Home / Mafia / Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam / BAB 56: RASA YANG BERUBAH

Share

BAB 56: RASA YANG BERUBAH

Author: Vanilla_Nilla
last update publish date: 2026-04-21 21:35:02

Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden apartemen nomor 402, menyinari debu-debu yang menari di udara. Rara berdiri di ambang pintu kamar, menatap sosok yang masih meringkuk di balik selimut tebal. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Namun Ayyana masih tenggelam dalam tidur yang tampak begitu berat. Rambut hitamnya yang panjang berantakan, sebagian menutupi wajah pucatnya yang masih menyisakan jejak air mata semalam.

Rara menghela napas panjang, hatinya terasa s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 87: CAHAYA DI BALIK JENDELA ES

    Di tengah ketegangan yang menyelimuti lantai bawah Chalet, Ayyana memilih untuk menarik diri dari aura dingin Rafael. Langkah kakinya terburu-buru saat menyusuri lorong kayu menuju sayap kanan bangunan, tempat sebuah kamar medis khusus telah disiapkan untuk adik kecilnya.Begitu pintu terbuka, aroma antiseptik yang lembut—jauh lebih wangi daripada rumah sakit di Jakarta—menyambut indra penciumannya. Kamar itu sangat luas, dengan jendela besar yang menampakkan puncak-puncak Alpen yang putih. Di tengah ruangan, Elena terbaring di atas tempat tidur medis yang canggih.Tepat saat Ayyana duduk di kursi samping tempat tidur, kelopak mata kecil itu bergerak. Elena mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari pegunungan yang masuk ke ruangan."Elena ..." bisik Ayyana lembut, jemarinya mengusap dahi adiknya dengan penuh kasih.Mata Elena terbuka sepenuhnya. Ia menatap langit-langit kamar yang terbuat dari kayu pinus berwarna madu, sangat berbeda dengan la

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 86: DARAH DI ATAS SALJU

    Udara di ruang bawah tanah Chalet itu terasa beberapa derajat lebih dingin dibandingkan ruangan di atas. Bau kayu pinus yang hangat berganti dengan aroma lembap beton dan besi karat. Rafael duduk di sebuah kursi kulit besar yang diletakkan di tengah ruangan yang remang-remang, hanya diterangi oleh satu lampu gantung yang berayun pelan.Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah korek api perak, memantik apinya lalu menutupnya kembali. Klik. Klik. Klik. Suara itu bergema, menciptakan ritme yang mencekam di tengah keheningan.Pintu besi di ujung ruangan terbuka dengan bunyi decit yang menyayat telinga. Armand melangkah masuk, menyeret seorang pria yang tangan dan kakinya terikat. Pria itu adalah Bram, salah satu tim logistik senior yang sudah ikut bersama Rafael sejak awal ia membangun kekuasaan di Jakarta. Wajah Bram babak belur, napasnya tersengal karena ketakutan yang luar biasa."Berlutut!" bentak Armand sambil menendang bagian belakang lutut Bram hingga ia tersungkur tepat di kaki Raf

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 85: UTUSAN DARI MASA LALU

    Suasana di depan Chalet mewah itu mendadak mencekam. Salju turun lebih lebat, seolah ingin menyembunyikan ketegangan yang meledak di antara dua pria yang berdiri berhadapan di atas hamparan putih tersebut. Rafael melangkah keluar dengan mantel bulu panjang, tangannya tersembunyi di balik saku, ia siap mencabut senjata kapan saja jika Kevin mulai berulah.Di depannya, berdiri Kevin Sanjaya. Wajah pria itu tampak kuyu, dengan jaket tebal yang basah oleh salju dan mata yang menyiratkan kelelahan luar biasa setelah menempuh perjalanan darat dari London menembus perbatasan Swiss."Ada apa kamu ke sini?" suara Rafael memecah kesunyian, dingin dan tajam seperti belati es. "Apa kau sengaja mengikutiku karena masih terobsesi ingin bertemu dengan istriku? Jika iya, kau baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupmu, Kevin Sanjaya. Aku tidak akan pernah membiarkanmu melihat ujung rambutnya lagi."Kevin menarik napas panjang, uap putih keluar dari mulutnya. Ia mengangkat kedua tangannya perla

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 84: SURGA DI ATAS AWAN

    Cahaya matahari pagi di pegunungan Alpen tidak seperti di Jakarta. Sinarnya terasa lembut, berwarna keperakan yang memantul di atas hamparan salju abadi, menciptakan kilauan seperti jutaan berlian yang ditaburkan di atas lembah. Udara yang masuk melalui celah jendela terasa begitu murni, dingin yang menyegarkan, namun menenangkan paru-paru.Ayyana terbangun dalam dekapan hangat yang tak pernah lepas sepanjang malam. Ia perlahan membuka matanya, mendapati wajah Rafael yang masih tertidur pulas di sampingnya. Dalam tidur pun, lengan kekar pria itu masih melingkar protektif di perutnya, seolah sedang menjaga harta paling berharga di dunia dari badai yang mungkin datang.Ayyana perlahan bangkit, mencoba tidak membangunkan sang Predator yang tampaknya sangat kelelahan setelah pelarian panjang mereka. Ia melangkah menuju balkon kamar yang terbuat dari kayu pinus tua yang kokoh. Begitu pintu kaca digeser, pemandangan yang tersaji di depan matanya sanggup menghentikan napas Ayyana sesaat.Di

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 83: BENTENG DI ATAS AWAN

    Jet pribadi Gulfstream milik Rafael membelah awan pekat di atas pegunungan Alpen, Swiss. Di dalam kabin yang kedap suara, suasana terasa sangat sunyi, namun penuh tekanan. Rafael tidak hanya membawa istrinya, tapi ia juga berhasil membawa Elena, adik bungsu Ayyana yang baru berusia sepuluh tahun, keluar dari rumah sakit tepat sebelum anak buah Lorenzo menyerbu tempat itu. Ayyana duduk bersandar di kursi pesawat, namun pandangannya tak lepas dari sosok kecil yang terbaring di sofa khusus medis di seberangnya. Elena tampak pucat, tertidur karena pengaruh obat penenang agar ia tidak syok selama penerbangan darurat ini. Sebuah selang oksigen kecil terpasang di hidungnya, dan seorang perawat pribadi yang dibawa Rafael terus memantau detak jantungnya. Rafael bangkit dari kursinya, mendekati Ayyana, lalu berlutut di depan istrinya. Ia mengambil tangan Ayyana yang terasa sedingin es. "Elena stabil, Sayang. Dokter bilang kondisinya tidak menurun selama penerbangan," bisik Rafael mencoba me

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 82: PELARIAN DARI MULUT SINGA

    Di sebuah gedung bergaya gotik di sudut kota, Lorenzo Alvarez, paman Rafael yang dikenal sebagai iblis berdarah dingin membanting gelas kristalnya hingga hancur berkeping-keping di atas lantai marmer. Veronica berdiri di depannya dengan wajah pucat, namun matanya memancarkan kepuasan dendam setelah menceritakan segala yang ia temukan di mansion tadi sore. "Berani-beraninya dia ..." suara Lorenzo rendah, namun mengandung getaran yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengar. "Menikahi wanita jalang itu diam-diam dan menyembunyikan pewaris di rahimnya? Rafael benar-benar sudah menganggap dewan ini tidak ada!" "Dia menghianatimu, Paman Lorenzo. Dia memilih wanita itu daripada aliansi kita," kompor Veronica dengan suara melengking. Lorenzo berdiri, aura membunuhnya meledak. Ia menoleh ke arah barisan pria berseragam hitam di belakangnya. "Kepung mansion itu sekarang juga! Bakar habis jika perlu. Tapi pastikan satu hal ... bawa wanita itu ke hadapanku. Aku ingin membantainya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status