INICIAR SESIÓNTinggal di rumah tante Deasy , Diandra benar-benar dimanjakan. Pagi hari biasanya menyiapkan sarapan untuk dirinya, tidak berlaku sejak Diandra diterima di rumah tante Deasy. Diandra tinggal di rumah induk yang besar dan mewah, tidak seperti di rumahnya , rumah subsidi yang hanya terdiri dari dua kamar tidur, ruang tamu, dapur dan ruang makan jadi satu. Tidak ada perabot mewah semuanya sederhana bahkan kusam seperti penghuninya yang setiap hari berseteru.
“Ndra. Pulang sekolah nanti tante jemput kamu.” “Tante akan kembalikanku ke rumah mama?” “Tidak sayang, semalam tante telepon mamamu, rupanya mamamu mabok. Tadi pagi tante telepon mengatakan kamu tinggal sama tante.” “Apa jawaban mama?” “Terserah maumu, katanya mamamu ia tidak peduli mengenai dirimu.” “Tante,saya juga tidak ingin kembali ke rumah. Setiap hari mama memarahiku tanpa Diandra tidak tahu apa salahku.” “Hum… mamamu banyak menyimpan luka.” “Mengapa tidak diobati lukanya, malah mau menyebarkan lukanya ke Diandra?” “Sudahlah! Selesaikan sarapanmu. Berangkat ke sekolah! Nanti tante jemput. O,ya kamu tidak perlu sampaikan ke pihak sekolah bahwa kamu tinggal sama tante, nanti bisa berkepanjangan.” “Baik tante.” Seusai sekolah Diandra melihat mobil tante Deasy parkir dikejauhan, agak jauh dari lingkungan sekolah. Diandra bergegas menuju tempat mobil diparkir, tante Deasy dan seorang pria duduk di dalam mobil. “Diandra kamu duduk disamping pak Tikno.” “Baik tante.” “Kita langsung ke mall.” Ujar tante Deasy . Diandra kaget campur girang mendengar perkataan tante Deasy, karena selama ini tidak pernah pergi ke mall. Kalau belanja hanya sekitaran pasar baru, supermarket dan kios dekat rumah. “Kamu akan dibelikan baju. Tante lihat kamu hanya punya baju seragam sekolah, itupun sudah sempit,baju rumahmu sudah usang. Kamu terlihat tua dibandingkan umurmu yang baru menginjak lima belas.” Diandra hanya mampu menunduk, tidak berani berkata-kata, apa yang dikatakan tante Deasy benar adanya. “Diandra, kamu pernah makan steak?”Tanya pria yang duduk di belakang bersama tante Deasy. “Maaf, apa itu steak?” “Hum, itu masakan barat dari daging sapi, dimasak dengan cara dipanggang.”Jawab tante Deasy. “Nanti oom traktir kamu makan steak setelah kamu belanja keperluanmu.” “Oom, saya tidak punya uang untuk belanja.” Terdengar suara tawa tante Deasy dan pria itu," Pak Tikno pinggirkan mobil,"perintah pria itu. Pak Tikno memperlambat laju mobil, mencari tempat aman, memarkir mobil di badan jalan. "Di sini pak?"Tanyanya sopan. "Diandra kamu turun, kamu pindah ke belakang, duduk bersama Oom dan tante." Pak Tikno langsung turun membuka pintu mobil, membuka pintu untuk Diandra, lalu membuka pintu di bagian penumpang, mempersilahkan Diandra masuk yang langsung diarahkan duduk di antara tante Deasy dan pria itu. "Pak Tikno turunkan pemisah!"perintah pria paruh baya lalu tersenyum tipis melihat Diandra dengan mulut menganga menatap kaca tipis turun ,tiba-tiba menutup mulutnya ketika pria itu berdehem.Diandra menoleh ke arah pria itu , keharuman maskulin menyusup ke hidungnya. ‘Apakah oom yang tampan ini suami tante Deasy?’ batin Diandra kemudian memberanikan dirinya untuk bertanya. “Apakah Oom suami tante Deasy?” Suara tawa genit tante Deasy diikuti tawa geli pria itu “Kami berteman, tante Deasy dan oom bersahabat.” Akhirnya pria itu menjawab pertanyaan Diandra. “Bisakah laki-laki dan perempuan bersahabat?” Tawa terbahak-bahak menyelimuti mobil membuat pria itu terbatuk-batuk. Setelah menata kerongkongannya, pria itu tersenyum. “Mengapa tidak?! Kami bersahabat sejak sekolah dasar.” “Apa?? Sejak SD sampai sekarang? Sudah berapa tahun?” Tanya Diandra memasang wajah surprise. “Sudah puluhan tahun.Kami bersahabat tiga orang….”Jawab pria itu. “Alangkah bahagianya oom dan tante bisa bersahabat puluhan tahun,” “Di sekolah kamu punya sahabat?” Diandra tidak langsung merespons menatap jauh seakan ingin menembus sekat pemisah keluar dan kembali duduk di depan.’Teman?Sahabat? Mereka menatapku dengan tatapan melecehkan, anak haram.’batin Diandra. “Diandra?”Tanya pria itu dengan nada lembut. “Tidak … ada Oom.” “Tidak adakah temanmu untuk tempat curhat?” “Tidak ada Oom. Tidak ada yang mau mendekati saya…." "Maukah Diandra menjadi sahabat Oom?” Diandra bergeming, takut mengeluarkan suara kaget yang akan keluar dari mulutnya. Mulutnya menganga, ekpresi wajahnya membuat pria itu tersenyum. “Apakah oom-oom bisa menjadi sahabat anak remaja?” tanya Diandra, kemudian membatin,’Siapakah pria yang duduk di samping tante Deasy?Katanya bukan suami, teman bukan ,tapi sahabat. Dia mau bersahabat denganku?’ "Mengapa tidak? Umur bukan halangan untuk sebuah persahabatan. Umur hanya sederetan angka yang setiap tahun bertambah atau berhenti." "Oom Feliks bisa menjadi tempat kau curahkan semua isi hatimu," terdengar suara tante Deasy. "Diandra maukah kamu menjadi bagian hidup Oom yang sangat kesepian ini?" "Aku bagian hidup dari Oom?"Tanya Diandra dengan nada heran, barunya seseorang ingin dia menjadi bagian dari hidupnya. Mama yang melahirkannya tidak merasakan bahwa Diandra adalah bagian dari hidupnya. "Diandra kamu akan hidup bahagia, semua kebutuhanmu akan dipenuhinya, sekolahmu, pakaian, pokoknya apapun keinginanmu, mintalah maka Oom Feliks akan membuka dompetnya, " "Tante Deasy ada-ada saja. Siapakah saya sampai Oom Feliks mau membuka dompet nya untuk memenuhi semua kebutuhanku?" "Kamu tidak percaya?Turutilah perintah tante, kamu akan mendapatkan apa yang selama ini hanya ada di angan-anganmu." "Apakah aku bisa kuliah?" "Kuliah?Kamu mau kuliah?"Tanya pria itu. "Iya, Oom." "Apa cita-citamu?" "Menjadi desainer perhiasan." "Ohh..."Dua suara terkejut bersamaan. "Apakah terlalu muluk cita-citaku?"Tanya Diandra. "Tidak!Malah terdengar keren.Mengapa Diandra memilih jadi desainer perhiasan?" "Entahlah melintas begitu saja, seperti kata Oom, keren . Akan terlihat keren kalau desain kita menjadi perhiasan kemudian dikagumi banyak orang." "Hum.. mengapa tidak pilih jadi desiner fashion?" "Itu bukan passionku." "Baiklah selesaikan SMA mu , akan kita bicarakan. Yang penting kamu dengar-dengaran perintah tante." "Baik tante, terima kasih." Diandra tidak melihat bagaimana raut wajah tante Deasy, bukan kebaikan hati yang terpancar keluar tapi kelicikan, suatu siasat yang akan dikemasnya sedemikian rupa agar Diandra mau mengikuti perintahnya. 'Ia tambang emasku jangka panjang. Kamu bodoh Fiona hanya bergumul dengan kisah masa lalumu, sehingga kamu buta ada tambang emas di depan.' batin tante Deasy. Diandra yang kagum dengan pria itu menjanjikan masa depan yang lebih baik, berpikir keras, 'Mengapa dia mau membantuku?Siapakah dia? Hum.. Siapa pria itu?Apakah benar yang dikatakannya dan dikatakan tante Deasy?' Mobil Alphard berhenti, supir bergegas turun, membuka pintu untuk pria itu dan tante Deasy. Diandra terkagum-kagum melihat gedung mewah di depannya.Orang berpakaian apik lalu lalang membawa jinjingan, "Tante, apakah ini yang dikatakan mall?"Tanyanya. "Kalau di kampungmu yang ada hanya toserba, belum ada mall yang besar dan megah seperti ini.Jika kamu mendengar perintah tante, setiap hari kamu bisa masuk keluar mall." "Iya tante? Benar yang tante katakan?" Tante Deasy tidak menjawab hanya tersenyum kecil, ditatap Diandra yang tidak puas karena pertanyaannya tidak dijawab.Acara gala dinner diakhiri dengan santap malam bersama setelah keluarga toxic dan Deasy diamankan oleh para pengawal pribadi Feliks. Ballroom hotel Mulya dipenuhi dengan suara sendok,garpu dan pisau,menu makan malam adalah menu andalan hotel Mulya,bebek Peking tersaji utuh di atas meja bundar bertaplak merah. Bebek panggang tradisional asal Tiongkok yang terkenal dengan kulitnya yang sangat garing, tipis, dan renyah serta dagingnya yang lembut dan berjus adalah makanan favorit ibu Jelita founder PT . Mentari Jaya Grup. Bebek Peking disajikan dengan irisan daun bawang, mentimun, saus hoisin, dan dibungkus dengan panekuk tipis, tentunya menggugah selera Meja Jasmine dikelilingi oleh Diandra, Feliks,Fiona,Feliknor, Mike Kaiser dan isterinya wanita cantik yang tidak bisa berbahasa Indonesia, kadang-kadang Mike berbisik di telinga nya, mungkin menterjemahkan percakapan mereka. Diandra tiba-tiba rindu akan baby boy, ingin menyampaikan perasaan rindunya pada baby boy, dbukanya cluth ,
Manajer dan asisten Event organizeer menatap Diandra yang kebingungan melihat gaunnya sobek memperlihatkan kedua pahanya,'Feliks akan marah jika aku pakai gaun ini,'batinnya. "Apakah ada butik di hotel ini?"tanya Diandra. "Ada bu," "Bisakah salah satu dari kalian mendampingi saya?" tanya Diandra. Staf EO langsung mengajukan dirinya, mengantar Diandra ke lift . Kedatangan Diandra disambut ramah oleh pramuniaga yang menatap tidak percaya ke arah Diandra,"Bukankah gaun ini tadi dipesan oleh Tuan Feliks Kartamihardo?" tanyanya. "Benar, saya ... isterinya,gaun ini dirobek oleh perempuan gila yang tidak suka melihat aku memakai gaun ini." "Astaga, gaun ini limited edition,mengapa bisa sobek, eh..kelihatannya digunting paksa."Ujar pramuniaga lalu menatap Diandra dengan tatapan penuh tanda tanya. "Bisakah mbak jahit yang sobek, saya harus pakai gaun ini karena ini pilihan suami saya. Tolong diperbaiki,kalau bisa sesuai dengan aslinya, kalau tidak mendekatilah. Saya akan bayar berapapu
Diandra bangun dari tidur lelapnya. Udara dingin AC menyergap tubuhnya selimut yang seharusnya menyelimuti tubuh nya terjuntai ke lantai. 'Hum..bukankah aku berbaring di sofa? ' batinnya Diandra mengumpulkan pikirannya , 'Aku minta pernikahan kami diumumkan,lalu meninggalkan Feliks yang masih berlutut menyatakan penyesalannya ,ke kamar membaringkan diriku di sofa,mengirim pesan ke Rieke dan mbak Kinasih.' batin Diandra. "Aku kecapekan setelah bercinta dengan Feliks,dia tetap perkasa dan...mmm... membuatku liar di bawah Kungkungan Feliks,"bisik Diandra lalu membelai lembut pahanya. "Kamu puas semalam?" bisiknya pada dirinya sendiri,membelai lembut gundukan di bawah perutnya. "Tugasmu selanjutnya membuatnya puas, agar hanya aku yang ada di pikiran dan hatinya. Aku harus jadi pusat perhatiannya. " bisiknya lirih. Diandra menoleh ke sampingnya , buket mawar merah terhampar di sampingnya ,aroma wangi menyergap hidungnya. Diandra meraih buket ,mencium aromanya, sebuah kartu te
Feliks memeluk pinggang Diandra dari belakang,membelai dengan lembut, tangan kekar bergerak liar ke atas membelai kedua bukit milik Diandra. "Baby.... sweety..." "Humm.... "Milikmu masih enak, membuat aku ketagihan," Diandra menggelinjang ketika jemari Feliks mempermainkan kedua p**"ng nya, merapatkan kakinya ketika gelenjar nikmat berdenyut -denyut di miliknya. Diandra memejamkan matanya, merasakan jemari Feliks bermain di kedua bukit dan pucuknya,setiap jemari Feliks seakan menyimpan listrik yang membuatnya menggelinjang membawa gelombang di bawah sana merayap perlahan-lahan ke pusat perutnya. "Akhhh..." "Beb, aku masih ingin," bisik Feliks sambil menekan tubuhnya ke tubuh Diandra. Diandra merasakan sesuatu yang keras di antara pahanya, berdenyut-denyut bersamaan dengan denyut di miliknya yang meronta ingin dimasuki. Diandra membalikkan tubuhnya, menatap Feliks. Tatapan mereka bertemu, tatapan penuh hasrat dan gairah. "Kamu semakin cantik jika sedang bergairah,"bis
"Lepaskan tanganmu!" Teriak Diandra berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Feliks. "Harum tubuhmu menggodaku," "Aku katakan lepaskan !" Feliks melepaskan kedua tangannya dari pinggang Diandra yang langsung menyelinap keluar dari ruang kerja Feliks sambil menahan tangisnya, jantungnya berdetak kencang, dibawah perutnya berdenyut denyut menuntut hak nya, membuat Diandra tidak fokus. Mencari ponselnya, ingin menghubungi taksi online ,Diandra berdiri tegak,'Oh ,tasku tertinggal,' batinnya lalu membalikkan badannya berlari kecil kembali ke ruang kerja Feliks. Tanpa mengetuk pintu dibukanya pintu dilihatnya Feliks duduk dengan santai di sofa tunggal,"Ini yang kamu cari?" tanyanya sambil menggoyang -goyangkan tas jinjing di tangannya. Tergopoh -gopoh Diandra akan mengambilnya tanpa melihat ke bawah, sepatu high heels nya kembali tersangkut di karpet. UPS! Diandra sempoyongan hampir terjatuh. Sekali lagi tangan kekar Feliks menyelamatkannya , memegang tubuh Diandra, menariknya deng
Sejak itu Feliks tidak pernah menemuinya demikian juga dengan Mike Kaiser setiap menelponnya jawabannya,"Nomor yang anda hubungi tidak terdaftar." membuat hati Diandra gelisah, 'Apakah dia sibuk atau melupakanku? Apa artinya hubungan kita selama ini?'batin Diandra. Sudah dua hari tidak ada khabar dari Feliks demikian juga Mike Kaiser, sebelas dua belas, sulit dihubungi,'Apakah nomorku diblokir? Tapi mengapa?' batin Diandra. Ingin keluar kamar sekedar jalan-jalan tidak bisa karena pengawal selalu berjaga-jaga diluar. Baby boy semakin rewel, kadang-kadang tantrum karena terkurung terus di kamar. Sudah dua hari tidak ada khabar dari Feliks demikian juga Mike Kaiser, sebelas dua belas, sulit dihubungi,'Apakah nomorku diblokir? Tapi mengapa?' batin Diandra. Ketidak datangan Feliks ke kamarnya menjadi pikiran Diandra di malam hari dikala sedang berbaring di ranjang,membuatnya sulit tidur, kembali pada halusinasinya,payahnya ia bercinta dengan Feliks habis-habisan,'Sial, mengapa aku s
Dua tahun di Jerman, Diandra berusaha menyimpan luka di hatinya, luka meninggalkan mamanya yang tidak peduli dirinya setelah tiga tahun meninggalkan rumah. Tidak pernah mamanya mencarinya atau sekedar menanyakan dirinya ke tante Deasy ,'Aku anak yang tidak diharapkan kehadirannya.Kalau aku tidak dih
Dua tahun kemudian. Diandra berdiri tegak di tengah kerumunan orang yang berseliweran di bandara Soetta,rambut panjang yang hitam dibiarkan terurai di punggung, fitur tubuh yang menawan beralaskan kulitnya putih dipadukan dress ungu panjang semakin nampak mempesona.Diandra telah bermetamorfosis da
“Wouww, tinggi banget!”Teriak Diandra begitu melihat bangunan apartemen yang terbentang di hadapan mereka ketika memasuki halaman bangunan bertingkat yang menjulang tinggi ke angkasa. “Mbak Elvi, ini namanya apartemen? Di sini kita tinggal? Kakiku bisa pegal kalau kita tinggal di atas.” Seru Diand
Kembali ke kamar tidurnya, Diandra tidak mampu tidur. Kejadian di ruang tamu menayang indah di pelupuk matanya , dipejamkan matanya kuat-kuat malah frekwensinya semakin tinggi. “Aku bisa gila.”Bisik Diandra, berbaring ke kanan, ke kiri , terlentang bahkan tertelungkup , lalu kembali berbaring terl







