Share

8. Wajah yang Mirip

Author: Nadia Styn
last update Last Updated: 2025-11-08 09:14:08

“Ibu bilang, kalau aku bicara, Ibu akan pergi. Aku tidak mau Ibu pergi lagi.”

Aku penasaran dengan ucapan Lily itu, ingin sekali bertanya lebih jauh lagi. Tapi selain dihantui ucapan Dr. Reed bahwa Lily tidak boleh dipaksa mengingat, belum aku sempat buka mulut, ekor mata Lily menangkap sesuatu dan dia langsung menoleh.

“Ayah! Ayah pulang!” jerit Lily semringah. Dia merangkak turun dari kasur dan berlari ke arah pintu.

Bayangan Mark muncul dari arah luar, disusul oleh pintu kamar yang dibuka perlahan. Pria itu berdiri di ambang pintu, menangkap Lily ke dalam pelukan hangatnya, tetapi tatapan tajamnya tertuju ke arahku yang masih di kasur.

Untungnya, Lily bisa ditidurkan dengan cepat karena Mark sudah pulang.

Aku keluar dari kamar Lily setelah memastikan gadis kecil itu terlelap nyenyak. Aku siap untuk menuruni tangga dan ingin ke kamar tamu yang kutempati, sebelum Mark menahanku.

Pria itu menyuruhku ikut dengannya ke ruang kerja.

“Ada apa, M-Mark?” tanyaku setelah menutup pintu, gugup menyebut nama depannya untuk pertama kali, setelah tadi siang dia menyuruhku untuk melakukan itu jika sedang di rumah dan sedang ada Lily.

Penerangan ruangan yang luas dan dipenuhi oleh rak buku itu terasa temaram. Cahaya hanya berasal dari lampu sudut, serta dari jendela besar yang tirainya terbuka, membuat lampu dari gedung-gedung tinggi di luar menyorot ke dalam.

Hawa dingin menajam bersama langkah Mark, kala pria dengan kemeja putih yang bagian lengannya digulung sampai siku itu berjalan menuju meja kerjanya, persis di depan jendela.

“Besok pagi jadwalku berangkat ke Chicago, ‘kan?” tanya Mark.

“Benar. Aku sudah menyiapkan semua dokumen yang kau minta. Jika ada dokumen lain yang kau butuhkan, nanti akan kusiapkan lewat email,” jelasku.

“Bagus.” Mark menunjuk beberapa lembar kertas di atas meja. Dia menambahkan, “Aku akan melanjutkan evaluasi bulan lalu. Periksa ini dan serahkan catatanku pada direktur besok pagi.”

Aku berjalan mendekati Mark, berdiri persis di sebelahnya di samping meja, lalu mulai memeriksa lembaran yang dia maksud.

Selama aku berkutat dengan lembaran dokumen itu, dapat kurasakan dengan jelas bagaimana Mark terus menatapku.

Dia tak sedikit pun beranjak dari sebelahku, entah karena tak ingin melepas tatapannya, atau karena dia ingin mengawasiku memeriksa bagian penting dari dokumennya.

Sesekali dapat kurasakan embusan napasnya yang panas mengelilingiku, matanya yang tajam seperti konsisten mengamatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Sementara dia berdiri diam seperti patung, lenganku yang bergerak membalik kertas, beberapa kali tak sengaja bersentuhan dengan lengannya. Singkat, tetapi itu membuat kulitku dapat merasakan bulu-bulu di lengan kekarnya yang terekspos.

Semua itu cukup ampuh menimbulkan debaran tak beres di jantungku. Merasa terancam, pun juga merasakan sesuatu perbedaan aura yang terpancar dari Mark, karena cara tatapnya semenjak dari kamar Lily, tak sedingin biasanya, justru terasa teduh.

“Sudah kau lakukan?” tanya Mark tiba-tiba.

Aku mengangkat pandangan dan menoleh pada Mark, tegang begitu sadar kalau jarak kami ternyata sangat dekat.

“Maaf? Melakukan apa?” Aku balik bertanya.

“Mengakhiri hubunganmu dengan pacarmu,” katanya. “Sudah?”

Sensasi tegang kian menjalar sampai ke ujung kakiku. Tanganku nyaris meremas kertas yang kupegang. “A-aku... belum. Maksudku, aku tidak bisa melakukannya.”

“Kenapa tidak bisa?” Sebelah alis tebal Mark terangkat. “Perlukah aku yang melakukannya untukmu?”

Keningku sedikit mengerut. Dengan kegugupan yang kian mendera, kuletakkan dokumen Mark, lalu berusaha untuk tetap sopan saat menjawab, “Itu... kurasa itu tidak perlu. Aku tidak terpikir mengakhiri hubungan dengannya.”

Mark tersenyum miring. “Kau pikir perintahku bisa ditawar dan ditolak, ya?”

Seharusnya aku protes atas sikap semena-menanya ini selagi ada kesempatan, tetapi lidahku kelu. Menatapnya pun aku gugup.

Jarak kami sudah sangat dekat. Ketika dia maju untuk semakin mendekatiku, lalu aku spontan berbalik menghadapnya, dia seperti ingin menyirnakan jarak di antara kami sepenuhnya.

Aku mematung dan tak bisa ke mana-mana, karena terhalang oleh meja yang berada persis di belakangku.

Kedua telapak tanganku berpegangan pada pinggiran meja, mungkin akan kujatuhkan punggungku di atas meja itu, jika dia masih akan bergerak lebih dekat.

“Kau bisa mengatur jadwalku untuk bertemu dengan pacarmu itu,” ujar Mark. “Biar aku yang bicara dengannya.”

Aku berdeham pelan dan mengerjap cepat. Perasaan campur aduk membuatku spontan bicara formal lagi padanya, “Jangan, Tuan. Sepertinya ini bukan solusi yang matang. Maksud saya... tolong jangan mencampuri urusan pribadi saya dengan—”

“Kau masih tidak mengerti juga rupanya,” potong Mark.

“Tidak, Tuan. Saya menger—”

“Jangan memanggilku begitu! Bagaimana jika Lily tiba-tiba datang dan mendengar?” Mark menitah tajam.

Genggamanku pada pinggiran meja menguat, dan aku memilih untuk menundukkan kepala demi menghindari tatapannya.

Mengulang perkataanku tadi, aku berkata, “Tidak, Mark. Aku mengerti. Hanya saja, a-aku berharap... kehidupan pribadiku tidak dicampuri dengan pekerjaan ini.”

“Inilah kehidupan pribadimu sekarang, Anastasia.”

Aku terdiam.

Tangan kanannya bergerak ke arah wajahku, lantas jari telunjuknya menyentuh bawah daguku. Dengan satu dorongan jari itu, dia membuatku mendongak dan kembali menatapnya.

“Bukankah tempo hari dia melamarmu?” tanya Mark.

“I-iya....”

“Jangan berpikir untuk menerimanya, karena itu pasti menghalangi tugasmu di sini, dan aku tidak akan tinggal diam jika kau membuat putriku kecewa.”

“Menerima atau tidak, itu adalah... pilihanku sendiri.”

“Tepat sekali. Maka berikan pilihan yang masuk akal. Fokus pada tugasmu yang kubayar mahal, atau menerima pacarmu yang menyelingkuhimu berkali-kali itu,” tekan Mark.

Keningku sontak mengerut. Dia tahu riwayat hubunganku dengan Steven?!

Aku mematung lama, membuatnya mengangkat kedua alisnya sebagai isyarat bahwa dia menunggu respons.

“Akan kucoba bicara padanya besok,” jawabku parau.

Sudut kiri bibir Mark tertarik membentuk senyum miring yang tipis, aku semakin gugup dan terpojokkan karenanya.

Dia selalu penuh tuntutan. Arogansinya yang tinggi, mampu menekan siapa pun yang berurusan dengannya, dan dia selalu terlihat tak peduli meski itu sangat merugikan orang lain.

Seperti saat ini, setelah mengintimidasiku, dia melangkah mundur menjauhiku dan bersikap seolah tak ada yang terjadi.

“Sekalian simpan blueprint proyek KeyLink besok pagi,” kata Mark seraya berjalan ke belakang meja.

Aku berdeham pelan dan segera bergeser untuk mendekat pada pria itu.

Ketika dia membuka laci untuk mengambil sebuah diska lepas, aku bisa melihat isi laci besar itu, dan sesuatu yang tersimpan di sana langsung menarik perhatianku.

Sebuah bingkai foto kecil yang membingkai foto Mark bersama seorang wanita berambut pirang.

Kedua mataku melebar. Wajah wanita pirang itu mirip sekali dengan wajahku.

Itu pasti... Paula. Tapi, bagaimana bisa semirip itu?!

***

Bersambung .....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   118. Tidur Bertiga

    “AYAH! IBU!”Suara Lily yang menggelegar, menjadi penyambut paling pertama atas kepulanganku dan Mark ke penthouse.Ketika kami bertemu dengannya, dapat kami lihat dengan jelas betapa murung wajah imut gadis kecil itu.Bibirnya terus mengerucut, kepalanya sedikit tertunduk, tatapannya sendu, dan dia berjalan mendekati kami dengan tangan yang memeluk boneka kelinci putih dan kaki yang agak menghentak-hentak.“Selamat malam, Cantik!” sapaku ceria.“Selamat malam, Ibu.” Dia merespons sambil cemberut. “Aku merajuk pada Ibu.”“Benarkah? Kenapa? Apakah Ibu membuatmu kesal?”Dia mengangguk dengan polosnya.Selepas berjongkok untuk menaruh bonekanya di dekat kaki, dia berdiri di hadapan kami sambil bertolak pinggang, lantas mendongak untuk menatap kami dan bertanya serius, “Ayah dan Ibu dari mana saja? Apakah Ayah dan Ibu tidak tahu sudah jam berapa sekarang?”Aku mengulum bibirku ke dalam, memaksa diriku untuk tidak tersenyum ataupun tertawa, sebab tak tahan melihat betapa menggemaskannya Li

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   117. Mengharapkan Sentuhannya Sepanjang Malam

    Sesuai bisikan instingku.Aku dan Mark melakukan ‘itu’.Kami masuk kembali ke gedung hotel, lalu menyewa salah satu kamar suite di hotel bintang lima itu.Dan sekarang, dia ada di atasku, berpacu dalam nafsu yang membakar sekujur tubuh kami, membiarkan sekeliling kamar dipenuhi oleh deru peraduan yang tak seharusnya terjadi—secara moral.“Mark... ahh, pelan... pelan-pelan saja.”Dia mendengarkanku. Jari-jemarinya bertautan denganku di samping bantal dalam genggaman yang dia perkuat, tetapi ritme dorongannya padaku berangsur menurun.Menit demi menit berlalu, begitu kami menemukan puncak yang kami incar, napas berat kami beradu di tengah suara lenguh yang tertahan.Mark hampir ambruk di atasku.Namun, karena sepertinya dia teringat bahwa aku sedang hamil, dia risau untuk menindihku, sehingga dia segera menjatuhkan tubuhnya ke samping kiriku, lantas menarik selimut untuk kami.Keheningan terjalin sejenak, bunyi penghangat ruangan yang seharusnya halus dan samar pun sampai terdengar di t

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   116. Dia Ingin Menguasai Tubuhku Malam Ini

    “Persetan. Aku bahkan tak yakin dia hamil. Kalaupun dia memang hamil, aku tak yakin itu anakku.”“A-apa?”Aku setengah tak percaya. Yang Mark ucapkan tentang istrinya sendiri, terdengar sangat tidak masuk akal.Namun tampaknya, Mark tidak main-main dengan ucapannya tersebut. Sayangnya, dia enggan membahas lebih jauh.Setelah kudapati rahangnya mengeras selama beberapa saat, dia kembali berkonsentrasi pada komputer dan berhenti menatapku. Aku pun tak berani berkutik, karena takut dianggap ikut campur.“Keluarlah dulu. Jangan ganggu aku sampai sudah waktunya kita pulang,” titah Mark.“Baik. Aku... permisi dulu,” jawabku seraya berbalik dan beranjak meninggalkan ruangan itu.Kulanjutkan pekerjaanku sembari terus memikirkan ucapan Mark mengenai kehamilan Paula.Kalau memang Mark benar bahwa Paula tak sungguhan hamil, apa alasan yang membuat Paula berbohong? Apakah karena dia tak mau Mark menceraikannya?Dan kalau ternyata dia hamil namun bukan anak Mark, lantas... anak siapa?Pertanyaan i

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   115. Aku Tak Yakin Itu Anakku

    Karyawan yang dipanggil oleh Mark untuk ke ruangannya, berjumlah lima orang. Mereka berasal dari dua departemen yang berbeda.Sejak tiga puluh menit yang lalu, kepala dari masing-masing departemen dan kepala HRD, menyusul ke dalam ruangan Mark setelah dipanggil juga.Aku tahu, lima karyawan itu akan... dipecat.Hal tersebut membuatku gundah.Aku tak tahu apa yang menjadi pertimbangan Mark untuk memecat mereka, tetapi jika alasan utamanya adalah karena mereka menghinaku, aku tidak tahu harus bagaimana selain merasa bersalah.Sebelum pukul empat sore, mereka semua keluar dari ruangan Mark. Dapat kulihat betapa sedih dan murungnya wajah mereka, mereka bahkan tak berani menatapku yang duduk di meja kubikalku.Seorang wanita paruh baya yang merupakan kepala HRD, keluar paling belakang. Dia mendatangi mejaku, sementara yang lain sudah beranjak menuju lift.“Nona Walter?” panggil wanita itu.“Ada yang bisa aku bantu?” responsku seraya bangkit dari duduk.“Maaf atas keributan yang terjadi har

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   114. Menjadi Bahan Gosip Panas

    “Hati-hati kalau bicara! Mulutmu itu ternyata jauh lebih kotor daripada sampah! Pengkhianat dan tukang selingkuh seperti dirimu itulah yang justru wanita nakal!”“APA KAU BILANG?!”Aku tidak mengerti, Paula sepertinya bernafsu sekali ingin berbuat kasar dan main tangan terhadapku, sekalipun anaknya sedang ada di sini dan bisa menyaksikan perbuatannya.Tapi beruntung, sebelum tangannya yang sudah terangkat melakukan sesuatu kepadaku, Mark sudah lebih dulu menghalangi.Pria itu berdecak marah.Tak ingin pertengkaran terjadi di hadapan si mungil Lily, Mark langsung menarik tangan Paula, menyeretnya pergi dari dapur, persis seperti yang tadi dilakukan William Harold.Setelah mereka pergi, aku menopang tanganku pada pinggiran meja makan, lantas menghela napas berat, berupaya menenangkan diri dan meredakan emosiku.“Ibu...,” Lily merengek pelan.Menyadari tentang Lily yang masih di dekatku, aku segera tersadar dan berbalik lagi.“Ya, Sayang? Ayo, kembali ke kursimu dan habiskan buah potongm

  • Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku   113. Wanita Nakal

    Paula muncul di dapur.William langsung melepaskan pelukannya padaku, setelah menyadari bahwa teguran tegas barusan berasal dari putrinya yang seakan siap mengamuk.Aku pun segera mundur satu setengah langkah, menjauh dari ayahnya Paula tersebut.“Apa-apaan ini?!” tanya Paula.Dia mengambil langkah mendekat ke arahku dan William. Dengan wajahnya yang kaku oleh amarah, mendadak dia mendorongku kencang.Dorongannya itu membuatku mundur beberapa langkah dan nyaris hilang keseimbangan, tetapi untungnya ada counter dapur di sebelah kiriku, sehingga aku bisa segera menumpukan tanganku di sana untuk mempertahankan diri.“Apa kau sudah gila?!” bentak Paula. “Setelah menggoda suamiku, sekarang kau mengincar ayahku juga?!”Aku menggeleng cepat. “Aku tidak bermaksud.... Aku tidak melakukan apa-apa, Paula.”“KAU MEMANG JALANG MURAHAN!!”Paula mengangkat tangan kanannya untuk menamparku.Aku refleks memejamkan mata dan menundukkan kepala.Tapi untungnya, William langsung mencengkeram pergelangan t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status