyi tanpa henti.Aluna kelimpungan, dingin dan resah terperangkap dalam jaring gelisah yang ia rajut sendiri, sulit bernapas, sulit melepaskan pandangan dari arah jendela.“Om, aku mohon datanglah,” gumam Aluna pada akhirnya.Ada kecamuk batin yang tak terhindarkan, pertarungan antara keyakinan dan keputusasaan. Ia menarik napas yang panjang dan berat, seolah seribu beban yang menghimpit jiwa.“Pak, izin ke toilet!” Aluna memberanikan diri mengacungkan jari yang mendapat anggukan dari Pak Dosen tanda diberi izin.Gadis itu segera berlari cepat keluar dari kelas menuju toilet yang ada di bagian ujung. Sesa

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 4 Dalam Deraan Dingin dan Kelam

    Syani memeluk Aluna dengan perasaan sedih dan iba seraya mengelus punggungnya. “Yang sabar ya, Lun.” Aluna hanya mengangguk dalam isak tangis pilu. Ada sedikit kehangatan yang dirasakannya saat dipeluk, aliran hangat yang selama ini tidak pernah dirasakannya, sebab selama hidupnya hanya rasa dingin dan kelam yang menjadi selimutnya, membuat perasaannya sedikit terobati. Ponsel Aluna berdering, ia memicingkan mata, menggapai tas pinggangnya dan mengeluarkan ponsel. “Ya, ha_” “Kamu di mana, kenapa belum pulang?!” Suara bentakan di seberang telepon membuat Aluna spontan terbangun, menatap layar ponsel dan segera menghambur pergi meninggalkan kamar Syani tanpa pamit. ‘Gawat, aku kesiangan.’ Aluna meringis menanti ojek online yang baru dipesannya sembari menggigit kuku jari telunjuknya. Rasa cemas tergambar jelas di wajahnya. Sekitar sepuluh menit menunggu, ojek yang dipesannya sudah datang, barulah ia bernapas lega. Namun, begitu sampai di depan rumahnya, Aluna kembali terlihat ce

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 3 Diantar Pulang

    Faris tidak mengindahkan teriakan Aluna, terus membawanya keluar dari ruangan. Aluna merasa risih dan malu saat melalui para LC dan Ob yang masih bekerja, apalagi katika melihat tatapan para LC yang tadi menindas dan merampoknya, Aluna langsung memejamkan mata, dan menyembunyikan wajah di dada bida

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 2 Hanya Gadis Malang

    Aluna mengambil uang di depannya dengan sangat hati-hati, menghitungnya dengan tangan gemetar. Tatapan matanya seolah memudar menatap uang tersebut. Rasa menyesal menguasai, air matanya terus mengalir sembari meremas uang itu kuat-kuat. Seakan dunianya mendadak kehilangan warna, seolah perbuatannya

  • Gadis Malang Simpanan CEO   Bab 1 Om, Tolongin Aku!

    "Berapa yang kamu butuhkan?"Aluna menatap pria asing yang berdiri di sampingnya sedang memakai kemeja. Wajahnya yang tampan, penuh wibawa dan karisma, terlihat bukan pria biasa. Dingin seolah tak punya perasaaan.Namun, pertanyaannya bagai belati yang menghunjam ulu hati Aluna. Gadis mungil bertu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status