LOGINSuasana bandara Soetta sesak dengan penumpang, udara panas yang sudah lama tidak dirasakan membuat Diandra gerah, udara dingin dari air conditioner tidak mempan sehingga tidak saja Diandra yang kepanasan baby boy yang duduk diatas stroller traveling mulai merengek. "Sabar sayang ..."ucap Diandra, matanya mencari seseorang yang katanya siap menjemput mereka di bandara. Di pintu keluar nampak seorang wanita cantik ,modis,berpostur tubuh tinggi, rambut panjang kecoklatan, berkaca mata hitam memegang spanduk kecil ke arah penumpang yang keluar, bertuliskan MRS. DIANDRA - FROM JERMAN. Diandra tersenyum lega,'Akhirnya ketemu juga,' batinnya lalu menghampiri wanita itu,"Perkenalkan saya Diandra," lalu mengulurkan tangannya. Wanita itu menatap Diandra dengan tatapan ragu -ragu," Mrs. Diandra desainer perhiasan dari Jerman?" tanyanya dengan nada tidak percaya tanpa menjabat tangan Diandra. "Ya, sayalah orangnya." jawab Diandra,lalu memberikan resi nomor bagasi," Anak saya rewel, bis
TIGA TAHUN KEMUDIAN. Diandra melihat ke kalender, hatinya gelisah minggu depan masa tinggalnya di Jerman habis masa berlakunya. Tiga tahun sudah ia tinggal di Jerman mengambil spesialisasi kerajinan dan desain perhiasan. Jerman dipilihnya karena memiliki tradisi panjang dalam pembuatan perhiasan berkualitas tinggi. Kuliah dan magang diselesaikan tepat waktu. Ada penawaran untuk bekerja di perusahaan kerajinan perhiasan tempatnya magang. Diandra tertarik dengan tawaran berminat untuk bergabung masalah nya masa tinggalnya tinggal menghitung hari. Saat menimbang -nimbang tawaran, Diandra ditelpon Frau Hanna Smith mentornya , menawarkan ada perusahaan kerajinan tangan di Indonesia yang baru setahun berdiri mencari desainer perhiasan. "Saya mempromosikan kamu, the owner tertarik mendengar kamu desainer perhiasan yang sangat berbakat. Kalau kamu berminat segera kirim Curiculum vitae ." "Kamu akan menetap di Jogjakarta, industri kerajinan ada di sana.kamu mendapatkan fasilitas prem
Setelah mengantar mamanya ke lobbi apartemen memberikan segepok uang yang diambilnya dari brankas, Diandra berpesan,"Sembunyikan uang ini, sebaiknya mama pergi dari kehidupan tante Deasy,jangan mama jadi alat tante Deasy." Fiona semula menolak tapi Diandra menaruh paksa uang ke dalam tas gantung Fiona. "Kalau mama care padaku, untuk sementara mama jangan menemuiku lagi, demi kebaikan mama sendiri."ucap Diandra. Fiona ingin memeluknya, Diandra tahu , secara halus ia mengalihkannya dengan menuntun mamanya masuk ke dalam mobil taksi online. Diandra sempat melihat mata mamanya berkaca-kaca, entah penyesalan yang masih menggerogoti hatinya atau penolakan halus Diandra yang tidak ingin dipeluk mamanya. Di kamar Diandra sibuk menjalankan aksinya, menelpon kantor imigrasi, mengecek rekeningnya di bank serta mengecek harga logam mulia. Sesuatu yang heboh akan dilakukannya, ya... Diandra bertekad melakukan revolusi hati. Melepaskan dirinya dari Feliks membulat sempurna,'Aku harus persi
Berbeda dengan Diandra,ada kepuasan tersendiri melihat mamanya terpuruk di sofa sambil menepuk -nepuk dadanya penuh penyesalan. Rupanya penyakit dendam belum hilang sepenuhnya, masih terselip di ujung hati Diandra. Dendam menyimpan luka masa kecil, sabetan sapu lidi di paha sampai ke tungkai kakinya menyisakan barut -barut meskipun berusaha disembunyikan Diandra dengan menaburkan bedak masih terlihat dan menjadi ejekan teman-temannya, berakhir dengan perkelahian. Sebutan "anak kowar", anak haram, yang tidak diketahui siapa ayah kandungnya , lahir dari hubungan gelap melekat pada dirinya, tidak saja di lingkungan sekolah juga di lingkungan tempat tinggalnya. "Anak kowar disabet maneh karo ibu e," terdengar di telinga Diandra . Sebutan anak haram, yang berusaha dihilangkan dari benaknya kembali mencuat di rumah besar dilontarkan oleh keluarga toxic kepada Feliks dan dirinya. Diandra tersenyum kecil, "Aku puas melihat mama menyesali telah berbuat jahat kepada ku. Penyesalan yang t
Diandra mengajak mamanya masuk kedalam, dengan ragu -ragu Fiona masuk ke kamar apartemen mewah. Matanya membulat sempurna ketika melihat kemewahan yang tersaji di depan mata nya. "K. a. u...mmm... tinggal disini?" Diandra tidak menjawab hanya mengangguk kepalanya. "Sendiri?" Diandra kembali mengangguk kemudian tersenyum kecut,"Beberapa bulan terakhir aku tinggal sendiri." Fiona menatap Diandra lekat -lekat, ada keinginannya untuk bertanya tapi kemudian ditahannya,'jangan sekarang,aku akan tunggu saat yang tepat,' batinnya. "Mama dengan siapa kemari?" tanya Diandra. "Sendiri," "Apakah tante Deasy menyuruh mama menemuiku?" tanya Diandra penasaran dengan kedatangan mamanya apakah ada maksud tertentu. "Mama berinisiatif sendiri. Mama kangen," ucap Fiona dengan wajah menahan malu. Diandra tidak merespons," Mama mau minum apa? Mama sudah makan?" tanya Diandra dengan nada datar. "Tadi mama kepengen makan nasi Padang,mama singgah di restoran Padang," Diandra kaget mende
Diandra menatap wajah Jayden,"Kakak kenal mamaku? " Jayden bergeming , tidak tahu apa yang harus dikatakannya, akhirnya dengan perlahan mengambil air botol mineral yang disediakan Diandra, menyesapnya kemudian menatap wajah Diandra. "Bukankah Fiona teman Feliks?" jawabnya ragu -ragu. "Feliks tidak pernah cerita bahwa ia berteman dengan mama, yang saya ketahui dia bersahabat dengan tante Deasy dan satu teman lagi yang ia tidak sebut namanya." "Mungkin bukan mamamu," ucap Jayden. Jayden berusaha agar Diandra tidak mencecarnya ,mengalihkan pembicaraan mengenai Feliks. "Feliks tidak pernah terlihat bahagia, bahkan perkawinannya dengan Karina yang tidak harmonis. Wajahnya selalu datar, dingin , arogan tak bersahabat, jarang tersenyum bahkan terkesan meremehkan membuat orang takut menatap wajahnya bahkan menyapanya." Jayden tersenyum kecil lalu menatap Diandra. "Beberapa tahun terakhir kami lihat ada perubahan di wajahnya , sering tersenyum kami kira ia mungkin sedang jatuh cinta. Ak
Feliks melepaskan jemarinya dari tangan ibu Jelita, tangan dingin dan tidak lagi bernyawa. Suara monitor dekat ranjang ibu Jelita lenyap tinggal kesunyian yang mencengkam, menyedihkan hati. Dokter Suratman menepuk bahu Feliks,"Maaf,saya mengharapkan dik Jelita bisa membaik, Tuhan lebih berkuasa ata
Diandra menggeliat ketika bibir Feliks intens bermain di bibirnya."Bangun tukang tidur," bisik Feliks. "Uhh... rasanya masih ingin tidur." "Sudah jam dua belas siang, kamu tidak lapar?" "Lapar bisa ditahan tapi ngantuk sulit ditahan," ujar Diandra, menarik bedcover memejamkan kembali matanya. "
"Yaang, kita kemana?" tanya Diandra ketika melihat mobil tidak menuju ke apartemen yang disewa Feliks selama sebulan. "Kita sesuatu tempat?" "Yang romantis?" tanya Diandra dengan tatapan mata berbinar-binar. "Hum, romantis, eksotis dan misterius," "Kok misterius? Ada horor nya?"tanya Diandr
Sebagai eksekutif tertinggi yang memimpin perusahaan, bertanggung jawab atas arah strategis perusahaan setiap sebulan mengadakan pertemuan formal diadakan rapat direksi dimana Feliks menerima laporan dari para direktur dilanjutkan rencana strategis ke depan. Brandon menginterupsi agenda membahas au







