LOGINSteven menatapku dan Lily secara bergantian. Kerutan konsentrasi tercipta di kening kekasihku itu, dia langsung bangkit dari posisi berlututnya.
“Siapa dia, Ibu?” tanya Lily, mendongak untuk melihat Steven yang sudah berdiri, tetapi pelukannya tetap erat pada leherku. Steven mengernyit tak suka mendengar cara Lily memanggilku ‘Ibu’. “Inikah anak bosmu itu?” ketusnya. Bibir Lily mengerucut. Tampaknya dia ingat dengan suara Steven yang dia dengar di pagi hari waktu itu, sehingga dia menunjuk Steven dan berkata, “Paman jahat itu! Paman yang memarahi ibu!” Aku masih mematung dan mencoba memproses keadaan saat ini. Segera kusadari, Lily tak mungkin datang sendirian, lantas mataku memandang ke arah munculnya Lily beberapa saat yang lalu. Mark Lawrence, dia berjalan tenang mendekati meja yang Steven dan aku tempati. Dia tidak memakai jas atau kemeja formal seperti biasanya jika di luar rumah. Sweater kasmir hitam dan celana katun gelap membalut tubuh atletisnya, dipadukan oleh coat panjang cokelat tua, membuatnya terlihat seribu kali lebih mengintimidasi daripada saat memakai setelan kerja. Wajah Mark adalah topeng kemarahan yang tenang. Setiap langkahnya yang konsisten dan tegas, bak dentuman palu di dadaku. Matanya yang sepipih pisau hanya tertuju padaku dan Lily, mengabaikan keberadaan Steven begitu akhirnya dia tiba di dekat kami. Aku tertegun, menangkap penghakimannya yang tersirat. Aku tak akan mempertanyakan bagaimana dia bisa menemukanku di sini. Dia mungkin melacak ponselku, atau mungkin menyuruh David mengikutiku sejak aku pergi dari penthouse. “Ayah bilang, aku dan ayah akan menyusul Ibu untuk makan malam. Kenapa Ibu bersama Paman Jahat? Nanti Ibu dimarahi lagi...,” tutur Lily, tampak sedih selagi tangan mungilnya menangkup wajahku. “Jangan pergi dengan Paman Jahat, Ibu... aku tidak suka.” Aku tak tahu harus menjawab apa, hanya senyum kaku yang terukir di bibirku. Area meja VIP restoran tak terlalu ramai, tetapi beberapa pasang mata yang ada di sekitar sana, tentunya curi pandang ke arah kami. Rasa malu yang menyisir kulitku membuatku ingin langsung menghilang detik ini. “Jam delapan malam,” kata Mark dingin. “Satu jam lagi adalah waktu tidur Lily. Dia belum makan malam karena tidak mau makan kalau tanpamu, dan kau malah berada di sini. Inikah yang kau sebut urusan mendesak?” Aku menelan ludah untuk meredakan kegugupan yang mencekat tenggorokanku. “Tuan, saya... saya hanya ....” Steven semakin tak terima ketika melihatku gugup dan tak berani bicara lebih banyak. Dia menatapku lekat-lekat dengan rahangnya yang mengencang. “Katakan pada bosmu ini siapa aku. Jangan bersikap seolah kau memang menjual diri padanya dan mengkhianatiku.” Mark mendengus sinis mendengar penuturan Steven. Setelah menatap kotak cincin di tangan Steven dengan tatapan merendahkan, dia menggendong Lily, lalu menarik lenganku untuk berdiri. “Ayo!” titah Mark pelan. Aku mengikuti langkah Mark sambil menatap ke belakang. Steven diam saja, memandangiku dengan kemarahan di wajahnya yang berusaha dia pendam. Aku tahu kalau sebenarnya Steven ingin menahanku, tetapi dia tak ingin mengambil risiko mempermalukan diri sendiri. Sebab, menahan atau mengejarku, akan kembali membuat kami menjadi pusat perhatian orang-orang di sekeliling. Mark membawaku dan Lily makan malam di restoran lain. Tak banyak yang bisa kulakukan, hanya mengikuti apa pun yang Mark katakan, sementara pikiranku terus tertuju pada Steven. Lily terlihat sangat bersemangat, tak henti mengoceh panjang lebar selama kami berada di luar. Sampai akhirnya, dia ketiduran di mobil dalam perjalanan pulang. Setibanya di penthouse, Mark yang menggendong Lily, segera membawa Lily ke kamar. Aku menunggu dengan cemas di depan pintu kamar bercat merah muda itu, sebab saat di tempat parkir, Mark berkata kalau dia ingin bicara denganku setelah menidurkan Lily. “Bisa kau tinggalkan pacarmu itu?” tanya Mark ketika dia keluar dari kamar putrinya. Aku sontak mengerutkan kening. “A-apa maksud Anda, Tuan?” “Pacarmu,” tekan Mark. “Tinggalkan dia.” “Saya tidak mengerti. Kenapa saya harus meninggalkannya?” “Kenapa lagi?” Dia balik bertanya, sedikit ketus. “Tentu saja demi putriku. Putriku akan sedih jika kedepannya masih melihatmu menemui pria lain. Kau pun berbohong padaku dan menemuinya tanpa izin.” Aku tercengang. Dia tak segan mulai mengatur hubunganku dengan dunia luar, bahkan dengan pacarku sendiri! Ini sudah di luar batas dan aku benar-benar perlu menghentikannya. Setelah menelan ludah untuk memberanikan diri, aku mengenggam lengan Mark ketika dia sudah mengambil langkah menuju kamar utama. “Itu tidak mungkin, Tuan. Anda... tidak berhak mencampuri urusan pribadi saya,” kataku. Suaraku sedikit bergetar, mencoba terdengar tegas agar dia tidak semena-mena. “Oh, ya?” Kedua alis Mark bertaut. “Aku membayarmu empat kali lipat dari gajimu, agar kau memprioritaskan putriku. Asisten finansialku sudah mengirim bayaran awal ke rekeningmu, dan mungkin uang itu sudah ditarik otomatis untuk tagihan kartu kreditmu yang menunggak. Benar, bukan?” Aku mematung. Dia tahu soal tagihan kartu kreditku?! “Itu artinya, kau sudah setuju menerima pekerjaan dariku. Aku berhak mencampuri urusan pribadimu apabila itu mengganggu kinerjamu. Dan kau harus mengikuti aturanku." “T-tapi, Tuan—” “Tidak ada tapi-tapi,” ketusnya. Dia menatapku dari atas ke bawah, lantas menitah, “Segera akhiri hubunganmu dengannya!” *** Bersambung .....Aku sangat penasaran tentang ‘rahasia’ yang Mark sebut. Ini jelas sebuah pertanda kalau Mark akan memberikan kejutan untukku. Dia bilang, kami akan makan malam di luar bersama Lily. Namun nyatanya, setelah dari kafe tempat aku bertemu dengan Jane dan Steven, dia langsung membawaku pergi, tidak pulang dulu untuk menjemput Lily. Ketika aku bertanya tentang itu, jawabannya selalu sama, “Kau akan tahu nanti.” Sampai aku lelah bertanya dan memilih untuk menunggu saja hingga tiba di tempat dia ingin membawaku. Sebenarnya lokasinya tak jauh. Namun, dari yang sebelumnya langit masih cerah saat kami meninggalkan kafe, kami baru tiba di tempat tujuan ketika langit sudah mulai gelap. Mungkin pengaruh dari padatnya seluruh arteri New York petang ini. Mark membawaku ke sebuah restoran mewah di lantai paling atas gedung berlantai 75 di bilangan kota, yang mana kuketahui merupakan restoran yang sangat populer di New York dan selalu ramai pengunjung. Namun petang menjelang malam ini, restoran
“Aku masih tidak menyangka kalau kau benar-benar akan menikah dengan Mark Lawrence.”“Itu keputusan yang bodoh. Sangat bodoh.”Aku mengerutkan kening ketika tiba-tiba Steven menimbrung dengan kalimat sarkas.“Kau akan selalu menyebut itu keputusan bodoh, karena kau cemburu, Steven. Padahal kau tahu, sekarang Mark Lawrence sudah resmi jadi duda. Dia dan Paula sudah bercerai!” sahut Jane ketus.Jane menyeruput kopi panasnya, lantas melirik sinis ke arah Steven yang duduk di sebelahnya, dan melanjutkan, “Kau masih berharap bisa mendapatkan Anna kembali, ‘kan? Kurasa itu akan jadi sebatas mimpi untukmu. Kau seharusnya tidak menyelingkuhinya agar ini tak terjadi.”Kerutan di keningku memudar, aku tersenyum setuju mendengar sindiran Jane pada Steven.Sementara itu, Steven memutar matanya dengan malas, lantas memalingkan wajah ke jendela di samping meja yang kami tempati.Sekarang pukul empat sore. Aku dan Jane memang sudah membuat janji untuk bertemu di kafe langganan kami. Tapi ternyata, S
“Bayimu laki-laki? Ya ampun... lengkaplah formasi cucuku. Perempuan dan laki-laki.”Aku tersenyum melihat Inez sangat bersemangat setelah aku dan Mark memberitahu jenis kelamin janin di perutku.Morgan Lawrence yang sedang menikmati secangkir teh hangat di sofa, pun tak berhenti tersenyum lebar.Beberapa saat kemudian, Inez duduk di sebelah suaminya itu, lantas mengangkat Lily untuk duduk di pangkuannya.“Kau akan punya adik laki-laki, Sayangku,” ujar Inez sembari mencubit lembut pipi tembam Lily.“Aku berharap, semoga adik laki-laki mau bermain Barbie bersamaku,” ungkap Lily, tampak harap-harap cemas.Inez tertawa. “Jika nanti kalian sudah dewasa, adik laki-lakimu akan menjagamu dengan baik. Kau juga akan menjadi kakak perempuan yang hebat!”“Aku tidak sabar adikku lahir, Nenek.”“Tunggu beberapa bulan lagi. Dia akan lahir.”“Kalau adik sudah lahir, apakah ayah, ibu, kakek, dan Nenek tidak akan sayang lagi padaku?” Lily menundukkan kepalanya dan mengerucutkan bibir.“Apa? Mana mungki
“Kalau adik sudah lahir, apakah adik akan suka main Barbie sepertiku, Ibu?”“Hm... Ibu belum tahu. Kalau dia perempuan, mungkin dia akan suka, tapi mungkin juga tidak suka. Kalau dia laki-laki pun sama, bisa jadi tidak suka, bisa jadi suka.”Lily berhenti mewarnai hewan laut yang kugambarkan di kertas gambarnya, lalu mendongak menatapku dalam diam.Aku sedang duduk di sofa putih yang ada di kamar Lily, menemaninya bermain, sambil memakan buah potong.Ketika dia diam seperti itu, aku pun tersenyum lembut padanya dan bertanya, “Ada apa, Cantik?”“Berati, kalau adik lahir, belum tentu adik akan bermain denganku, ya?” tanyanya, terlihat sedih.“Bukan begitu, Cantik. Hanya kesukaannya saja yang mungkin berbeda darimu, karena tidak semua orang punya ketertarikan yang sama. Tapi kalau bermain denganmu, itu sudah pasti. Kalian, ‘kan, saudara,” jelasku.Aku bangkit dari duduk, berpindah ke dekat Lily yang duduk manis di karpet bulu yang lembut di tengah kamarnya.Setelah mengelus puncak kepala
Hari dilaksanakannya sidang perceraian Mark dan Paula semakin dekat. Sejak beberapa hari sebelum mediasi pertamanya dengan Mark, Paula sudah tak tinggal di penthouse lagi. Tapi itu hanya setengah dari masalah yang ada. Ketegangan tentang audit perusahaan untuk menyelidiki kasus lama Paula dengan Lawrence Company, telah menimbulkan getaran antara dua keluarga. Inez dan Morgan Lawrence mendukung penuh seluruh keputusan Mark. Tapi tentu, konflik dingin berujung terjadi antara mereka dengan William dan Patricia Harold. Dan aku... aku tak tahu harus bagaimana. Lagi pula, keberadaanku di tengah ketegangan ini, seakan tak terlihat. Permasalahan tentang diriku adalah anak yang terbuang dan diterlantarkan oleh ayah kandungku sendiri, itu pun dengan cepat terlupakan, tak terlalu dihiraukan, bahkan dianggap seperti bukan sesuatu yang serius. Tak apa. Aku terbiasa tak dipedulikan. Oleh ayah kandungku pun aku diterlantarkan. Aku menceritakan segalanya kepada ayah tiriku, dan dia mengatakan
“Jadi sebaiknya, kau tetap bersama Paula saja dan jangan pedulikan aku.”Mark tak langsung memberikan respons atas penuturanku. Dan itu membuatku cemas.Sementara dia mulai melahap sup jagung, aku yang tak bisa berhenti menatapnya selagi menantikan respons, ikut mulai melapah sup jagungku.“Sejak kapan kau merasa punya hak untuk mengatur keputusanku?”“A-aku... bukan begitu maksudku.”Pembicaraan kami kembali terhenti, sebab pelayan datang, membawakan makanan utama kami dan seluruh sisa pesanan kami.Sampai akhirnya pelayan pergi, dan hanya tinggal kami berdua lagi, Mark memandangiku lekat-lekat dan berujar, “Apa kau pikir aku menceraikan Paula hanya demi dirimu saja?”Aku bergeming, diam-diam kugigit kuat bagian dalam bibir bawahku.“Itu juga demi Lily, Anastasia. Dan demi diriku sendiri.”“Tapi dulu kau bilang... Paula tak akan tergantikan bagimu.”“Ya, sebelum aku memastikan dia selingkuh dengan rivalku sendiri, dan sebelum kau membuat mataku terbuka.”Aku bungkam.“Kau membuatku s
Sudah lima hari berlalu sejak aku, Mark, dan Lily kembali ke New York setelah tiga hari kami berada di Florida.Lily semakin ceria pasca kami pulang. Tingkah manisnya yang penuh semangat, membuatku merasa cukup lega, karena tampaknya dia tak lagi memikirkan mimpi buruknya yang membuatnya histeris w
“Kenapa anak yang cantik ini menjerit saat tidur? Apakah ada yang mengganggu tidurmu?”“Aku mimpi seram lagi, Ibu...,” katanya. Matanya masih sembap. Ketika menjawab pertanyaanku barusan, suaranya pun sangat serak dan diselingi batuk-batuk.“Maukah kau bercerita tentang mimpimu??”Lily mengangguk,
Jawaban Mark bahwa dia akan menyusul sebentar lagi, cukup untuk membuat keceriaan Lily bertahan.Gadis kecil itu langsung berlari penuh semangat ke arah bibir pantai. David pun sigap mengikuti Lily untuk menjaganya, sementara aku dan Mark masih di tempat.Mataku di balik kacamata hitam yang kukenak
Satu tangan Mark yang sebelumnya ada di pipiku, kini bergerak turun ke bahuku. Matanya terpejam rapat, lumatannya terhadap bibirku semakin dalam. Gerak jemarinya tak terasa seperti meraba, kala dia menyentuh tulang selangkaku satu garis dengan bahu. Udara di sekeliling ruangan mulai berat. Kesuny







