Share

02. Gadis Taruhan

Penulis: Nyemoetdz Kim
last update Terakhir Diperbarui: 2023-11-21 02:17:26

"Ampun, Kak. Tolong jangan pukuli Dara lagi. Tolong ampuni Dara, Kak." Tangisannya tidak membuat seseorang yang memukulnya berhenti menganiaya seorang wanita dengan tubuh ringkih yang ada di bawahnya.

Entah sudah berapa lama dia mendapatkan perlakukan buruk dari kakaknya, yang pasti, wajah cantiknya sudah penuh dengan luka, belum lagi tubuh bagian lainnya juga sudah membiru akibat pukulan yang kakaknya lakukan.

"Kau membuatku malu! Kau membuatku rugi," teriak sang kakak pada adiknya yang sudah terkulai lemas. Tangisannya saja tidak kakaknya dengan, bagaimana dia peduli jika adiknya itu sudah babak belur di tangannya.

"Aku ingin sekali membunuhmu. Ha!!" Bentak Juan kakak dari gadis yang tak berdaya itu.

Namanya Darapuspita, seorang gadis yang baru berusia 23 tahun. Dia seorang pekerja keras, saat dirinya harus merelakan pendidikannya karena Juan yang menjadi keluarga satu-satunya tidak membiarkannya melanjutkan pendidikan setelah orang tua mereka meninggal dengan cara yang tragis.

Hidup serba kekurangan setelah orang tua mereka meninggal, membuat Dara harus bekerja sangat keras, namun sesulit apa dia berjuang untuk hidupnya, dia tidak pernah menjual diri. Sampai suatu malam, Juan membuatnya harus menanggung malu, saat kakaknya itu menjual Dara pada pria hidung belang. Hobinya kumpul dengan teman gank nya, membuat Juan butuh uang untuk foya-foya dan Dara menjadi korbannya.

Saat Dara harus memuaskan orang yang sudah membayar Juan dengan memberikan tubuh adiknya, Dara melarikan diri. Tidak mau harus menjual diri demi kakaknya itu. Tidak jarang Januar mempiaskan kekesalannya pada Dara yang tidak bisa pergi darinya.

"Kau lupa dengan janjimu?" tanya seorang yang sedang duduk di hadapan Juan sambil menghisap rokok di sela jarinya.

"Tidak. Aku akan memberikan adikku saat aku kalah," jawabnya, dia kembali menjadikan Dara sebagai alat. Kali ini dia bertaruh pada ketua genk motor yang menjadi lawan genk nya sejak lama. Ini masalah kekuasaan yang kebetulan harus Juan dapatkan dari orang di hadapannya.

"Baiklah. Saat aku menang darimu. Adikmu yang akan menjadi milikmu," jawabnya, seakan dia tau tentang adik Juan.

"Apapun untukmu."

Mereka kemudian berkelahi di atas ring di saksikan beberapa anggota yang lain. Sebut saja namanya Yudanta Wijaya, dia ketua genk motor yang memiliki sikap dingin. Namun, dari sikap dinginya, dia terlihat tampan dan menawan. Dia memiliki wibawa, itu alasan membuatnya menjadi pemimpin genk motor sampai detik ini.

"Aku akan tagih apa yang menjadi hak ku," ucap Yuda pada Juan yang sudah terkapar. Walau dia gagah saat menghajar adiknya, dia tetap saja kalah dengan Yuda.

Juan harus mengakui kekalahannya, dia segera pulang dan menemui Dara yang sedang terlelap setelah merasakan rasa sakit yang teramat di tubuhnya. Meski tau adiknya sedang tidak baik, Juan tetap membawa adiknya itu dengan paksa.

"Kakak, kita mau ke mana? Aku harus bekerja pagi nanti, aku--"

"Bayar atas apa yang kau perbuat. Kali ini kau tidak akan bisa pergi darinya, aku pastikan itu!" tegas Juan dengan adiknya duduk di belakang motor yang dia tunggangi.

"Aku bisa saja pergi dengan meloncat, jika Kakak tidak mengatakan akan ke mana kita," ancaman Dara tidak Juan gubris sama sekali.

"Bahkan mayatmu akan tetap aku bawa padanya, saat kau mau atau tidak, apa peduliku? Yang penting kau itu pergi bersamaku, dan tidak melakukan kesalahan yang sama lagi," jelas Juan.

Dara mengurungkan niatnya untuk loncat dari motor Juan. Dengan motor yang dia dapat dari taruhan, Juan membonceng adiknya ke tempat di mana ketua genk menunggunya.

"Apa dia?" tanya Yuda yang menatap Dara dan kakaknya berdiri hadapannya.

"Ya, aku bisa memiliki motor itu, kau memilikinya. Dia milikmu." Juan mendorong Dara pada Yuda yang langsung memegangi gadis menyedihkan itu.

Yuda segera membawa Dara ke kamar yang tidak terlalu besar, tapi tampak nyaman. Dia mengunci pintu dari dalam dan melemparkan asal kunci itu. Dara yang merasa takut hanya berdiam diri di dekat pintu, melihat Yuda yang berbaring sambil menyalakan pemantik rokok.

"Kau mau?" tanya Yuda sambil menyodorkan rokok pada Dara yang menggeleng pelan.

"Apa yang ingin Anda lakukan?" Usia mereka hanya berbeda 5 tahun, tapi Dara begitu sopan padanya, atau bisa dibilang Daras sedang ketakutan.

"Apa kakakmu itu tidak menjelaskan apa yang membuatmu ke sini?" tanya Yuda. Kali ini dia berjalan mendekati Dara yang masih di tempat yang sama. Dia terus menatap di balik wajah lebam itu, ada kecantikan yang tertutupi. Gadis lugu seperti Dara, sangat Yuda sukai. Akan ada sensasi tersendiri saat mengajaknya bercinta, itu pikirnya.

"Apa ini ulah kakakmu?" tanya Yuda. Dia menyentuh wajah Dara yang langsung menampiknya.

"Heh, tenanglah. Asal kau tau, kakakmu sudah menjualmu padaku, jadi tugasmu sekarang memuaskan nafsuku," ujar Yuda dengan tubuh yang semakin mendekat, dia bahkan membuat punggung Dara menyentuh pintu.

"Tidak, aku--"

"Kenapa aku harus mendengarkanmu. Kemarilah, jika kau tidak ingin aku bersikap kasar padamu," tegas Yuda sambil mengajak Dara ke tempat tidur.

Yuda menarik lengan Dara kasar, tidak peduli dengan luka yang ada di tubuh gadis itu. Otaknya tidak bisa lagi berpikir dengan benar saat dia melihat gadis cantik di hadapannya ini sudah mengambil hati dipertemuan pertama kalinya.

"Aku mohon jangan nodai saya," isak Dara, tapi Yuda tidak menghiraukannya.

"Kau ingin membuka bajumu sendiri atau aku yang membukanya," ucap Yuda tanpa ingin merespon ucapan Dara.

"Tidak, aku tidak mau melakukan itu, jangan lakukan itu padaku." Dara langsung menyilakan kedua tangannya ke dadanya.

"Aku katakan padamu. Aku tidak butuh bertanya padamu." Yuda berbisik lirih pada Dara yang sudah menangis mendapatkan perlakuan yang tidak dia inginkan.

Yuda menarik baju yang Dara kenakan, dia tidak peduli Dara menolaknya. "Kau akan semakin kesakitan saat kau melawan, nikmati saja tanpa melawan, aku akan bermain dengan halus jika kau menurut padaku," tutur Yuda.

"Aku tidak mau!" Bentak Dara.

"Oh, tenanglah sayang. Aku akan bermain dengan halus padamu, aku berjanji," sahut Yuda. Dia menarik dagu Dara dan mencium bibir Dara yang sebelumnya sudah dinikmati oleh bandot tua kenalan Yuda.

Tubuhnya mengeliat menolak perlakuan Yuda, namun Yuda semakin membuatnya tidak bisa melawan saat hasrat menguasai dirinya.

"Aku mulai sekarang, jangan berteriak, karena akan percuma saja untukmu, tidak akan ada yang membantumu," jelas Yuda saat tubuh Dara sudah telanjang bulat dengan tangis yang masih keluar dari mulutnya.

"Akh ... sakit!" Pekik Dara saat benda keras milik Yuda memasuki lubang miliknya dengan kasar.

"Aku bilang jangan terlalu melawan, kau akan menerima akibatnya saat kau melawanku," ujar Yuda tanpa rasa bersalah. Dia tampan dengan rambut model mullet itu sedang bercinta dengan budak nafsu yang dia dapat dari pria bodoh seperti Juan.

"Akhh, sakit!" Terikan dan juga rintihan terdengar menyakitkan, namun tidak menghentikan Yuda untuk menikmati tubuh peraw*n gadis munggil seperti Dara.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   12.

    Follow dulu sebelum lanjut baca 😁Happy Reading.."Sebenarnya apa yang kalian sepakati?" tanya Dara pada mereka berdua. Dia merasa menjadi alat Juan untuk mendapatkan sesuatu yang dia mau."Aku ... aku hanya menjadikanmu bahan taruhan saja," jawab Juan."Kau yakin dengan jawabanmu. Kau seperti lempar batu sembunyi tangan. Bukankan Bos sudah jelaskan apa niatnya," ucap orang yang berdiri di samping Brian. Orang itu memukul kepala Juan yang ada di bawahnya."Bos Yuda hanya ingin aku melepaskan mu, tidak lagi menyiksamu. Itu saja," jawab Juan dengan tangan mengusap kepalanya yang terkena pukulan."Lalu kau mengingkari janjimu," imbuhnya."Maafkan aku ... aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan bersikap baik pada adikku. Tidak lagi memukulnya," jelas Juan."Katakan maafmu itu pada adikmu yang semalam menjadi incaran temanmu. Kau tau dia hampir mati karena ulah temanmu itu. Minta maaf pada adikmu d

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   11.

    Dara menghentikan ciumannya pada bibir Yuda, dia tertunduk menahan rasa sesak di dadanya. Dia berusaha melawan rasa takut itu dengan mencium Yuda yang terkejut akan sikap Dara."Kau baik-baik saja?" tanya Yuda khawatir."Ya, aku baik-baik saja." Dara melepaskan tangannya dari leher pria yang ada di hadapannya. Tatapan khawatir terlihat di sorot mata Yuda."Kau hanya membuktikan apa yang kau katakan itu. Aku ingin rasa takut ini hilang dengan bantuanmu," imbuh Dara yang menatap Yuda dengan tangis yang sudah pecah."Sudah, tidak perlu menangis lagi. Aku akan buktikan saat itu memang kemauan mu. Apa kau ingin ke kamar mandi agar terasa segar? Biar pelayan yang menyiapkan pakaianmu," jelas Yuda."Maafkan aku sudah bersikap buruk padamu. Aku hanya bingung harus bersikap seperti apa saat hidupku hancur begitu kau mengambil sesuatu yang berharga milikku. Aku hanya memiliki hal itu, semua hancur setelah orang tuaku tiada."Bukannya menja

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   10.

    "Kau mau ke mana?" tanya seorang pria tampan dengan lesung pipi, mata tajam dan dagu lancip membuatnya terlihat sempurna. Wanita pasti luluh saat menatapnya. "Bukan urusanmu," jawab Dara, dia berjalan turun tangga dengan bertelanjang kaki, tidak peduli pada pria yang sedang mengkhawatirkannya. "Hati-hati." Dia langsung menangkap tubuh Dara saat tubuhnya masih terasa lemas akan terjatuh. Sejenak mata mereka saling menatap, Dara yang begitu dekat dengan pria yang membantunya itu bahkan bisa merasakan deru nafasnya. Namun, tak bertahan lama, dia segera mendorong tubuh pria itu dan berdiri dengan kakinya sendiri. "Sudah begitu malam. Tinggallah di sini, hujan juga belum reda," jelas pria yang tak lain Yudanta. "Kenapa kau membantuku?" tanya Dara ketus. "Kale yang membawamu kemari. Untuk malam ini diam lah di sini saja," jelas Yuda yang terus mencoba membujuk Dara untuk tetap tinggal.

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   09.

    Dara memilih pergi, dia mencoba hidup semestinya dia mau bersama Juan, kakaknya. Walau Juan masih ringan tangan padanya, dia tak ingin pergi darinya. Dia memiliki alasan untuk itu, karena hanya Juan keluarga satu-satunya. Dulu Juan kakak yang perhatian, sampai dia mengenal dunia hitam, dia menjadi kasar pada adiknya. Pyarrr Suara piring jatuh membuat Dara menutup telinganya, dia sangat takut dengan suara keras ataupun seseorang bersikap kasar padanya, luka hatinya menimpulkan trauma. Seseorang tak sengaja menjatuhkan piring, membuat Dara tampak ketakutan dengan suara itu. Dia sedang di tempat kerjanya, beberapa hari ini dia menyibukkan diri dengan bekerja. "Kau tidak apa-apa, Dar?" "Akhh!" Teriak Dara saat temannya itu coba untuk menanyakan kondisinya. Dia seperti ketakutan saat temannya hanya ingin bertanya. Dara menangis, dia menutup telinganya karena ketakutan. Bayangan di mana kakaknya ser

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   08.

    "Turunlah," bujuk Yuda pada Dara yang masih berdiri dengan air mata yang terus berlinang. Dia menatap ke arah Yuda tanpa berbicara apapun. Sudah berapa kali Dara coba mengakhiri hidupnya, dia tidak bisa menerima apa yang sudah terjadi padanya. Demi kepuasan kakaknya, dia dijadikan taruhan oleh Juan. Padahal, Yuda meminta maaf dan mau bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan. Seperti kali ini, dia tidak memperdulikan kondisinya untuk mencari wanita yang merubahnya beberapa hari ini. Yuda berjalan perlahan lebih dekat dengan Dara yang hanya diam. Tatapannya kosong, dia tidak tau lagi harus melakukan apa saat harapannya hilang begitu saja. "Kita pulang. Aku berjanji akan melakukan apa yang kau mau, tapi turun dari sana. Kau akan terjatuh nanti." Yuda terus membujuk Dara yang menggeleng pelan ke arah pria yang berjalan padanya. Yuda melepaskan sling untuk menggendong tangannya begitu saja, dia coba naik ke tempat yang sama d

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   07.

    Dara sedang menatap Yuda yang hanya diam bersandar merasakan tubuhnya yang lemas. Beberapa saat lalu mereka berdebat, sampai Dara memaksanya untuk kembali ke mobil. Dan setelah di mobil, mereka malah hanya diam."Apa yang kau mau sekarang? Katakan kau ingin aku melakukan apa lagi?" tanya Yuda dengan posisi yang masih sama, bersandar dengan memejamkan mata."Ahhh!!" Teriak Dara meluapkan kekesalannya. Dia tidak bisa rela saat Yuda mengambil kesuciannya, dia begitu dendam pada Yuda yang berjanji untuk bertanggung jawab.Yuda hanya diam membiarkan Dara meluapkan emosinya. Dia sadar jika apa yang Dara rasakan begitu mengganggunya."Bisa kau jemput aku? Tubuhku tidak akan baik jika aku memaksanya. Aku sedang di kantor polisi," ujar Yuda dengan seseorang di sambungan teleponnya."Kenapa kau di sana?" tanyanya."Sudah, datanglah. Aku tidak bisa menahannya lagi, kau harus segera datang," jawab Yuda.Yuda bersandar dengan mata terpejam, melupakan Dara yang terus menangis di sampingnya. Rasa sa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status