共有

BAB 56: RASA YANG BERUBAH

作者: Vanilla_Nilla
last update 公開日: 2026-04-21 21:35:02

Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden apartemen nomor 402, menyinari debu-debu yang menari di udara. Rara berdiri di ambang pintu kamar, menatap sosok yang masih meringkuk di balik selimut tebal. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Namun Ayyana masih tenggelam dalam tidur yang tampak begitu berat. Rambut hitamnya yang panjang berantakan, sebagian menutupi wajah pucatnya yang masih menyisakan jejak air mata semalam.

Rara menghela napas panjang, hatinya terasa s
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 90: FAJAR BARU DI ATAS ALPEN (TAMAT)

    Suara desingan peluru malam itu akhirnya digantikan oleh kesunyian pagi yang damai. Salju yang tadinya ternoda oleh darah, kini perlahan tertutup oleh lapisan es baru yang bersih, seolah alam pegunungan Zermatt ingin menghapus seluruh memori kelam tentang pertempuran malam itu. Lorenzo dan Marco Varella tidak pernah kembali ke Jakarta. Aliansi maut dari Bara, Arka, dan Gavin memastikan bahwa kedua bajingan itu mendapatkan hukuman mati yang setimpal atas dosa masa lalu mereka di tempat itu juga. Dendam atas kematian orang tua Rafael telah lunas terbayar di atas gunung es tersebut. Di dalam kamar utama chalet, Rafael terbaring dengan perban yang membungkus kepala dan dadanya. Meskipun tubuhnya penuh luka, mata elangnya perlahan terbuka saat merasakan kehangatan yang sangat familiar di punggung tangannya. Ayyana duduk di sisi ranjang, matanya sembap, namun senyumnya langsung merekah saat melihat suaminya sadar. Di belakangnya, Bi Martha sedang menggandeng Elena yang tampak jauh lebih

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 89: DARAH DI ATAS SALJU

    Badai salju mengamuk semakin liar di lereng Zermatt, namun bau mesiu dan anyir darah jauh lebih pekat menguasai udara. Suara rentetan senapan serbu bersahut-sautan, memecah kesunyian malam pegunungan Alpen menjadi neraka fana. Di tengah kepungan kabut es, Rafael berdiri bersandar pada reruntuhan dinding pembatas gerbang luar. Napasnya tersengal, meninggalkan uap putih yang pekat di udara dingin. Pasukan taktis yang dibawanya satu per satu tumbang di hadapan kombinasi brutal tentara bayaran Lorenzo dan Marco Varella. Jumlah mereka terlalu timpang. Ratusan laras senjata mengepung posisi Rafael yang kini hanya menyisakan kurang dari sepuluh pengawal yang masih mampu melepaskan tembakan balasan. DOR! DOR! Dua peluru menghantam beton tepat di atas kepala Rafael, melontarkan serpihan kerikil yang menyayat pipinya. Darah segar menetes, kontras dengan warna salju di bawah sepatunya. "Menyerahlah, Rafael! Kau sudah terkepung!" Suara tawa yang sangat familiar bergema, memecah deru angin b

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 88: BADAI YANG MENGAMUK

    Di ruang kerja yang hening, Rafael duduk tegak di balik meja kayu ek yang besar. Matanya menatap layar monitor yang menampilkan citra satelit dari perbatasan Swiss. Suasana yang tadinya terasa tenang kini berubah drastis menjadi mencekam. Pintu ruang kerja terbuka dengan kasar, memecah keheningan. Hans masuk dengan wajah yang lebih tegang dari biasanya. "Tuan, ada pergerakan besar di kaki bukit," lapor Hans, suaranya terdengar bergetar namun tegas. "Lorenzo telah mencapai lereng timur dengan tiga unit taktis berat. Dan ... bukan hanya dia." Rafael mendongak, matanya berkilat tajam. "Siapa lagi?" "Marco Varella, Tuan. Mereka telah bergabung. Mereka membawa pasukan gabungan dan telah mengepung jalur akses utama menuju Chalet." Rafael terdiam sejenak. Nama itu, Marco Varella, adalah musuh bebuyutan yang sudah lama ia incar. Jika Lorenzo dan Marco bersatu, ini bukan lagi sekadar upaya penculikan, ini adalah pernyataan perang total untuk meratakan seluruh aset Alvarez di Swiss. Raf

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 87: CAHAYA DI BALIK JENDELA ES

    Di tengah ketegangan yang menyelimuti lantai bawah Chalet, Ayyana memilih untuk menarik diri dari aura dingin Rafael. Langkah kakinya terburu-buru saat menyusuri lorong kayu menuju sayap kanan bangunan, tempat sebuah kamar medis khusus telah disiapkan untuk adik kecilnya.Begitu pintu terbuka, aroma antiseptik yang lembut—jauh lebih wangi daripada rumah sakit di Jakarta—menyambut indra penciumannya. Kamar itu sangat luas, dengan jendela besar yang menampakkan puncak-puncak Alpen yang putih. Di tengah ruangan, Elena terbaring di atas tempat tidur medis yang canggih.Tepat saat Ayyana duduk di kursi samping tempat tidur, kelopak mata kecil itu bergerak. Elena mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari pegunungan yang masuk ke ruangan."Elena ..." bisik Ayyana lembut, jemarinya mengusap dahi adiknya dengan penuh kasih.Mata Elena terbuka sepenuhnya. Ia menatap langit-langit kamar yang terbuat dari kayu pinus berwarna madu, sangat berbeda dengan la

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 86: DARAH DI ATAS SALJU

    Udara di ruang bawah tanah Chalet itu terasa beberapa derajat lebih dingin dibandingkan ruangan di atas. Bau kayu pinus yang hangat berganti dengan aroma lembap beton dan besi karat. Rafael duduk di sebuah kursi kulit besar yang diletakkan di tengah ruangan yang remang-remang, hanya diterangi oleh satu lampu gantung yang berayun pelan.Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah korek api perak, memantik apinya lalu menutupnya kembali. Klik. Klik. Klik. Suara itu bergema, menciptakan ritme yang mencekam di tengah keheningan.Pintu besi di ujung ruangan terbuka dengan bunyi decit yang menyayat telinga. Armand melangkah masuk, menyeret seorang pria yang tangan dan kakinya terikat. Pria itu adalah Bram, salah satu tim logistik senior yang sudah ikut bersama Rafael sejak awal ia membangun kekuasaan di Jakarta. Wajah Bram babak belur, napasnya tersengal karena ketakutan yang luar biasa."Berlutut!" bentak Armand sambil menendang bagian belakang lutut Bram hingga ia tersungkur tepat di kaki Raf

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 85: UTUSAN DARI MASA LALU

    Suasana di depan Chalet mewah itu mendadak mencekam. Salju turun lebih lebat, seolah ingin menyembunyikan ketegangan yang meledak di antara dua pria yang berdiri berhadapan di atas hamparan putih tersebut. Rafael melangkah keluar dengan mantel bulu panjang, tangannya tersembunyi di balik saku, ia siap mencabut senjata kapan saja jika Kevin mulai berulah.Di depannya, berdiri Kevin Sanjaya. Wajah pria itu tampak kuyu, dengan jaket tebal yang basah oleh salju dan mata yang menyiratkan kelelahan luar biasa setelah menempuh perjalanan darat dari London menembus perbatasan Swiss."Ada apa kamu ke sini?" suara Rafael memecah kesunyian, dingin dan tajam seperti belati es. "Apa kau sengaja mengikutiku karena masih terobsesi ingin bertemu dengan istriku? Jika iya, kau baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupmu, Kevin Sanjaya. Aku tidak akan pernah membiarkanmu melihat ujung rambutnya lagi."Kevin menarik napas panjang, uap putih keluar dari mulutnya. Ia mengangkat kedua tangannya perla

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 81: PELARIAN DI TENGAH BADAI

    Deru mesin mobil mewah yang memasuki pelataran mansion Alvarez memecah kesunyian sore itu. Ayyana sudah berdiri di ambang pintu, menyambut suaminya dengan senyum yang tak pernah luntur. Namun, matanya tertuju pada satu benda: tas bekal biru muda yang masih bertengger manis di tangan kokoh Rafael.

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 80: NYONYA YANG SEBENARNYA

    Mansion Alvarez yang biasanya tenang sore ini mendadak gaduh oleh suara decitan ban mobil yang mengerem kasar di pelataran. Veronica keluar dari mobilnya dengan wajah merah padam. Tanpa memedulikan prosedur keamanan, ia menerobos masuk. Para pengawal sempat menghalanginya. Namun Veronica berteriak

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 79: API CEMBURU SANG TUNANGAN

    Siska berjalan keluar dari ruangan Rafael dengan kaki yang masih terasa sedikit lemas. Wajahnya merah padam karena malu yang luar biasa setelah dibentak dengan begitu dingin oleh Rafael. Ia bersandar di meja sekretarisnya, mencoba menormalkan deru napasnya sendiri. "Istri? Tuan Rafael sudah menik

  • Gadis Pemikat Hati sang Mafia Kejam   BAB 70: PENERIMAAN SANG PREDATOR

    Malam telah jatuh menyelimuti Jakarta, namun di gedung pencakar langit Alvarez Group, lampu di ruangan kerja utama masih berpijar terang. Armand melangkah masuk dengan hati-hati, memecah keheningan yang sejak tadi mendominasi ruangan tersebut. Ia melihat tuannya masih terduduk di kursi kebesaranny

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status