LOGINAku turun dari taksi dengan dada yang masih terasa sangat panas dan berat, menahan emosi yang campur aduk pasca bertemu Steven.Bisa-bisanya Steven menciumku seperti tadi!Di pinggir jalan, di tengah keramaian, dengan kelancangan pula.Benar-benar keterlaluan.Mataku berkaca-kaca karena saking kesalnya. Sampai aku tiba di dalam unit penthouse, aku masih berusaha menahan air mata di pelupukku agar tak menetes.“Dari mana saja?”Suara Mark muncul dari keheningan ruang tamu. Tegang spontan yang kurasakan karena mendengar suara baritonnya, membuat air mataku seperti langsung naik dan mengering.Langkahku segera terhenti. Aku melihat sosok Mark yang sedang berdiri di samping jendela besar ruang tamu dengan secangkir teh di tangan kanannya, sementara tangan kirinya terkubur di saku celana.Aku menelan ludah untuk memastikan suaraku tidak terdengar aneh, lalu menjawab, “A-aku... tadi aku sudah bilang padamu kalau aku ingin ke supermarket.”Pria itu memerhatikanku dari atas ke bawah. Kedua al
“Apa kau bilang? Paula anak... a-adopsi?”Steven mengangkat kedua alisnya, lantas merespons dengan anggukan singkat. “Mengejutkan, bukan?”“Tapi... kau tahu dari mana?” tanyaku, meminta penjelasan.“Identitas lengkap Paula ada di firma tempatku bekerja, Anna. Aku melihatnya.”Entah apa sebenarnya yang membuatku terkejut mengetahui tentang hal ini.Padahal, kalaupun Paula memang anak adopsi dari orang tuanya, lantas apa urusannya denganku?Tapi entah mengapa, ada sesuatu dari dalam diriku yang seakan mendentingkan alarm, nuraniku seperti tertarik oleh sebuah hal yang ingin tahu tentang Paula lebih dalam.Aneh, aku tidak mengerti apa yang kurasakan saat ini.Selain heran, penasaran, aku juga bingung dengan rasa gundah tak wajar terhadap persoalan Paula. Kegundahan yang sebenarnya tak penting untuk sekadar mendapatkan informasi bahwa orang tuanya mengadopsinya.“Akta lahir Paula yang terbaru, diterbitkan saat usianya empat tahun,” ujar Steven. “Dia anak perempuan satu-satunya dari tiga b
Aku dan Steven duduk bersebelahan, di kursi panjang depan sebuah mini market yang terletak berseberangan dari gedung apartemen Steven.Petang menuju malam seperti ini, trotoar di sekitar jalan besar menuju perbatasan antara Manhattan dan Queens, lumayan ramai.Apalagi, meski suhu udara di seluruh wilayah New York menyentuh lima derajat, tetapi langit begitu cerah sejak siang.Psssttt...Psssttt...Bunyi desis itu muncul secara bergantian saat aku dan Steven membuka kaleng minuman kami masing-masing.Aku dengan kaleng minuman rasa buah, sedangkan Steven dengan sekaleng bir.“Aku mengatakan pada Jane bahwa kita bertemu,” ujar Steven.Kutenggak minuman milikku, lalu bertanya, “Lantas? Jane bilang apa?”“Dia ingin menyusul ke sini, tapi sedang lembur di kantornya.”“Ohh.” Aku mengangguk mengerti.Sambil melirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku, aku berkata, “Lagi pula, aku tak akan berlama-lama. Aku harus pulang sebelum pukul tujuh.”“’Pulang’.” Steven meniru salah satu kata yang k
“Steven? Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku, sekadar basa-basi, dan tersenyum pada Steven, walaupun rasa cemas membuatku yakin senyumku pasti tampak aneh.“Kebetulan sedang lewat sini, dan dari jauh aku melihatmu sedang menelepon,” jawabnya sembari menunjuk ke arah selatan dari trotoar tempat kami berada.“Oh. Kalau begitu... hm, aku duluan, ya?”Aku sudah bersiap untuk kabur dari hadapan Steven, harus bergegas sebelum Mark menyadari bahwa aku terlalu lama berada di luar.Jika Mark menyusulku, lalu mendapati aku sedang bersama Steven... entah apa yang akan terjadi.Tapi Steven malah menghalangiku. Dia tak ingin melepas tanganku dari genggamannya yang makin erat.“Apa kau sibuk? Aku ingin mengobrol denganmu,” ujar Steven.“Aku sedang bersama bosku di dalam,” jawabku to the point. “Kami juga akan langsung ke kantor setelah ini.”Steven mengerutkan kening, dia menatap sekilas ke arah jendela kafe—namun area meja yang ditempati Mark dan teman-temannya, tak akan kelihatan dari luar—kem
Harum khas Mark masih ada di sekeliling ruangan, terutama di kasur, bercampur dengan manisnya aroma stroberi dari rambut Lily, serta harum cologne anak-anak yang segar.Tapi ketika kubuka mataku, Mark sudah tak ada di kasur. Hanya ada aku dan Lily yang masih tertidur nyenyak di dalam pelukanku.Kulirik jam dinding berbentuk kepala Hello Kitty di kamar Lily, mendapati kalau sekarang masih pukul lima pagi lewat beberapa menit.Pelan-pelan, kulepaskan pelukanku pada Lily, lalu turun dari kasur. Aku beranjak keluar kamar untuk pergi ke dapur, sekalian mencari Mark.Ternyata pria itu sedang berada di lantai bawah, duduk di sofa ruang keluarga sendirian, dan berkutat dengan iPad.“Kau sudah bangun?” ucap Mark, tanpa menoleh sama sekali, seolah sudah tahu kedatanganku hanya dengan mendengar kakiku yang telanjang menyeret berat di atas lantai marmer yang dingin.“Iya. Selamat pagi,” sapaku pelan, menghentikan langkah tepat di samping sofa panjang berwarna putih tempatnya berada.“Apakah Lily
“AYAH! IBU!”Suara Lily yang menggelegar, menjadi penyambut paling pertama atas kepulanganku dan Mark ke penthouse.Ketika kami bertemu dengannya, dapat kami lihat dengan jelas betapa murung wajah imut gadis kecil itu.Bibirnya terus mengerucut, kepalanya sedikit tertunduk, tatapannya sendu, dan dia berjalan mendekati kami dengan tangan yang memeluk boneka kelinci putih dan kaki yang agak menghentak-hentak.“Selamat malam, Cantik!” sapaku ceria.“Selamat malam, Ibu.” Dia merespons sambil cemberut. “Aku merajuk pada Ibu.”“Benarkah? Kenapa? Apakah Ibu membuatmu kesal?”Dia mengangguk dengan polosnya.Selepas berjongkok untuk menaruh bonekanya di dekat kaki, dia berdiri di hadapan kami sambil bertolak pinggang, lantas mendongak untuk menatap kami dan bertanya serius, “Ayah dan Ibu dari mana saja? Apakah Ayah dan Ibu tidak tahu sudah jam berapa sekarang?”Aku mengulum bibirku ke dalam, memaksa diriku untuk tidak tersenyum ataupun tertawa, sebab tak tahan melihat betapa menggemaskannya Li







