LOGINRapat direksi , pertemuan formal yang dihadiri para direktur Sebagai eksekutif tertinggi yang memimpin perusahaan, bertanggung jawab atas arah strategis perusahaan setiap sebulan bulan sekali Feliks menerima laporan dari para direktur dilanjutkan rencana strategis ke depan. Brandon menginterupsi agenda membahas audit rapat tapi tidak disetujui sebagian peserta rapat membuat rapat memanas. Kewibawaan Feliks dalam memimpin rapat akhirnya merendam nyali Brandon. 'Dasar keturon Buular beludak! ' maki Feliks dalam hati menatap tajam ke arah Brandon. "Audit internal perlu didukung audit eksternal perusahaan untuk independensi, objektivitas, dan kredibilitas yang tidak dimiliki audit internal, serta memenuhi persyaratan kepatuhan hukum. "Bapak tidak percaya audit internal?!"bentak Brandon. "Saya ingin keuangan perusahaan transparan untuk meningkatkan kepercayaan pihak investor, bank, dan pemerintah." Setelah perdebatan panjang akhirnya direksi sepakat dilakukan audit eksternal.
Sudah seminggu Diandra tinggal di Singapura untuk memenuhi salah satu persyaratan menikah di Singapura. Mereka harus jalani demi melegalkan hubungan mereka. Setiap weekend menyewa pesawat pribadi, Feliks berangkat ke Singapura, Senin subuh balik ke Jakarta. LDR terasa berat bagi mereka terutama bagi Diandra, setiap melepaskan Feliks kembali ke Jakarta selalu penuh drama, entah menangis takut ditinggal sendiri, entah terus menggelayut bak anak monyet yang tidak mau lepas dari induknya, bahkan tantrum membuat Feliks terasa berat meninggalkan Diandra. "Tinggal berapa hari lagi aku disini?" ajuk Diandra ketika Feliks memasukkan beberapa dokumen ke tas kerjanya. "Hum.. sepuluh hari," "Isshh...lama banget," "Kalau bosan jalan -jalan ke mall. Di seberang hotel ada mall, belanja, makan...." "Bosan!" "Yang sabar. Semua persyaratan telah terpenuhi. Pak Lukito telah menyelesaikan termasuk pembayaran, tinggal ketok palu kita sah suami istri. Aku janji hari Rabu balik kesini,tinggal s
Ketika seluruh keluarga masih terpaku pada Feliks, dengan langkah tegas Feliks menuju ke arah kedua orangtuanya. Membungkukkan badannya,memberi hormat bakti,"Terima kasih papi dan mami. berani berkorban demi menyelamatkan hidupku. Apa jadinya kalau papi dan mami tidak menerima tawaran opa. Saya mungkin menjadi sampah masyarakat." Feliks kembali berdiri,"Papi dan mami menerima semua penghinaan yang dilontarkan, tapi kalian tetap diam. Terima hormat bakti saya," ujar Feliks menangkupkan kedua tangannya. Feliks membalikkan badannya, menoleh ke arah ibu Jelita,"Apakah rapat keluarga sudah selesai?" "Belum. "jawab ibu Jelita lalu menoleh ke arah pengacara yang membuka dokumen, menatap sejenak kemudian mengedarkan matanya kesemua anggota keluarga. "Status anak sah Johan Kartamihardo dan Jelita Mariono sebagai berikut, anak pertama Jayden Kartamihardo, anak kedua Javier Kartamihardo dan anak ketiga Feliks Raharja Kartamihardo. Mereka sama-sama anak sah dan mempunyai hak dan kewajiban yan
Seluruh anggota keluarga Kartamihardo berkumpul di ruang keluarga. Mereka kasak kusuk membicarakan mengapa mereka diundang untuk rapat serta bergosip satu sama lain belum hadirnya Feliks. "Dia merasa dirinya paling penting, selalu datang terlambat. Dia menganggap kita apa? "cicit ibu Sabrina "Nso,belum jam setengah sepuluh, Feliks pasti tiba tepat waktu."ujar ibu Jessika. "Tante, telepon tuh Feliks,aku ada pertemuan penting yang harus aku tunda karena Oma memanggil kita untuk rapat keluarga." Ujar Brandon. "Tidak perlu menelpon, saya sudah hadir,"terdengar suara bariton disertai langkah tegap Feliks memasuki ruang keluarga ditatap mereka yang hadir. "Putra mahkota sudah datang,"terdengar suara sarkastik Javier. "Putra mahkota yang tidak punya mahkota." Ujar Brandon. Feliks tidak menanggapi , menuju ke arah orangtuanya, membungkukkan badan di depan Jayden,"Lama tidak bertemu,papi sehat?" tanya Feliks kemudian berdiri tegak menatap ayahnya. "Pertemuan terakhir kita waktu
Diandra langsung keluar kamar mendapati Oma yang duduk tegak wajahnya pucat, Feliks menunduk mengambil tongkat Oma yang terjatuh, mendongak ke arah ibu Jelita. "Oma ...." panggilya dengan nada khawatir. Ibu Jelita tidak merespon, Feliks melihat tangan ibu Jelita tremor, wajah nya pucat. Diraihnya ponsel, menghubungi dokter Suratman, "Dok, cepat kemari " "Hmm. maaf ke apartemen The Heaven, Oma..." Feliks tidak melanjutkan perkataannya, ibu Jelita langsung memotong pembicaraan Feliks dengan dokter Suratman. "Mengapa kamu panggil dokter Suratman? Oma baik -baik saja," "Tapi ..Oma.." *Ambilkan air putih," Diandra langsung mengambil gelas menuang air hangat dari dispenser. "Ini Oma," Ibu Jelita meraih gelas yang diangsur Diandra, perlahan meneguknya beberapa kali sampai air di gelas habis. Ibu Jelita mengembalikan gelas yang diterima Diandra sambil membungkukkan tubuhnya. "Kamu pintar juga,tahu bahwa orang gugup perlu air hangat bukan air dingin," "Oma..eh..ibu gugup? saya kas
Diandra sedang menyiapkan sarapan, ketika terdengar bel berbunyi dirapikan dirinya lalu menuju ke arah pintu ,melihat ke arah kamera untuk memantau orang di depan pintu notifikasi ke smartphone, nampak pak Tikno menunggu di depan pintu. "Ada apa pak Tikno?" tanya Diandra. "Bapak baik -baik?" "Baik,ada apa?" "Nyonya tua nelpon ke bapak tidak diangkat, nyonya khawatir bapak sakit." "Katakan bapak baik -baik saja, bapak masih tidur. Apakah ada pesan..mm.. nyonya...mmm..Oma?" tanya Diandra dengan nada kikuk. "Tidak, karena tidak bisa hubungi bapak ,nyonya telepon saya." "Pak Tikno tunggu bapak? Katanya bapak hari ini mau ke kantor." "Iya,Non. Saya tunggu ." "Tunggu sebentar, saya siapkan sarapan, bapak tunggu ya..." "Jangan Non! Saya sudah sarapan." "Isssh! Jangan nolak rejeki. Tunggu!" Dengan gerak cepat, Diandra memasukkan beberapa potong roti lapis ke kantong, menuang kopi hitam ke gelas kertas, membawanya, membuka pintu setelah menekan nomor sandi. "Sambil nunggu bapak, sa
Saat memasuki ruang kerjanya,mata Oom Feliks langsung tertuju ke kursi kerjanya, tempat ia dan Diandra memuaskan keinginan liar mereka. Diandra duduk di atas pangkuan Oom Feliks, posisi yang sangat disukai Oom Feliks benar-benar membuatnya kehilangan kewarasan, miliknya bisa masuk ke pusat terdalam
Oom Feliks yang merebahkan dirinya di sofa langsung berdiri, Diandra menghambur , mereka saling memeluk. “Aku merindukan daddy.” “Daddy juga sangat merindukanmu.” “Mengapa daddy tidak ke apartemen?” “Katanya ingin melihat kantor daddy,” “Humm.. kantornya indah dan elegan, seperti pemiliknya.”
Oom Feliks meninggalkan ruangan makan, naik tangga, kamarnya terletak di lantai dua, bersebelahan dengan kamar opa dan omanya. Masuk ke dalam kamar yang sudah lama ditinggalkan, aroma wangi pengharum ruangan khas keluarga Kartamihardo menyergap hidung Oom Feliks. Menatap ranjang besar, seprei biru
Sesampai di apartemen, Diandra langsung masuk kamar tamu, menguncinya dari dalam ,merebahkan tubuhnya . Seluruh tubuhnya terasa sakit dan nyeri di bawah terasa menyiksa setiap Diandra berjalan. Ada keinginan untuk tidur, melupakan apa yang telah dilakukan Oom Feliks. 'Aku hanya ingin mempermainkan







