MasukLima tahun kemudian.
Diandra berdiri tegak di tengah kerumunan orang yang berseliweran di bandara, rambut panjang yang hitam dibiarkan terurai di punggung, fitur tubuh yang menawan beralaskan kulitnya putih dipadukan dress ungu panjang semakin nampak mempesona.Diandra telah bermetamorfosis dari gadis remaja polos yang tidak pernah merasakan kasih sayang menjadi remaja matang diusianya ke dua puluh, matang secara ekonomi, matang dalam berpikir serta matang secara biologis karena telah melakukan banyak hal yang biasanya dilakukan orang dewasa.Kasih sayang yang tidak pernah didapat dari mamanya, diperoleh dari Feliks yang dipanggilnya daddy. Tidak saja kasih sayang, curahan cinta dianggap Diandra bonus yang menjadi haknya sebagai manusia yang mendambakan kasih sayang yang sulit didapatkan, diperolehnya melampaui kasih sayang satu kesatuan penuh gairah cinta.
Wajahnya terlihat lelah karena perjalanan yang panjang dari Jerman kembali ke Indonesia. Sudah dua tahun ia pergi ke Jerman belajar design perhiasan,membawa sertifikat yang akan ditunjukkan kepada daddy. Hidup di Jerman selama dua tahun membuatnya hidup mandiri dan tegar,jauh dari segala umpatan "anak haram ,jalang" yang keluar dari mulut mamanya, mama kandungnya. Hari ini ia kembali dengan penuh rindu, hasrat ingin bersatu yang dipendamnya selama dua tahun lamanya setelah dua tahun kedinginan, rindu rumah,perasaan sedih dan masa lampaunya yang rumit menjadi teman yang tidak ingin hadir dikala ia kesepian di malam hari. Tiba-tiba jantungnya berdegub kencang ketika dilihatnya dari jauh Oom Feliks berjalan dengan langkah tegas dan cepat ke arahnya. Dua tahun ,Diandra tidak merasakan kehangatan tubuh laki-laki paruh baya yang dilihatnya semakin tampan, aura maskulin penuh kehangatan tetap ada selalu membuatnya meleleh. dan jantungnya berdebar, melihat Oom Feliks cinta pertamanya yang dipanggil daddy. "Daddy, I miss you." Teriak kecil Diandra mendekati pria paruh baya , mereka langsung berpelukan. "I really miss you too." jawab pria paruh baya yang dipanggil daddy dengan nada lembut. "Diandra,"sapa pria paruh baya yang tetap gagah diusianya ke empat puluh lima menyiratkan kerinduan . "Daddy..., tambah tampan," bisik Diandra dengan nada manja. "Humm, kamu juga tambah cantik," timpal Feliks meraup beberapa lembar rambut Diandra yang terurai cantik di punggungnya, membelainya penuh cinta. Dengan manja Diandra menempelkan tubuhnya lebih dekat ke tubuh pria paruh baya,"Kita langsung ke apartemen?" "Kita ke hotel, daddy sudah reservasi kamar." "Aku pengen makan nasi padang," "Kok nasi padang? Kenapa bukan steak?Ingat waktu pertama kali kita kenalan? kita makan steak?" "Ingat banget !Daddy yang perkenalkan aku steak. Di Jerman setiap makan steak , baby ingat daddy." "Humm, hanya kalau makan steak ingat daddy?" "Tidaklah, malam yang dingin, sepi , tanpa pelukan hangat daddy, baby selalu ingat daddy.Untung kita bisa saling miscall, kalau tidak bisa-bisa baby balik ke Jakarta tidak tahan tanpa pelukan daddy." "Sedemikian rindukan baby sama daddy?" "Sangat ! Nanti kalau di hotel daddy manjakan baby ya, baby rindu pelukan daddy beraroma musk, "lalu mendekatkan bibirnya ke telinga pria paruh baya yang dipanggil daddy membuat pria itu tersenyum geli. "Humm,aku tahu, itu yang selalu kau inginkan." "Daddy tidak pernah berubah, tetap bisa membaca keinginanku dan hasratku." "Uhm.."Feliks membersihkan kerongkongan yang tiba-tiba terasa kering. Tidak menjawab, ia hanya menatap Diandra lekat-lekat,"Daddy dengar kamu dinobatkan sebagai designer perhiasan yang berbakat malah ditawarkan untuk kerja di perusahaan perhiasan di Jerman." Feliks menatapnya,lama, seolah-olah mempertimbangkan apakah akan bertanya yang ada di pikirannya, tapi hati kecilnya melarang. "Ayo kita keluar, mobil sudah menunggu di depan."Pak Tikno menyambut mereka, mengambil koper dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
"Hai, pak Tikno apa khabar, tambah makmur deh pak Tikno." Sapa Diandra. "Senang mbak Diandra kembali ke Indonesia." "Pak Tikno juga kangen sama Diandra?" "Mbak Diandra ada-ada saja." "Pak Tikno kita ke hotel..." "Hotel yang tadi pak?" "Humm.. Sebelumnya singgah di rumah makan Padang favorit mbak Diandra. Selesai antar kami pak Tikno langsung pulang saja, bawa mobil ini ke rumah pak Tikno." "Siyap pak." "Pak Tikno nanti jangan langsung pulang, ada oleh-oleh di koper." "Baby, oleh-olehnya bisa nanti kalau pak Tikno menjemput kita kembali ke apartemen." Tanpa diperintah, begitu mereka masuk ke dalam mobil pak Tikno langsung menurunkan sekat pemisah. Merasa ada pemisah antara pengemudi dan penumpang, Feliks dan Diandra langsung menempelkan tubuh mereka merepresentasi perasaan rindu yang dua tahun ditahan berbalas dengan saling memeluk, bibir saling bertaut, kecupan-kecupan, desahan keluar dari bibir mereka. Memerlukan pasokan oksigen, mereka melepaskan pelukan saling bertatapan muka seolah-olah ingin mematerikan wajah yang dua tahun dirindukan. "Selama dua tahun kita hanya berciuman sambil menatap ke arah kamera dengan berbisik," I need you, I miss you." Ucap Diandra dengan tatapan sayu. "Apa yang kamu lakukan malam hari di Jerman?" "Humm, sepi, dingin membuat pikiran baby berkeliaran, ingat makian mama.Pernah baby ke cafe cari wine agar sedikit mabok, pulang ke apartemen bisa tidur, ehh.. dilecehkan sama pria bule, akhirnya baby kalau kesepian, keluar apartemen mencari udara segar. Di dalam apartemen terasa pengap, jalan-jalan di sekitar apartemen." "Dilecehkan?" "Humm, untung ada pria baik yang menolong, baby biarkan mereka berkelahi, diam-diam tinggalkan mereka." "Kapan itu terjadi?" "Waktu awal tinggal di Jerman, baby kesepian, tidak punya teman, tidak fasih berbahasa Jerman." "Humm.. waktu baby ingin menjadi designer perhiasan, daddy rencanakan baby kuliah design di Paris. Ternyata baby pilih kursus kilat di Jerman." "Dua tahun saja rindunya setengah mati, apalagi empat sampai lima tahun, bisa-bisa baby mati berpeluk rindu." Kata Diandra dengan nada puitis. "Dua tahun hanya bisa menelpon, daddy tidak bisa tidur teringat akan kamu, menghitung hari kapan my baby pulang.""Daddy kesepian?"
"Humm..." "Kalau ada baby pasti deh daddy tidak kesepian, Baby rindu roti sobek dielus,dihisap , digigit, yummy." "Nanti di hotel, kamu bisa makan roti sobek kesukaanmu."Bisik Feliks lalu melihat keluar kaca mobil. "Macet lagi, tiada hari tanpa macet." gerutu Feliks. "Daddy sudah kepingin cepat sampai di hotel?"Tanya Diandra dengan nada genit memamerkan senyum genit di bibirnya. "Baby jangan tersenyum begitu, daddy bisa kalap" "Humm.. daddy bilang, bibir baby buat daddy meleleh." Feliks tertawa, berusaha keras untuk menahan diri, mengalihkan tatapan matanya kembali ke luar kaca mobil diikuti oleh Diandra. "Di sini macetnya sulit terurai, di Jerman macet tapi cepat terurai karena mereka menghormati sesama pengguna jalan," "Mereka juga mematuhi aturan lalu lintas."Timpal Feliks. "Humm.. apa ada oleh-oleh buat daddy?" "Pasti ada, banyak oleh-oleh. Kalau baby jalan-jalan di mall, ada dasi unik , baby beli." Kemudian tertawa terkikik-kikik, "Ada yang lucu?" "Humm... adaaah!" "Apaan tuhh?"Tanya Feliks menirukan gaya bicara Diandra. "Ada dehhh, kalau baby katakan sekarang tidak seru. Perlu ada pertujukan dulu." "Pertunjukaan, apaaan?" "Pokoknya kejutan yang akan membuat daddy ...mmm...ingin terus memakainya." bisik Diandra "Bisikanmu racun halus yang menyusup ke kulit Daddy membuat jantung daddy berdetak begitu kencang, bisa-bisa daddy mati penasaran." Diandra tertawa melihat gaya Feliks . Feliks melupakan usianya yang akan merangkak ke 45 , bersama Diandra yang manja, merajuk bahkan merayu dengan tatapan mata yang genit berkabut hasrat ,Feliks bak di goncang perasaannya ingin memeluk kuat wanita yang menempel erat di tubuhnya. Bersama Diandra Feliks merasa mendapatkan cinta pertama nya yang hanya mampu disimpan dalam hatinya. Sosok yang pernah hadir dalam hatinya menjelma nyata pada sosok Diandra.'Apakah cinta masa lampauku sama dengan cinta yang kuhadapi sekarang?'batin Feliks.'Hmm. cinta masa laluku hanya mencintai, cintaku sekarang mencintai dan dicintai,'batin Fliks meneguhkan passionnya.
'Aku tidak bisa mendapat cinta pertamaku. Gadis ini persis seperti cinta pertamaku waktu aku mengenalnya. Cantik, selalu ingin dimanjakan dan dinomor satukan, satu hal yang berbeda Diandra centil bahkan genit. Waktu pertama mengenalnya masih polos, tapi sekarang ida nampak lebih dewasa. Apakah karena ada peranku, membuatnya cepat menenal kedewasaan di saat umurnya baru menginjak usia tujuh belas?' bati Feliks.
"Daddy ngelamun ya?'
"Humm, apa rencanamu?"
"Makan!"
"Nanti kita singgah...."
"Bukan itu yang baby inginkan, makan istilah daddy,"bisik Diandra tepat di gendang telinga Feliks membuat Feliks merinding nikmat.
Feliks tersenyum,"Daddy juga ingin memakanmu, tiga tahun puasa tidak makan."Bisik Feliks.
"Pantas daddy kuyus,"
Diandra membelai dada Feliks, "Apakah roti sobeknya tidak kurus?" Tanya Diandra.
Diandra tidak mendapat jawaban, mobil berhenti di depan hotel.
"Bos, nasi padangnya sudah saya pesan online, sudah ada di resepsionis."
"Pak Tikno ngerti deh, Diandra sangat lapar!"Celutuk Diandra sambil mengedipkan matanya ke arah Feliks.
Dua tahun di Jerman, Diandra berusaha menyimpan luka di hatinya, luka meninggalkan mamanya yang tidak peduli dirinya setelah tiga tahun meninggalkan rumah. Tidak pernah mamanya mencarinya atau sekedar menanyakan dirinya ke tante Deasy ,'Aku anak yang tidak diharapkan kehadirannya.Kalau aku tidak diharapkan mengapa aku dilahirkan?' batinnya. Kebaikan tante Deasy yang awalnya dikira kebaikan dari balik hatinya yang tulus menolongnya ternyata terbuka kedoknya.Diandra merasa terjebak di tempat yang salah. Tante Deasy adalah arsitek yang handal membuka pintu kelamnya menjadikan Diandra gadis muda merasa aman , tidak curiga dengan kepalsuan tante Deasy yang penuh pesona dan status sosialnya di kalangan elite.Tepat dihari ulang tahun ke tujuh belas, kepalsuan tante Deasy terkuak.Kepingan luka masa lampaunya merayap kembali kedalam mimpi-mimpi buruknya.Ulang tahun ke tujuh belas.“Sebelum meniup lilin sebaiknya make a wish dulu,” Ucap mbak Elvira.Diandra menunduk mengangkat kedua tanga
Lima tahun kemudian. Diandra berdiri tegak di tengah kerumunan orang yang berseliweran di bandara, rambut panjang yang hitam dibiarkan terurai di punggung, fitur tubuh yang menawan beralaskan kulitnya putih dipadukan dress ungu panjang semakin nampak mempesona.Diandra telah bermetamorfosis dari gadis remaja polos yang tidak pernah merasakan kasih sayang menjadi remaja matang diusianya ke dua puluh, matang secara ekonomi, matang dalam berpikir serta matang secara biologis karena telah melakukan banyak hal yang biasanya dilakukan orang dewasa.Kasih sayang yang tidak pernah didapat dari mamanya, diperoleh dari Feliks yang dipanggilnya daddy. Tidak saja kasih sayang, curahan cinta dianggap Diandra bonus yang menjadi haknya sebagai manusia yang mendambakan kasih sayang yang sulit didapatkan, diperolehnya melampaui kasih sayang satu kesatuan penuh gairah cinta. Wajahnya terlihat lelah karena perjalanan yang panjang dari Jerman kembali ke Indonesia. Sudah dua tahun ia pergi ke Jerman
“Wouww, tinggi banget!”Teriak Diandra begitu melihat bangunan apartemen yang terbentang di hadapan mereka ketika memasuki halaman bangunan bertingkat yang menjulang tinggi ke angkasa.“Mbak Elvi, ini namanya apartemen? Di sini kita tinggal? Kakiku bisa pegal kalau kita tinggal di atas.” Seru Diandra melihat dari balik kaca mobil.“Kamu tidak perlu naik tangga, ada lift.”“Aku sering dengar ,katanya berbentuk kotak yang bisa naik turun jika kita pencet tombolnya.”“Humm..”“Kita tinggal di lantai berapa?”“Lantai dua puluh lima.”“Apa? Wah..kita bisa melihat seluruh kota Jakarta?”“Humm..”Elvira turun dari mobil, “Ambil koper yang kecil. Yang besar biar pak Tikno yang bawa.”Perintah Elvira, lalu melenggang menuju ke lobbi apartemen, diikuti Diandra dari belakang, matanya menjelajah melihat sekitarnya, terasa indah dan menyenangkan.“Diandra kamu tunggu di sin!,” seru Elvira lalu menuju ke sebuah ruangan kecil bercakap-cakap dengan seorang pria yang menyambutnya dengan hormat.“Ayo, ki
Kembali ke kamar tidurnya, Diandra tidak mampu tidur. Kejadian di ruang tamu menayang indah di pelupuk matanya , dipejamkan matanya kuat-kuat malah frekwensinya semakin tinggi.“Aku bisa gila.”Bisik Diandra, berbaring ke kanan, ke kiri , terlentang bahkan tertelungkup , lalu kembali berbaring terlentang, meraih bantal menutup mukanya dengan bantal. Tanpa Diandra sadar akhirnya ia bisa tertidur.Pintu kamar diketuk dari luar semula perlahan akhirnya ketukan semakin keras, disertai teriakan asisten rumah tangga tante Deasy,”Non, bangun, sudah siang!”Diandra terkaget-kaget, langsung meloncat dari tempat tidur,”Iya, aku mau mandi.” Kemudian berlari kecil ke kamar mandi.“Wah gawat, tayangan semalam membuat aku sulit tidur, “ bisik Diandra melepaskan seluruh bajunya langsung berdiri di bawah shower, mandi seadanya, menyambar handuk , mengeringkan tubuhnya sambil berjalan keluar kamar mandi. Seragam sekolah sudah terhampir di kursi, disabetnya , memakainya dengan tergesa-gesa, menyisir ra
"Bagaimana? Kamu suka steak nya?" tanya pria paruh baya sambil menatap Diandra memasukkan irisan steak ke mulut nya. "Hmm... enak. Diandra baru pertama makan daging sapi yang lumer di mulut," Tante Dessy dan pria paruh baya tersenyum melihat gaya Diandra , menurut mereka lucu melihat ekspresi wajahnya menguyah steak lalu dengan pisau meraih kentang goreng memasukkan ke mulutnya. "Pelan-pelan makannya, jangan tergesa-gesa," ucap Tante Dessy. "Diandra,kamu tetap akan stay di rumahnya Deasy?" tanya pria paruh baya sambil menatap Diandra lekat -lekat seakan tatapan matanya ingin menembus pikiran Diandra. "Maksud oom saya tinggal di rumahnya Tante Deasy?" Bukannya menjawab malah balik bertanya. "Hummm.. begitulah!" Diandra menoleh ke arah tante Deasy. "Mengapa kamu melihat ke tante?"Tanya tante Deasy. "Diandra tidak bisa jawab sebelum mendapatkan ijin dari Tante Deasy." "Hai, hai, bukankah kamu sudah tinggal di rumahnya tante?" "Saya tinggal selama lamanya atau hanya sementara
Tinggal di rumah tante Deasy , Diandra benar-benar dimanjakan. Pagi hari biasanya menyiapkan sarapan untuk dirinya, tidak berlaku sejak Diandra diterima di rumah tante Deasy. Diandra tinggal di rumah induk yang besar dan mewah, tidak seperti di rumahnya , rumah subsidi yang hanya terdiri dari dua kamar tidur, ruang tamu, dapur dan ruang makan jadi satu. Tidak ada perabot mewah semuanya sederhana bahkan kusam seperti penghuninya yang setiap hari berseteru.“Ndra. Pulang sekolah nanti tante jemput kamu.”“Tante akan kembalikanku ke rumah mama?”“Tidak sayang, semalam tante telepon mamamu, rupanya mamamu mabok. Tadi pagi tante telepon mengatakan kamu tinggal sama tante.”“Apa jawaban mama?”“Terserah maumu, katanya mamamu ia tidak peduli mengenai dirimu.”“Tante,saya juga tidak ingin kembali ke rumah. Setiap hari mama memarahiku tanpa Diandra tidak tahu apa salahku.”“Hum… mamamu banyak menyimpan luka.”“Mengapa tidak diobati lukanya, malah mau menyebarkan lukanya ke Diandra?”“Sudahla







