Share

07.

Author: Nyemoetdz Kim
last update Last Updated: 2025-12-31 13:40:21

Dara sedang menatap Yuda yang hanya diam bersandar merasakan tubuhnya yang lemas. Beberapa saat lalu mereka berdebat, sampai Dara memaksanya untuk kembali ke mobil. Dan setelah di mobil, mereka malah hanya diam.

"Apa yang kau mau sekarang? Katakan kau ingin aku melakukan apa lagi?" tanya Yuda dengan posisi yang masih sama, bersandar dengan memejamkan mata.

"Ahhh!!" Teriak Dara meluapkan kekesalannya. Dia tidak bisa rela saat Yuda mengambil kesuciannya, dia begitu dendam pada Yuda yang berjanji untuk bertanggung jawab.

Yuda hanya diam membiarkan Dara meluapkan emosinya. Dia sadar jika apa yang Dara rasakan begitu mengganggunya.

"Bisa kau jemput aku? Tubuhku tidak akan baik jika aku memaksanya. Aku sedang di kantor polisi," ujar Yuda dengan seseorang di sambungan teleponnya.

"Kenapa kau di sana?" tanyanya.

"Sudah, datanglah. Aku tidak bisa menahannya lagi, kau harus segera datang," jawab Yuda.

Yuda bersandar dengan mata terpejam, melupakan Dara yang terus menangis di sampingnya. Rasa sakit menguasai dirinya, bahkan tubuhnya perlahan melorot ke samping tidak dia rasakan. Yuda benar-benar tidak kuat lagi dengan rasa sakitnya.

Dara menatap ke arah Yuda yang terkulai tak berdaya, menghapus kasar air matanya dan menatap panik pada Yuda yang tak sadarkan diri.

"Hei ... apa kau bisa mendengarku?" Dara menepuk pelan pipi Yuda. Kepanikan dia rasakan saat Yuda tidak menyaut apa panggilannya.

"Yudanta!" panggil Dara pada Yuda yang tak kunjung membuka mata.

Dara segera keluar dan membuka pintu kemudi untuk meminta bantuan. Seorang polisi yang melihatnya segera membantu Dara untuk membawa Yuda ke rumah sakit terdekat, karena di tidak sadarkan diri.

"Tensi darahnya begitu rendah," ucap seorang Dokter pada perawat. Dara ada di sana, melihat Yuda yang sedang diperiksa.

"Dia terluka di bahu kirinya. Dia sempat mengalami pendarahaan sampai memerlukan kantong darah," jelas Dara dengan suara bergetar karena takut.

Dengan penjelasan Dara, mereka langsung memasangkan donor darah yang Yuda butuhkan. Kondisiny benar-benar tidak baik, tapi Dara memintanya untuk pergi.

Di luar ruang UGD, Dara terduduk di ruang tunggu dengan perasaan bersalah. Dia memegang barang Yuda yang ada di sakunya, perawat memberikan padanya.

"Halo—" sapa Dara saat menjawab telepon masuk ponsel Yuda.

"Kau sedang di mana? Aku di depan kantor polisi," jawab orang dari balik sambungan telepon.

"Yuda ada di rumah sakit Internasiol," jawabnya dengan suara bergetar dan lirih.

"Apa ini Dara? Apa terjadi sesuatu?"

Bukannya menjawab Dara menutup sambungan teleponnya. Dia menangisi kebodohannya. Karena dia, Yuda mengalami kesulitan seperti ini. Sikap kasarnya pada Yuda tidak dibalas sedikitpun, walau Dara merasa itu keterlaluan.

"Dara?" tanya seseorang yang datang dengan 3 orang lainnya.

Dara yang sejak tadi hanya duduk di depan sambil menyembunyikan kepalanya di sela lututnya, tidak berani untuk masuk menemui Yuda yang ada di dalam.

"Dia di dalam," jawab Dara tanpa menunggu mereka bertanya.

"Kau mau ke mana?" tanya salah satu dari mereka saat melihat Dara yang berdiri dan berjalan melewati mereka.

Dara tidak menjawab, dia hanya berjalan pergi begitu saja. Saat mereka akan mengikuti Dara, seorang perawat keluar dan mencari keluarga Yuda. Mereka bertiga langsung masuk tanpa peduli dengan Dara yang berjalan pergi.

"Kau membuatku takut. Aku pikir masalah kemarin menyeretmu ke kantor polisi, bagaimana bisa kau pingsan di mobil seperti itu, kalau kau tau kondisimu sedang tidak baik, jangan memaksakan diri," ujar salah satu teman Yuda yang sedang memarahi temannya.

"Kau hanya akan membuat kepala bertambah sakit," jawab Yuda. Dia menatap ke sekitar, melihat keberadaan Dara.

"Apa yang kau cari?" tanya Brian pada Yuda.

"Apa kalian tidak melihat Dara?" tanya Yuda.

"Dia tadi pergi, dia tidak menjawab mau ke mana. Dia pergi begitu saja," jawab Kale.

"Dan kalian membiarkannya?" tanya Yuda. Dia berusaha untuk bangun dari brankar rumah sakit dan turun.

"Kau mau ke mana?" tanya Kale saat melihat Yuda melepaskan alat medis di tubuhnya.

"Mencari Dara. Kenapa kau tidak menghalanginya untuk pergi." Yuda tidak peduli jika temannya menatap khawatir karena dia memaksakan diri. Yuda hanya ingin pergi mencari Dara.

Sejak tadi, Yuda tidak melihatnya sampai dia meminta perawat untuk memanggilkan Dara yang ada di luar. Namun, yang masuk malah ketiga temannya. Yuda langsung takut sesuatu menimpa Dara saat dia dibiarkan sendiri.

"Yud, kau tidak bisa memaksakan dirimu. Kau harus segera ke rumah sakit," bujuk Brian.

Yuda mencari kesekitar rumah sakit, tapi tak menemukan Dara di manapun. Entah ke mana perginya Dara, rasa takut menghantui Yuda. Dia takut Dara melakukan hal bodoh lagi.

"Apa Dara ada bersamamu?" tanya Yuda dari balik sambungan telepon.

"Tidak. Untuk apa dia denganku," jawab Juan yang langsung mematikan sambungan teleponnya.

Yuda tidak banyak bicara, dia hanya fokus mencari Dara yang entah pergi ke mana. Padahal baru saja dia keluar rumah sakit, tapi dia sudah tidak ada di sana. Itu sebabnya Yuda mencarinya keluar rumah sakit dan berbagi tugas dengan ketiga temannya. Dia ditemani Brian untuk mencari Dara menggunakan mobil Yuda.

"Kenapa kau begitu khawatir dengan gadis itu. Kau tidak seperti biasa, begitu berharganya dia di matamu," ucap Brian. Dia fokus mengemudi dan Yuda fokus dengan jalanan. Matanya terus mencari keberadaan Dara.

"Bukankah aku pernah menceritakan dia padamu," jawab Yuda.

"Aku pikir kau memang sengaja meminta adikanya menjadi taruhan pada Juan," imbuh Brian. Namun, Yuda tidak menjawab, dia hanya fokus menatap jalanan.

Jam menunjukan pukul 11 malam, tapi Yuda tidak menemukan Dara di mananpun. Di rumah Dara juga tidak ada. Entah ke mana perginya, Yuda hanya berharap jika Dara baik-baik saja.

"Kenapa jam segini macet. Ada apa di sana?" gerutu Brian saat ada kemacetan panjang di sisi jalan.

Yuda yang awalnya menyandarkan tubuhnya, coba untuk keluar, dia berjalan perlahan membiarkan Brian yang memanggilnya.

"Ada apa?" tanya Yuda pada salah satu orang di pinggir jalan.

"Ada yang berusaha bunuh diri di perlintasan kereta api di sana. Dia membuat banyak orang kesusahan dengan kebodohannya," jelas orang itu.

"Laki-laki atau perempuan?" tanya Yuda.

"Seorang gadis. Dia bahkan menyelakain lengannya. Sepertinya orang tidak waras." Mendengar itu, Yuda segera berjalan ke tempat orang itu maksud. Dia tidak bisa pergi ke sana menggunakan mobil, dia berjalan kaki walau bahu kirinya terasa sangat sakit.

Terlihat ada beberapa orang yang mencoba untuk menghentikan seorang gadis yang coba untuk bunuh diri di atas perlintasan kereta api. Kemacetan memanjang karena banyak orang yang ingin membantu ataupun melihat seorang yang terlihat di jembatan penyebrangan yang bawahnya ada perlintasan kereta api. Dia seperti menunggu kereta api berjalan, dan dia akan menjatuhkan dirinya.

"Nona, turunlah," bujuk seseorang yang terdengar di telinga Yuda.

Dia menatap seseorang itu dengan seksama dan segera menghampiri gadis itu, agar terlihat jelas karena gadis itu memunggungi dari arahnya.

"Akh!!" Teriakan banyak orang membuat Yuda berlari ke tempat gadis itu, dia tidak peduli jika harus menerombol pada orang-orang yang melihat gadis itu. Sudah banyak orang di jembatan penyebarangan, tapi tidak ada yang berhasil membujuk gadis itu.

"Dara!!" Panggil Yuda saat dia dengan mata kepalanya sendiri melihat Dara lebih dekat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Tatataaa Bababa
suka sama ceritanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   10.

    "Kau mau ke mana?" tanya seorang pria tampan dengan lesung pipi, mata tajam dan dagu lancip membuatnya terlihat sempurna. Wanita pasti luluh saat menatapnya. "Bukan urusanmu," jawab Dara, dia berjalan turun tangga dengan bertelanjang kaki, tidak peduli pada pria yang sedang mengkhawatirkannya. "Hati-hati." Dia langsung menangkap tubuh Dara saat tubuhnya masih terasa lemas akan terjatuh. Sejenak mata mereka saling menatap, Dara yang begitu dekat dengan pria yang membantunya itu bahkan bisa merasakan deru nafasnya. Namun, tak bertahan lama, dia segera mendorong tubuh pria itu dan berdiri dengan kakinya sendiri. "Sudah begitu malam. Tinggallah di sini, hujan juga belum reda," jelas pria yang tak lain Yudanta. "Kenapa kau membantuku?" tanya Dara ketus. "Kale yang membawamu kemari. Untuk malam ini diam lah di sini saja," jelas Yuda yang terus mencoba membujuk Dara untuk tetap tinggal.

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   09.

    Dara memilih pergi, dia mencoba hidup semestinya dia mau bersama Juan, kakaknya. Walau Juan masih ringan tangan padanya, dia tak ingin pergi darinya. Dia memiliki alasan untuk itu, karena hanya Juan keluarga satu-satunya. Dulu Juan kakak yang perhatian, sampai dia mengenal dunia hitam, dia menjadi kasar pada adiknya. Pyarrr Suara piring jatuh membuat Dara menutup telinganya, dia sangat takut dengan suara keras ataupun seseorang bersikap kasar padanya, luka hatinya menimpulkan trauma. Seseorang tak sengaja menjatuhkan piring, membuat Dara tampak ketakutan dengan suara itu. Dia sedang di tempat kerjanya, beberapa hari ini dia menyibukkan diri dengan bekerja. "Kau tidak apa-apa, Dar?" "Akhh!" Teriak Dara saat temannya itu coba untuk menanyakan kondisinya. Dia seperti ketakutan saat temannya hanya ingin bertanya. Dara menangis, dia menutup telinganya karena ketakutan. Bayangan di mana kakaknya ser

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   08.

    "Turunlah," bujuk Yuda pada Dara yang masih berdiri dengan air mata yang terus berlinang. Dia menatap ke arah Yuda tanpa berbicara apapun. Sudah berapa kali Dara coba mengakhiri hidupnya, dia tidak bisa menerima apa yang sudah terjadi padanya. Demi kepuasan kakaknya, dia dijadikan taruhan oleh Juan. Padahal, Yuda meminta maaf dan mau bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan. Seperti kali ini, dia tidak memperdulikan kondisinya untuk mencari wanita yang merubahnya beberapa hari ini. Yuda berjalan perlahan lebih dekat dengan Dara yang hanya diam. Tatapannya kosong, dia tidak tau lagi harus melakukan apa saat harapannya hilang begitu saja. "Kita pulang. Aku berjanji akan melakukan apa yang kau mau, tapi turun dari sana. Kau akan terjatuh nanti." Yuda terus membujuk Dara yang menggeleng pelan ke arah pria yang berjalan padanya. Yuda melepaskan sling untuk menggendong tangannya begitu saja, dia coba naik ke tempat yang sama d

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   07.

    Dara sedang menatap Yuda yang hanya diam bersandar merasakan tubuhnya yang lemas. Beberapa saat lalu mereka berdebat, sampai Dara memaksanya untuk kembali ke mobil. Dan setelah di mobil, mereka malah hanya diam."Apa yang kau mau sekarang? Katakan kau ingin aku melakukan apa lagi?" tanya Yuda dengan posisi yang masih sama, bersandar dengan memejamkan mata."Ahhh!!" Teriak Dara meluapkan kekesalannya. Dia tidak bisa rela saat Yuda mengambil kesuciannya, dia begitu dendam pada Yuda yang berjanji untuk bertanggung jawab.Yuda hanya diam membiarkan Dara meluapkan emosinya. Dia sadar jika apa yang Dara rasakan begitu mengganggunya."Bisa kau jemput aku? Tubuhku tidak akan baik jika aku memaksanya. Aku sedang di kantor polisi," ujar Yuda dengan seseorang di sambungan teleponnya."Kenapa kau di sana?" tanyanya."Sudah, datanglah. Aku tidak bisa menahannya lagi, kau harus segera datang," jawab Yuda.Yuda bersandar dengan mata terpejam, melupakan Dara yang terus menangis di sampingnya. Rasa sa

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   06. Menyerahkan Diri

    Kebohongan apa yang sedang Yuda buat, sampai dia mengganggap Dara tunangannya. Sebenarnya siapa Yuda, kenapa dia tampak seperti preman saat dia sebenarnya memiliki rumah mewah seperti ini. Di dalam kamar, Dara sesekali menatap ke arah pintu kamarnya. Ada keinginan ingin melihat kondisi Yuda, namun dia coba untuk tidak peduli. Luka yang dia lihat di bahunya tadi begitu dalam, tapi dia melihat Yuda seperti tidak merasakan apapun. Yudanta dengan selamat membawa Dara ke rumahnya. "Apa dia di dalam kamarnya?" tanya Dara saat seorang pelayan masuk ke kamar untuk memberikan camilan Dara. "Tuan muda kehilangan banyak darah, tapi beliau tidak mau di bawa ke rumah sakit. Sekarang beliau ada di kamarnya, sedang terlelap setelah Dokter mengobati lukanya," jelasnya. Bahkan Yuda mendatangkan Dokter pribadi untuk mengobati tubuhnya. Dara begitu penasaran dengan kondisi Yuda, meski dia tidak ingin melihatnya, tapi hati kecilnya mau mengecek kondisinya. Perlahan kakinya melangkah masuk ke kamar Yu

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   05. Ingin Mengakhiri Semua

    "Dar, sadarlah. Jangan bertindak bodoh." Anggun yang memang mengikutinya pulang, dibuat terkejut dengan apa yang Dara lakukan."Biarkan aku mati!!! Aku tidak mau hidup seperti ini terus. Aku ingin mati bersamanya." Tubuh Dara berontak, ingin lepas dari pelukan Anggun yang begitu erat memeganginya. Juan sendiri hanya menatap terkejut adiknya bisa melakukan hal bodoh seperti itu. Sudut bibirnya menyunging menatap Dara berteriak sambil menangis."Aku rasa kau sudah gila," ujar Juan tanpa merasa bersalah."Ya! Aku gila! Itu juga karenamu! Kau harus mati, biarkan aku membunuhnya," teriak Dara tanpa bisa dikendalikan, namun Anggun tetap berusaha keras untuk memeganginya agar tidak bertindak bodoh.Lengan Dara saja masih terbalut kassa yang menutupi lukanya, tapi dia ingin bunuh diri lagi karena dia tidak bisa menerima perlakuan kakaknya atuapun Yuda. Semau berantakan untuknya, apa untungnya dia hidup jika semuanya sudah hancur."Bisa kau datang? Dia berusaha mengakhiri hidupnya lagi," ucap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status