Se connecter"Bagaimana? Kamu suka steak nya?" tanya pria itu sambil menatap Diandra memasukkan irisan steak ke mulut nya.
"Hmm... enak. Diandra baru pertama makan daging sapi yang lumer di mulut," Tante Dessy dan pria itu tersenyum melihat gaya Diandra , menurut mereka lucu melihat ekspresi wajahnya menguyah steak lalu dengan pisau meraih kentang goreng memasukkan ke mulutnya. "Pelan-pelan makannya, jangan tergesa-gesa," ucap Tante Deasy.. "Diandra,kamu tetap akan stay di rumahnya Deasy?" tanya pria itu sambil menatap Diandra lekat -lekat seakan tatapan matanya ingin menembus pikiran Diandra. "Maksud oom saya tinggal di rumahnya Tante Deasy?" Bukannya menjawab malah balik bertanya. "Hummm.. begitulah!" Diandra menoleh ke arah tante Deasy. "Mengapa kamu melihat ke tante?"Tanya tante Deasy. "Diandra tidak bisa jawab sebelum mendapatkan ijin dari Tante Deasy." "Hai, hai, bukankah kamu sudah tinggal di rumahnya tante?" "Saya tinggal selama lamanya atau hanya sementara?" tanya Diandra dengan ekspresi wajah permohonan. "Tante bertanya kembali ke Diandra, apakah Diandra mau tinggal sementara sampai marahannya dengan mamamu hilang atau mau tinggal selamanya dengan tante?" tanya tante Deasy, meraih bahu Diandra yang terlihat tegang. "Sulit balik ke mama, pastinya tetap keluar sumpah serapahnya. Bolehkah Diandra tinggal selamanya dengan tante? Tante tidak usah repot urusin Diandra, dari kecil Diandra sudah mandiri,cuci baju sendiri, masak, bersihin rumah....." "Apa kerjanya mamamu?"tanya pria itu. "Mama kerjanya mabuk, rebahan di sofa sambil membuka hape.Setiap bulan jika tante Deasy ke rumah bawa uang dan sembako, begitu tante pulang, mama mandi, keluar rumah beli pulsa dan minuman....mmm....mulailah rumah seperti neraka kecil." Tante Deasy dan pria itu saling menatap, ada perasaan kasihan mendengar keluhan yang keluar dari mulut Diandra. "Diandra, kamu tinggal di rumah tante Deasy. Anggap dia sebagai mamamu. Kamu tidak usah kerja, nanti Oom akan berikan asisten buatmu. Dia akan mendampingimu kemana saja kamu pergi. Kamu tidak tinggal di rumah tante Deasy yang dijalan Durian, tinggal di apartemen. Kamu akan pindah sekolah yang jauh dari rumahmu dan dari sekolah lamamu." "Diandra pindah sekolah?" "Yap. Sekolah yang lebih bagus kualitasnya, kelak kamu harus jadi wanita berkelas tingkat tinggi.Kamu smart, cantik, tubuhmu indah, semuanya akan dirawat dengan baik." ujar tante Deasy. Diandra tertegun mendengar perkataan tante Deasy kemudian menundukkan kepalanya ketika melirik pria itu yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diuraikan Diandra,tatapan sayang, tatapan ingin memiliki seolah-olah terlihat kamu akan menjadi milikku. "Tante Deasy tinggal bersamaku?" "Hmm.. jika tante ada waktu kosong." "Saya tinggal dengan siapa?" Tanya Diandra cemas,"Saya takut tinggal sendiri." "Ada asisten pribadimu, dia yang akan mengasuhmu, merawatmu dan menjagamu." "Ohhh...." "Yuk, kita pulang. Hari sudah larut malam. Kita ke jalan Durian, besok Oom urus kepindahan sekolahmu dan kamu tinggal di apartemen.Oh..ya apakah kamu bawa surat-suratmu?" "Diandra tidak bawa, lupa dibawa." "Mas tidak masalah serahkan padaku." "Darling, jika Fiona bertanya katakan Diandra yang minta. Bukankah begitu anak cantik?" 'Hum, dia panggil tante Deasy darling, katanya mereka bersahabat,kok panggil darling?Apakah sama dengan sayang? Lalu aku dipanggilnya anak cantik.'Batin Diandra sambil menatap tante Deasy kemudian tatapannya beralih ke pria itu. "Mengapa menatapku?"Tanya pria itu yang risih dengan tatapan Diandra seakan menyelidik pikirannya. "Mmm.. terima kasih Oom atas kebaikan Oom kepadaku. Baju, tas,sepatu yang tadi Oom beli, juga steak nya enak banget. By the way, siapakah Oom?" "Sahabat tante Deasy."Jawab pria itu sambil tersenyum tipis. "Boleh tahu, siapa nama Oom?" "Panggil saja Oom Feliks." "Oom Feliks..."bisik Diandra lalu tiba-tiba senyum manis mengembang di bibirnya yang merah ditatap gemas oleh pria yang ternyata bernama Feliks. "Mengapa tersenyum?" "Diandra ingat kucing di rumah, mama memanggilnya Felik. Kalau mama lagi normal dipeluk dan dibelainya , kalau lagi marah atau mabuk ditendangnya Felik dan berteriak , keluar ,aku tidak ingin melihat mu. Tapi begitu Felik lama tidak muncul, mama mencarinya." Kedua insan yang menatap Diandra, sukses dibuat kaget dengan cerita Diandra Feliks lalu mengepalkan tangannya membuat buku-buku jarinya memutih kemerah-merahan. **** Diandra terbangun dari tidurnya, meraih gelas yang ada di nakas, ternyata kosong, berdiri ,kemudian melangkah ke pintu menuju ruang makan. Untuk mencapai ruang makan harus melewati ruang tamu, didengarnya suara aneh di ruang tamu. ‘Pencuri?Tidak mungkin pencuri masuk,rumah induk dan tempat kost dijaga ketat oleh sekuriti,’batin Diandra. Perlahan Diandra menuju ke arah suara yang mendesah , mengerang, di sofa dilihatnya Oom Feliks dan tante Deasy sedang bergulat di karpet di bawah sofa. Terdengar jeritan kecil tante Deasy yang merengkuh tubuh Oom Feliks disertai gumaman yang tidak dimengerti Diandra. Ingin melihat jelas apa yang mereka lakukan diantara remang-remang cahaya lampu berdiri di sudut ruang tamu , Diandra memajukan langkahnya, betapa terkejutnya melihat mereka hampir telanjang. Terdengar geraman tante Deasy,”Lebih keras!” Oom Feliks langsung duduk melepaskan celana yang menghambat gerakannya dibantu tante Deasy, kemudian melepaskan baju yang dikenakan tante Deasy. Kedua makluk purna tanpa selesai kain. Bergerak saling menindih disertai erangan dan geraman. Tiba-tiba Oom Feliks berdiri, mengangkat tubuh tante Deasy , menggendongnya masuk ke kamar tidur tante Deasy ditatap Diandra tanpa berkedip, langsung menyembunyikan tubuhnya di balik sofa. “Apakah itu yang dinamakan persahabatan ? Katanya mereka bersahabat sejak SD sampai sekarang. Mengapa perutku di bawah serasa ada sesuatu yang geli?”Bisik Diandra, melupakan kerongkongannya yang kering mengendap perlahan menuju ke arah kamar tidur tante Deasy yang terbuka. Pemandangan di depannya, yang belum pernah dilihatnya membuatnya terkesima. Ada kecapan nikmat, suara manja tante Deasy yang merengek dan suara bariton Oom Feliks memenuhi kamar. Mata Diandra membulat, menyaksikan sesuatu yang menurutnya tidak boleh dilewatinya. “Inikah yang dinamakan persahabatan laki-laki dan perempuan? Mereka melakukannya sejak SD sampai sekarang? Menurutku persahabatan itu aneh juga."bisik Diandra terus menatap ke dua tubuh yang tidak tahu bahwa perbuatan mereka di tatap oleh sepasang mata bulat dengan mulut menganga. Sebuah tangan menyentuh pundaknya,”Non, jangan dilihat, tidak baik untuk anak-anak.” Teguran itu sukses membuat Diandra kaget, ingin bersuara, sebuah tangan membungkam mulutnya. Pintu kamar kemudian tertutup rapat,,”Ayo ke kamar tidurmu. Kamu mau minum?”Tanya asisten rumah tangga tante Deasy, mengambil gelas dari tangan Diandra. Diandra bergeming di depan pintu kamar tertutup serasa sesuatu yang ingin dilihatnya sampai tuntas diblok begitu saja. “Non,ini minumnya. Saya antar ke kamar non.” Meraih tangan Diandra dengan tekanan kuat. “Belum waktunya non melihat permainan orang dewasa.” “Permainan orang dewasa, itukah persahabatan orang dewasa,kok persahabatan mereka aneh.” bisik Diandra mengikuti langkah asisten rumah tangga yang menarik tangannya dengan keras.Suasana bandara Soetta sesak dengan penumpang, udara panas yang sudah lama tidak dirasakan membuat Diandra gerah, udara dingin dari air conditioner tidak mempan sehingga tidak saja Diandra yang kepanasan baby boy yang duduk diatas stroller traveling mulai merengek. "Sabar sayang ..."ucap Diandra, matanya mencari seseorang yang katanya siap menjemput mereka di bandara. Di pintu keluar nampak seorang wanita cantik ,modis,berpostur tubuh tinggi, rambut panjang kecoklatan, berkaca mata hitam memegang spanduk kecil ke arah penumpang yang keluar, bertuliskan MRS. DIANDRA - FROM JERMAN. Diandra tersenyum lega,'Akhirnya ketemu juga,' batinnya lalu menghampiri wanita itu,"Perkenalkan saya Diandra," lalu mengulurkan tangannya. Wanita itu menatap Diandra dengan tatapan ragu -ragu," Mrs. Diandra desainer perhiasan dari Jerman?" tanyanya dengan nada tidak percaya tanpa menjabat tangan Diandra. "Ya, sayalah orangnya." jawab Diandra,lalu memberikan resi nomor bagasi," Anak saya rewel, bis
TIGA TAHUN KEMUDIAN. Diandra melihat ke kalender, hatinya gelisah minggu depan masa tinggalnya di Jerman habis masa berlakunya. Tiga tahun sudah ia tinggal di Jerman mengambil spesialisasi kerajinan dan desain perhiasan. Jerman dipilihnya karena memiliki tradisi panjang dalam pembuatan perhiasan berkualitas tinggi. Kuliah dan magang diselesaikan tepat waktu. Ada penawaran untuk bekerja di perusahaan kerajinan perhiasan tempatnya magang. Diandra tertarik dengan tawaran berminat untuk bergabung masalah nya masa tinggalnya tinggal menghitung hari. Saat menimbang -nimbang tawaran, Diandra ditelpon Frau Hanna Smith mentornya , menawarkan ada perusahaan kerajinan tangan di Indonesia yang baru setahun berdiri mencari desainer perhiasan. "Saya mempromosikan kamu, the owner tertarik mendengar kamu desainer perhiasan yang sangat berbakat. Kalau kamu berminat segera kirim Curiculum vitae ." "Kamu akan menetap di Jogjakarta, industri kerajinan ada di sana.kamu mendapatkan fasilitas prem
Setelah mengantar mamanya ke lobbi apartemen memberikan segepok uang yang diambilnya dari brankas, Diandra berpesan,"Sembunyikan uang ini, sebaiknya mama pergi dari kehidupan tante Deasy,jangan mama jadi alat tante Deasy." Fiona semula menolak tapi Diandra menaruh paksa uang ke dalam tas gantung Fiona. "Kalau mama care padaku, untuk sementara mama jangan menemuiku lagi, demi kebaikan mama sendiri."ucap Diandra. Fiona ingin memeluknya, Diandra tahu , secara halus ia mengalihkannya dengan menuntun mamanya masuk ke dalam mobil taksi online. Diandra sempat melihat mata mamanya berkaca-kaca, entah penyesalan yang masih menggerogoti hatinya atau penolakan halus Diandra yang tidak ingin dipeluk mamanya. Di kamar Diandra sibuk menjalankan aksinya, menelpon kantor imigrasi, mengecek rekeningnya di bank serta mengecek harga logam mulia. Sesuatu yang heboh akan dilakukannya, ya... Diandra bertekad melakukan revolusi hati. Melepaskan dirinya dari Feliks membulat sempurna,'Aku harus persi
Berbeda dengan Diandra,ada kepuasan tersendiri melihat mamanya terpuruk di sofa sambil menepuk -nepuk dadanya penuh penyesalan. Rupanya penyakit dendam belum hilang sepenuhnya, masih terselip di ujung hati Diandra. Dendam menyimpan luka masa kecil, sabetan sapu lidi di paha sampai ke tungkai kakinya menyisakan barut -barut meskipun berusaha disembunyikan Diandra dengan menaburkan bedak masih terlihat dan menjadi ejekan teman-temannya, berakhir dengan perkelahian. Sebutan "anak kowar", anak haram, yang tidak diketahui siapa ayah kandungnya , lahir dari hubungan gelap melekat pada dirinya, tidak saja di lingkungan sekolah juga di lingkungan tempat tinggalnya. "Anak kowar disabet maneh karo ibu e," terdengar di telinga Diandra . Sebutan anak haram, yang berusaha dihilangkan dari benaknya kembali mencuat di rumah besar dilontarkan oleh keluarga toxic kepada Feliks dan dirinya. Diandra tersenyum kecil, "Aku puas melihat mama menyesali telah berbuat jahat kepada ku. Penyesalan yang t
Diandra mengajak mamanya masuk kedalam, dengan ragu -ragu Fiona masuk ke kamar apartemen mewah. Matanya membulat sempurna ketika melihat kemewahan yang tersaji di depan mata nya. "K. a. u...mmm... tinggal disini?" Diandra tidak menjawab hanya mengangguk kepalanya. "Sendiri?" Diandra kembali mengangguk kemudian tersenyum kecut,"Beberapa bulan terakhir aku tinggal sendiri." Fiona menatap Diandra lekat -lekat, ada keinginannya untuk bertanya tapi kemudian ditahannya,'jangan sekarang,aku akan tunggu saat yang tepat,' batinnya. "Mama dengan siapa kemari?" tanya Diandra. "Sendiri," "Apakah tante Deasy menyuruh mama menemuiku?" tanya Diandra penasaran dengan kedatangan mamanya apakah ada maksud tertentu. "Mama berinisiatif sendiri. Mama kangen," ucap Fiona dengan wajah menahan malu. Diandra tidak merespons," Mama mau minum apa? Mama sudah makan?" tanya Diandra dengan nada datar. "Tadi mama kepengen makan nasi Padang,mama singgah di restoran Padang," Diandra kaget mende
Diandra menatap wajah Jayden,"Kakak kenal mamaku? " Jayden bergeming , tidak tahu apa yang harus dikatakannya, akhirnya dengan perlahan mengambil air botol mineral yang disediakan Diandra, menyesapnya kemudian menatap wajah Diandra. "Bukankah Fiona teman Feliks?" jawabnya ragu -ragu. "Feliks tidak pernah cerita bahwa ia berteman dengan mama, yang saya ketahui dia bersahabat dengan tante Deasy dan satu teman lagi yang ia tidak sebut namanya." "Mungkin bukan mamamu," ucap Jayden. Jayden berusaha agar Diandra tidak mencecarnya ,mengalihkan pembicaraan mengenai Feliks. "Feliks tidak pernah terlihat bahagia, bahkan perkawinannya dengan Karina yang tidak harmonis. Wajahnya selalu datar, dingin , arogan tak bersahabat, jarang tersenyum bahkan terkesan meremehkan membuat orang takut menatap wajahnya bahkan menyapanya." Jayden tersenyum kecil lalu menatap Diandra. "Beberapa tahun terakhir kami lihat ada perubahan di wajahnya , sering tersenyum kami kira ia mungkin sedang jatuh cinta. Ak
Semua ada waktunya, romantic geetaway mereka telah selesai. Liburan romantis penuh keintiman selama di villa L'amour berakhir di Minggu pagi,ada keengganan mereka meninggalkan villa. "Hari ini kita balik ke Jakarta?" tanya Diandra tetap membaringkan tubuhnya di ranjang. "Besok aku harus ke kantor,
Suara kicauan burung membangunkan Diandra. Ingin menggeliatkan tubuhnya mencari sumber suara burung tapi tubuhnya tidak bisa bergerak karena tangan yang kuat memeluknya erat. ,Oh,kami sedang liburan di villa,'batinnya, berusaha menyingkirkan tangan yang memeluknya."Mau kemana?"suara parau bariton
Diandra yang sudah ingin tidur,berusaha menahan kantuknya dan lelah, tubuhnya masih merasakan getaran sisa percintaan mereka, ingin melihat Feliks keluar dari kamar tidur. Feliks tersenyum menatap wajah cantik yang terus menatapnya dengan tatapan sayu menahan kantuk. “Tidurlah.”Katanya lalu mengusa
Mendung menyisakan gerimis kecil, Diandra menggeliat tapi tubuhnya tidak bisa bergerak bebas, sebuah tangan kuat memeluk tubuhnya. Menoleh ke samping, sebuah wajah yang tertidur lelap menampilkan senyum kepuasan. Diandra intens menatap wajah itu ingin membingkai dalam hati dan pikiran nya. 'Rona ci







