LOGINBodyguard Julie segera mengambil kursi agar nyonya besar itu bisa duduk. Ia duduk di hadapan Olivia, tepatnya di samping Edmund. Zoe memindai wanita itu. Ia baru melihat nyonya besar Louis Group dalam kehidupan nyata. Zoe cukup terkesima karena wanita yang melahirkan Nick itu sangat mempesona walau usianya tak lagi muda. "Ibu ingin kupesankan minuman, emm maksudku Nyonya besar ingin pesan minuman? Aku kira kau akan kehausan karena sebentar lagi kau akan mengeluaekan kata-kata pedasmu," sindir Olivia yang membuat Julie terlihat lebih emosional. "Tutup mulutmu itu!" Maki Julie seraya menunjuk ke wajah menantunya. "Ini semua sudah tidak benar. Ayo kita pergi!" Edmund mengajak Olivia dan Zoe untuk pergi dari sana. Edmund tak tahan mendengar ucapan kasar Julie pada wanita yang ia cintai. "Tidak, Ed. Dia tidak akan berhenti," Olivia menolak untuk pergi dari sana. Olivia merasa perlu menghandapi Julie dan tak menghindarinya. "Jadi, apa yang kau ingin katakan?" Tanya Olivia dengan w
Edmund dan Olivia sampai di wahana lift berhantu bernama The Twilight Zone Tower Of Terror. Keduanya kemudian masuk, sedangkan Zoe menunggu di luar wahana. Zoe yang penakut dengan hal yang berbau horor lebih memilih tak ilut. Lift berhantu ini menampilkan pengalaman di mana pengunjung menaiki lift fiktif yang dikutuk. "Ed, aku deg-degan!" Ucap Olivia saat mereka sudah berada di dalam lift itu. Hanya ada mereka berdua di dalamnya tanpa pengunjung yang lain. Lift kemudian tiba-tiba melesat naik setinggi tiga belas lantai. Lift ini akan dijatuhkan kembali ke bawah dengan cepat, bahkan lebih cepat dari gaya gravitasi, seakan membawa penumpang ke dimensi lain. "Ed!" Teriak Olivia saat lift melesat naik dengan cepat. "Tenanglah! Wahana ini hanya permainan!" Hibur Edmund yang bersikap sangat santai. Sebelum dijatuhkan, lift melewati koridor gelap di mana semua hantu menampakan diri. "Ed!" Olivia meloncat ke dada Edmund tanpa sadar. Edmund kemudian memeluk punggung wanita itu. J
Olivia memilin jarinya. Ia akan meminta izin pada Nick untuk berangkat ke Disneyland Paris esok hari bersama Zoe dan juga Edmund. Ia kemudian mendekati Nick. Ia melihat suaminya itu tengah duduk di atas kasur sembari menelfon. Nick terlihat bercakap di telfon genggam itu dengan wajah yang serius. "Nick?" Panggil Olivia, tapi Nick hanya menoleh dan mengisyaratkan jika dirinya tengah menelfon. Olivia mengangguk, kemudian ia segera keluar dari dalam kamar, memberikan privasi kepada suaminya. Ia yakin jika ada hal mendesak seputar pekerjaan Nick. Olivia kemudian terduduk di sofa. Ia mengambil ponselnya dan melihat grup chat yang berisikan dirinya, Zoe dan juga Edmund. "Bagaimana? Apa diizinkan oleh suamimu?" Tanya Edmund pada grup chat berlambang telfon hijau itu. "Aku juga tak sabar menunggu informasi darimu,' Zoe ikut berkomentar. "Belum, suamiku sedang menelfon. Aku pikir dia sedang membicarakan pekerjaan penting," balas Olivia. Ponselnya kemudian berdering kembali. "Kau
Suasana kelas tampak lebih tenang dari biasanya. Olivia melirik Stevi yang tengah mendemonstrasikan masakannya dengan mata yang bengkak. Olivia merasa iba dengan wanita itu. Kemudian tatapannya beralih pada Edmund yang sedang menatap ke arahnya. Tatapan pria itu tampak dalam. Olivia segera mengalihkan tatapannya dan fokus kembali menperhatikan Stevi. Saat jam perkuliahan usai, Olivia berjalan bersama Zoe menuju kantin. Edmund menyusul langkah keduanya. "Kalian mau ke mana?" Tanya Edmund dengan ceria. Olivia mengernyitkan dahinya. Mengapa Edmund kembali bersikap hangat padanya? Ah, Olivia semakin tak mengerti dengan pria yang ada di hadapannya ini. Mengapa sikapnya sering berubah? "Mau ke kantin," Zoe menjawab dengan tersenyum. "Aku ikut," tukas Edmund seraya berjalan melewati wanita itu. Olivia dan Zoe berpandangan dengan banyak pertanyaan di kepala. Keduanya menyusul langkah pria jangkung itu menuju kantin. Di sana Edmund memesan tiga porsi makanan dan minuman untuknya dan unt
Sesudah pulang dari kampus, Olivia lebih memilih berdiam diri di kamar. Biasanya srtiap hari wanita itu akan mengunjungi adiknya. Akan tetapi, Olivia tak melakukannya. Sudah dua hari ini dia mendiamkan adiknya sendiri. Olivia terlampau kecewa dengan sang adik. Olivia tak pernah menyangka kata-kata adiknya membuat hatinya terluka. Di rumah yang lain, Aurelie tengah duduk di dekat jendela. Ia memperhatikan bunga-bunga yang sudah bermekaran seutuhnya. Meski sudah melihat bunga-bunga, akan tetapi, tak membuat suasana hati Aurelie membaik. Pikirannya tertuju pada satu nama, yaitu kakaknya sendiri, Olivia. Sudah dua hari kakaknya itu tak mengunjunginya. Aurelie begitu kesepian. Seolah ada bagian dari hidup dan dirinya yang hilang. Kenangan bersama sang kakak berputar di kepalanya. Olivia yang berlari sembari hujan-hujanan untuk membeli obat untuknya, Olivia yang hanya membeli satu makanan untuk Aurelie saja. Tak terasa, air mata menitik dari mata Aurelie. "Kau merindukan kakakmu?" Tan
Nick sedang meminum jus apel kesukaannya di restoran di sekitar menara Eiffel yang biasa ia kunjungi. Jus apel sangat populer di Perancis. Jus apel terkenal berasal dari kota Normandia karena kualitasnya. Jus ini disajikan murni tanpa di saring maupun tanpa gula. Nick memang sangat menjaga kesehatannya. Untuk itu ia sangat menyeleksi apa yang masuk ke dalam tubuhnya. Nick melihat arloji yang menempel di tangannya. Ia kini sedang menunggu rekan bisnisnya datang. Rekan bisnisnya itu ingin pertemuan mereka dilakukan di luar kantor dengan alasan agar pembicaraan keduanya lebih santai. Nick tak pernah menunggu. Ia cukup kesal karena partner bisnisnya ini terlambat datang. "Maaf Tuan Nick, aku terlambat!" Rekan bisnisnya itu tersenyum, kemudian duduk di kursi yang ada di hadapan Nick. "Kau terlambat lima menit, Tuan," jawab Nick dingin sembari kembali melihat arloji mewahnya. "Iya, aku minta maaf untuk itu, Tuan. Tadi mobilku mogok. Jadi, aku harus melanjutkan perjalanan dengan mena
Olivia memakan sarapannya dalam diam. Nick keluar dari kamar dengan setelan rapi. Ia akan pergi ke kantor hari ini karena ada rapat penting yang tak bisa ia tunda. Pria itu berhenti di samping Olivia. Ia melihat istrinya itu memasak roti bakar selai blueberry. Terdapat dua piring di meja beserta du
Olivia memasuki ballroom hotel bintang lima yang menjadi tempat pernikahannya dengan Nick Louis. Olivia memakai gaun pernikahan bergaya A-line, dengan sentuhan renda Prancis, memberikan kesan klasik dan juga luxury. Gaun ini sendiri dirancang oleh desaigner ternama yang bekerja di rumah mode milik
Olivia memperhatikan dirinya di cermin. Wajahnya kini sudah dirias dengan begitu mempesona. Make up flawless menjadi pilihan Olivia untuk hari pernikahannya malam ini. MUA yang mendandaninya tersenyum puas melihat wajah Olivia yang begitu cantik malam ini."Senyum!" Pinta MUA ternama yang biasa m
"Nick, kau serius akan menikah?" Tanya Henry, sahabat dari Nick, seraya membolak-balikan surat undangan di tangannya, merasa tak percaya dengan kabar yang baru saja ia terima. "Wow ini gila!" Timpal sahabat Nick yang lain, Kevin. "Sahabat kita akan menikah tiga hari lagi," sambung Kevin. Pria i







