Mag-log in“Steven? Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku, sekadar basa-basi, dan tersenyum pada Steven, walaupun rasa cemas membuatku yakin senyumku pasti tampak aneh.“Kebetulan sedang lewat sini, dan dari jauh aku melihatmu sedang menelepon,” jawabnya sembari menunjuk ke arah selatan dari trotoar tempat kami berada.“Oh. Kalau begitu... hm, aku duluan, ya?”Aku sudah bersiap untuk kabur dari hadapan Steven, harus bergegas sebelum Mark menyadari bahwa aku terlalu lama berada di luar.Jika Mark menyusulku, lalu mendapati aku sedang bersama Steven... entah apa yang akan terjadi.Tapi Steven malah menghalangiku. Dia tak ingin melepas tanganku dari genggamannya yang makin erat.“Apa kau sibuk? Aku ingin mengobrol denganmu,” ujar Steven.“Aku sedang bersama bosku di dalam,” jawabku to the point. “Kami juga akan langsung ke kantor setelah ini.”Steven mengerutkan kening, dia menatap sekilas ke arah jendela kafe—namun area meja yang ditempati Mark dan teman-temannya, tak akan kelihatan dari luar—kem
Harum khas Mark masih ada di sekeliling ruangan, terutama di kasur, bercampur dengan manisnya aroma stroberi dari rambut Lily, serta harum cologne anak-anak yang segar.Tapi ketika kubuka mataku, Mark sudah tak ada di kasur. Hanya ada aku dan Lily yang masih tertidur nyenyak di dalam pelukanku.Kulirik jam dinding berbentuk kepala Hello Kitty di kamar Lily, mendapati kalau sekarang masih pukul lima pagi lewat beberapa menit.Pelan-pelan, kulepaskan pelukanku pada Lily, lalu turun dari kasur. Aku beranjak keluar kamar untuk pergi ke dapur, sekalian mencari Mark.Ternyata pria itu sedang berada di lantai bawah, duduk di sofa ruang keluarga sendirian, dan berkutat dengan iPad.“Kau sudah bangun?” ucap Mark, tanpa menoleh sama sekali, seolah sudah tahu kedatanganku hanya dengan mendengar kakiku yang telanjang menyeret berat di atas lantai marmer yang dingin.“Iya. Selamat pagi,” sapaku pelan, menghentikan langkah tepat di samping sofa panjang berwarna putih tempatnya berada.“Apakah Lily
“AYAH! IBU!”Suara Lily yang menggelegar, menjadi penyambut paling pertama atas kepulanganku dan Mark ke penthouse.Ketika kami bertemu dengannya, dapat kami lihat dengan jelas betapa murung wajah imut gadis kecil itu.Bibirnya terus mengerucut, kepalanya sedikit tertunduk, tatapannya sendu, dan dia berjalan mendekati kami dengan tangan yang memeluk boneka kelinci putih dan kaki yang agak menghentak-hentak.“Selamat malam, Cantik!” sapaku ceria.“Selamat malam, Ibu.” Dia merespons sambil cemberut. “Aku merajuk pada Ibu.”“Benarkah? Kenapa? Apakah Ibu membuatmu kesal?”Dia mengangguk dengan polosnya.Selepas berjongkok untuk menaruh bonekanya di dekat kaki, dia berdiri di hadapan kami sambil bertolak pinggang, lantas mendongak untuk menatap kami dan bertanya serius, “Ayah dan Ibu dari mana saja? Apakah Ayah dan Ibu tidak tahu sudah jam berapa sekarang?”Aku mengulum bibirku ke dalam, memaksa diriku untuk tidak tersenyum ataupun tertawa, sebab tak tahan melihat betapa menggemaskannya Li
Sesuai bisikan instingku.Aku dan Mark melakukan ‘itu’.Kami masuk kembali ke gedung hotel, lalu menyewa salah satu kamar suite di hotel bintang lima itu.Dan sekarang, dia ada di atasku, berpacu dalam nafsu yang membakar sekujur tubuh kami, membiarkan sekeliling kamar dipenuhi oleh deru peraduan yang tak seharusnya terjadi—secara moral.“Mark... ahh, pelan... pelan-pelan saja.”Dia mendengarkanku. Jari-jemarinya bertautan denganku di samping bantal dalam genggaman yang dia perkuat, tetapi ritme dorongannya padaku berangsur menurun.Menit demi menit berlalu, begitu kami menemukan puncak yang kami incar, napas berat kami beradu di tengah suara lenguh yang tertahan.Mark hampir ambruk di atasku.Namun, karena sepertinya dia teringat bahwa aku sedang hamil, dia risau untuk menindihku, sehingga dia segera menjatuhkan tubuhnya ke samping kiriku, lantas menarik selimut untuk kami.Keheningan terjalin sejenak, bunyi penghangat ruangan yang seharusnya halus dan samar pun sampai terdengar di t
“Persetan. Aku bahkan tak yakin dia hamil. Kalaupun dia memang hamil, aku tak yakin itu anakku.”“A-apa?”Aku setengah tak percaya. Yang Mark ucapkan tentang istrinya sendiri, terdengar sangat tidak masuk akal.Namun tampaknya, Mark tidak main-main dengan ucapannya tersebut. Sayangnya, dia enggan membahas lebih jauh.Setelah kudapati rahangnya mengeras selama beberapa saat, dia kembali berkonsentrasi pada komputer dan berhenti menatapku. Aku pun tak berani berkutik, karena takut dianggap ikut campur.“Keluarlah dulu. Jangan ganggu aku sampai sudah waktunya kita pulang,” titah Mark.“Baik. Aku... permisi dulu,” jawabku seraya berbalik dan beranjak meninggalkan ruangan itu.Kulanjutkan pekerjaanku sembari terus memikirkan ucapan Mark mengenai kehamilan Paula.Kalau memang Mark benar bahwa Paula tak sungguhan hamil, apa alasan yang membuat Paula berbohong? Apakah karena dia tak mau Mark menceraikannya?Dan kalau ternyata dia hamil namun bukan anak Mark, lantas... anak siapa?Pertanyaan i
Karyawan yang dipanggil oleh Mark untuk ke ruangannya, berjumlah lima orang. Mereka berasal dari dua departemen yang berbeda.Sejak tiga puluh menit yang lalu, kepala dari masing-masing departemen dan kepala HRD, menyusul ke dalam ruangan Mark setelah dipanggil juga.Aku tahu, lima karyawan itu akan... dipecat.Hal tersebut membuatku gundah.Aku tak tahu apa yang menjadi pertimbangan Mark untuk memecat mereka, tetapi jika alasan utamanya adalah karena mereka menghinaku, aku tidak tahu harus bagaimana selain merasa bersalah.Sebelum pukul empat sore, mereka semua keluar dari ruangan Mark. Dapat kulihat betapa sedih dan murungnya wajah mereka, mereka bahkan tak berani menatapku yang duduk di meja kubikalku.Seorang wanita paruh baya yang merupakan kepala HRD, keluar paling belakang. Dia mendatangi mejaku, sementara yang lain sudah beranjak menuju lift.“Nona Walter?” panggil wanita itu.“Ada yang bisa aku bantu?” responsku seraya bangkit dari duduk.“Maaf atas keributan yang terjadi har







