LOGIN“Ibu bilang, kalau aku bicara, Ibu akan pergi. Aku tidak mau Ibu pergi lagi.”
Aku penasaran dengan ucapan Lily itu, ingin sekali bertanya lebih jauh lagi. Tapi selain dihantui ucapan Dr. Reed bahwa Lily tidak boleh dipaksa mengingat, belum aku sempat buka mulut, ekor mata Lily menangkap sesuatu dan dia langsung menoleh. “Ayah! Ayah pulang!” jerit Lily semringah. Dia merangkak turun dari kasur dan berlari ke arah pintu. Bayangan Mark muncul dari arah luar, disusul oleh pintu kamar yang dibuka perlahan. Pria itu berdiri di ambang pintu, menangkap Lily ke dalam pelukan hangatnya, tetapi tatapan tajamnya tertuju ke arahku yang masih di kasur. Untungnya, Lily bisa ditidurkan dengan cepat karena Mark sudah pulang. Aku keluar dari kamar Lily setelah memastikan gadis kecil itu terlelap nyenyak. Aku siap untuk menuruni tangga dan ingin ke kamar tamu yang kutempati, sebelum Mark menahanku. Pria itu menyuruhku ikut dengannya ke ruang kerja. “Ada apa, M-Mark?” tanyaku setelah menutup pintu, gugup menyebut nama depannya untuk pertama kali, setelah tadi siang dia menyuruhku untuk melakukan itu jika sedang di rumah dan sedang ada Lily. Penerangan ruangan yang luas dan dipenuhi oleh rak buku itu terasa temaram. Cahaya hanya berasal dari lampu sudut, serta dari jendela besar yang tirainya terbuka, membuat lampu dari gedung-gedung tinggi di luar menyorot ke dalam. Hawa dingin menajam bersama langkah Mark, kala pria dengan kemeja putih yang bagian lengannya digulung sampai siku itu berjalan menuju meja kerjanya, persis di depan jendela. “Besok pagi jadwalku berangkat ke Chicago, ‘kan?” tanya Mark. “Benar. Aku sudah menyiapkan semua dokumen yang kau minta. Jika ada dokumen lain yang kau butuhkan, nanti akan kusiapkan lewat email,” jelasku. “Bagus.” Mark menunjuk beberapa lembar kertas di atas meja. Dia menambahkan, “Aku akan melanjutkan evaluasi bulan lalu. Periksa ini dan serahkan catatanku pada direktur besok pagi.” Aku berjalan mendekati Mark, berdiri persis di sebelahnya di samping meja, lalu mulai memeriksa lembaran yang dia maksud. Selama aku berkutat dengan lembaran dokumen itu, dapat kurasakan dengan jelas bagaimana Mark terus menatapku. Dia tak sedikit pun beranjak dari sebelahku, entah karena tak ingin melepas tatapannya, atau karena dia ingin mengawasiku memeriksa bagian penting dari dokumennya. Sesekali dapat kurasakan embusan napasnya yang panas mengelilingiku, matanya yang tajam seperti konsisten mengamatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sementara dia berdiri diam seperti patung, lenganku yang bergerak membalik kertas, beberapa kali tak sengaja bersentuhan dengan lengannya. Singkat, tetapi itu membuat kulitku dapat merasakan bulu-bulu di lengan kekarnya yang terekspos. Semua itu cukup ampuh menimbulkan debaran tak beres di jantungku. Merasa terancam, pun juga merasakan sesuatu perbedaan aura yang terpancar dari Mark, karena cara tatapnya semenjak dari kamar Lily, tak sedingin biasanya, justru terasa teduh. “Sudah kau lakukan?” tanya Mark tiba-tiba. Aku mengangkat pandangan dan menoleh pada Mark, tegang begitu sadar kalau jarak kami ternyata sangat dekat. “Maaf? Melakukan apa?” Aku balik bertanya. “Mengakhiri hubunganmu dengan pacarmu,” katanya. “Sudah?” Sensasi tegang kian menjalar sampai ke ujung kakiku. Tanganku nyaris meremas kertas yang kupegang. “A-aku... belum. Maksudku, aku tidak bisa melakukannya.” “Kenapa tidak bisa?” Sebelah alis tebal Mark terangkat. “Perlukah aku yang melakukannya untukmu?” Keningku sedikit mengerut. Dengan kegugupan yang kian mendera, kuletakkan dokumen Mark, lalu berusaha untuk tetap sopan saat menjawab, “Itu... kurasa itu tidak perlu. Aku tidak terpikir mengakhiri hubungan dengannya.” Mark tersenyum miring. “Kau pikir perintahku bisa ditawar dan ditolak, ya?” Seharusnya aku protes atas sikap semena-menanya ini selagi ada kesempatan, tetapi lidahku kelu. Menatapnya pun aku gugup. Jarak kami sudah sangat dekat. Ketika dia maju untuk semakin mendekatiku, lalu aku spontan berbalik menghadapnya, dia seperti ingin menyirnakan jarak di antara kami sepenuhnya. Aku mematung dan tak bisa ke mana-mana, karena terhalang oleh meja yang berada persis di belakangku. Kedua telapak tanganku berpegangan pada pinggiran meja, mungkin akan kujatuhkan punggungku di atas meja itu, jika dia masih akan bergerak lebih dekat. “Kau bisa mengatur jadwalku untuk bertemu dengan pacarmu itu,” ujar Mark. “Biar aku yang bicara dengannya.” Aku berdeham pelan dan mengerjap cepat. Perasaan campur aduk membuatku spontan bicara formal lagi padanya, “Jangan, Tuan. Sepertinya ini bukan solusi yang matang. Maksud saya... tolong jangan mencampuri urusan pribadi saya dengan—” “Kau masih tidak mengerti juga rupanya,” potong Mark. “Tidak, Tuan. Saya menger—” “Jangan memanggilku begitu! Bagaimana jika Lily tiba-tiba datang dan mendengar?” Mark menitah tajam. Genggamanku pada pinggiran meja menguat, dan aku memilih untuk menundukkan kepala demi menghindari tatapannya. Mengulang perkataanku tadi, aku berkata, “Tidak, Mark. Aku mengerti. Hanya saja, a-aku berharap... kehidupan pribadiku tidak dicampuri dengan pekerjaan ini.” “Inilah kehidupan pribadimu sekarang, Anastasia.” Aku terdiam. Tangan kanannya bergerak ke arah wajahku, lantas jari telunjuknya menyentuh bawah daguku. Dengan satu dorongan jari itu, dia membuatku mendongak dan kembali menatapnya. “Bukankah tempo hari dia melamarmu?” tanya Mark. “I-iya....” “Jangan berpikir untuk menerimanya, karena itu pasti menghalangi tugasmu di sini, dan aku tidak akan tinggal diam jika kau membuat putriku kecewa.” “Menerima atau tidak, itu adalah... pilihanku sendiri.” “Tepat sekali. Maka berikan pilihan yang masuk akal. Fokus pada tugasmu yang kubayar mahal, atau menerima pacarmu yang menyelingkuhimu berkali-kali itu,” tekan Mark. Keningku sontak mengerut. Dia tahu riwayat hubunganku dengan Steven?! Aku mematung lama, membuatnya mengangkat kedua alisnya sebagai isyarat bahwa dia menunggu respons. “Akan kucoba bicara padanya besok,” jawabku parau. Sudut kiri bibir Mark tertarik membentuk senyum miring yang tipis, aku semakin gugup dan terpojokkan karenanya. Dia selalu penuh tuntutan. Arogansinya yang tinggi, mampu menekan siapa pun yang berurusan dengannya, dan dia selalu terlihat tak peduli meski itu sangat merugikan orang lain. Seperti saat ini, setelah mengintimidasiku, dia melangkah mundur menjauhiku dan bersikap seolah tak ada yang terjadi. “Sekalian simpan blueprint proyek KeyLink besok pagi,” kata Mark seraya berjalan ke belakang meja. Aku berdeham pelan dan segera bergeser untuk mendekat pada pria itu. Ketika dia membuka laci untuk mengambil sebuah diska lepas, aku bisa melihat isi laci besar itu, dan sesuatu yang tersimpan di sana langsung menarik perhatianku. Sebuah bingkai foto kecil yang membingkai foto Mark bersama seorang wanita berambut pirang. Kedua mataku melebar. Wajah wanita pirang itu mirip sekali dengan wajahku. Itu pasti... Paula. Tapi, bagaimana bisa semirip itu?! *** Bersambung .....Aku sangat penasaran tentang ‘rahasia’ yang Mark sebut. Ini jelas sebuah pertanda kalau Mark akan memberikan kejutan untukku. Dia bilang, kami akan makan malam di luar bersama Lily. Namun nyatanya, setelah dari kafe tempat aku bertemu dengan Jane dan Steven, dia langsung membawaku pergi, tidak pulang dulu untuk menjemput Lily. Ketika aku bertanya tentang itu, jawabannya selalu sama, “Kau akan tahu nanti.” Sampai aku lelah bertanya dan memilih untuk menunggu saja hingga tiba di tempat dia ingin membawaku. Sebenarnya lokasinya tak jauh. Namun, dari yang sebelumnya langit masih cerah saat kami meninggalkan kafe, kami baru tiba di tempat tujuan ketika langit sudah mulai gelap. Mungkin pengaruh dari padatnya seluruh arteri New York petang ini. Mark membawaku ke sebuah restoran mewah di lantai paling atas gedung berlantai 75 di bilangan kota, yang mana kuketahui merupakan restoran yang sangat populer di New York dan selalu ramai pengunjung. Namun petang menjelang malam ini, restoran
“Aku masih tidak menyangka kalau kau benar-benar akan menikah dengan Mark Lawrence.”“Itu keputusan yang bodoh. Sangat bodoh.”Aku mengerutkan kening ketika tiba-tiba Steven menimbrung dengan kalimat sarkas.“Kau akan selalu menyebut itu keputusan bodoh, karena kau cemburu, Steven. Padahal kau tahu, sekarang Mark Lawrence sudah resmi jadi duda. Dia dan Paula sudah bercerai!” sahut Jane ketus.Jane menyeruput kopi panasnya, lantas melirik sinis ke arah Steven yang duduk di sebelahnya, dan melanjutkan, “Kau masih berharap bisa mendapatkan Anna kembali, ‘kan? Kurasa itu akan jadi sebatas mimpi untukmu. Kau seharusnya tidak menyelingkuhinya agar ini tak terjadi.”Kerutan di keningku memudar, aku tersenyum setuju mendengar sindiran Jane pada Steven.Sementara itu, Steven memutar matanya dengan malas, lantas memalingkan wajah ke jendela di samping meja yang kami tempati.Sekarang pukul empat sore. Aku dan Jane memang sudah membuat janji untuk bertemu di kafe langganan kami. Tapi ternyata, S
“Bayimu laki-laki? Ya ampun... lengkaplah formasi cucuku. Perempuan dan laki-laki.”Aku tersenyum melihat Inez sangat bersemangat setelah aku dan Mark memberitahu jenis kelamin janin di perutku.Morgan Lawrence yang sedang menikmati secangkir teh hangat di sofa, pun tak berhenti tersenyum lebar.Beberapa saat kemudian, Inez duduk di sebelah suaminya itu, lantas mengangkat Lily untuk duduk di pangkuannya.“Kau akan punya adik laki-laki, Sayangku,” ujar Inez sembari mencubit lembut pipi tembam Lily.“Aku berharap, semoga adik laki-laki mau bermain Barbie bersamaku,” ungkap Lily, tampak harap-harap cemas.Inez tertawa. “Jika nanti kalian sudah dewasa, adik laki-lakimu akan menjagamu dengan baik. Kau juga akan menjadi kakak perempuan yang hebat!”“Aku tidak sabar adikku lahir, Nenek.”“Tunggu beberapa bulan lagi. Dia akan lahir.”“Kalau adik sudah lahir, apakah ayah, ibu, kakek, dan Nenek tidak akan sayang lagi padaku?” Lily menundukkan kepalanya dan mengerucutkan bibir.“Apa? Mana mungki
“Kalau adik sudah lahir, apakah adik akan suka main Barbie sepertiku, Ibu?”“Hm... Ibu belum tahu. Kalau dia perempuan, mungkin dia akan suka, tapi mungkin juga tidak suka. Kalau dia laki-laki pun sama, bisa jadi tidak suka, bisa jadi suka.”Lily berhenti mewarnai hewan laut yang kugambarkan di kertas gambarnya, lalu mendongak menatapku dalam diam.Aku sedang duduk di sofa putih yang ada di kamar Lily, menemaninya bermain, sambil memakan buah potong.Ketika dia diam seperti itu, aku pun tersenyum lembut padanya dan bertanya, “Ada apa, Cantik?”“Berati, kalau adik lahir, belum tentu adik akan bermain denganku, ya?” tanyanya, terlihat sedih.“Bukan begitu, Cantik. Hanya kesukaannya saja yang mungkin berbeda darimu, karena tidak semua orang punya ketertarikan yang sama. Tapi kalau bermain denganmu, itu sudah pasti. Kalian, ‘kan, saudara,” jelasku.Aku bangkit dari duduk, berpindah ke dekat Lily yang duduk manis di karpet bulu yang lembut di tengah kamarnya.Setelah mengelus puncak kepala
Hari dilaksanakannya sidang perceraian Mark dan Paula semakin dekat. Sejak beberapa hari sebelum mediasi pertamanya dengan Mark, Paula sudah tak tinggal di penthouse lagi. Tapi itu hanya setengah dari masalah yang ada. Ketegangan tentang audit perusahaan untuk menyelidiki kasus lama Paula dengan Lawrence Company, telah menimbulkan getaran antara dua keluarga. Inez dan Morgan Lawrence mendukung penuh seluruh keputusan Mark. Tapi tentu, konflik dingin berujung terjadi antara mereka dengan William dan Patricia Harold. Dan aku... aku tak tahu harus bagaimana. Lagi pula, keberadaanku di tengah ketegangan ini, seakan tak terlihat. Permasalahan tentang diriku adalah anak yang terbuang dan diterlantarkan oleh ayah kandungku sendiri, itu pun dengan cepat terlupakan, tak terlalu dihiraukan, bahkan dianggap seperti bukan sesuatu yang serius. Tak apa. Aku terbiasa tak dipedulikan. Oleh ayah kandungku pun aku diterlantarkan. Aku menceritakan segalanya kepada ayah tiriku, dan dia mengatakan
“Jadi sebaiknya, kau tetap bersama Paula saja dan jangan pedulikan aku.”Mark tak langsung memberikan respons atas penuturanku. Dan itu membuatku cemas.Sementara dia mulai melahap sup jagung, aku yang tak bisa berhenti menatapnya selagi menantikan respons, ikut mulai melapah sup jagungku.“Sejak kapan kau merasa punya hak untuk mengatur keputusanku?”“A-aku... bukan begitu maksudku.”Pembicaraan kami kembali terhenti, sebab pelayan datang, membawakan makanan utama kami dan seluruh sisa pesanan kami.Sampai akhirnya pelayan pergi, dan hanya tinggal kami berdua lagi, Mark memandangiku lekat-lekat dan berujar, “Apa kau pikir aku menceraikan Paula hanya demi dirimu saja?”Aku bergeming, diam-diam kugigit kuat bagian dalam bibir bawahku.“Itu juga demi Lily, Anastasia. Dan demi diriku sendiri.”“Tapi dulu kau bilang... Paula tak akan tergantikan bagimu.”“Ya, sebelum aku memastikan dia selingkuh dengan rivalku sendiri, dan sebelum kau membuat mataku terbuka.”Aku bungkam.“Kau membuatku s
“Berikan ponselmu.”“Mark, aku... ini hanya....”Mark menggerakkan jemarinya yang sudah terjulur. Suaranya lebih tegas kala dia menitah, “Berikan!”Dengan tanganku yang agak gemetar, sebab aku terlalu gugup memikirkan apa yang mungkin akan dia lakukan setelah ini, aku terpaksa menyerahkan ponselku
Sudah lima hari berlalu sejak aku, Mark, dan Lily kembali ke New York setelah tiga hari kami berada di Florida.Lily semakin ceria pasca kami pulang. Tingkah manisnya yang penuh semangat, membuatku merasa cukup lega, karena tampaknya dia tak lagi memikirkan mimpi buruknya yang membuatnya histeris w
“Kenapa anak yang cantik ini menjerit saat tidur? Apakah ada yang mengganggu tidurmu?”“Aku mimpi seram lagi, Ibu...,” katanya. Matanya masih sembap. Ketika menjawab pertanyaanku barusan, suaranya pun sangat serak dan diselingi batuk-batuk.“Maukah kau bercerita tentang mimpimu??”Lily mengangguk,
Jawaban Mark bahwa dia akan menyusul sebentar lagi, cukup untuk membuat keceriaan Lily bertahan.Gadis kecil itu langsung berlari penuh semangat ke arah bibir pantai. David pun sigap mengikuti Lily untuk menjaganya, sementara aku dan Mark masih di tempat.Mataku di balik kacamata hitam yang kukenak







