Se connecterSuara desingan peluru malam itu akhirnya digantikan oleh kesunyian pagi yang damai. Salju yang tadinya ternoda oleh darah, kini perlahan tertutup oleh lapisan es baru yang bersih, seolah alam pegunungan Zermatt ingin menghapus seluruh memori kelam tentang pertempuran malam itu. Lorenzo dan Marco Varella tidak pernah kembali ke Jakarta. Aliansi maut dari Bara, Arka, dan Gavin memastikan bahwa kedua bajingan itu mendapatkan hukuman mati yang setimpal atas dosa masa lalu mereka di tempat itu juga. Dendam atas kematian orang tua Rafael telah lunas terbayar di atas gunung es tersebut. Di dalam kamar utama chalet, Rafael terbaring dengan perban yang membungkus kepala dan dadanya. Meskipun tubuhnya penuh luka, mata elangnya perlahan terbuka saat merasakan kehangatan yang sangat familiar di punggung tangannya. Ayyana duduk di sisi ranjang, matanya sembap, namun senyumnya langsung merekah saat melihat suaminya sadar. Di belakangnya, Bi Martha sedang menggandeng Elena yang tampak jauh lebih
Badai salju mengamuk semakin liar di lereng Zermatt, namun bau mesiu dan anyir darah jauh lebih pekat menguasai udara. Suara rentetan senapan serbu bersahut-sautan, memecah kesunyian malam pegunungan Alpen menjadi neraka fana. Di tengah kepungan kabut es, Rafael berdiri bersandar pada reruntuhan dinding pembatas gerbang luar. Napasnya tersengal, meninggalkan uap putih yang pekat di udara dingin. Pasukan taktis yang dibawanya satu per satu tumbang di hadapan kombinasi brutal tentara bayaran Lorenzo dan Marco Varella. Jumlah mereka terlalu timpang. Ratusan laras senjata mengepung posisi Rafael yang kini hanya menyisakan kurang dari sepuluh pengawal yang masih mampu melepaskan tembakan balasan. DOR! DOR! Dua peluru menghantam beton tepat di atas kepala Rafael, melontarkan serpihan kerikil yang menyayat pipinya. Darah segar menetes, kontras dengan warna salju di bawah sepatunya. "Menyerahlah, Rafael! Kau sudah terkepung!" Suara tawa yang sangat familiar bergema, memecah deru angin b
Di ruang kerja yang hening, Rafael duduk tegak di balik meja kayu ek yang besar. Matanya menatap layar monitor yang menampilkan citra satelit dari perbatasan Swiss. Suasana yang tadinya terasa tenang kini berubah drastis menjadi mencekam. Pintu ruang kerja terbuka dengan kasar, memecah keheningan. Hans masuk dengan wajah yang lebih tegang dari biasanya. "Tuan, ada pergerakan besar di kaki bukit," lapor Hans, suaranya terdengar bergetar namun tegas. "Lorenzo telah mencapai lereng timur dengan tiga unit taktis berat. Dan ... bukan hanya dia." Rafael mendongak, matanya berkilat tajam. "Siapa lagi?" "Marco Varella, Tuan. Mereka telah bergabung. Mereka membawa pasukan gabungan dan telah mengepung jalur akses utama menuju Chalet." Rafael terdiam sejenak. Nama itu, Marco Varella, adalah musuh bebuyutan yang sudah lama ia incar. Jika Lorenzo dan Marco bersatu, ini bukan lagi sekadar upaya penculikan, ini adalah pernyataan perang total untuk meratakan seluruh aset Alvarez di Swiss. Raf
Di tengah ketegangan yang menyelimuti lantai bawah Chalet, Ayyana memilih untuk menarik diri dari aura dingin Rafael. Langkah kakinya terburu-buru saat menyusuri lorong kayu menuju sayap kanan bangunan, tempat sebuah kamar medis khusus telah disiapkan untuk adik kecilnya.Begitu pintu terbuka, aroma antiseptik yang lembut—jauh lebih wangi daripada rumah sakit di Jakarta—menyambut indra penciumannya. Kamar itu sangat luas, dengan jendela besar yang menampakkan puncak-puncak Alpen yang putih. Di tengah ruangan, Elena terbaring di atas tempat tidur medis yang canggih.Tepat saat Ayyana duduk di kursi samping tempat tidur, kelopak mata kecil itu bergerak. Elena mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari pegunungan yang masuk ke ruangan."Elena ..." bisik Ayyana lembut, jemarinya mengusap dahi adiknya dengan penuh kasih.Mata Elena terbuka sepenuhnya. Ia menatap langit-langit kamar yang terbuat dari kayu pinus berwarna madu, sangat berbeda dengan la
Udara di ruang bawah tanah Chalet itu terasa beberapa derajat lebih dingin dibandingkan ruangan di atas. Bau kayu pinus yang hangat berganti dengan aroma lembap beton dan besi karat. Rafael duduk di sebuah kursi kulit besar yang diletakkan di tengah ruangan yang remang-remang, hanya diterangi oleh satu lampu gantung yang berayun pelan.Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah korek api perak, memantik apinya lalu menutupnya kembali. Klik. Klik. Klik. Suara itu bergema, menciptakan ritme yang mencekam di tengah keheningan.Pintu besi di ujung ruangan terbuka dengan bunyi decit yang menyayat telinga. Armand melangkah masuk, menyeret seorang pria yang tangan dan kakinya terikat. Pria itu adalah Bram, salah satu tim logistik senior yang sudah ikut bersama Rafael sejak awal ia membangun kekuasaan di Jakarta. Wajah Bram babak belur, napasnya tersengal karena ketakutan yang luar biasa."Berlutut!" bentak Armand sambil menendang bagian belakang lutut Bram hingga ia tersungkur tepat di kaki Raf
Suasana di depan Chalet mewah itu mendadak mencekam. Salju turun lebih lebat, seolah ingin menyembunyikan ketegangan yang meledak di antara dua pria yang berdiri berhadapan di atas hamparan putih tersebut. Rafael melangkah keluar dengan mantel bulu panjang, tangannya tersembunyi di balik saku, ia siap mencabut senjata kapan saja jika Kevin mulai berulah.Di depannya, berdiri Kevin Sanjaya. Wajah pria itu tampak kuyu, dengan jaket tebal yang basah oleh salju dan mata yang menyiratkan kelelahan luar biasa setelah menempuh perjalanan darat dari London menembus perbatasan Swiss."Ada apa kamu ke sini?" suara Rafael memecah kesunyian, dingin dan tajam seperti belati es. "Apa kau sengaja mengikutiku karena masih terobsesi ingin bertemu dengan istriku? Jika iya, kau baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupmu, Kevin Sanjaya. Aku tidak akan pernah membiarkanmu melihat ujung rambutnya lagi."Kevin menarik napas panjang, uap putih keluar dari mulutnya. Ia mengangkat kedua tangannya perla
Rafael memejamkan matanya rapat-rapat, jemarinya mencengkram pinggiran gelas kristal hingga buku jarinya memutih. Ia yakin, ini adalah efek samping dari demam tinggi yang membakar otaknya. Wanita yang ada di depannya pasti bukan Ayyana. Tidak mungkin! Halusinasi. Ya, pasti itu. Rasa bersalah dan
Suasana di dalam apartemen terasa begitu hening, hanya suara detak jam dinding yang seolah berpacu dengan debaran jantung Rara. Sudah hampir tiga puluh menit Ayyana mengurung diri di dalam kamar mandi. Tidak ada suara kucuran air, tidak ada suara isakan, hanya keheningan yang mencekik. Rara tidak
Ayyana keluar dari kamar mandi dengan langkah yang sangat lemah. Seluruh persendiannya terasa seperti dilucuti, meninggalkan rasa lemas yang luar biasa. Ia berpegangan pada kusen pintu, mencoba menstabilkan napasnya yang masih tersengal akibat kontraksi hebat di perutnya saat muntah tadi. "Ayya!
Mansion Alvarez yang biasanya dingin dan tenang, kini dipenuhi oleh suara dentuman keras yang berirama konstan. Di dalam ruang olahraga pribadi yang luas, lampu berpendar terang, menyinari sosok pria yang tengah meluapkan seluruh kegilaan di dalam kepalanya.Rafael Alvarez sudah berada di sana sela







