Beranda / Romansa / Gadis Simpanan Sang Miliarder / BAB 3. PERSAHABATAN ANEH?

Share

BAB 3. PERSAHABATAN ANEH?

Penulis: MARIWINA
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-27 14:11:28

"Bagaimana? Kamu suka steak nya?" tanya pria paruh baya sambil menatap Diandra memasukkan irisan steak ke mulut nya.

"Hmm... enak. Diandra baru pertama makan daging sapi yang lumer di mulut,"

Tante Dessy dan pria paruh baya tersenyum melihat gaya Diandra , menurut mereka lucu melihat ekspresi wajahnya menguyah steak lalu dengan pisau meraih kentang goreng memasukkan ke mulutnya.

"Pelan-pelan makannya, jangan tergesa-gesa," ucap Tante Dessy.

"Diandra,kamu tetap akan stay di rumahnya Deasy?" tanya pria paruh baya sambil menatap Diandra lekat -lekat seakan tatapan matanya ingin menembus pikiran Diandra.

"Maksud oom saya tinggal di rumahnya Tante Deasy?" Bukannya menjawab malah balik bertanya.

"Hummm.. begitulah!"

Diandra menoleh ke arah tante Deasy.

"Mengapa kamu melihat ke tante?"Tanya tante Deasy.

"Diandra tidak bisa jawab sebelum mendapatkan ijin dari Tante Deasy."

"Hai, hai, bukankah kamu sudah tinggal di rumahnya tante?"

"Saya tinggal selama lamanya atau hanya sementara?" tanya Diandra dengan ekspresi wajah permohonan.

"Tante bertanya kembali ke Diandra, apakah Diandra mau tinggal sementara sampai marahannya dengan mamamu hilang atau mau tinggal selamanya dengan tante?" tanya tante Deasy, meraih bahu Diandra yang terlihat tegang.

"Sulit balik ke mama, pastinya tetap keluar sumpah serapahnya. Bolehkah Diandra tinggal selamanya dengan tante? Tante tidak usah repot urusin Diandra, dari kecil Diandra sudah mandiri,cuci baju sendiri, masak, bersihin rumah....."

"Apa kerjanya mamamu?"tanya pria paruh baya.

"Mama kerjanya mabuk, rebahan di sofa sambil membuka hape.Setiap bulan jika tante Deasy ke rumah bawa uang dan sembako, begitu tante pulang, mama mandi, keluar rumah beli pulsa dan minuman....mmm....mulailah rumah seperti neraka kecil."

Tante Deasy dan pria paruh baya itu saling menatap, ada perasaan kasihan mendengar keluhan yang keluar dari mulut Diandra.

"Diandra, kamu tinggal di rumah tante Deasy. Anggap dia sebagai mamamu. Kamu tidak usah kerja, nanti Oom akan berikan asisten buatmu. Dia akan mendampingimu kemana saja kamu pergi. Kamu tidak tinggal di rumah tante Deasy yang dijalan Durian, tinggal di apartemen. Kamu akan pindah sekolah yang jauh dari rumahmu dan dari sekolah lamamu."

"Diandra pindah sekolah?"

"Yap. Sekolah yang lebih bagus kualitasnya, kelak kamu harus jadi wanita berkelas tingkat tinggi.Kamu smart, cantik, tubuhmu indah, semuanya akan dirawat dengan baik."

Diandra tertegun mendengar perkataan pria paruh baya, kemudian menundukkan kepalanya ketika pria paruh baya itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diuraikan Diandra,tatapan sayang, tatapan ingin memiliki seolah-olah terlihat kamu akan menjadi milikku.

"Tante Deasy tinggal bersamaku?"

"Hmm.. jika tante ada waktu kosong."

"Saya tinggal dengan siapa?" Tanya Diandra cemas,"Saya takut tinggal sendiri."

"Ada asisten pribadimu, dia yang akan mengasuhmu, merawatmu dan menjagamu."

"Ohhh...."

"Yuk, kita pulang. Hari sudah larut malam. Kita ke jalan Durian, besok Oom urus kepindahan sekolahmu dan kamu tinggal di apartemen.Oh..ya apakah kamu bawa surat-suratmu?"

"Diandra tidak bawa, lupa dibawa."

"Mas tidak masalah serahkan padaku."

"Darling, jika Fiona bertanya katakan Diandra yang minta. Bukankah begitu anak cantik?"

'Hum, dia panggil tante Deasy darling, katanya mereka bersahabat,kok panggil darling?Apakah iru sama dengan sayang? Lalu aku dipanggilnya anak cantik.'Batin Diandra sambil menatap tante Deasy kemudian tatapannya beralih ke pria paruh baya.

"Mengapa menatapku?"Tanya pria paruh baya yang risih dengan tatapan Diandra seakan menyelidik pikirannya.

"Mmm.. terima kasih Oom atas kebaikan Oom kepadaku. Baju, tas,sepatu yang tadi Oom beli, juga steak yang enak banget. By the way, siapakah Oom?"

"Sahabat tante Deasy."Jawab pria paruh baya sambil tersenyum tipis.

"Boleh tahu, siapa nama Oom?"

"Panggil saja Oom Feliks."

"Oom Feliks..."bisik Diandra lalu senyum tiba-tiba mengembang di bibirnya yang merah ditatap gemas oleh pria paruh baya itu.

"Mengapa tersenyum?"

"Diandra ingat kucing di rumah, mama memanggilnya Felik. Kalau mama lagi normal dipeluk dan dibelainya , kalau lagi marah atau mabuk ditendangnya Felik dan berteriak , keluar ,aku tidak ingin melihat mu. Tapi begitu Felik lama tidak muncul, mama mencarinya."

Kedua insan yang menatap Diandra, sukses dibuat kaget dengan cerita Diandra, pria paruh baya itu mengepalkan tangannya membuat buku-buku jarinya memutih kemerah-merahan.

****

Diandra terbangun dari tidurnya, meraih gelas yang ada di nakas, ternyata kosong, berdiri ,kemudian melangkah ke pintu menuju ruang makan. Untuk mencapai ruang makan harus melewati ruang tamu, didengarnya suara aneh di ruang tamu. ‘Pencuri?Tidak mungkin pencuri masuk,rumah induk dan tempat kost dijaga ketat oleh sekuriti,’batin Diandra.

Perlahan Diandra menuju ke arah suara yang mendesah , mengerang, di sofa dilihatnya Oom Feliks dan tante Deasy sedang bergulat di karpet di bawah sofa. Terdengar jeritan kecil tante Deasy yang merengkuh tubuh Oom Feliks disertai gumaman yang tidak dimengerti Diandra.

Ingin melihat jelas apa yang mereka lakukan diantara remang-remang cahaya lampu berdiri di sudut ruang tamu , Diandra memajukan langkahnya, betapa terkejutnya melihat mereka hampir telanjang. Terdengar geraman tante Deasy,”Lebih keras!”

Oom Feliks langsung duduk melepaskan celana yang menghambat gerakannya dibantu tante Deasy, kemudian melepaskan baju yang dikenakan tante Deasy. Kedua makluk purna tanpa selesai kain. Bergerak saling menindih disertai erangan dan geraman.

Tiba-tiba Oom Feliks berdiri, mengangkat tubuh tante Deasy , menggendongnya masuk ke kamar tidur tante Deasy ditatap Diandra tanpa berkedip, langsung menyembunyikan tubuhnya di balik sofa.

“Apakah itu yang dinamakan persahabatan ? Katanya mereka bersahabat sejak SD sampai sekarang. Mengapa perutku di bawah serasa ada sesuatu yang geli?”Bisik Diandra, melupakan kerongkongannya yang kering mengendap perlahan menuju ke arah kamar tidur tante Deasy yang terbuka.

Pemandangan di depannya, yang belum pernah dilihatnya membuatnya terkesima. Ada kecapan nikmat, suara manja tante Deasy yang merengek dan suara bariton Oom Feliks memenuhi kamar. Mata Diandra membulat, menyaksikan sesuatu yang menurutnya tidak boleh dilewatinya.

“Inikah yang dinamakan persahabatan laki-laki dan perempuan? Mereka melakukannya sejak SD sampai sekarang? Menurutku persahabatan itu aneh juga."bisik Diandra terus menatap ke dua tubuh yang tidak tahu bahwa perbuatan mereka di tatap oleh sepasang mata bulat dengan mulut menganga.

Sebuah tangan menyentuh pundaknya,”Non, jangan dilihat, tidak baik untuk anak-anak.”

Teguran itu sukses membuat Diandra kaget, ingin bersuara, sebuah tangan membungkam mulutnya. Pintu kamar kemudian tertutup rapat,,”Ayo ke kamar tidurmu. Kamu mau minum?”Tanya asisten rumah tangga tante Deasy, mengambil gelas dari tangan Diandra.

Diandra bergeming di depan pintu kamar tertutup serasa sesuatu yang ingin dilihatnya sampai tuntas diblok begitu saja.

“Non,ini minumnya. Saya antar ke kamar non.” Meraih tangan Diandra dengan tekanan kuat.

“Belum waktunya non melihat permainan orang dewasa.”

“Permainan orang dewasa, itukah persahabatan orang dewasa,kok persahabatan mereka aneh.” bisik Diandra mengikuti langkah asistern rumah tangga yang menarik tangannya dengan keras.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis Simpanan Sang Miliarder   BAB 7. "APAKAH AKU SUDAH DEWASA?"

    Dua tahun di Jerman, Diandra berusaha menyimpan luka di hatinya, luka meninggalkan mamanya yang tidak peduli dirinya setelah tiga tahun meninggalkan rumah. Tidak pernah mamanya mencarinya atau sekedar menanyakan dirinya ke tante Deasy ,'Aku anak yang tidak diharapkan kehadirannya.Kalau aku tidak diharapkan mengapa aku dilahirkan?' batinnya. Kebaikan tante Deasy yang awalnya dikira kebaikan dari balik hatinya yang tulus menolongnya ternyata terbuka kedoknya.Diandra merasa terjebak di tempat yang salah. Tante Deasy adalah arsitek yang handal membuka pintu kelamnya menjadikan Diandra gadis muda merasa aman , tidak curiga dengan kepalsuan tante Deasy yang penuh pesona dan status sosialnya di kalangan elite.Tepat dihari ulang tahun ke tujuh belas, kepalsuan tante Deasy terkuak.Kepingan luka masa lampaunya merayap kembali kedalam mimpi-mimpi buruknya.Ulang tahun ke tujuh belas.“Sebelum meniup lilin sebaiknya make a wish dulu,” Ucap mbak Elvira.Diandra menunduk mengangkat kedua tanga

  • Gadis Simpanan Sang Miliarder   BAB 6. MENCINTAI DAN DICINTAI.

    Lima tahun kemudian. Diandra berdiri tegak di tengah kerumunan orang yang berseliweran di bandara, rambut panjang yang hitam dibiarkan terurai di punggung, fitur tubuh yang menawan beralaskan kulitnya putih dipadukan dress ungu panjang semakin nampak mempesona.Diandra telah bermetamorfosis dari gadis remaja polos yang tidak pernah merasakan kasih sayang menjadi remaja matang diusianya ke dua puluh, matang secara ekonomi, matang dalam berpikir serta matang secara biologis karena telah melakukan banyak hal yang biasanya dilakukan orang dewasa.Kasih sayang yang tidak pernah didapat dari mamanya, diperoleh dari Feliks yang dipanggilnya daddy. Tidak saja kasih sayang, curahan cinta dianggap Diandra bonus yang menjadi haknya sebagai manusia yang mendambakan kasih sayang yang sulit didapatkan, diperolehnya melampaui kasih sayang satu kesatuan penuh gairah cinta. Wajahnya terlihat lelah karena perjalanan yang panjang dari Jerman kembali ke Indonesia. Sudah dua tahun ia pergi ke Jerman

  • Gadis Simpanan Sang Miliarder   BAB 5. "WAKTUMU BELUM TIBA."

    “Wouww, tinggi banget!”Teriak Diandra begitu melihat bangunan apartemen yang terbentang di hadapan mereka ketika memasuki halaman bangunan bertingkat yang menjulang tinggi ke angkasa.“Mbak Elvi, ini namanya apartemen? Di sini kita tinggal? Kakiku bisa pegal kalau kita tinggal di atas.” Seru Diandra melihat dari balik kaca mobil.“Kamu tidak perlu naik tangga, ada lift.”“Aku sering dengar ,katanya berbentuk kotak yang bisa naik turun jika kita pencet tombolnya.”“Humm..”“Kita tinggal di lantai berapa?”“Lantai dua puluh lima.”“Apa? Wah..kita bisa melihat seluruh kota Jakarta?”“Humm..”Elvira turun dari mobil, “Ambil koper yang kecil. Yang besar biar pak Tikno yang bawa.”Perintah Elvira, lalu melenggang menuju ke lobbi apartemen, diikuti Diandra dari belakang, matanya menjelajah melihat sekitarnya, terasa indah dan menyenangkan.“Diandra kamu tunggu di sin!,” seru Elvira lalu menuju ke sebuah ruangan kecil bercakap-cakap dengan seorang pria yang menyambutnya dengan hormat.“Ayo, ki

  • Gadis Simpanan Sang Miliarder   BAB 4. “KENALKAN AKU ELVIRA, ASISTEN PRIBADIMU.”

    Kembali ke kamar tidurnya, Diandra tidak mampu tidur. Kejadian di ruang tamu menayang indah di pelupuk matanya , dipejamkan matanya kuat-kuat malah frekwensinya semakin tinggi.“Aku bisa gila.”Bisik Diandra, berbaring ke kanan, ke kiri , terlentang bahkan tertelungkup , lalu kembali berbaring terlentang, meraih bantal menutup mukanya dengan bantal. Tanpa Diandra sadar akhirnya ia bisa tertidur.Pintu kamar diketuk dari luar semula perlahan akhirnya ketukan semakin keras, disertai teriakan asisten rumah tangga tante Deasy,”Non, bangun, sudah siang!”Diandra terkaget-kaget, langsung meloncat dari tempat tidur,”Iya, aku mau mandi.” Kemudian berlari kecil ke kamar mandi.“Wah gawat, tayangan semalam membuat aku sulit tidur, “ bisik Diandra melepaskan seluruh bajunya langsung berdiri di bawah shower, mandi seadanya, menyambar handuk , mengeringkan tubuhnya sambil berjalan keluar kamar mandi. Seragam sekolah sudah terhampir di kursi, disabetnya , memakainya dengan tergesa-gesa, menyisir ra

  • Gadis Simpanan Sang Miliarder   BAB 3. PERSAHABATAN ANEH?

    "Bagaimana? Kamu suka steak nya?" tanya pria paruh baya sambil menatap Diandra memasukkan irisan steak ke mulut nya. "Hmm... enak. Diandra baru pertama makan daging sapi yang lumer di mulut," Tante Dessy dan pria paruh baya tersenyum melihat gaya Diandra , menurut mereka lucu melihat ekspresi wajahnya menguyah steak lalu dengan pisau meraih kentang goreng memasukkan ke mulutnya. "Pelan-pelan makannya, jangan tergesa-gesa," ucap Tante Dessy. "Diandra,kamu tetap akan stay di rumahnya Deasy?" tanya pria paruh baya sambil menatap Diandra lekat -lekat seakan tatapan matanya ingin menembus pikiran Diandra. "Maksud oom saya tinggal di rumahnya Tante Deasy?" Bukannya menjawab malah balik bertanya. "Hummm.. begitulah!" Diandra menoleh ke arah tante Deasy. "Mengapa kamu melihat ke tante?"Tanya tante Deasy. "Diandra tidak bisa jawab sebelum mendapatkan ijin dari Tante Deasy." "Hai, hai, bukankah kamu sudah tinggal di rumahnya tante?" "Saya tinggal selama lamanya atau hanya sementara

  • Gadis Simpanan Sang Miliarder   BAB 2. SIAPAKAH PRIA ITU?

    Tinggal di rumah tante Deasy , Diandra benar-benar dimanjakan. Pagi hari biasanya menyiapkan sarapan untuk dirinya, tidak berlaku sejak Diandra diterima di rumah tante Deasy. Diandra tinggal di rumah induk yang besar dan mewah, tidak seperti di rumahnya , rumah subsidi yang hanya terdiri dari dua kamar tidur, ruang tamu, dapur dan ruang makan jadi satu. Tidak ada perabot mewah semuanya sederhana bahkan kusam seperti penghuninya yang setiap hari berseteru.“Ndra. Pulang sekolah nanti tante jemput kamu.”“Tante akan kembalikanku ke rumah mama?”“Tidak sayang, semalam tante telepon mamamu, rupanya mamamu mabok. Tadi pagi tante telepon mengatakan kamu tinggal sama tante.”“Apa jawaban mama?”“Terserah maumu, katanya mamamu ia tidak peduli mengenai dirimu.”“Tante,saya juga tidak ingin kembali ke rumah. Setiap hari mama memarahiku tanpa Diandra tidak tahu apa salahku.”“Hum… mamamu banyak menyimpan luka.”“Mengapa tidak diobati lukanya, malah mau menyebarkan lukanya ke Diandra?”“Sudahla

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status