共有

03. Menjadi Incaran

作者: Nyemoetdz Kim
last update 最終更新日: 2023-11-21 02:18:44

Gadis bertubuh ringkih sedang terbaring dengan tubuh penuh luka lebam. Dia menangisi apa yang sudah hilang dari dirinya, seseorang yang tidur di sampingnya sudah merenggut kesuciannya karena sang kakak.

Dia menjadi budak nafsu seseorang di sampingnya mulai sekarang. Bahkan semalaman dia sudah menyetubuhinya berkali-kali. Sampai bagian bawah milik gadis itu terasa perih. Bahkan caranya bercinta juga membuat tubuh gadis itu merah-merah, karena memang pria itu menyetubuhinya dengan kondisi mabuk.

"Apa kau akan terus menangis? Sudah jangan terus menangis," ucap Yuda lirih dengan mata terpejam.

Namun, gadis cantik itu masih saja menangis, membuat Yuda membuka mata dan menatap Dara yang masih meneteskan air mata, karena kesuciannya di renggut pria yang tak dia kenal.

"Aku katakan padamu, mulai detik ini berusahalah untuk menyukaiku, karena saat aku sudah memilih seseorang, aku tidak akan melepaskannya." Yuda berusaha duduk di samping Dara dan menatap gadis itu.

Yuda menyeka air mata Dara yang terus menangis. Sikapnya berbeda, tidak seperti semalam yang kasar dan tak peduli dengan tangis Dara.

"Puaskan dirimu menangis. Kau tidak akan mendapatkan lagi apa yang sudah hilang, jadi nikmati ini semua. Kau tidak akan lagi mendapatkan perlakuan buruk dari kakakmu, dia tidak akan berani menyentuhmu, karena kau ini milikku. Sudah jangan menangis. Haruskah aku membantu membersihkan tubuhmu?" Ucapan Yuda begitu halus. Entah dia merasa bersalah atau bagaimana, pria di samping Dara bersikap hangat sekarang.

Dengan bantuan Yuda, dia membawa Dara ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia tidak kuat untuk sekedar berdiri karena rasa perih di bagian bawah miliknya. Yuda menggendong dan mendudukkan di wastafel, membantu Dara untuk menggosok giginya.

"Namamu Dara kan? Aku, Yuda. Maaf tentang semalam. Aku selalu bersikap berbeda saat aku mabuk. Harusnya aku tidak begitu kasar padamu." Yuda berdiri di hadapan Dara yang masih terduduk di samping wastafel.

Sepertinya Yuda memang merasa bersalah dengan perlakuannya pada Dara, sampai gadis di hadapannya ini tidak bicara apapun. Dia hanya tertunduk merasa malu.

"Aku bantu untuk membersihkan tubuhmu juga?" tanya Yuda.

"Tidak perlu. Aku bisa sendiri," jawab Dara dengan suara lirih.

"Baiklah, aku tinggal kalau begitu. Panggil aku kalau sudah selesai," ucap Yuda. Sebelum keluar kamar mandi, dia membantu Dara turun dan setelahnya pergi, membiarkan Dara membersihkan tubuhnya agar lebih segar.

Dara di kamar mandi sendiri, dia menangis di bawah guyuran shower yang menyalah. Dia kembali menangis dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Kakaknya begitu tega menjadikan dia barang taruhan, padahal hanya Dara yang dia miliki.

Sambil menunggu Dara di kamar mandi, Yuda membaringkan tubuhnya kembali. Kepala sedikit sakit, mungkin juga efek mabuk berat semalam. Sejenak dia menatap kosong ke arah atas, mengingat sikapnya pada Dara yang begitu kasar. Dia mengutuk dirinya karena hal itu, bagaimana dia bisa bersikap kasar pada wanita yang sempat membuat jantungnya berdebar.

***

Setelah puas menangis di kamar mandi, Dara berjalan perlahan ke luar. Dia tidak memanggil Yuda, dia berjalan begitu saja dengan rambut yang basah.

Di dalam kamar yang tidak terlalu besar itu, terlihat Yuda sedang berbaring dengan selimut menutupi sebagaian tubuhnya. Dengan ragu, Dara duduk di ujung tempat tidur, tak berani membangunkan Yuda yang sedang tertidur karena menunggu Dara yang menangis di dalam kamar mandi.

Sejenak dia menatap ke sekitar kamar dengan nuansa hitam gold, walau kecil, tapi rapi dan ada beberapa poster yang tertempel di dinding. Sampai Dara melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia kembali berdiri dan berjalan ke meja kecil di samping Yuda yang tertidur.

Dara mengambil kalung berliontin bulan sabit dan melihatnya dengan seksama. Dia seperti mengenal benda itu, tapi benda itu hilang setahun yang lain. Kalung peninggalan ibunya itu kenapa bisa berada di kamar Yuda. Apa Juan memberikannya pada Yuda untuk taruhan?

"Tidak, aku tidak mau. Pergilah!" Dara yang sedang fokus dengan kalung itu, terkejut saat mendengar Yuda yang mengigau. Dia melihat Yuda tidak tenang dalam tidurnya, sampai hal yang mengejutkan terjadi saat Yuda menarik lengan Dara dan membuatnya jatuh dalam pelukan pria yang merenggut kesuciannya itu.

Nafas Yuda memburu, seperti sudah di kejar sesuatu yang membuatnya takut. "Sakit--" rintihan Dara membuat Yuda tersadar dan segera melepaskan genggaman tangan Dara.

"Kau sudah selesai." Yuda langsung duduk dan bersandar. Dia juga terkejut saat tau Dara yang ada di atas tubuhnya.

Yuda memijat kening ketikan rasa sakit di kepalanya belum juga hilang. "Maafkan aku," tutur Yuda tapi dengan kepala tertunduk karena rasa sakit di kepalanya.

"Apa terasa sangat sakit?" Dara memberanikan diri untuk bicara.

"Tidak, hanya sakit kepala biasa saja. Efek mabuk semalam. Kenapa kau tidak membangunkanku saat akan keluar kamar mandi?" tanya Yuda.

"Bagian bawaku memang perih, tapi aku tidak lumpuh," jawab Dara.

Yuda hanya mengangguk menjawab ucapan Dara. "Boleh aku pulang setelah ini? Haruskah aku tetap di kamarmu sampai kau benar-benar puas menyetubuhiku." Pertanyaan Dara membuat Yuda menatapnya.

"Apa kau tidak nyaman di sini? Tinggal saja di sini, agar kakakmu tidak memukulimu lagi," jelas Yuda.

"Kau bahkan tau aku dipukuli oleh kakakku. Apa itu sebabnya kau juga ingin menyiksaku?" tanya Dara.

"Aku sudah katakan, kau itu milikku sekarang, dan aku akan membuatmu jatuh hati padaku, tanpa ada kata aku menyiksamu," jelas Yuda. Dia memegangi tangan Dara dan lebih dekat dengan gadis manis di hadapannya.

Mata mereka saling bertemu. Mereka menatap satu sama lain beberapa saat. "Pulanglah kalau kau mau. Mungkin juga kau akan menjadi bulan-bulanan kakakmu." Yuda melepaskan genggaman tangannya dan bersandar di dinding tempat tidurnya.

"Aku sudah biasa seperti itu. Setidaknya kakakku tidak mengambil kesucianku," tegas Dara dan langsung membuat Yuda terdiam.

"Terserah kau saja." Yuda membaringkan tubuhnya kembali, membiarkan Dara yang ingin pulang. Hari ini Yuda hanya ingin tidur, karena semalaman dia bercinta dengan Dara.

Dara memilih meninggalkan kamar Yuda, dia menatap ke sekitar rumah yang Yuda gunakan untuk basecamp mereka juga. Ada beberapa orang yang terlihat tertidur di lantai beralaskan karpet bulu. Ada juga cewek di tengah-tengah mereka, tapi mereka tampak lelap saat jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.

Perlahan Dara keluar dari rumah itu. Dia pikir akan mendapati rumah yang kotor, nyatanya tidak. Rumah yang tidak begitu besar, tapi juga tidak kecil dengan halaman yang luas itu tampak indah karena ada beberapa pohon besar dan juga taman kecil di sisi rumah.

"Kau Adik Juan?" tanya seseorang menghampiri Dara yang ingin pulang.

"Siapa Anda?" tanya Dara dengan rasa takut. Dia melangkah saat pria itu mendekatinya.

"Kau juga menjadi budak nafsu Yuda mulai sekarang, dan itu artinya aku juga boleh menjadikanmu budak sex ku." Pria itu tiba-tiba memegang tangan Dara dan membuatnya ketakutan.

"Tidak. Aku tidak mau. Jangan!" Teriak Dara saat pria itu mengajak kembali Dara yang akan keluar dari pagar basecamp Yuda.

Seakan tidak peduli dengan apa yang Dara katakan, pria itu membawa Dara ke belakang rumah. Dara terus coba menarik lengannya agar bisa lepas dari pria itu.

"Jangan ! Tolong jangan!" Rasa perihnya saja masih terasa, bagaimana pria yang menyeret Dara itu akan menyetubuhinya.

"Yuda sudah mengambil kesucianmu, itu artinya aku boleh mencobanya juga," jawab pria itu.

"Tidak! Tolong jangan!"

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   16.

    Dara tampak segar dengan gaya rambut blow out, dan warna rambut warm hazelnut. Anggun merubah Dara sesuai kemauannya, tapi hasilnya tidak gagal. Dara semakin cantik dengan gaya rambut seperti sekarang."Ada apa? Kau tampak cantik seperti ini, kenapa harus malu," tutur Anggun.Dara terlihat jelas jika dirinya sedang malu dengan dirinya yang sekarang. Sebelumnya dia hanya seorang gadis polos, namun sekarang dia tampil berbeda. Dengan dress selutut yang dia kenakan, membuat penampilannya berbeda. Dia sudah seperti seorang cinderela yang di sihir agar terlihat cantik."Sudahlah, santai saja. Kau itu kekasih Yudanta Wijaya, setidaknya kau harus berkelas seperti wajah cantikmu ini. Tidak perlu malu, kau harus terbiasa dengan kondisimu sekarang." Anggun benar-benar merubah penampilan Dara dan dia berhasil untuk itu."Benar juga, kau tampak cantik. Tidak perlu malu. Angkat wajahmu, dan lihat dari pantulan cermin. Gadis sebelumnya datang padaku berubah men

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   15.

    "Kau memerlukan sesuatu?" tanya Anggun yang sudah datang beberapa waktu lalu.Tentang foto tadi, mungkin saja Dara salah mengingatnya, karena itu sudah beberapa tahun yang lalu. Mobil yang membuat orang tuanya kecelakaan dan meninggal di tempat."Boleh aku bertanya?" tanyanya."Katakan saja, tapi jika kau bertanya ke mana Yudanta pergi, aku tidak tau," jawab Anggun. Padahal memang itu yang ingin dia tanyakan darinya. "Bagaimana kau tidak tau, bukankah kau bagian dari genk nya," sahut Dara."Asal kau tau. Tidak semua tau tentang apa yang Yudanta lakukan, apalagi jika itu berurusan dengan kakeknya. Dia menutup rapat hal itu, yang aku tau dia ketua genk motor, karena aku juga kenal Yudanta dari kekasihku, itu saja," jelas Anggun. Dia memang wanita satu-satunya yang Yudanta percayai, karena kekasihnya menjadi kaki tangannya."Siapa memangnya?" tanya Dara."Aku pikir kau banyak ingin tau sekarang," jawab Anggun."Ka

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   14.

    Dara menatap Yudanta yang sedang terpejam di tempat tidurnya. Beberapa saat lalu, dia mendapat perlakuan buruk dari kakeknya. Dan itu semua karena dirinya. Air mata menetes mengutuk kebodohan yang dia alami. Mungkin memang benar, jika Yudanta mengambil sesuatu yang berharga dari dirinya, namun dia menyesali hal itu dan mau bertanggung jawab. Siapa Yudanta, kenapa dia begitu peduli pada Darapuspita yang tidak pernah menatapnya. Apa yang Dara lihat dari Yudanta adalah keburukan, seseorang yang jahat karena merenggut keperawanannya."Apa kau akan terus menangis?" Suara lirih Yudanta terdengar dan membuatnya menatap ke arah pria yang sudah menatapnya itu."Maafkan aku." Entah sudah berapa kali Dara mengatakannya. Tapi dia memang menyesali apa yang dia lakukan. "Kau akan terus mengatakan kata maaf? Bukankah kau harus fokus pada kondisimu. Kau harus menghilangkan ketakutanmu itu, aku sudah katakan kalau aku menyukaimu, ini tidak ada artinya walau aku mati karen

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   13.

    PlakkkTamparan keras mendarat pada pipi Yudanta saat kakeknya berdiri di hadapannya. Bukan hanya itu, dengan kasar Kakek Yudanta memukul perut cucunya sangat keras.Yudanta tetap tidak ingin melepaskan genggamannya pada Dara. Dia hanya ingin membuktikan apa yang Dara mau."Kakek bisa menghajar ku sepuas Kakek mau. Asal tidak di hadapannya. Tidak hanya sekali Kakek ingin menghabisi ku, jadi percuma saja Kakek tetap akan gagal," ujar Yudanta."Jaga bicaramu itu. Kau itu sama seperti ayahmu. Pembangkang!" Tegas Kaito Ziman, pria keturunan Jepang itu adalah Kakek Yudanta."Benar juga. Ayah mati di tanganmu. Apa aku juga akan seperti itu? Tidak! Aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan tanpa Kakek mengaturku. Ini hidupku, aku lakukan tugasku, Kakek berikan apa yang menjadi kemauanku. Akui dia bagian keluarga ini karena dia tunanganku. Mau ataupun tidak, aku tidak peduli. Dialah calon istriku, bukan wanita itu!" "Kau hanya akan

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   12.

    Follow dulu sebelum lanjut baca 😁Happy Reading.."Sebenarnya apa yang kalian sepakati?" tanya Dara pada mereka berdua. Dia merasa menjadi alat Juan untuk mendapatkan sesuatu yang dia mau."Aku ... aku hanya menjadikanmu bahan taruhan saja," jawab Juan."Kau yakin dengan jawabanmu. Kau seperti lempar batu sembunyi tangan. Bukankan Bos sudah jelaskan apa niatnya," ucap orang yang berdiri di samping Brian. Orang itu memukul kepala Juan yang ada di bawahnya."Bos Yuda hanya ingin aku melepaskan mu, tidak lagi menyiksamu. Itu saja," jawab Juan dengan tangan mengusap kepalanya yang terkena pukulan."Lalu kau mengingkari janjimu," imbuhnya."Maafkan aku ... aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan bersikap baik pada adikku. Tidak lagi memukulnya," jelas Juan."Katakan maafmu itu pada adikmu yang semalam menjadi incaran temanmu. Kau tau dia hampir mati karena ulah temanmu itu. Minta maaf pada adikmu d

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   11.

    Dara menghentikan ciumannya pada bibir Yuda, dia tertunduk menahan rasa sesak di dadanya. Dia berusaha melawan rasa takut itu dengan mencium Yuda yang terkejut akan sikap Dara."Kau baik-baik saja?" tanya Yuda khawatir."Ya, aku baik-baik saja." Dara melepaskan tangannya dari leher pria yang ada di hadapannya. Tatapan khawatir terlihat di sorot mata Yuda."Kau hanya membuktikan apa yang kau katakan itu. Aku ingin rasa takut ini hilang dengan bantuanmu," imbuh Dara yang menatap Yuda dengan tangis yang sudah pecah."Sudah, tidak perlu menangis lagi. Aku akan buktikan saat itu memang kemauan mu. Apa kau ingin ke kamar mandi agar terasa segar? Biar pelayan yang menyiapkan pakaianmu," jelas Yuda."Maafkan aku sudah bersikap buruk padamu. Aku hanya bingung harus bersikap seperti apa saat hidupku hancur begitu kau mengambil sesuatu yang berharga milikku. Aku hanya memiliki hal itu, semua hancur setelah orang tuaku tiada."Bukannya menja

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status