LOGINSteven mungkin benar, aku seperti menjual diri. Tiap kali aku protes tentang cara Mark mengontrol hidupku, bosku itu selalu mengungkit soal gaji yang dia berikan.
Seolah-olah itu harga yang pantas untuk membeliku. Dia membuatku terjebak tanpa jalan keluar. Dan sekarang, hubunganku dengan Steven terancam. Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian malam itu, Steven terus mengirim pesan padaku dan beberapa kali menelepon. Tapi tak ada yang kurespons. Bagaimana aku harus mengatakan padanya bahwa bosku memintaku mengakhiri hubungan kami? Padahal, dia jelas-jelas melamarku malam itu. Aku memandangi layar ponsel dengan sendu, lagi-lagi ada pesan masuk dari Steven yang mengungkit tentang lamarannya, mengatakan ketidaksukaannya terhadap bosku yang arogan, serta diselipkan berbagai caci makinya untukku. “Anastasia.” Mendengar suara bariton itu, aku sontak bangkit dari duduk, lamunanku buyar. Mark sedang berdiri di depan pintu ruangannya, menatapku sambil mengacungkan sebuah dokumen. “Urus ini.” Aku segera menghampiri, lantas menerima dokumen yang dia pegang. Sembari melihat isinya, aku menjawab, “Akan saya selesaikan sebelum jam makan siang, Tuan.” Pikirku dia akan langsung masuk, tetapi dia justru diam dan mengamatiku dengan intens. “Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?” “Berhentilah bicara seperti itu.” “Eh?” Aku menatapnya bingung. Dia mengencangkan rahangnya, membuat pelipisnya sedikit berkedut, sebelum kemudian berujar, “Lily mempertanyakan mengapa ibunya bersikap seperti seorang pelayan tiap kali bicara denganku. Dia tidak suka mendengarmu memanggilku ‘Tuan’.” “Pelayan? Itu... agak kasar.” Aku tersenyum konyol, mencoba sedikit bergurau. “Tapi mengingat saya bekerja untuk Anda dan dibayar oleh Anda, saya memang termasuk ke dalam spektrum pelayan profesional.” Wajah tampan Mark tak bereaksi sama sekali. Datar seperti papan kayu. Aku sontak meredupkan senyum, menurunkan pandangan untuk menghindari tatapannya yang tak pernah bersahabat. “Jangan bicara terlalu formal padaku, terutama saat di hadapan Lily,” titahnya, tenang namun tak lepas dari penekanan tegas di tiap katanya. “Mulai sekarang, saat di rumah dan jika ada Lily, panggil nama depanku saja. Mengerti?” Aku mengangguk patuh. “Saya mengerti, Tuan.” “Mark. Kau tidak dengar aku bilang apa?” “Tapi tidak ada Lily di sini, Tuan.” Tepat saat aku menunjukkan kebingunganku, tiba-tiba pintu di belakang Mark yang tak tertutup sepenuhnya, bergerak melebar perlahan. Sesosok gadis kecil muncul dan langsung berseru, “Ibu!” Aku terperangah melihatnya, senyumku segera merekah untuk menunjukkan respons gembira. “Sejak kapan kau di sini, Lily? Kenapa Ibu tidak melihatmu datang?” tanyaku lembut sambil sedikit membungkuk dan mengelus puncak kepala Lily. “Ibu tidak ada saat aku datang. Ayah bilang, Ibu sedang mengurus agenda pertemuan ayah nanti sore,” tutur Lily dengan suara imutnya. “Begitu, ya? Tapi, bukankah seharusnya kau berada di sekolah?” Lily menggeleng lambat. “Aku sakit, Ibu. Paman David menjemputku di sekolah, tapi aku tidak mau pulang, mau di sini saja bertemu Ayah dan Ibu.” “Sakit? Astaga... apa yang terjadi?” tanyaku cemas, refleks menempelkan punggung telapak tanganku di dahi gadis kecil itu. Terasa terlalu hangat, lebih tinggi dari suhu normal. “Apa kau baik-baik saja, Sayang? Apa yang kau rasakan sekarang?” “Ibu guru sudah membawaku ke klinik di sekolah. Kata dokter, aku harus minum obat, lalu istirahat yang cukup,” jawab Lily. Senyumnya terukir lebih lebar, menampakkan deretan gigi susunya yang terawat. “Aku senang bertemu Ibu.” Aku menyadari tatapan dalam Mark yang agak berbeda, tertuju padaku selama aku berbicara dengan Lily. Tapi bukan itu yang penting sekarang, aku mencemaskan keadaan Lily. Lily tak mau pulang. Dia berkata bahwa dia hanya mau pulang jika bersamaku. Dan karena aku masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan segera, mau tak mau aku melanjutkan pekerjaanku dulu, tetapi sambil memangku Lily. Dia enggan berjauhan denganku. Semuanya berjalan lancar hari itu, meskipun di siang hari aku sempat pulang ke penthouse Mark sebentar, untuk mengantar dan menemani Lily sampai tertidur. Di malam hari, sampai waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, Lily sudah benar-benar membaik dan tidak demam lagi, tetapi belum kunjung tidur. “Aku ingin menunggu ayah sampai ayah pulang,” katanya. Kututup buku cerita anak-anak yang sejak tadi sudah siap kubaca. Sembari membenarkan posisi dudukku di atas kasur Lily yang dihias oleh banyak boneka yang tersusun rapi, aku bertanya lembut, “Kau tahu kalau tadi sore ayahmu punya agenda pertemuan, bukan?” Lily mengangguk berkali-kali. “Ayah bertemu dengan orang-orang penting, sepenting dirinya juga. Sekarang, dia mungkin sedang makan malam bersama mereka.” “Kenapa ayah makan malam bersama orang penting, bukan bersama aku dan Ibu?” Aku merangkul bahu Lily dan mengusap-usap lengannya. “Karena ayahmu pebisnis dan pengusaha yang sangat hebat, dia punya jadwal tersendiri untuk sesekali makan malam di luar, bersama orang-orang penting itu.” Aku mencolek pucuk hidung Lily dan melanjutkan, “Kau jauh lebih penting dari mereka. Tapi malam ini, giliran mereka dulu yang makan bersama ayah.” Lily menatapku dengan mata birunya yang berbinar-binar, seperti seorang anak yang baru melihat sesuatu yang tak biasa, sesuatu yang tak pernah terjadi, atau mungkin... teringat pada sesuatu yang tak asing. Sedetik kemudian, dia beringsut memelukku dan menyandarkan kepalanya di dadaku. “Ibu tidak boleh pergi lagi, ya? Ibu di sini saja bersamaku dan ayah,” kata Lily tiba-tiba, terdengar sedih. Aku hanya tersenyum, lalu membalas pelukan Lily. “Kalau ada Ibu, aku tidak sering mimpi buruk lagi....” “Memangnya, mimpi buruk seperti apa? Apakah hantu muncul di tidurmu? Berani sekali dia mengganggu tidurmu,” tuturku. Lily sedikit mendongak. Mata kami bertemu, aku melihat kegundahan yang besar sekali terpancar di balik matanya. Dia kelihatan tidak nyaman, tegang, dan takut, tetapi mencoba menahannya. “Ibu bilang... aku harus diam. Tidak boleh memberitahu siapa-siapa,” ungkap Lily. Aku mengerutkan kening. Kapan aku bilang begitu? Kenapa pula aku bilang tentang hal seperti itu? Lagi pula aku—tunggu sebentar... apakah Lily sedang berbicara tentang aku yang dia kira ibunya, atau ibunya yang asli? Maksudku, Paula. Tapi mengapa Paula menyuruh Lily diam? Apa maksudnya ‘tidak boleh memberitahu’? Aku berdeham pelan dan tersenyum lembut. Dengan hati-hati, aku bertanya, “Benarkah? Boleh Ibu tahu kapan Ibu bilang begitu padamu?” Lily termangu menatapku lekat-lekat. Sedetik kemudian, dia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, lalu menggeleng kuat. “Ibu bilang, kalau aku bicara, Ibu akan pergi. Aku tidak mau Ibu pergi lagi.” Tindakannya itu membuatku semakin heran. Apakah gadis kecil ini sebenarnya mengetahui sesuatu tentang ibunya yang menghilang? *** Bersambung .....Aku sangat penasaran tentang ‘rahasia’ yang Mark sebut. Ini jelas sebuah pertanda kalau Mark akan memberikan kejutan untukku. Dia bilang, kami akan makan malam di luar bersama Lily. Namun nyatanya, setelah dari kafe tempat aku bertemu dengan Jane dan Steven, dia langsung membawaku pergi, tidak pulang dulu untuk menjemput Lily. Ketika aku bertanya tentang itu, jawabannya selalu sama, “Kau akan tahu nanti.” Sampai aku lelah bertanya dan memilih untuk menunggu saja hingga tiba di tempat dia ingin membawaku. Sebenarnya lokasinya tak jauh. Namun, dari yang sebelumnya langit masih cerah saat kami meninggalkan kafe, kami baru tiba di tempat tujuan ketika langit sudah mulai gelap. Mungkin pengaruh dari padatnya seluruh arteri New York petang ini. Mark membawaku ke sebuah restoran mewah di lantai paling atas gedung berlantai 75 di bilangan kota, yang mana kuketahui merupakan restoran yang sangat populer di New York dan selalu ramai pengunjung. Namun petang menjelang malam ini, restoran
“Aku masih tidak menyangka kalau kau benar-benar akan menikah dengan Mark Lawrence.”“Itu keputusan yang bodoh. Sangat bodoh.”Aku mengerutkan kening ketika tiba-tiba Steven menimbrung dengan kalimat sarkas.“Kau akan selalu menyebut itu keputusan bodoh, karena kau cemburu, Steven. Padahal kau tahu, sekarang Mark Lawrence sudah resmi jadi duda. Dia dan Paula sudah bercerai!” sahut Jane ketus.Jane menyeruput kopi panasnya, lantas melirik sinis ke arah Steven yang duduk di sebelahnya, dan melanjutkan, “Kau masih berharap bisa mendapatkan Anna kembali, ‘kan? Kurasa itu akan jadi sebatas mimpi untukmu. Kau seharusnya tidak menyelingkuhinya agar ini tak terjadi.”Kerutan di keningku memudar, aku tersenyum setuju mendengar sindiran Jane pada Steven.Sementara itu, Steven memutar matanya dengan malas, lantas memalingkan wajah ke jendela di samping meja yang kami tempati.Sekarang pukul empat sore. Aku dan Jane memang sudah membuat janji untuk bertemu di kafe langganan kami. Tapi ternyata, S
“Bayimu laki-laki? Ya ampun... lengkaplah formasi cucuku. Perempuan dan laki-laki.”Aku tersenyum melihat Inez sangat bersemangat setelah aku dan Mark memberitahu jenis kelamin janin di perutku.Morgan Lawrence yang sedang menikmati secangkir teh hangat di sofa, pun tak berhenti tersenyum lebar.Beberapa saat kemudian, Inez duduk di sebelah suaminya itu, lantas mengangkat Lily untuk duduk di pangkuannya.“Kau akan punya adik laki-laki, Sayangku,” ujar Inez sembari mencubit lembut pipi tembam Lily.“Aku berharap, semoga adik laki-laki mau bermain Barbie bersamaku,” ungkap Lily, tampak harap-harap cemas.Inez tertawa. “Jika nanti kalian sudah dewasa, adik laki-lakimu akan menjagamu dengan baik. Kau juga akan menjadi kakak perempuan yang hebat!”“Aku tidak sabar adikku lahir, Nenek.”“Tunggu beberapa bulan lagi. Dia akan lahir.”“Kalau adik sudah lahir, apakah ayah, ibu, kakek, dan Nenek tidak akan sayang lagi padaku?” Lily menundukkan kepalanya dan mengerucutkan bibir.“Apa? Mana mungki
“Kalau adik sudah lahir, apakah adik akan suka main Barbie sepertiku, Ibu?”“Hm... Ibu belum tahu. Kalau dia perempuan, mungkin dia akan suka, tapi mungkin juga tidak suka. Kalau dia laki-laki pun sama, bisa jadi tidak suka, bisa jadi suka.”Lily berhenti mewarnai hewan laut yang kugambarkan di kertas gambarnya, lalu mendongak menatapku dalam diam.Aku sedang duduk di sofa putih yang ada di kamar Lily, menemaninya bermain, sambil memakan buah potong.Ketika dia diam seperti itu, aku pun tersenyum lembut padanya dan bertanya, “Ada apa, Cantik?”“Berati, kalau adik lahir, belum tentu adik akan bermain denganku, ya?” tanyanya, terlihat sedih.“Bukan begitu, Cantik. Hanya kesukaannya saja yang mungkin berbeda darimu, karena tidak semua orang punya ketertarikan yang sama. Tapi kalau bermain denganmu, itu sudah pasti. Kalian, ‘kan, saudara,” jelasku.Aku bangkit dari duduk, berpindah ke dekat Lily yang duduk manis di karpet bulu yang lembut di tengah kamarnya.Setelah mengelus puncak kepala
Hari dilaksanakannya sidang perceraian Mark dan Paula semakin dekat. Sejak beberapa hari sebelum mediasi pertamanya dengan Mark, Paula sudah tak tinggal di penthouse lagi. Tapi itu hanya setengah dari masalah yang ada. Ketegangan tentang audit perusahaan untuk menyelidiki kasus lama Paula dengan Lawrence Company, telah menimbulkan getaran antara dua keluarga. Inez dan Morgan Lawrence mendukung penuh seluruh keputusan Mark. Tapi tentu, konflik dingin berujung terjadi antara mereka dengan William dan Patricia Harold. Dan aku... aku tak tahu harus bagaimana. Lagi pula, keberadaanku di tengah ketegangan ini, seakan tak terlihat. Permasalahan tentang diriku adalah anak yang terbuang dan diterlantarkan oleh ayah kandungku sendiri, itu pun dengan cepat terlupakan, tak terlalu dihiraukan, bahkan dianggap seperti bukan sesuatu yang serius. Tak apa. Aku terbiasa tak dipedulikan. Oleh ayah kandungku pun aku diterlantarkan. Aku menceritakan segalanya kepada ayah tiriku, dan dia mengatakan
“Jadi sebaiknya, kau tetap bersama Paula saja dan jangan pedulikan aku.”Mark tak langsung memberikan respons atas penuturanku. Dan itu membuatku cemas.Sementara dia mulai melahap sup jagung, aku yang tak bisa berhenti menatapnya selagi menantikan respons, ikut mulai melapah sup jagungku.“Sejak kapan kau merasa punya hak untuk mengatur keputusanku?”“A-aku... bukan begitu maksudku.”Pembicaraan kami kembali terhenti, sebab pelayan datang, membawakan makanan utama kami dan seluruh sisa pesanan kami.Sampai akhirnya pelayan pergi, dan hanya tinggal kami berdua lagi, Mark memandangiku lekat-lekat dan berujar, “Apa kau pikir aku menceraikan Paula hanya demi dirimu saja?”Aku bergeming, diam-diam kugigit kuat bagian dalam bibir bawahku.“Itu juga demi Lily, Anastasia. Dan demi diriku sendiri.”“Tapi dulu kau bilang... Paula tak akan tergantikan bagimu.”“Ya, sebelum aku memastikan dia selingkuh dengan rivalku sendiri, dan sebelum kau membuat mataku terbuka.”Aku bungkam.“Kau membuatku s
Tiga stopmap dan dua amplop cokelat berisi dokumen penting Mark, berada di dalam pelukanku. Aku berjalan persis di belakang Mark, keluar dari lift pribadi penthouse-nya.Dia kerap memijat-mijat keningnya sejak tadi, mungkin kepalanya sakit akibat kelelahan dan pengaruh alkohol yang sudah bekerja.K
Hari terus berlalu. Sudah satu minggu lebih sejak aku mulai tidur satu kamar dengan Mark.Tidak, tidak ada hal intim yang terjadi di antara kami, kecuali ketika dia tiba-tiba menyuruhku melepas baju dan bra malam itu.Tiap hari saat waktunya tidur, kami benar-benar hanya tidur satu kasur, mengobrol
“Ayah mencium Ibu!”Suara nyaring Lily yang kemudian disusul oleh tawa geli, membuatku segera tersadar dari lamunanku.Aku menepuk bahu Mark beberapa kali, kedua mataku membelalak, mengisyaratkannya bahwa lebih baik dia menurunkanku dari gendongannya.Dia setuju. Kami berdiri bersebelahan, lalu men
“Kau bilang apa barusan?”Aku bungkam, diam-diam meraba pintu di belakang punggungku, berharap segera menggapai kenop supaya bisa kabur.Tapi jelas itu tak mungkin bisa kulakukan, karena Mark sudah berbalik lagi, bahkan juga kembali maju mendekat padaku seperti sebelumnya.Mencoba mengembalikan sua







