LOGINSyani memeluk Aluna dengan perasaan sedih dan iba seraya mengelus punggungnya.
“Yang sabar ya, Lun.” Aluna hanya mengangguk dalam isak tangis pilu. Ada sedikit kehangatan yang dirasakannya saat dipeluk, aliran hangat yang selama ini tidak pernah dirasakannya, sebab selama hidupnya hanya rasa dingin dan kelam yang menjadi selimutnya, membuat perasaannya sedikit terobati. Ponsel Aluna berdering, ia memicingkan mata, menggapai tas pinggangnya dan mengeluarkan ponsel. “Ya, ha_” “Kamu di mana, kenapa belum pulang?!” Suara bentakan di seberang telepon membuat Aluna spontan terbangun, menatap layar ponsel dan segera menghambur pergi meninggalkan kamar Syani tanpa pamit. ‘Gawat, aku kesiangan.’ Aluna meringis menanti ojek online yang baru dipesannya sembari menggigit kuku jari telunjuknya. Rasa cemas tergambar jelas di wajahnya. Sekitar sepuluh menit menunggu, ojek yang dipesannya sudah datang, barulah ia bernapas lega. Namun, begitu sampai di depan rumahnya, Aluna kembali terlihat cemas. Ia menggigit bibir dan meremas jemari, berjalan perlahan menuju pintu. Aluna membuka pintu dengan sangat hati-hati, setelah memastikan keadaan aman terkendali, ia masuk ke dalam. “Kenapa baru pulang, kamu kemana aja? Lihat gak jam berapa sekarang?!” Aluna kaget bukan kepalang, ternyata ibu tirinya sudah berdiri di samping pintu sambil memegang gagang sapu, senjata andalan yang selalu menyiksanya. “I-Ibu?” Mata Aluna membola, jantungnya berdetak cepat seakan mau meledak. Belum juga sempat bereaksi, gagang sapu yang dipegang ibunya sudah melayang mengenai lengannya. Aluna mengaduh kesakitan. “Dasar pembangkang, keras kepala, sekarang sudah mulai keluyuran, hahh?” “Ampun, Bu. Ampuun.” Aluna memelas kesakitan, tetapi ibu tirinya seakan tidak mendengar jeritannya. Pukulan demi pukulan diayunkan ke tubuhnya. “Masih mau kelayapan?” “Gak lagi, Bu. Ampun.” “Lihat! Jam berapa sekarang, masih belum ada sarapan yang tersedia, rumah masih kotor, kamu pikir kalau kelayapan terus kamu lolos dari kerjaan rumah, haah?” Aluna meringis menahan sakit dari setiap pukulan bertubi-tubi dari ibu tirinya. Barulah setelah puas memukulinya, ibu tirinya berhenti. “Sana ke dapur, awas kalau besok ngilang lagi, jangan harap aku ijinin kamu buat kerja!” Wanita tua itu lantas menendang Aluna hingga terhuyung dan terjerembab di lantai. Wajah Aluna terasa ngilu, pandangannya sedikit kabur dan kepalanya agak pusing karena terbentur di lantai. Gadis itu bangkit dengan susah payah, berjalan tertatih karena rasa perih di selangkangannya belum hilang. Melihat Aluna yang tampak malas berjalan, Mirah, si Ibu Tiri semakin geram, mengejar Aluna dan kembali menghajar punggung Aluna dengan gagang sapu. “Masih juga bermalas-malasan, hah?” Aluna memekik tertahan sebab kaget dan sakit yang bersamaan. Ia mempercepat langkahnya ke dalam, mencoba mengabaikan rasa sakit yang luar biasa di bagian bawahnya, sedang air matanya terus berderai mengiringi setiap langkah kakinya yang terasa ngilu dan perih. Namun, yang lebih perih sebenarnya adalah hatinya. Setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah, dari nyapu, ngepel, dan mencuci, baarulah Aluna terbebas dan kini gadis itu meringkuk di kamar mandi membiarkan air terus mengguyur kepalanya . Aroma amis sabun dan getar dingin ubin menyelimuti tubuhnya yang geming, seolah menjadi satu-satunya selimut. Punggungnya bersandar pada dinding porselen yang dinginnya menusuk, sementara lututnya tertarik rapat ke dada, membentuk sebuah kubah rapuh yang berusaha melindungi inti kehancurannya. Matanya, dua telaga yang biasanya berkilau layaknya bintang, kini tergenang dan hampa, menyimak titik-titik air yang terjun dari pancuran. Ia sengaja membiarkan air dingin itu mengguyur tanpa jeda, seolah berharap setiap tetesnya mampu membilas tidak hanya debu dan peluh hari ini, tetapi juga noda perih yang tertanam di dalam jiwa. Di kulitnya yang pucat, terpahat peta duka yang baru. Lebam keunguan dan biru jelaga merebak tanpa ampun. Di lengan, di punggung, di betis. Itu adalah jejak bisu dari gagang sapu yang menari liar dalam amarah buta, meninggalkan cap kekejaman yang menyayat bukan hanya daging, tetapi juga martabat seorang anak. Setiap denyut luka itu berkolusi dengan sayatan tak kasat mata di hatinya, melantunkan melodi kepiluan yang pedih dan sunyi. Ia menggigil, bukan hanya karena dingin, melainkan karena keterasingan yang membebani bahunya. Air mata yang tak terbendung bercampur dengan air pancuran. Mengalir deras, membawa serta kekecewaan yang menumpuk, rasa sakit yang mengganas, dan pertanyaan menggantung di udara ‘mengapa aku harus mewarisi beban seberat ini?’ Di tengah derai air yang riuh, bisikan jiwanya tenggelam dalam keheningan yang paling nyaring. Ia tahu, hari ini, ia hanyalah serpihan kaca yang pecah, terkapar di dasar jurang yang bernama ketidakadilan. Dan ia hanya bisa berharap, air dingin ini akan membawa dirinya larut, menghilang ke muara yang entah di mana, jauh dari tirani dan luka yang tiada henti menghunjam. Panas matahari memanggang setiap mahluk yang menantangnya hari ini, tidaklah membuat surut jiwa dan semangat seorang gadis ringkih Aluna yang tak pernah lepas dari derita untuk terus berjalan tertatih menyusuri jalan di depan kampus, wajah kelam dan lesu terus menghiasi raut elok parasnya bagai kabut tebal yang menutupi seluruh jiwanya. Langkahnya yang lunglai, tatapannya sayu mengingat manisnya tawa dan canda kelurga kecil ayahnya menikmati sarapan yang dibuatnya pagi tadi. Sebuah botol terpaksa menjadi sasaran kekesalan akibat rasa iri yang menggoda dan merayu hatinya ‘bukankah aku juga anaknya? Tapi kenapa dia tak pernah sekalipun menatap ke arahku.’ “Aluna, hai!” Suara Syani membuyarkan lamunannya dan segera mendongak. Segurat senyum malas tergores di bibirnya. “Hai Syani,” jawabnya malas. Syani berlari ke arahanya penuh semangat dan senyum secerah matahari. “Kamu kenapa? Kok lemas gitu?” Syani menepuk pundaknya penuh semangat. “Akh.” Aluna mengadu dan meringis, mengelus pudaknya yang terasa ngilu. “Kamu kenapa? Aku nepuknya pelan loh?” Syani cemas dan bingung juga merasa bersalah dan segera memeriksa pudak sahabatnya. “Lun, ini kenapa banyak lebamnya?” Wajah Syani langsung shok melihatnya. “Astaga, Lun .... kamu .... ini, ibu tiri kamu?” Aluna hanya mengangguk pelan. Syani menatap sahabatnya dengan perasaan sedih yang tak dapat digambarkan. Rasa sakit ikut membuncah memaksa haru naik mengambang, mengiring air hangat naik ke permukaan hingga menggenang di pelupuk matanya. Aluna hanya menggeleng pelang, sembari menepis tangan Syani yang masih betah memegang leher bajunya. “Aku gak pa-pa.” Syani tak mampu membedung rasa sedih, memeluk sahabatnya dengan erat dan tangisnya pun akhirnya pecah. “Syani, aakh, udah dong, badanku sakit banget.” Syani tersadar dan segera melepaskan pelukan. “Maaf, maaf. Aku gak sengaja.” Aluna tersenyum. “Udahlah, yuk cepetan, bentar lagi jam masuk.” Mereka pun bergegas masuk ke area gedung kampus mereka. Dosen sudah masuk, tetapi laptop yang diidamkan belum juga datang membuat Aluna terlihat gelisah selama pelajaran berlangsung. Ia sudah berkali-kali menengok layar ponsel dan aplikasi chatnya, tetapi belum ada tanda-tanda janji yang diucapkan Faris kemarin akan terwujud. Padahal Alamat kampusnya sudah dikirim sejak tadi. “Baiklah silakan install aplikasi yang sudah bapak kirimkan.” Aluna semakin gelisah mendengar arahan dari pak dosen. Perasaannya tidak tenang, jemari tangannya menjadi korban pelampiasan dan pengurang rasa gelisah, hingga membuatnya merah layaknya udang rebus setengah matang. Gadis itu sekali lagi menengok ke jendela, berharap sebuah mobil mewah yang semalam mengantarnya pulang akan muncul di depan sana, di mana gerbang kampusnya sangat jelas dari jendela kelasnya. ‘Jangan bilang orang itu melupakan janjinya, sia-sialah kehormatanku yang hancur ini’ Gadis itu memejamkan mata dan mengeratkan gigi. Kesal, kecewa berpadu seakan bersekutu menyerang jiwanya, mengurung dan merutuki kebodohannya semalam. ‘Memangnya aku bisa apa?’ perang batin kini mendera setiap detak di pikirannya. ‘Om aku mohon, datanglah.’Matanya memandang jejak kosong di kejauhan, tempat seharusnya siluet itu berdiri, hadir membawa secarik harapan yang sangat dinantinya. Dentang jam seakan tertawa mendengar detak jantungnya yang berpacu dalam cemas yang hampir kehilangan asa. “Bagaimana, sudah selesai?” Lagi-lagi terdengar suara bariton Pak Dosen, memaksa detak nadi berdebar liar, seolah alarm bahaya yang terus berbunyi tanpa henti.Aluna kelimpungan, dingin dan resah terperangkap dalam jaring gelisah yang ia rajut sendiri, sulit bernapas, sulit melepaskan pandangan dari arah jendela.“Om, aku mohon datanglah,” gumam Aluna pada akhirnya. Ada kecamuk batin yang tak terhindarkan, pertarungan antara keyakinan dan keputusasaan. Ia menarik napas yang panjang dan berat, seolah seribu beban yang menghimpit jiwa. “Pak, izin ke toilet!” Aluna memberanikan diri mengacungkan jari yang mendapat anggukan dari Pak Dosen tanda diberi izin. Gadis itu segera berlari cepat keluar dari kelas menuju toilet yang ada di bagian ujung
Syani memeluk Aluna dengan perasaan sedih dan iba seraya mengelus punggungnya. “Yang sabar ya, Lun.” Aluna hanya mengangguk dalam isak tangis pilu. Ada sedikit kehangatan yang dirasakannya saat dipeluk, aliran hangat yang selama ini tidak pernah dirasakannya, sebab selama hidupnya hanya rasa dingin dan kelam yang menjadi selimutnya, membuat perasaannya sedikit terobati. Ponsel Aluna berdering, ia memicingkan mata, menggapai tas pinggangnya dan mengeluarkan ponsel. “Ya, ha_” “Kamu di mana, kenapa belum pulang?!” Suara bentakan di seberang telepon membuat Aluna spontan terbangun, menatap layar ponsel dan segera menghambur pergi meninggalkan kamar Syani tanpa pamit. ‘Gawat, aku kesiangan.’ Aluna meringis menanti ojek online yang baru dipesannya sembari menggigit kuku jari telunjuknya. Rasa cemas tergambar jelas di wajahnya. Sekitar sepuluh menit menunggu, ojek yang dipesannya sudah datang, barulah ia bernapas lega. Namun, begitu sampai di depan rumahnya, Aluna kembali terlihat ce
Faris tidak mengindahkan teriakan Aluna, terus membawanya keluar dari ruangan. Aluna merasa risih dan malu saat melalui para LC dan Ob yang masih bekerja, apalagi katika melihat tatapan para LC yang tadi menindas dan merampoknya, Aluna langsung memejamkan mata, dan menyembunyikan wajah di dada bidang Faris.“Om, tasku ketinggalan!” Aluna mencoba berontak lagi setelah tiba di luar kafe. Namun, Faris tetap tak mengindahkan teriakannya, terus membawanya ke mobil.“Tunggu di sini, biar aku ambilkan!” Faris kembali ke dalam kafe dan beberapa saat kemudian keluar lagi dengan membawa tas miliknya. Aluna terus menatap Faris dengan rasa heran dan tidak yakin dengan apa yang baru saja dialaminya.Faris menoleh menatap Aluna setelah duduk di sampingnya di depan kemudi. Dia perlahan mendekat, membuat jantung Aluna terkesiap. Faris semakin dekat, sampai Aluna terpaksa memejamkan mata erat, mengira pria itu akan berbuat yang aneh-aneh. Namun, setelah sesaat tidak ada yang terjadi, Aluna membuka mat
Aluna mengambil uang di depannya dengan sangat hati-hati, menghitungnya dengan tangan gemetar. Tatapan matanya seolah memudar menatap uang tersebut. Rasa menyesal menguasai, air matanya terus mengalir sembari meremas uang itu kuat-kuat. Seakan dunianya mendadak kehilangan warna, seolah perbuatannya telah melenyapkan pelangi indah di matanya dan kini tinggal menyisakan warna kelabu yang pekat dan menyesakkan. Jiwanya benar-benar telah jatuh terpuruk pada palung yang terdalam.Setelah beberapa saat tenggelam oleh rasa sakit dan penyesalan, Aluna membuka mata, mengusap dan membersihkan wajah, gadis itu segera memasukkan uang tersebut ke dalam tasnya. Sejenak menatap ponsel.“Hah, udah jam 3 subuh?” Aluna menghela napas panjang, dengan enggan memasukkan ponsel ke dalam tas dan bersiap untuk pergi.Baru saja beranjak dari duduknya, tiga orang LC tiba-tiba masuk ke ruangan itu dan menghampirinya dengan gusar.Salah seorang yang berbaju merah berbadan montok langsung mendorong tubuhnya denga
"Berapa yang kamu butuhkan?"Aluna menatap pria asing yang berdiri di sampingnya sedang memakai kemeja. Wajahnya yang tampan, penuh wibawa dan karisma, terlihat bukan pria biasa. Dingin seolah tak punya perasaaan.Namun, pertanyaannya bagai belati yang menghunjam ulu hati Aluna. Gadis mungil bertubuh kurus, berusia sekitar dua puluh tahunan itu hanya bisa menggigit bibir sembari memejamkan mata erat. Air matanya merembes melalui sudut mata. Tangannya perlahan bergerak meraba sofa berniat mencari pakaiannya yang entah di mana.Pria itu pun membantunya mengambil pakaian Aluna, dan menutupi tubuhnya yang terbaring polos di sofa.Aluna masih terdiam, ia tak tahu harus menjawabnya, ia memang butuh uang tapi bukan ditukar dengan tubuhnya, hanya saja semua sudah terjadi. Aluna semakin serba salah, menggigit bibir dan mengatupkan mata erat-eratPria itu menatap tajam Aluna yang terdiam bagai mayat kaku seakan peluru yang siap menembus jantung, meskipun tampak tenang, tetapi aura dinginnya me







